
Sore harinya.
waktu pulang kerja akhirnya tiba.
"Aku numpang ya anterin sampai kos, please," mohon Bintang.
"Iya tenang aja. Ayo naik."
Nadia menyerahkan helm warna pink kepada Bintang.
"Sudah?"
"Gass!" teriak Bintang.
Sungguh menyentuh hati persahabatan mereka walaupun beda arah Nadia rela mengantar Bintang ke kosan supaya menghemat uang transport Bintang lagi bokek.
Setelah beberapa menit akhirnya Meraka sampai di kos Bintang.
"Nanti malam aku anterin ya ke Bar."
"Nggak usah, nanti aku naik ojek atau taksi aja, kasian kamu, terlalu jauh dari sini," tolak Bintang.
"Yakin Nihh."
"Iya yakin, sana pulang nanti keburu malam."
"Oke Byee,"
"Byee."
"Bintang!" teriak Nadia yang melihat temannya ingin masuk.
"Sudah aku bilang nggak usah repot, aku bisa sendiri kesana, sukanya maksa terus, aku tahu kamu tu peduli banget dengan sahabat mu yang cantik ini tapi jangan berlebihan, aku kan udah besar," ceroscos Bintang tanpa henti.
"Dasar kepedean, kembalikan helm ku yang masih ada di kepala mu itu, mahal belinya tau," kesel Nadia.
Gadis cantik bernama Bintang itu langsung tersenyum malu saat baru menyadari ada helm melekat di kepalanya. "Hehehe, maaf aku lupa."
"Ini," Dia langsung melepas dan menyerahkan helm itu ke Nadia.
"Dasar pikun, kalau bukan sahabat sudah aku lempar kau pakai sepatu." Sarkas Nadia.
"Sabar donk, namanya juga manusia suka lupa."
"Iya udah, aku pulang dulu, Byee."
"Byee, hati-hati"
"Bintang, bintang kau ini selalu saja ceroboh, masak helm seberat itu nyangkut di kepala bisa nggak sadar, tidak terasa apa ada sesuatu di kepala mu ini," gerutu Bintang sambil berjalan masuk ke kosannya.
*
*
__ADS_1
"Dimana Bintang? jam segini belum datang, sebentar lagi live musiknya mulai, ada Tuan Leo juga yang akan datang untuk mengecek kondisi Bar, Aduhh bisa mampus aku jika dia terlambat seperti biasanya." Panik Steven sang penanggung jawab Bar mewah itu, tempat berkumpulnya orang kaya mengabiskan malam dan pastinya menghabiskan banyak uang juga.
"Saya sudah coba telepon tapi tidak di angkat Tuan," jawab sang anak buah.
Masalah Bintang selalu saja terlambat, gitu dah jadinya kalau punya 2 pekerjaan, nggak punya kendaraan pula, lengkaplah penderitaannya.
Sebuah mobil mewah masuk di pelataran Bar yang bernama BxB Bar itu.
"Silahkan Tuan muda."
Assisten Erik membukakan pintu mobil untuk Leo.
Dengan masih menggunakan setelan jas Leo datang ke salah satu Bar miliknya untuk mengecek operasional Bar. "Kau sudah memberi tahu Steven kan, untuk menyediakan kursi khusus untuk ku tanpa ada gangguan," tanya Leo sambil berjalan masuk.
Selain untuk mengecek Bar, dia juga ingin menghabiskan waktu untuk bersantai setelah pekerjaan yang begitu padat dan melelahkan.
"Sudah Tuan muda. Steven sudah menyiapkan segalanya untuk anda."
"Bagus."
Disisi lain Bintang baru turun dari taksi dengan tergesa-gesa. "Lagi-lagi aku terlambat, kenapa sih jalanan harus macet, padahal sudah malam, ini memang nasibku saja yang selalu sial," gerutu Bintang masuk ke dalam Bar tempat kerja keduanya.
Steven terus mudar mandir menunggu kedatangan Bintang, tapi sepersekian detik kemudian dia melihat Bintang sudah datang.
"Akhirnya nongol juga batang hidungnya, Aman," ujarnya bisa bernapas lega.
"Bintang, bisa-bisanya sih kamu telat, kan sudah aku bilang bakal ada tamu penting malam ini," omel Steven yang kesal banget dengan Bintang karena membuatnya spot jantung dari tadi.
"Maaf bos, tadi macet."
"Oke, Bos."
Dia langsung berlari ke ruang make up untuk ganti baju dan merapikan penampilannya.
"Tuan Steven, Tuan Leo sudah datang," info salah satu waiter.
"Iya, aku akan kesana."
"Selamat Malam Tuan Leo."
Steven menunduk hormat dengan gugup ke bosnya itu.
Dia selalu saja gugup saat bertemu dengan Leo walaupun sudah bekerja selama 5 tahun disana, Maklum dari cerita orang Leo sangat kejam dengan orang yang melakukan kesalahan.
"Malam," ujar Leo singkat dan padat.
Aura intimidasi pria tampan itu sangat lah kuat, bisa membuat orang lain gugup berhadapan dengannya.
"Silahkan Tuan, saya antara kan ke table yang sudah kami siapkan."
Leo membuka kancing kemejanya lalu langsung duduk di tempat yang sudah di sediakan Steven.
Dia menyilangkan kaki dan menyandarkan tubuhnya agar lebih relaks.
__ADS_1
Seorang waiter langsung membawakan minuman untuk sang pemilik Bar lalu Steven menuangkannya dengan hati-hati di gelas milik Leo dan Assisten Erik.
"Silahkan Tuan."
"Bagaimana perkembangan Bar?" tanya Leo lalu menyesap minuman kesukaannya yang beralkohol itu.
"Cukup baik Tuan, bisa anda lihat banyak pengunjung malam ini, bahkan weekend lebih ramai dari ini, kami juga punya penyanyi baru yang membuat Bar makin ramai pengunjung, bahkan banyak tamu VIP kita yang menyukai nya, suaranya sangat bagus dan dia juga sangat cantik hingga menarik perhatian banyak orang."
"Siapa dia?" Leo tertarik dengan orang yang di ceritakan oleh Steven.
"Sebentar lagi dia akan tampil, anda bisa melihat secara langsung, Dia sering menyebut dirinya sebagai Oliva jika di atas panggung."
Cek, cek.
Semua pengunjung Bar langsung terpusat ke arah podium.
"Selamat malam semuanya, malam ini penyanyi favorit kalian akan tampil lagi Lo, ayo kita sambut Olivia, Yeeee."
Semua pengunjung bersorak dan semua mata tertuju ke penyanyi kesukaan mereka.
"Siapa sih? aku jadi penasaran sampai semua pengunjung segitu sukanya dengan yang namanya Olivia itu," gumam Assisten Erik yang juga penasaran.
Gadis cantik yang sangat bertalenta itu akhirnya muncul di hadapan semua penonton dengan senyum yang manis seperti biasanya.
Deg.
Leo langsung memperbaiki posisi duduknya yang tadinya santai menjadi duduk dengan tegak.
"Bintang kecil ku? jangan bilang dia penyanyi yang di maksud Steven, ini tidak mimpi, Kan?"
Mata Assisten Erik juga melotot kaget. "Itu kan anak muda yang menabrak mobil Tuan muda tadi pagi, penampilannya sungguh berbeda dari tadi pagi yang memakai seragam pelayan cafe."
"Selamat malam semuanya, selamat menikmati lagu-lagu yang Olivia bawakan," ujar Bintang dengan suara lembutnya.
Dengan santai Bintang mulai memetik senar gitar lalu mengeluarkan suara lembut khasnya yang di sukai banyak orang.
Lampu menyorot tepat ke arah Bintang yang sedang bernyanyi dengan penuh penghayatan.
Leo membeku karena terpukau dengan penampilan Bintang, dia tidak menyangka bahwa gadis yang dia sukai bisa bernyanyi sebagus ini.
Rasanya seperti hanya dia yang ada di Bar itu dan sedang di nyanyikan oleh Bintang sang cinta pertama.
Pria yang bernama Leo itu sungguh terbawa suasana dengan lantunan musik yang di bawakan oleh Bintang alias Olivia.
"Ada apa dengan Tuan muda? kok liatin Olivia segitunya, Ehh setahu ku namanya bukan Olivia tapi Bintang, Kan? kalau nggak salah."
Dia keheranan dengan sikap bosnya yang tiba-tiba berubah takjub memandang Bintang dengan intens.
Setelah menyanyikan beberapa lagu pertunjukan yang di berikan oleh Bintang akhirnya berakhir.
"Terimakasih semuanya, Byee, sampai berjumpa Minggu depan."
Bintang hanya bernyanyi 3 kali seminggu di Bar itu, di hari-hari yang lain di isi oleh pertunjukan dari pekerja seni yang lain.
__ADS_1
Happy Reading ♥️😘🥰🥰😘
I LOVE YOU 3000😘🥰♥️🥰😘♥️