Bintang Kecil Ku

Bintang Kecil Ku
Kena marah Bintang


__ADS_3

"Kali ini kau selamat karena kekasih ku tidak mempermasalahkan hal ini tapi lain kali tidak ada pengampunan jika kau mengulangi lagi." ujar Leo dengan tegas.


"Baik Tuan. Terimakasih atas kebaikan anda." Lagi-lagi Pelayan itu membungkuk dengan hormat.


"Mari Tuan Leo dan Nona Bintang, saya akan mengantar ke meja yang sudah anda pesan sebelumnya."


Tanpa banyak bicara mereka mengikuti sang pelayan Restauran.


Mereka sedikit masuk ke dalam. Ternyata Restauran itu menyediakan tempat outdoor. Disana hanya ada beberapa kursi yang tersedia karena memang tempat ini eksklusif dan harus di pesan jauh-jauh hari karena tempat yang terbatas.


Leo sengaja memilih di luar ruangan karena suasananya lebih romantis dan menyegarkan. Tidak hanya itu dia ingin Bintang merasakan udara luar ruangan setelah gadis itu terkurung di rumah sakit dan apartemen selama 4 hari lamanya.


"Silahkan Tuan Leo dan Nona Bintang. Kalau begitu saya permisi. Kami akan segara menyiapkan makanan yang sudah anda pesan sebelumnya." Setelah sampai di meja yang Leo inginkan, pelayan itu mengundurkan diri.


Bintang mengedarkan pandangannya melihat sekeliling. Indah satu kata tersebut yang ada di benak Bintang setelah melihat tempat penuh dengan lampu-lampu yang indah mengelilingi mereka.


"Saya baru tau, Restauran ini menyimpan harta karun yang luar biasa. Suasananya sangat bagus, tidak terlalu banyak orang juga, Disini bisa menikmati makan sambil menatap Bintang-bintang yang berkelip dengan cantik dan indah." Bintang terlihat senang melihat tempat makan yang Leo pilih.


"Seperti kau yang juga sangat cantik. Aku tidak heran jika orang tua mu menamai mu Bintang. Kau selalu bersinar terang di tengah kegelapan. Walaupun hidup yang kau lalui penuh dengan kegelapan tapi kau selalu bisa bangkit dan kembali bersinar terang. Itulah Bintang , walaupun dia akan hilang di kala pagi datang tapi dia akan selalu hadir di kala malam."


Berbeda dengan Bintang yang memandang takjub sekeliling tempat itu. Pandangan Leo malah terpusat pada satu titik yaitu Bintang. Dia menatap Bintang dengan penuh cinta.


Perlahan Leo menarik kursi untuk Bintang. "Ayo duduk."


Dengan patuh Bintang duduk mengikuti perintah Leo tanpa perdebatan. "Makasih Tuan."

__ADS_1


Setelah beberapa menit akhirnya makanan datang, terlihat berbagai makanan itu berjejer rapi di atas meja. "Wah, ini terlihat enak." Takjub Bintang. "Terimakasih ya." Ujar Bintang tersenyum manis ke pelayan wanita itu.


"Dengan senang hati Nona." Balas Pelayan wanita itu membalas senyuman Bintang dengan ramah.


"Selamat makan Tuan Leo dan Nona Bintang. Saya permisi." Pelayan wanita itu membungkuk hormat lalu beranjak dari sana.


Setelah sang pelayan wanita pergi, raut wajah Bintang seketika berubah menjadi serius. dahi gadis itu mengkerut seperti orang yang sedang marah. "Tuan, kenapa anda tidak berterimakasih kepada pelayan itu. anda sangat tidak ramah dan saya juga tidak suka tadi anda memarahinya karena hal yang sepele." Bintang marah dengan sikap Leo yang seenaknya kepada orang lain.


Leo tertegun saat di marahi oleh Bintang. "Dia sangat peduli dengan orang lain, kau sangat baik hati Bintang kecil ku."


Leo terlahir di keluarga yang kaya raya dan terpandang jadi dia tidak terbiasa berbasa-basi dengan orang yang mempunyai status di bawahnya. Dia tidak biasa berinteraksi dengan meraka sehingga Leo jadi terkesan tidak ramah. Selama ini tidak ada satu orang pun yang memarahinya dengan sikapnya yang seperti itu, bukan tidak ada mungkin tidak berani, namun Bintang dengan berani melakukan hal itu hari ini.


"Saya juga seorang pelayan di cafe jadi saya sangat mengerti perasaan nya. Apa anda tidak bisa melihat wajah pias nya tadi? Apa anda tak melihat tangannya yang bergetar karena takut? Walaupun dia seorang pelayan anda juga harus menghormati nya karena jika tanpa pelayan usaha anda juga tidak akan berjalan dengan baik. Tanpa bantuan karyawan anda tidak bisa sekaya raya sekarang. Kita derajatnya sama adalah seorang manusia."


Belum sempat menyentuh makanan Bintang sudah mengomel duluan panjang lebar. Walaupun Leo orang yang berkuasa namun Bintang tak takut menegur pria itu. Salah ya tetap salah walaupun dia adalah orang yang dari segi materi lebih dari kita.


"Saya senang jika anda mau berubah, saya mohon jangan lakukan itu lagi di depan saya."


"Ayo makan, nanti keburu dingin. Maaf karena saya marah dan tidak bisa menahan diri." Bintang juga merasa bersalah karena merubah suasana yang baik menjadi sedikit tegang. Dan seharusnya dia tidak berhak mengatur kehidupan Leo.


Tangan Leo perlahan mengelus tangan Bintang yang ada di meja. "Jangan meminta maaf, aku yang salah." ujar Pria itu tersenyum.


"Ehhh, dia tak marah sama sekali. Dia malah tersenyum. Apa dia sudah tidak waras?" Gumam Bintang dalam hati, dia bingung dengan sikap Leo.


Akhirnya meraka memulai makan malam dengan damai sambil menikmati langit malam yang indah.

__ADS_1


Leo dapat melihat Bintang yang kesulitan mengupas kulit udang. Pria itu dengan inisiatif yang tinggi mengupasnya untuk Bintang dan menaruh di piring gadis itu. "Makanlah, aku akan mengupasnya untuk mu."


"Makasih Tuan."


Semakin malam, angin berdesir makin kencang, itu membuat Bintang kedinginan, dia sesekali menggosokkan kedua telapak tangannya untuk mendapatkan sedikit kehangatan. "Padahal sudah pakai baju lengan panjang, kenapa masih dingin sih. Mungkin karena angin nya cukup kencang."


"Bintang kamu kedinginan?" Tanya Leo.


Bintang menjawab dengan anggukan pelan.


Seketika Leo menggeser kursi lalu berdiri dan segera melepas jaket tebal yang dia gunakan. Dia berjalan pelan mengitari meja. "Gunakan jaket ku jika kedinginan." Leo menyerahkan jaket hitam tebal yang tadi sempat melindungi tubuhnya dari dingin akibat angin yang bertiup kencang. Dia rela menahan dingin jika itu demi Bintang.


"Bagaimana dengan anda Tuan? nanti anda kedinginan juga. Lebih baik anda saja yang menggunakan nya, saya kuat kok." ujar Bintang yang tak langsung menerima tawaran pria tampan itu.


"Aku tidak merasakan dingin sama sekali. Gunakan ini, kau baru saja sembuh, aku nggak mau kamu sakit lagi." ujar Leo dengan wajah meyakinkan, dia seolah berkata. "Ayo terima."


"Benar juga kata Tuan Leo. aku nggak mau sakit lagi. Aku ingin segera bekerja dan bertemu dengan sahabat ku Nadia."


Dengan ragu Bintang menerima mantel tebal yang di sodorkan Leo. Bintang perlahan berdiri lalu memakainya.


"Sini aku bantu mengancingkan." Tanpa menunggu persetujuan Bintang, pria itu mengaitkan lalu menarik resleting itu perlahan sampai atas, menutupi leher Bintang.


Senyuman melengkung di wajah cantik itu. "Makasih Tuan. hangat sekali rasanya." Kedinginan yang dari tadi Bintang rasakan akhirnya terganti oleh hangat karena kebaikan Leo yang mau menyumbangkan jaketnya untuk Bintang.


Happy Reading ♥️♥️♥️😘

__ADS_1


I LOVE YOU 3000😘♥️🥰♥️♥️


__ADS_2