
“Widiiih yang dipingit kek mau nikah aja,” Luna menggoda Biru saat Biru masuk kelas.
Mendengar hal itu Biru menoyor bahu Luna. Luna mengambil tas yang ada di kursi yang sedianya dia sediakan untuk Biru duduk.
“Pagi nih ya sekarang berangkatnya,” Luna cengengesan, sementara Ros belum nampak batang hidungnya.
“Puas lo lihat gue menderita,” Biru cemberut.
“Eh gimana sih kok bisa sampai lo disewain pengawal,?” Luna nampak kepo. Buru-buru Biru membekap mulut temannya itu dengan jarinya, agar temannya yang lain tidak tahu jika dia kini kemana-mana diawasi bodyguard.
“Jadi sama si Messi,?” Luna penasaran juga, dan dia belum tahu jika Messi sudah dicoret jauh-jauh dari daftar oleh abangnya.
Seseorang mendekati mereka berdua, lalu meletakkan tasnya di kursinya.
“Ada mahasiswa baru kah,?” Ros bertanya pada Luna dan Biru. Luna mengernyit, sedangkan Biru nampak melihat Ros dengan tatapan datar.
“Kenapa emang,?” tanya Luna.
“Tuh tadi aku di depan ada cowok gitu, cakep banget sih…kalaupun mahasiswa jurusan kita aku mah hafal wajahnya,”
“Mahasiswa jurusan lain kali, tampan mana sama si Mario,?” Luna menyeringai, Biru menyenggol lengan Luna.
“Eh jangan bandingin Mario sama yang lain, jauh lah…Mario tetaplah nomer satu,” Biru mengacungkan telunjuk jemari kanannya.
“Eh cakep seriusan dia, sumpah,” Ros mengangkat jarinya yang membentuk huruf V.
“Ih masa sih,?” Luna semangat 45 jika sudah membahas cowok ganteng.
“Noh lihat aja sendiri,” Ros meminta Luna memeriksanya, tanpa menunggu aba-aba yang kedua kalinya, Luna bergegaas keluar kelas dan menyapu pandangan. Tidak ada orang yang dimaksud.
“Mana sih,?” Luna sudah kembali masuk ke dalam ruangan setelah celingukan mencari sosok yang dimaksud.
“Tadi ada kok jaket hitam,”
“Hish kepo amat jadi orang, dih sini mana tugas gue,?” Biru nampak sebal melihat tingkah Ros dan Luna.
“Tugas apaan,?”
__ADS_1
“Bukannya hari ini ada tugas buat persyaratan ikut UAS minggu depan,?” Biru mengingatkan. Kedua sahabatnya itu saling tatap, nampaknya mereka lupa.
“Bi…ini tugasnya,” Jennara datang menyerahkan tugas yang Biru pesan.
Biru menerima tugas tersebut dengan senang hati.
“Ya Ampun Jenna….lo baik banget sih, oh ya…kamu mau makan apa hari ini? biar aku yang traktir,” ungkap Biru tulus. Meskipun dia berandal, tapi dia tidak muka dua di hadapan Jennara yang baik hati itu, baginya Jennara itu seperti ibu peri baginya saat berada di kampus. Baik banget.
“Nggak usah Bi, sudah sarapan tadi kok dari rumah,” tolak Jennara.
“Ih beneran,? Nggak enak ih gue nggak bisa kasih apa-apa sama lo,”
“Nggak apa-apa, cek ya barangkali ada yang kurang itu makalahnya,”
“Oh nggak usah, gue yakin sama lo kok Jenn, thanks,” Biru mengangkat makalahnya dengan wajah berbinar-binar.
“Dih enak banget,” ujar Ros, Luna mengangguk.
“Iya tuh,” sahut Luna akhirnya.
Kuliah pagi pun berakhir, nanti akan ada kuliah jam 2 siang. Biasanya jika ada jeda kuliah
“Gue mau pergi sama temen-temen gue, lo di sini aja ya…gue nggak jauh kok, palingan ngemall doank, pakai mobil Luna,” Biru berbicara di luar mobil, sementara Dipa berada di dalam mobil hendak keluar saat menyadari Biru datang menghampiri.
“Lo nggak usah keluar mobil, di dalam aja, gue nggak mau temna-teman gue tahu,”
“Maaf Nona, biar saya antar,”
“Nggak usah, lo di sini aja, lagian bentar doank, nanti jam 2 balik ada kuliah,” Biru masih mencoba berdiplomasi. Dasar Dipa yang memang professional dan tidak mau membangkang aturan yang sudah dia sepakati dengan Kawa, maka dia bersikeras akan mengantar Biru kemanapun Biru pergi.
“Saya antar nona kemana pun nona pergi, dan saya tidak akan dekat dengan nona,”
Biru mendengus sebal, tidak ada pilihan. Akhirnya dia masuk ke dalam mobil dengan mengajak Luna dan Ros.
“Ini bodyguard lo,?” bisik Luna. Biru tidak menjawab. Sementara Ros yang baru saja masuk ke dalam mobil pun ternganga saat melihat orang yang ada di balik kemudi. Jemarinya menunjuk ke arah Dipa.
“Kenapa,?" tanya Luna.
__ADS_1
“Ini kan mas-mas yang aku kira mahasiswa tadi,” bisiknya.
“Oh ini,?” Luna ikut menunjuk, sedangkan Biru sangat tidak tertarik dengan pembicaraan dua temannya itu.
“Bi…duh…kalau ini mah bening banget nget nget,” Luna berbinar melihat Dipa. Mobil pun mulai berjalan.
“Siapa namanya,?” bisik Ros. Biru menatap Ros dengan mata membulat, dia sendiri pun tidak tahu siapa namanya.
“Ehm…boleh kenalan mas,?” ujar Luna mendahulia. Ros dan Biru matanya terbelalak, Luna memang agak-agak.
“Oh…nama saya Dipa,” jawab Dipa tegas dengan tatapan matanya tidak beralih.
“Dipaa…gue Luna,” ujar Luna dengan suara genit, membuat Biru mengangkat bibirnya sebelah mendengar kegenitan Luna. Ros menepuk dahinya.
“Jangan ganjen-ganjen,” ledek Ros.
“Ih biarin aja ih,” Luna tak peduli.
Ini adalah pertama kalinya Biru tahu jika orang yang ada di kemudi adalah Dipa. Ya…namanya Dipa, orangnya kaku, dingin, terlihat tidak bersahabat, sok professional, dan nggak bisa diajak bekerja sama. Membuat Biru frustasi
meskipun belum ada sehari dia bersamanya.
Biru melihat keluar jendela, membuang jengahnya. Ponselnya dari tadi bergetar, ada banyak pesan masuk. Salah satunya dari Mario. Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu, dan saat ini mereka akan bertemu di bioskop untuk nonton. Biru tersenyum senang karena akan melepas rindu dengan Mario.
Akhirnya Biru berhasil masuk ke dalam bioskop tanpa Dipa, Dipa berhasil diyakinkan oleh Luna dan Ros jika mereka akan baik-baik saja saat berada di dalam gedung bioskop. Akhirnya Dipa memilih untuk minum kopi di tempat yang tidak jauh dari bioskop. Kebetulan dia tidak suka berada di dalam gedung bioskop, dia merasa engap karena gelap.
Biru bahagia akhirnya kedua sahabatnya itu berguna, setidaknya dia bisa berduaan dengan Mario saat nonton nanti. Biru juga meminta agar Luna dan Ros merahasiakan dari Mario jika dia memiliki pengawal sekarag.
“Bereees,” Luna dan Ros mengacungkan jempolnya. Mereka masuk ke dalam gedung bioskop setelah membeli tiket.
“Hai sayang…,” sapa Mario sambil melambaikan tangannya, dia sudah janjian dengan Biru untuk duduk berdampingan. Sedangkan Ros dan Luna menjaduh agar tidak menganggu mereka.
“Aku kangen,” ujar Biru sambil memeluk Mario manja.
“Kenapa nggak bisa keluar?” tanya Mario. Biru mencebikkan bibirnya, dia belum menceritakan duduk permasalahan yang sebenarnya terjadi.
“Biasalah….ada masalah di rumah, bonyok tahu kalau aku sering bolos kuliah, keluar malam, dan lain-lain,” Biru menatap Mario. “Sampai-sampai aku nggak boleh keluar,”
__ADS_1
“Hah…masih ada kayak gituan,” protes Mario. Biru mengangguk dengan tatapan sendu. “Bagaimana nanti malam kalau kita balapan lagi,?” tanya Mario, sejenak mata Biru berbinar nampak senang, namun saat dia sadar bahwa itu nggak mungkin. Mimik wajahnya seketika berubah menjadi suram. Andai saja Dipa bisa disogok, pasti akan mudah. Ah Dipa…kenapa lo merepotkan,?