
“Mas…..permisi,” terdengar suara dari luar pintu. Dipa baru saja selesai mandi dan berganti baju, rambutnya masih basah.
“Iya sebentar,” Dipa berjalan menuju pintu dan membukanya. Buk Marni berada di depan pintu.
“Iya buk,?”
“Dipanggil sama nyonya,”
“Saya?”
“Iya, di ruang tengah,” ujar Marni sambil menunjuk.
“Iya buk,” jawab Dipa.
“Ok mas, saya kembali dulu,” sekembalinya Marni, Dipa masuk kamar kembali dan mengeringkan rambutnya dengan handuk, dia bergegas untuk menemui Bundanya Biru.
Nampak Ganis tengah membaca majalan di ruang tengah, teh hangat dan camilan berada di meja di depannya.
“Saya nyonya,” Dipa mengangguk.
“Oh Dipa, mari duduk,” Ganis mempersilahkan. Dipa mengangguk dan duduk di sofa yang berseberangan dengan Ganis. Nampak wajah Ganis menampakkan senyum. Ganis melepas kacamatanya dan meletakkan majalah yang di abaca. Tangannya meraih paperbag berukuran kecil.
“Ini buat kamu,” Ganis mengulurkan paperbag tersebut untuk Dipa. Dipa masih mematung, dia menatap paperbag tersebut. Ganis tersenyum sambil mengangguk.
“Kemarin waktu di paris saya sama suami membelikan ini untuk kamu,” ucap Ganis. "Terimalah, tidak seberapa,” imbuhnya. Tangan Dipa terulur meskipun agak ragu.
“Semoga kamu suka,”
“Tidak usah repot-repot nyonya,” Dipa merasa tak enak hati.
“Tidak repot, tidak seberapa dibandingkan dengan jasa kamu saat mendampingi Biru,”
__ADS_1
Dipa menatap Ganis dengan serius.
“Iya, perubahan dia begitu signifikan saat kamu menjadi pengawalnya, bahkan dia menyukai hal-hal yang di luar nalar, tidak suka lagi dugem, mabuk, ngebut di jalan raya yang hampir setiap hari kena tilang,” Ganis tertawa kecil. Putri kecilnya yang badung kini memang berubah. “Dan dia terlepas dari Mario juga, terima kasih,”
“Maaf nyonya, tapi ini bukan karena saya,” Dipa masih merasa dia tidak memiliki andil apapun.
“Tidak, kamu punya andil di sini, sudah, saya mengucapkan banyak terima kasih ke kamu, dan tolong jangan keluar dari pekerjaan ini,” ungkap Ganis.
“Tapi nyonya….,” Dipa menghentikan kalimatnya, bukan tujuan utamanya bekerja sebagai bodyguard. Dia menjadi pengawal Biru karena mengisi waktu sebelum dia mendapatkan ijazah kuliahnya. Selepasnya dia akan menyusun kembali masa depannya.
“Setidaknya jangan sekarang, kita masih membutuhkan kamu nak Dipa, tolong ya…,” Ganis meminta. “Pun begitu dengan suami saya, hanya saja dia tidak sempat ngobrol dengan kamu,”
Sejenak terdiam, Dipa akhirnya mengangguk kecil. Menyanggupi tidak akan keluar dalam waktu dekat, mungkin akan menghabiskan masa kontraknya.
“Baik nyonya,” jawab Dipa. Ganis merasa sangat senang mendengar jawaban itu yang keluar dari mulut Dipa.
“Semoga jam tangannya cocok dengan kamu, pakai ya,” Ganis mengangguk dan melempar senyum.
“Iya sama-sama,”
Dipa pamit undur diri, sebentar lagi dia akan mengantarkan Biru ke kantor papanya untuk magang, hari pertama magang.
Dipa membuka hadiah yang diberikan oleh keluarga ini, sebuah jam mahal, merk ternama yang tentunya harganya tak main-main. Terasa terlalu mewah baginya, merasa Dipa tidak pantas mendapatkan ini. Tapi Dipa tidak mau membuat kecewa nyonya Ganis, akhirnya dia memakainya.
Dipa tengah siap di depan, menunggu Biru keluar rumah untuk diantarkan ke kantor. Menggunakan rok di atas lutut, kemeja putih dan juga blazer hitam, rambut digerai. Sebuah tas dengan merk terkenal, Biru masuk ke dalam mobil. Dipa segera masuk ke dalam mobil dan bersiap mengantarkan Biru menuju kantor papanya.
Lagi-lagi, tidak ada percakapan di antara mereka. Dipa pun diam saja, fokus menyetir. Biru membuka cermin kecil dan mematut wajahnya, apakah make up nya sudah terlihat sempurna. Dan seperti biasa, dia merasa sangat percaya diri. Biru mengembalikan cermin kecil tersebut.
Lolos dari macet, mobil yang membawa Biru sudah tiba di kantor papanya. Bergegas Dipa berlari menuju pintu mobil dan membukanya untuk Biru. Dipa yang berpenampilan formal, dengan memakai jas warna hitam nampak semakin memabukkan bagi Biru.
“Tenang…dia bukan siapa-siapa,” gumam Biru meyakinkan dirinya sendiri. Lirih tapi Dipa mendengar apa yang dikatakan Biru. Dipa mengekor di belakang Biru, Biru melepas kacamata hitamnya dan masuk ke dalam kantor dengan santainya. Mereka menunggu pintu lift terbuka, dipa berada di samping Biru. Menekan tombol lantai 10.
__ADS_1
Saat pintu terbuka, hampir saja Biru ditabrak orang yang buru-buru keluar dari lift tersebut. Dengan sigap, tangan Dipa menghalangi orang tersebut, sehingga Biru selamat dari tubrukan orang tersebut.
“Lain kali hati-hati,” Dipa mengingatkan orang tersebut, seorang laki-laki yang umurnya mungkin di atasnya. Tak ada sahutan dari orang tersebut.
“Dasar nggak sopan,” bisik Biru jengah. Mereka tidak tahu saja siapa dia. Dipa mempersilahkan Biru masuk terlebih dahulu. Bisa saja Biru masuk ke kantor ini menggunakan lift VIP, tapi dia tidak mau mencolok melakukan ini.
Ah, apa yang dilakukan Dipa membuatnya berkeringat saja rasanya. Dipa memang se sat set itu, jantungnya mendadak berdetak tak karuan. Apalagi jarak Dipa kini hanya beberapa centi darinya. Mau ngusir juga nggak bisa, karena area lift lumayan penuh. Biru diam saja agar terlihat cool dan biasa saja.
“Padahal cuma gitu doang, kenapa jantung gue kaya habis lari marathon begini,” Biru berbisik pelan sekali, yakin tak ada yang mendengarnya. Pintu lift terbuka, Dipa merentangkan tangan kanannya mempersilahkan Biru keluar dengan aman tanpa tersentuh orang lain.
Sebaiknya Dipa nggak usah mengikutinya sampai sini, karena benar-benar membuat jantungnya tidak aman. Lagian ini kantor papanya, nggak akan ada deh orang jahat masuk kesini yang jahat sama dia. Gini nih malah jantungnya nggak aman. Briu berjalan agak cepat menuju aula yang dimaksud oleh tim perusahaan. Hari ini pembekalan pertama bagi mahasiswa magang.
Dipa sadar diri, dia memilih untuk duduk di sebuah kursi yang ada di pojok luar aula. Menunggu hingga Biru selesai.
“Anda yang bernama Dipa?” tanya seseorang yang menghampirinya. Dipa mengangguk pada seorang laki-laki tersebut.
“Tuan Saga ingin bertemu dengan anda,” ujarnya. Dipa segera berdiri dan mengekor orang tersebut menuju sebuah lift.
Dipa masuk ke sebuah ruangan yang snagat luas, di sana nampak Tuan Saga sedang sibuk dengan pekerjaannya. Saking sibuknya, dia juga sangat jarang terlihat di rumah. Dipa pun hanya beberapa kali saja bertemu dengan Saga. Dipa mengangguk memberikan hormat pada Saga.
“Silahkan duduk,”
“Terima kasih Tuan,” Dipa duduk di kursi yang ada di depan Saga.
“Maaf nggak sempat berbincang saat di rumah, menyempatkan pas di kantor,” ujar Saga.
“Iya Tuan, tidak apa-apa”
“Terima kasih sudah menjaga Biru selama ini, selama di kantor ini tolong awasi dia dari jauh, tetap pantau dia, karena saya belum bisa melepaskan dia begitu saja,” Saga sangat percaya pada Dipa. “Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di manapun kita berada,” Saga mewanti-wanti Dipa.
“Siap Tuan,”
__ADS_1
Karena pada dasarnya, tempat Dipa bekerja adalah bukan orang biasa, bisa saja ada orang yang berniat jahat pada mereka. Dan Dipa sangat memahami itu.