
Malam ini Leo dan Bintang makan malam bersama dengan hidangan yang sudah di siapkan oleh Bintang seperti permintaan Leo.
Makan malam berlangsung hening dan tenang tanpa perdebatan seperti biasanya, Bintang tampak lebih pendiam malam ini. Leo dapat melihat perubahan dari sikap Bintang, gadis itu lebih banyak melamun.
Seperti saat ini Bintang mengabaikan makanan yang tersedia di hadapannya, belum ada sedikit pun makanan yang masuk ke mulut gadis itu, dia hanya sibuk melamun sambil memainkan makanannya dengan sendok.
"Biasanya dia sangat antusias saat di hadapkan dengan makanan, tumben hari ini dia mengabaikan makanan, ada apa dengannya? dari tadi melamun terus." Gumam Leo dalam hati, sangat ketara sekali ada perubahan dari sikap Bintang yang biasanya doyan makan berubah menjadi murung di depan banyaknya makanan yang menanti untuk di makan.
"Bintang, kamu baik-baik saja?"
Tak ada jawaban dari gadis itu, Bintang diam tak merespon ucapan Leo.
Mendapati Bintang yang diam, tangan besarnya bergeser untuk merengkuh tangan mungil Bintang, dia mengelus pelan untuk menyadarkan Bintang. "Ada apa?" ujar Leo dengan halus.
"Ehhh." Lenguh Bintang yang tersadar dari lamunannya.
Bintang bisa melihat tangan Leo yang menggenggam tangannya.
"Ada apa Tuan?" Bintang menaikan alisnya. Dia yang harusnya menjawab pertanyaan malah dia yang bertanya.
"Kenapa melamun? ada masalah?"
Dengan cepat Bintang menggeleng, dia menyembunyikan masalahnya dari Leo. "Tidak Tuan."
"Kau yakin? apa yang kau pikirkan sehingga tumben mengabaikan makanan?" Leo terlihat tidak puas dengan jawaban Bintang, dia yakin ada yang menggangu pikiran Bintang.
"Mmmmm, saya hanya tidak nafsu makan saja," jawab asal Bintang.
"Kalau gitu aku suapi." Leo menyendok makanan yang ada di piring nya lalu mengarahkan nya di depan mulut gadis itu.
"Tidak perlu Tuan, saya bisa sendiri."
"Aaaaa," ujar Leo.
"Tuan, saya bisa sendiri."
"Tidak ada penolakan, ayo makan, kalau tidak mau, aku akan mengunakan cara lain untuk membuat mu makan, mungkin dengan mulut ku." ujar Leo dengan entengnya sambil tersenyum miring.
__ADS_1
"Mulut? dasar mesum, senangnya kok mengancam orang."
Mendengar ancaman itu dia dengan ragu membuka mulut menerima suapan dari Leo. "Terimakasih Tuan." ujar Bintang sambil mengunyah pelan makanannya.
Leo tersenyum tipis. "Makan lah yang banyak."
"Baik Tuan."
"Aku tahu ada yang mengganjal di pikiran mu, Bintang kenapa kamu tak mau cerita dengan ku? aku sadar diri kalau aku ini bukan siapapun bagimu tapi bagilah beban mu dengan ku."
Setelah makan malam Bintang kembali ke kamarnya.
"Tuan, kenapa anda mengikuti saya?" tanya Bintang yang melihat Leo mengekor di belakangnya untuk ikut masuk ke kamar miliknya.
"Ingin tidur." jawab Leo tanpa beban.
"Saya tahu Tuan, tapi kamar anda ada di samping sana," ujar Bintang menunjuk kamar Leo yang ada di sebelah kamarnya.
"Aku ingin tidur dengan mu malam ini."
Bintang terlihat menghela napas, dia ingin menolak tapi dia sedang tidak mood untuk berdebat dengan Leo. "Baiklah." jawab Bintang dengan mudah.
Tanpa keributan mereka naik ke atas ranjang. Bintang merebahkan tubuhnya di kasur dengan posisi memunggungi Leo.
"Bintang, boleh aku memelukmu?" tanya Leo, dia pikir sepertinya Bintang perlu pelukan, gadis kecilnya butuh dukungan saat ini, walaupun dia tidak tahu ada apa dengan Bintang namun dia bisa merasakan kesedihan gadis itu.
"Hmmm," jawab Bintang mengiyakan permintaan Leo.
Tak menunggu waktu lama Leo langsung mendekat kan tubuh nya ke tubuh mungil Bintang lalu memeluk gadis itu dari belakang, dia merengkuh pinggang Bintang dengan penuh kasih sayang.
Bintang terpejam merasakan tangan kokoh Leo melingkar di perutnya. dia mendapatkan kenyamanan dari pria itu, entah kenapa rasanya begitu tenang saat di peluk oleh Leo. "Begitu nyaman, kenapa anda begitu mengerti tentang saya Tuan Leo, padahal kita baru saja saling mengenal, anda begitu mengerti saat ini saya memang membutuhkan kekuatan dari orang lain." Gumam Bintang dalam hati.
"Merasa lebih baik?" tanya Leo.
Bukannya menjawab pertanyaan Leo Bintang malah membalik tubuhnya menghadap pria itu. Bintang sedikit mendongak untuk menatap mata Leo. Dia menatap mata pria itu begitu dalam.
"Ada apa?" Leo tersenyum tipis dengan menaikkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Tuan, jawab pertanyaan saya dengan jujur, kenapa anda ingin tidur dengan saya, tentang masalah AC itu, saya tahu waktu itu anda sedang berbohong." cerca Bintang, dia tahu Leo hanya mencari-cari alasan agar bisa tidur dengannya. Bintang tidak sebodoh itu tidak tahu bahwa Leo sengaja ingin tidur bersamanya.
Perlahan jari-jari berurat Leo mengelus pipi Bintang dengan lembut. "Maaf, aku memang mencari alasan agar bisa tidur dengan mu, waktu di rumah sakit kau selalu mengigau ketakutan, aku merasa aku harus tidur dengan mu, jika kau bermimpi buruk lagi, aku bisa segera memeluk mu."
Tatapan mata Leo tidak bisa berbohong, ada cinta dan kasih sayang di dalamnya. Dan Bintang bisa merasakan hal itu.
Deg.
Bintang baru tersadar bahwa akhir-akhir ini mimpi buruk itu tidak datang lagi. Dia flashback ke beberapa hari terakhir, memang benar semenjak dia tidur bersama Leo, dia sudah tidak bermimpi buruk lagi. "Selama ini ternyata Tuan Leo telah membantu ku, aku mengira dia adalah pria mesum yang hanya ingin memanfaatkan ku. Tapi dia begitu peduli dengan ku."
"Terimakasih Tuan." ujar Bintang dengan mata yang berkaca-kaca.
Tanpa ragu Leo langsung memeluk Bintang yang terlihat begitu terharu. dia menenggelamkan kepala gadis itu di dadanya yang bidang, lalu tangan kokohnya memberikan usapan lembut ke punggung Bintang seakan mengerti dengan perasaan Bintang saat ini. "Bicaralah jika ada yang mengganjal di pikiran mu, aku akan mendengar mu dengan baik, tapi jika kau tidak siap untuk bicara sekarang, simpanlah sampai kau siap, aku akan menunggu mu." ujar Leo dengan suara yang rendah.
"Makasih Tuan." hanya kata itu yang bisa Bintang ucapakan, dia belum siap bercerita untuk saat ini.
"Tidurlah, selamat malam, mimpi yang indah." Setelah mengatakan itu Leo mengecup pucuk kepala Bintang dengan penuh kasih sayang. Lalu memeluk gadis itu dengan erat.
"Anda juga Tuan." Bintang menjawab dalam hati.
Akhirnya mereka tertidur dengan saling berpelukan.
*
Pagi harinya seperti biasa Assisten Erik sudah ada di apartemen bosnya untuk menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi Nona, bagaimana kabar anda?" sapa Assisten Erik yang melihat Bintang menghampiri nya ke meja makan.
"Saya baik Tuan Erik, bagaimana dengan kebun yang anda punya? apa saja yang anda tanam? saya tidak menyangka anda juga suka berkebun."
Dahi Assisten Erik seketika mengkerut dengan pertanyaan Bintang. "Sejak kapan aku berkebun?" gumam Assisten Erik dalam hati.
"Saya tidak mengerti maksud anda Nona, saya tidak pernah berkebun." jawab Assisten Erik yang tak paham maksud Bintang.
"Eungg, anda tidak berkebun? Tapi kata Tuan Leo, anda rajin bercocok tanam dengan istri anda." ujar Bintang dengan polos.
Happy Reading guys 😘♥️😘🥰
__ADS_1
I LOVE YOU 3000🥰😘♥️😘🥰😘