
Setelah menikmati makan malam, Bintang mengantarkan Nadia kembali ke cafe untuk mengambil motor yang masih terparkir di parkiran khusus karyawan.
Setelah sampai di depan cafe Bintang dan Nadia turun secara bersamaan.
"Bintang, makasih ya atas traktiran mu," ujar Nadia yang mengangkat tas belanja yang memenuhi tangannya.
"Iya, sama-sama, aku akan mengikuti mu dari belakang bersama Tuan Erik untuk mengantarmu pulang."
"Tak usah, aku bisa pulang sendiri, lagipula aku kan nggak jalan kaki pulang ke rumah."
"Tapi ini sudah malam, tidak aman untuk pulang sendiri." Bintang khawatir membiarkan Nadia sendiri pulang, jaman sekarang pembegalan sedang marak terjadi.
"Bintang, ini baru jam 8 malam, jalanan masih ramai, jadi kau tak perlu khawatir." tolak Nadia. Dia pikir Bintang cukup berlebihan kali ini.
"Tapi aku tetap khawatir."
Nadia membuka pintu mobil lalu mendorong Bintang untuk masuk. "Jangan banyak berdebat, aku bisa pulang sendiri, kau pulang lah, Tuan Leo pasti sudah menunggu mu."
"Kau yakin?" ujar Bintang dengan wajah sendu.
"Yakin seribu persen." Nadia menutup pintu mobil dengan cepat sebelum sahabatnya itu membantah ucapnya.
Bintang membuka kaca mobil agar bisa bicara dengan Nadia. "Hati-hati ya, kalau gitu aku pulang dulu, Byeee." Bintang melambaikan tangannya pelan.
"Byeee. sampai jumpa besok."
*
Ceklek.
Bintang membuka pintu apartemen secara perlahan, dia sangat terkejut karena sudah ada Leo yang berdiri di depannya untuk menyambut kedatangannya dengan senyuman lebar, pria itu sangat tampan saat tersenyum dengan tulus, dia hanya menggunakan piyama tidur tapi ketampanannya tak berkurang sama sekali.
"Tuan Leo." ujar Bintang.
Tanpa aba-aba Leo memeluk tubuh Bintang. "Aku merindukan mu, kenapa kau lama sekali?" Rengek Leo.
"Apa dia bayi? di tinggal sebentar sudah merengek." gerutu Bintang dalam hati, Leo begitu sangat berlebihan.
"Maaf Tuan, saya belum mandi tolong lepaskan saya." ucap Bintang.
__ADS_1
"Aku tidak peduli, balas pelukan ku dulu," Leo merasa sakit hati karena saat ini Bintang tidak membalas pelukannya.
Tanpa banyak drama tangan Bintang naik untuk menautkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh besar milik Leo.
"Elus punggung ku dan minta maaf lah karena kau sudah membuat ku menunggu begitu lama." perintah Leo dengan suara rengekan.
"Apa dia sudah gila? bukankah dia yang mengijinkan ku untuk jalan-jalan, sekarang kenapa aku yang harus minta maaf."
"Apa lagi yang kau tunggu, apa kau tidak mau melakukannya? aku akan menghukum mu jika kau menolak," ancam Leo yang tak merasakan ada pergerakan dari gadis itu.
"Selalu saja mengancam, menyebalkan."
Dengan rasa terpaksa Bintang mengelus punggung Leo dengan lembut sambil bersandiwara untuk meminta maaf. "Tuan saya minta maaf karena membuat anda menunggu."
"Baiklah, kali ini aku maafkan tapi jangan lakukan itu lain kali."
"Baik Tuan."
"Pekerjaan ku sekarang sudah berubah sebagai baby sister pria berbadan kekar ini, bayi besar ini sungguh merepotkan."
Setelah mendapatkan apa yang dia mau Leo melepaskan pelukannya. "Apa kau sudah makan malam?" Leo menggenggam tangan Bintang untuk menarik gadis itu lebih masuk ke dalam.
"Sudah Tuan."
"Tentu saja saya senang, saya juga menggunakan kartu kredit anda untuk mentraktir Nadia," ujar Bintang dengan jujur.
"Itu bagus." Jawab Leo singkat, dia tidak peduli masalah uang, yang dia ingin tahu adalah kondisi perasaan Bintang, akhir-akhir ini Bintang sedikit pendiam jadi dia sempat sedikit khawatir.
"Ehhh, sepertinya dia tidak peduli jika aku menggunakan uang nya, apa dia tidak menganggap aku mata duitan atau wanita yang memanfaatkan nya saja? kayaknya dia suka jika uangnya aku habiskan."
"Tuan, bisakah anda melepaskan tangan saya, saya akan masuk ke kamar dan mandi." ujar Bintang setelah berada di depan pintu kamarnya.
Segera Leo langsung melepaskan tangan Bintang. "Maaf," pria itu tersipu malu.
Setelah selesai mandi, bintang terlihat lebih segar, dia sudah menggunakan piyama bersiap untuk mengistirahatkan tubuh.
Bak sudah seperti pemandangan biasa, Bintang tak terkejut lagi melihat Leo yang sudah bersandar di atas kasur dengan laptop yang masih bertengger di pahanya. Pria itu terlihat serius dan begitu fokus dengan layar laptop miliknya.
Secara pelan Bintang naik ke atas kasur tanpa menegur Leo yang tengah berjibaku dengan alat elektronik yang dinamakan laptop itu.
__ADS_1
Merasakan ada pergerakan, fokus Leo menjadi teralihkan, dia melihat Bintang sudah ada di sampinya dengan posisi yang sama seperti posisi dirinya.
"Tidurlah jika kau ingin tidur duluan, aku masih punya sedikit pekerjaan," ujar Leo yang kembali fokus ke pekerjaan yang tadi sempat terhenti.
"Saya ingin bertanya sesuatu, apa boleh?" Bintang mencoba memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.
"Katakan."
"Nona Hani adalah mantan kekasih anda, apa anda tahu latar belakangan Nona Hani?" tanya Bintang dengan hati-hati.
"Aku hanya tahu kalau dia adalah seorang model sekaligus aktris," jawab Leo apa adanya, dia akan terbuka jika gadis itu bertanya, dia tak mau menutupi masalalu nya sebagai seorang playboy.
"Anda tahu tentang keluarganya?" tanya Bintang lebih dalam, dia belum puas dengan jawaban Leo.
Tangan Leo yang tadi sibuk seketika terhenti setelah mendengar pertanyaan Bintang. "Kenapa dia begitu segitu penasarannya dengan Hani? tak mungkin karena dia cemburu kan?"
Perlahan Leo menutup laptopnya lalu segara menaruh di atas nakas, dia menoleh ke samping dimana Bintang tengah menunggu jawabnya. Terlihat gadis itu sangat menanti jawaban yang akan Leo lontarkan.
"Kenapa kau ingin tahu tentang Hani?" tanya Leo balik.
Bintang yang di tanya seperti itu langsung gelagapan tak mampu memberikan jawaban yang masuk akal. "Saya hanya penasaran saja." jawab Bintang mengalihkan pandangannya lurus ke depan.
"Kau yakin hanya penasaran? tak ada yang kau sembunyikan dari ku?" selidik Leo.
"Saya yakin." jawab Bintang gugup.
Merasakan ada yang aneh Leo mendekat lalu meraup wajah kecil Bintang menggunakan kedua tangannya yang besar dan menatap Bintang intens. "Katakan yang sebenarnya. Tak bagus menyimpan semua sendiri."
Hati Bintang seketika menghangat, dia merasa Leo sangat peduli dengan perasaannya saat ini, pria itu ingin selalu tau tentang masalah yang dia alami, Leo terlihat begitu tulus.
"Tuan, bisakah anda lepaskan tangan anda terlebih dahulu." ujar Bintang yang wajahnya hampir tertutup oleh tangan besar milik Leo.
"Iya." Tangan Leo turun membebaskan wajah kecil Bintang.
Sebelum menjelaskan ke Leo, Bintang membenarkan duduknya, dia membalik tubuhnya agar menghadap ke Leo.
Leo melihat keraguan dari gerak gerik Bintang. "Katakan, jangan khawatir, aku tidak akan menghakimi mu."
Hembusan napas kasar terdengar dari Bintang. "Waktu saya kecil ibu saya meninggalkan saya dan tak pernah kembali sampai saat ini. Dulu dia berjanji akan menjemput saya tapi dia berbohong, dia adalah satu-satunya keluarga yang saya punya," ucapan Bintang berhenti sejenak, dadanya sesak saat mengingat semua kejadian di masa lalu, Bintang kecil yang menangis memohon agar tidak di tinggalkan oleh sang ibu tapi apa yang dia dapatkan? ibunya tak peduli dengan raungan Bintang kecil.
__ADS_1
Happy Reading ♥️♥️😘😘
I LOVE YOU 3000😘♥️🥰♥️♥️♥️