
Biru berlari kecil menyusuri lorong rumah sakit. Mencari kamar yang dimaksud oleh Dipa, dia mendapatkan informasi kamar dari Dipa lewat pesan singkat.
“Bruuuk,” tubuh Biru menabrak seseorang, tanpa sengaja dia menubruk orang itu karena dia tengah sibuk memperhatikan ponselnya.
“Aduh,” pekik Biru sembari mencoba berdiri, dan saat melihat ke arah depannya, seorang wanita cantik juga sedang membereskan tasnya yang jatuh.
“Oh maafkan saya bu,” tangan Biru cekatan membereskan tas yang terjatuh dari Ibu tersebut.
“Nggak apa-apa, saya juga terburu-buru, kita sama-sama terburu-buru” jawab wanita itu dengan lembut, tidak menunjukkan amarah sama sekali, bahkan senyumnya mengembang cantik di bibirnya. Biru merasa tak enak hati, Biru dengan seksama melihat wanita tersebut.
“Apa kita pernah bertemu,?” tanya Biru, sesaat setelah mereka berdua berdiri dari posisinya. Wanita itu pun memperhatikan wajah Biru, memang rasanya tidak asing.
“Tante Inda?” Biru tersenyum, merasa berhasil mengingat wanita yang ada di depannya. “Saya Biru tante, Bunda Ganis,” Biru menyebut nama Bundnaya untuk mengingatkan wanita tersebut.
“Tante ingat,” Indadari tersenyum, tangan kanannya mengelus pundak Biru. Biru tersenyum lalu menyalami tangan Indadari.
“Maaf ya tante, tadi nggak lihat jalan dengan baik,” Biru kembali meminta maaf.
“Nggak apa-apa, tante juga tadi meleng nggak lihat jalan dengan baik,”
“Tante mau kemana? Siapa yang sakit,?” tanya Biru setelah ingat jika mereka berdua ada di rumah sakit.
“Oh tante tadi habis jenguk saudara tante, kamu siapa yang sakit,?”
“Oh ini tante, neneknya temen…iya temen,” Biru menggaruk kepalanya. Baru kali ini menyebut Dipa teman.
“Oh…salam buat neneknya teman ya…,” Indadari menepuk pundak Biru lalu tersenyum manis. Biru meringis.
“Iya tante,” Biru mengangguk pelan.
“Ya sudah, tante balik dulu ya,”
Biru mengangguk pelan lalu berjalan, begitu juga dengan Indadari perlahan meninggalkan Biru. Biru
kembali celingukan mencari ruangan yang dimaksud.
“Nonaa,” Suara Dipa membuat Biru menengok ke belakang. Biru merasa senang melihat Dipa di sana, tak perlu dia mencari ruangan yang dimaksud, karena ini adalah pertama kali dia masuk ke rumah sakit ini.
__ADS_1
“Hah syukurlah,” Biru menghela nafas panjang, merasa lega.
Indadari yang belum jauh dari Biru menoleh saat mendengar nama Biru dipanggil oleh suara Dipa. Indadari memperhatikan dua anak muda yang sedang ngobrol itu. Dadanya terasa berdebar saat melihat Dipa sedang ngobrol dengan Biru. Dia merasa sangat akrab melihat wajah Dipa walau dari kejauhan.
Indadari duduk di sebuah kursi tak jauh darinya, dia duduk dan memperhatikan Dipa dan Biru dari jauh. Ingatannya tertuju pada beberapa tahun yang lalu, saat dia terakhir kalinya melihat mata anaknya.
“Mungkin dia sudah seusia dia,” gumamnya, pandangannya tak berkedip melihat Dipa dan Biru. Hanya sesaat, kemudian mereka berdua berjalan menuju lorong yang lain, mungkin menuju kamar perawatan. Indadari tersenyum kecut, kembali teringat pada peristiwa menyakitkan itu.
“Mama merindukan kamu nak,” gumamnya perlahan, matanya berkaca-kaca. Tapi akhirnya dia bisa menahannya meskipun batinnya terluka.
Biru sampai di depan pintu perawatan neneknya, tertutup rapat. Dipa membuka pintu perlahan, terlihat Utinya tidur. Biru berjalan pelan, agar tidak menganggu Uti Dipa. Ini pertama kalinya dia melihat Utinya Dipa.
Wanita dengan rambut yang hampir memutih semua itu nampak tertidur pulas.
“Silahkan masuk Nona,” Dipa mempersilahkan, Biru mengangguk kecil dan memilih duduk di sofa.
“Siapa,?” suara itu memecah keheningan.
“Uti mau makan atau minum,?” Dipa mendekat ke arah Utinya dan menawarinya makan atau minum.
“Minum,”
“Oh kenalkan Uti, ini Nona Biru, dan Nona…ini Uti,” Dipa memperkenalkan mereka berdua.
“Oh ini,?” Uti tersenyum. Biru mengangguk, tangannya mengembalikan gelas bekas minum Uti.
“Iya U..Uti,” Biru ikut memanggil panggilan Uti.
“Terima kasih ya nak, tolong kalau cucu Uti kerjanya nggak beres, tolong jewer saja,” Uti bercanda, Biru tertawa mendengarnya. Dipa hanya tersenyum saja.
“Sama siapa kesini,?” tanya Uti sambil melihat Biru, gadis cantik itu nampak baik.
“Sendirian,” jawab Biru.
“Hoh…kenapa nggak minta jemput Dipa?” Biru menggeleng. “Dipa, harusnya kamu kerja hari ini, tega banget buat Nona kamu kesini sendirian.
“Maafkan saya nona”
__ADS_1
“Hish…nggak usah lo pikirin,” Biru mengibaskan tangannya. “Gue baik-baik saja, dan nggak ketilang,” Biru tertawa kecil.
“Maaf ya nak,”
“Ah nggak apa-apa Uti…nggak apa-apa,” Biru malah merasa nggak enak hati.
“Dipa…Ayu mana,?” tanya Uti tiba-tiba, karena seingatnya, pagi tadi Ayu yang mengantarkannya dan menungguinya.
Biru terdiam mendengar Uti bertanya tentang Ayu, yap…dia ingat siapa Ayu, bahkan wajahnya dia masih ingat. Berarti yang mengurus Uti adalah Ayu. Biru terdiam, pandangannya kembali ke layar ponselnya.
“Sudah pulang Uti, tadi ada urusan penting ke kantor,” jawab Dipa. Dipa melihat ke arah wajah Biru, yang tak lagi nampak tersenyum. Apakah ada yang salah dari perkataan dia?
“Uti istirahat dulu, saya akan mengajak Nona untuk keluar, mungkin Nona belum makan siang,” Dipa pamit keluar. Biru melihat ke arah Dipa dengan mata memicing, lalu dia melihat ke arah jam tangannya, memang sudah siang. Dan perutnya juga lapar.
“Mari nona,” Dipa mengajak Biru keluar. Biru pun menurut.
“Jadi, Uti sakit apa,?” tanya Biru sambil berjalan santai di samping Dipa.
“Kecapekan sih, tekanan darahnya turun,” Dipa kembali mengingat penjelasan dari dokter tadi.
“Oh, semoga lekas sehat,” ucap Biru tulus, kenapa dia bisa selembut dan segabut ini berada di sini? Ah sudahlah.
“Terima kasih nona, oh ya…nona nggak kuliah? Maaf tidak bisa mengantarkan,” Dipa merasa bersalah.
“Nggak, memang nggak ada kuliah hari ini, diganti besok,” jawab Biru. Dipa menyerahkan sebotol air mineral, dan membukan seal tutup botol tersebut.
“Terima kasih sudah kesini untuk Uti, tapi saya tetap mengkhawatirkan nona,”
Biru menghela nafas panjang, pasti Dipa berfikir jika dirinya masih terluka dengan apa yang dilakukan Mario. Biru tersenyum tipis, mungkin ini salah satunya kenapa dia pergi kesini.
“Gue baik-baik saja kok, kenapa,?” Biru menatap Dipa setelah meneguk minuman yang disodorkan Dipa tadi.
“Saya hanya khawatir terjadi apa-apa jika nona menyetir sendiri,”
“Heh lo lupa ya kalau gue itu mantan pembalap yang sering ketilang?” Biru tertawa. “Gue baik-baik aja,”
“Nanti kalau balik saya antar,” jawab Dipa, merasa tak enak hati dan dia merasa khawatir. Karena Dipa merasa Biru belum baik-baik saja.
__ADS_1
Biru memainkan botol air mineralnya, tak ada percakapan di antara mereka berdua. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kenapa Biru bisa sampai sini dan mengkhawatirkan Dipa yang tengah disibukkan oleh Utinya yang sakit? Ini bukan Biru yang biasanya.
Sedangkan Dipa, dia memang sangat khawatir Biru tiba-tiba ingin datang ke rumahnya dan menengok Utinya, dan nyetir sendiri sampai kesini. Dipa merasa tersanjung, tapi dia harus sadar diri. Bukan maksud apa-apa, ini hanya salah satu kebaikan Biru sebagai majikannya. Sedangkan Dipa juga harus memikirkan Ayu.