
“Mau di bawa kemana gue,?” ujar Biru dengan suara telernya. “Gue masih mau party….,” ujarnya. Dengan segera Dipa membawa Biru keluar dari area ini agar Mario tidak melihatnya. Langkahnya dipercepat sambil membopong Biru yang sudah memejamkan matanya, tubuhnya sudah lunglai. Benar-benar mabuk berat.
Dengan agak kesulitan Dipa berhasil membuka pintu mobil, dengan hati-hati dia merebahkan Biru di kursi belakang kemudi. Baju yang seksi membuat Dipa serasa mendapat godaan. Dipa meraih jaketnya yang ada di depan, lalu diletakkannya di tubuh Biru agar tidak terlihat terlalu seksi.
“Gue mau party…beb…beb…gue seneng banget, I love you beb,” tiba-tiba Biru meraih tangan Dipa yang baru saja meletakkan jaket ke tubuh Biru. Dipa terdiam melihat tingkah Biru saat mabuk.
“Tangan lo hangat banget sih beb,” Biru semakin menarik tangan Dipa, Dipa berusaha menarik balik. Tapi tarikan Biru kuat, Biru mencium tangan Dipa sambil senyum-senyum dengan mata tertutup.
“I love you beb,” Biru mengelus tangan Dipa dan akhirnya dia kembali terlelap. suasana kembali hening. tapi hanya bertahan beberapa detik.
"Gue benci sama elo, cakep tapi selalu ngintilin orang mulu," umpatnya, sekiranya ucapan itu untuk Dipa. Senyum Dipa kembali mengembang.
Dipa berhasil menarik tangannya, dia bergegas keluar mobil dan menutup pintu mobil untuk segera membawa Biru pulang ke rumahnya.
Mario melihat di kerumunan banyak orang yang masih asyik melantai, tak ditemukannya Biru di sana.
“Kemana dia,?” ujarnya pada dirinya sendiri. Dia menyibak banyak orang, dan tidak ada yang dicarinya. “Sial,” umpatnya.
Tak putus asa, Mario menyisir satu demi satu dari sofa ke sofa, dan tidak ada juga. Kemana perginya cewek mabuk itu. Gagal lagi rencananya. Mario mengusap rambutnya dengan kasar.
Mario mencoba keluar dari area ini, mungkin saja Biru masih berada di area luar hotel. Tidak mungkin dia akan bisa keluar hotel ini sendirian dengan langkah cepat, karena Mario tahu Biru sudah mulai mabuk berat.
Tidak ada juga, Mario melihat deretan mobil, tidak ada manusia di area ini. Mario semakin kesal. Bisa-bisanya Biru menghilang begitu saja.
__ADS_1
Mario kembali ke dalam, dia menghempaskan tubuhnya di sofa dan mengambil minuman cap oleng di meja. Minum sebanyak-banyaknya sebagai pelampiasan emosinya yang gagal untuk berduaan dengan Biru.
***
Dipa melihat Biru masih terlelap di belakangnya, mesin mobil sudah mati. Dia masih berharap Biru bisa sadar sesegera mungkin dan bisa berjalan masuk ke dalam rumah tanpa terlihat sedang mabuk. Tapi harapan tinggal harapan, Biru masih terlelap dalam mabuknya.
Dipa membuka pintu mobil dan dengan hati-hati dia membopong Biru keluar dari mobil. Setelah berhasil membawa Biru keluar mobil, Dipa berjalan mendekat ke arah pintu. Untung saja dia membawa pintu itu, dia benar-benar dipercaya oleh keluarga Biru. Suasana rumah nampak lengang, karena memang sudah lebih dari tengah malam, hampir mendekati subuh malah.
Dipa membawa Biru ke kamarnya dengan meniti anak tangga menuju lantai dua. Dipa menatap anak tangga tersebut lalu beralih ke wajah Biru. Dia mengeratkan tangannya agar berhasil membawa Biru hingga ke atas dengan selamat.
Akhirnya Dipa berhasil membawa Biru ke atas, dia sudah berada di depan pintu kamar Biru. Karena kamar tidak terkunci, ini memudahkannya. Dipa mendekat ke ranjang dengan seprei warna abu muda itu. Dia mendaratkan tubuh Biru dengan hati-hati, dan gadis itu benar-benar seperti orang mati, sama sekali tidak terbangun. Dipa
melepaskan sepatu Biru bergantian, lalu menarik selimut dan menutupi tubuh Biru hingga sampai leher. Hanya terlihat wajah Biru yang tenang di sana. Dipa segera mengambil sepatu yang dia lepaskan tadi dan meletakkannya di tempatnya. Tidak ingin menganggau Biru, dia segera keluar dari kamar Biru.
“Bebbbb, mau kemana,?” racau Biru yang sukses menghentikan langkah Dipa yang hampir tiba di pintu kamarnya. Dipa menoleh ke arah Biru, dilihatnya Biru masih tergolek, nampaknya dia masih terpengaruh minuman oleng sehingga kembali meracau tidak jelas. Dipa menggelengkan kepalanya dan benar-benar keluar dari kamar Biru.
Biru mengucek matanya, paparan sinar matahari perlahan masuk ke kamarnya melalui celah gorden. Biru kembali mengucek matanya, memastikan dirinya berada di mana. Selimut masih membungkus tubuhnya, Biru mengulat dan mengubah posisinya menjadi duduk. Dilihatnya jam dinding di kamarnya, sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
“Oh Tuhan…bagaimana caranya gue bisa berada di kamar ini,?” gumamnya sambil memijat lehernya yang terasa kaku. Terakhir diingatnya adalah saat semalam dia ditinggalkan oleh Mario, selebihnya dia tidak ingat sama sekali.
“Ah gue kira gue di mana,” Biru menggaruk rambutnya, terdengar bunyi cacing di perutnya yang sudah demo minta makan. Biru tidak bergegas turun terlebih dahulu, dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang terasa lengket. Masih sedikit terasa pusing karena mabuk semalam, Biru mengguyur rambutnya dengan air hangat dari shower. Agar dia kembali bugar.
Sambil menyenandungkan lagu, Biru menikmati aktivitas mandinya. Setelah dirasa cukup, Biru keluar dan berganti pakaian. Tanpa make up, tanpa menyisir rambutnya terlebih dahulu dia keluar kamar dan hendak menyarap.
__ADS_1
Biru melihat suasana rumah dari depan kamarnya, dia melongok ke bawah. Nampak sepi, iya juga soalnya jam sarapan sudah berlalu lebih dari beberapa jam. Biru menggulung handuk di kepalanya. Dia akan turun untuk sarapan.
“Bunda sama Papa kemana Buke,?” tanya Biru pada Mbak Marni yang dipanggil Buke.
“Ada acara non,”
“Oh, kapan,?” Biru menarik kursi dan duduk di sana.
“Habis sarapan tadi non, non dicari tadi,”
“Oh,”
“Saya siapkan sarapan sekarang,?” tanya Marni. Biru mengangguk.
“Ini milik siapa Buke,?” Biru mengangkat gelas yang berisi air jeruk peras hangat.
“Oh itu, tadi Mas Dipa yang buat, silahkan diminum non, biar seger katanya,”
What? Dipa? Ngapain juga melakukan itu?
Marni menyiapkan makanan untuk Biru dan meletakkan di meja makan.
“Wow….enak,” Biru menghirup aroma makanan itu. Sop iga yang menggoda selera. “Tumben Buke masak makanan ini, udah lama banget lho Buke,”
__ADS_1
“Iya, tadi mas Dipa yang usul masak ini, yang berkuah segar” jawab Marni. Biru menatap Mbak Marni yang kembali ke dapur, dia sedang mengambilkan nasi untuk Biru. Biru memutar bola matanya. Dipa? Sejak kapan dia menjadi bagian tim koki rumah ini?. Biru memiringkan bibirnya, tangannya menggosok rambut dengan handuk putihnya.
“Ini non, silahkan dinikmati,” Marni meletakkan piring berisi nasi tepat di hadapan Biru. Terlepas dari Dipa yang meminta, Biru sudah lupa. Dia segera menyantap sarapan pagi yang sudah kesiangan ini dengan nikmat.