Bintang Kecil Ku

Bintang Kecil Ku
Mentraktir Nadia


__ADS_3

"Aku tahu satu hal, matan kekasih Tuan Leo yang pernah aku ceritakan itu memanggil Mamaku dengan sebutan Mama juga, aku yakin mereka mempunyai hubungan yang dekat, atau bisa saja itu anaknya dari pernikahan yang lain namun yang membuat aku ragu adalah, mantan kekasih Tuan Leo terlihat lebih Tua dari ku."


"Si Hani itu?"


"Iya." Bintang mengangguk cepat.


Walaupun tak bertemu selama seminggu Bintang dan Nadia saling bercerita melalui sambung telepon makanya Nadia paham apa yang di maksud oleh Bintang.


"Sebaiknya kau minta bantuan Tuan Leo agar bisa berkomunikasi dengan Hani, kau bisa mencari informasi tentang ibu mu melalui Hani." Saran Nadia.


"Kau benar juga, nanti aku akan coba bertanya ke Tuan Leo. Aku sangat yakin itu Mama karena Nona Hani memanggil nya dengan panggilan Mama Rahma dan itu nama Mamaku."


"Wajah bisa sama tapi kalau nama juga sama, itu tidak mungkin sebuah kebetulan. Kau harus segera mencari tahu." ujar Nadia yang setuju dengan ucapan Bintang.


Waktu berlalu dengan cepat, akhirnya sore hari tiba, saatnya untuk Bintang dan Nadia pulang.


Assisten Erik pun sudah berjaga di depan untuk menjemput Bintang.


"Bintang, motor ku ada disana, ngapain narik aku kesini." omel Nadia yang di tarik paksa oleh Bintang menuju mobil yang sudah terparkir di depan cafe.


"Ikut saja, aku akan memberikan kejutan untuk mu."


"Hari ini bukan hari ulang tahunku ngapain pakai acara kejutan sih."


"Emangnya harus ulang tahun dulu baru bisa ngasih kejutan, ayo ikut." Bintang terus menarik Nadia untuk mendekat ke arah Assisten Erik yang sudah siap menyambut mereka.


"Sore Nona Bintang dan Nona Nadia." sapa Assisten Erik.


"Sore Tuan Erik," jawab Nadia tersenyum kaku.


"Sore Tuan Erik, bisakah anda mengantar kami ke Mall?" tanya Bintang.


"Saya akan tanya dulu ke Tuan muda Leo."


"Oke, anda bisa tanyakan dulu."


Assisten Erik sedikit menjauh untuk melakukan panggilan telepon dengan Leo.


"Ngapain kita ke Mall?" bisik Nadia.


Bintang mengeluarkan card berwarna hitam itu dari sakunya untuk di tunjukkan ke Nadia.


"Kita akan shopping donk." jawab Bintang tanpa kekhawatiran akan dimarahi oleh Leo, lagipula Leo sendiri yang mengijinkan dia menggunakan card itu semaunya.


"Wahh, kartu ini punya mu?" takjub Nadia.

__ADS_1


Yang Nadia tahu hanya orang kaya saja yang bisa memiliki alat transaksi berwarna hitam itu.


"Tuan Leo memberikannya padaku, jadi hari ini aku akan mentraktir apapun untuk mu," ujar Bintang menaikkan kartu itu ke atas dengan gembira.


Selama ini Nadia sudah membantu nya banyak hal jadi inilah waktunya dia sedikit membalas kebaikan Nadia kepadanya, walaupun menggunakan uang Leo setidaknya dia bisa sedikit berbagi dengan Nadia. Dia hidup bak orang kaya akhir-akhir ini jadi Nadia juga harus merasakannya.


"Tuan Leo memang yang terbaik." ujar Nadia.


"Ada apa Erik?" tanya Leo melalui panggilan telepon.


"Nona Bintang minta untuk di antarkan ke Mall bersama temannya Nadia. Apa boleh?"


"Antarkan dia kesana dan juga awasi dia, kirimkan aku supir untuk menjemput ku di kantor." jawab Leo.


"Baiklah Tuan muda."


Tuttt. panggil tertutup.


"Bagaimana Tuan Erik?" tanya Bintang dengan penuh harap.


"Tuan muda mengijinkan Nona."


Senyuman langsung melengkung di wajah cantik Bintang. "Ayo kita berangkat."


Tanpa berlama-lana akhirnya mobil melaju menuju Mall terdekat.


"Tuan Erik bisakah anda berhenti mengikuti kami, lihatlah kami sedang memilih pakaian dalam," ujar Bintang dengan tak ada rasa malu sedikit pun, dia lebih malu jika di intip saat memilih pakaian dalam.


"Maaf Nona, ini perintah dari Tuan muda Leo harus mengawasi anda, kalau anda tidak nyaman saya akan menunggu di luar." Dengan salah tingkah Assisten Erik langsung keluar dari toko itu.


"Kenapa kau malah mengikuti meraka saat memilih pakaian dalam, sungguh malu sekali aku, aku begitu patuh dengan perintah Tuan muda sehingga lupa batasan, mau di taruh dimana muka ku ini, meraka akan mengira aku mesum." oceh Assisten Erik merutuki dirinya sambil berjalan ke luar.


"Assisten Tuan Leo begitu aneh." ujar Nadia.


"Sama seperti bosnya," ujar Bintang.


Setelah 1 jam jalan-jalan sambil cuci mata, Bintang dan Nadia memutuskan untuk makan malam bersama di Restauran mewah.


"Bintang, kau yakin kita akan makan malam disini? lihatlah harga makanannya, sangat di luar nalar," ujar Nadia.


"Tak masalah, memang mahal tapi harga tak pernah bohong, pesanlah makanan yang ingin kau makan dan yang belum pernah kau coba sebelumnya."


"Baiklah kalau begitu, bagaimana mungkin aku akan membuang-buang kesempatan ini." ujar Nadia menaik turunkan alisnya.


Setelah makanan datang, Nadia sibuk memotret semua makanan dengan tampilan yang begitu mewah itu. "Momen ini harus di abadikan, belum tentu datang dua kali kan?" ujar Nadia. "Bintang ayo kita berfoto bersama."

__ADS_1


Bintang langsung berpose dua jari dengan senyuman yang lebar di depan kamera.


Cekrek.


Cekrek.


Cekrek.


Beberapa photo di ambil.


Setelah sibuk mengambil gambar, mereka akhirnya makan malam dengan raut kebahagiaan. Bintang sangat senang melihat Nadia begitu senang hari ini.


"Wahh, enak banget, kau memang benar harga tak mengkhianati rasa," ujar Nadia yang makan dengan lahap.


"Makan juga ya ini, enak banget." Bintang menyuapi sahabatnya.


"Emmm, semua enak."


Sambil makan Bintang dan Nadia bercanda gurau menikmati momen kebersamaan mereka.


"Bintang." ujar Nadia setelah menelan makanannya.


"Emhhh, Apa?" jawab Bintang sambil mengunyah makanannya.


"Makasih ya, malam ini aku bisa merasakan bagaimana rasanya belanja tanpa beban dan juga makan makanan yang mahal bahkan ada beberapa yang mungkin aku tak akan pernah sanggup membelinya sendiri." ujar Nadia dengan haru.


"Jangan berterimakasih, kau melakukan lebih banyak hal untuk ku, bahkan aku tidak bisa menebus dengan apapun, walaupun kau dan orang tua mu bukan dari keluarga kaya tapi kalian memiliki hati yang kaya, kalian selalu memberiku dukungan sehingga aku bisa melewati semua masalah dalam hidupku selama ini."


Tak terasa air mata jatuh dari mata indah Bintang.


"Jangan menangis, ayo peluk aku." ujar Nadia merentangkan tangannya menawarkan pelukan.


Tanpa ragu Bintang berdiri lalu mereka saling berpelukan seperti Teletubbies.


"Terimakasih sudah menjadi sahabat ku." ujar Bintang.


"Terimakasih juga sudah menjadi sahabat ku." jawab Nadia.


"Berhenti menagis, kita lanjut makan, nanti kalau dingin nggak jadi deh aku menikmati makanan yang begitu mahal ini."


Bintang langsung tersenyum sambil sedikit mendorong bahu Nadia pelan. "Kau ada-ada aja." Rengek Bintang.


Ada saja cara Nadia untuk membuat Bintang tersenyum.


Assisten Erik yang ada di meja lain pun ikut merasakan kuatnya kasih sayang diantara sahabat itu.

__ADS_1


Happy Reading ♥️♥️♥️😘


I LOVE YOU 3000🥰🥰😘😘


__ADS_2