Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Para Gadis


__ADS_3

Dipa menghela nafas panjang, meraih tangan Utinya dan menggenggamnya erat. Selama ini, Dipa hanya beranggapan jika Mamanya memang sengaja meninggalkan keluarganya. Tapi Uti sendiri hingga detik ini belum mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Uti tidak mau membuat adikmu terluka,” ujar Uti sambil mengelus tangan Dipa yang menggenggam tangan kanannya. Dipa menatap Uti dengan tatapan datar.


“Kamu lapar? Kenapa tiba-tiba pulang,?” tanya Uti mengalihkan pembicaraan.


“Iya, kan besok Dania kelulusan, aku harus datang,”


“Kalau kamu harus kerja ya kerja saja toh, lagian Uti bisa datang,” Uti tertawa kecil, tapi bertolak belakang dengan hatinya. Dia masih saja merasa bersalah dengan Dania.


“Besok kita datang berdua,” ujar Dipa. Uti mengangguk, tinggal bersama kedua cucunya, anak Arhan bagi Uti sudah lebih dari cukup. Semenjak kepergian Sandra dari rumah ini, dia juga tidak pernah lagi mendengar kabar Sandra. Entah masih hidup atau sudah meninggal.


“Uti mau istirahat, kalau kamu mau makan sudah ada di dapur,” tumben-tumbenan Uti tidak antusias menemani Dipa makan, dengan langkah yang lelah, Uti masuk ke dalam kamar. Dipa melihat neneknya hingga masuk ke dalam kamar dan tak terlihat lagi. Pandangannya beralih ke sebuah pintu tak jauh dari kamar Uti, ya..kamar Dania. Masih tertutup rapat. Dipa bangkit dari kursinya, berjalan ke arah pintu kamar Dania.


Tangannya mengetuk pintu tersebut perlahan. Masih tak ada jawaban.


“Ini mas,” Dipa membuka suara. Tak lama terdengar suara pintu terbuka, wajah Dania yang sembab, dia membawa guling dan memeluknya, setelah membuka pintu, Dania kembali berjalan ke arah ranjangnya dan kembali merebahkan diri memunggungi Dipa. Dipa masuk ke dalam kamar Dania, melihat adiknya nampak masih sakit hati


mungkin.


Dipa menarik kursi kayu dan duduk agak jauh dari Dania, dia masih diam saja sambil menunggu adiknya berubah pikiran dan ingin menceritakan apa yang sedang dia rasakan saat ini.


“Kenapa? Apa mas juga mau bilang jika mama jahat,?” tanya Dania, wajah kusutnya memandang Dipa. Tak ada senyum terpancar seperti biasanya. “Apa yang mas tahu tentang mama hingga Uti sangat membenci mama.?” Tanya Dania lirih, tapi hatinya perih.


“Kamu ingin bertemu mama.?” Tanya Dipa. Dania yang tadinya cemberut nampak lebih bersemangat, dia mengangguk. Lalu dia merubah posisi rebahannya menjadi duduk, dengan tetap masih memeluk guling.


“Mas tahu di mana mama,?” Dania terlihat bersemangat. Dipa menggeleng pelan, membuat Dania yang tadinya bersemangat kembali lesu.


“Apa mas juga membenci mama seperti Uti membenci mama.?” Pertanyaan Dania membuat Dipa kembali terdiam, bergulat dengan batinnya. Dia memang membenci mamanya, dia merasa nelangsa karena ditinggalkan begitu saja tanpa ada kabar hingga selama ini. Betapa mamanya mengingkari janjinya kala itu. Dipa tersenyum tipis lalu mengusap puncak kepala adiknya dengan lembut.

__ADS_1


“Kamu minta hadiah apa dari mas untuk kelulusanmu besok,?” Dipa mengalihkan pembicaraan. Buru-buru Dania menggeleng.


“Dania cuma ingin tahu kabar mama,” ucapnya mantap. Tekad gadis itu benar-benar bulat, tak pernah sekalipun sebelumnya dia sekekeh ini mencari tahu tentang mamanya.


“Ya, suatu hari nanti mas akan mencari tahu tentang mama,” jawab Dipa dengan datar, itu saja terdengar sangat indah di telinga Dania, dia merasa sangat senang. Dania melemparkan guling yang sedari tadi dia peluk, dia menghambur ke arah Dipa dan memeluknya erat.


“Terima kasih mas,” ucapnya dengan senyum mengembang. Dipa mengangguk. Dari raut wajah adiknya bisa terbaca jika Dania benar-benar merindukan mamanya.


“Mas…,” panggil Dania selepas dia melepaskan pelukannya pada Dipa. Dipa mengerutkan dahinya. “Uti marah ya sama aku,?” tanya Dania dengan wajah bersalah, dia tidak bermaksud bertindak tidak sopan pada Utinya, hanya saja dia spontan merajuk dan masuk kamar.


“Enggak, yang harus kamu tahu, Uti sangat sayang dengan kita, dengan kamu, jadi jangan buat Uti sedih ya…,” Dipa menasehati.


“Iya mas, besok aku minta maaf, sekarang Uti sudah tidur mungkin. Aku nggak maun ganggu Uti,”


“Iya,” sahut Dipa singkat.


            ***


Uti memakai kebaya warna krem, sedangkan Dipa memakai batik warna senada. Saat foto berdua dengannya, banyak yang menyangka jika Dipa adalah pacar Dania.


“Uti sini ayo foto bertiga,” Dania berteriak girang dan meminta Utinya mendekat. Dania berada di tengah, sedang kanan dan kirinya ada Dipa dan Uti. Mereka pun berfoto dengan puas.


Hari sudah lebih panas karena memang sudah melebihi tengah hari, acara pun usai. Dania dan keluarga bersiap pulang.


Dengan perjuangan penuh drama, akhirnya Biru sampai di lokasi dan menemukan Dipa dan juga Uti. Pasti yang berjalan di dekat Uti dan Dipa itu adalah Dania, Biru merasa sangat yakin. Dengan nafas tersengal, Biru akhirnya sampai.


“Sorry….aku telat,” Biru menatap mereka dengan wajah lelah, namun masih full dengan senyuman. Dipa yang melihat kedatangan Biru tersebut kaget, bisa-bisanya Biru sampai sini.


“No….eh kamu nggak apa-apa Bi,?” tanya Dipa dengan nada khawatir. “Sama siapa? Kenapa ngos-ngosan,?”

__ADS_1


Dipa penasaran, bergegas dia mengambil air yang ada di tas jinjing yang dia bawa, membuka seal penutupnya dan menyerahkan pada Biru.


“Terima kasih,” ujar Biru seraya meneguk minuman yang diserahkan Dipa. Hari ini benar-benar sial, Biru sudah bersiap dari pagi. Bahkan semalaman dia begadang membungkus kado yang dia beli khusus untuk Dania. Kenapa mobilnya tiba-tiba mogok di jalan, dan itu sangat menyebalkan. Sebagai cewek yang buta permesinan, Biru hanya bisa mengumpat saat mobilnya mendadak nggak bisa jalan.


“Lalu,?” Dipa masih saja khawatir, sedangkan Dania dan Uti dengan sabar mendengar percakapan antara Dipa dan juga Biru.


“Akhirnya aku naik ojek, lalu lari-lari lah mencari kamu, maaf udah telat acaranya ya,?” Biru merasa bersalah tidak datang tepat waktu.


“Yang penting nona nggak kenapa-napa,” Dipa benar-benar khawatir.


“I’m good Dipa, aku nggak apa-apa” Biru merentangkan salah satu tangannya seolah mengatakan bahwa dia memang baik-baik saja. “Oh ya sampai lupa, ini adikmu,?” Biru menunjuk ke arah Dania yang cantik dengan kebaya warna coklat,”


Dania yang merasa disebut namanya nampak menyambut kedatangan Biru dengan senyuman, dia sudah menduga jika gadis yang sejak kedatangannya ngobrol dengan Dipa itu adalah Biru. Majikan dari Dipa.


“Oh iya kak, kenalin, Dania,” Dania mengulurkan tangannya, senyumnya masih mengembang.


“Biru,” sahut Biru tak kalah ramah. “Oh ya, ini buat kamu,” Biru mengulurkan sebuah paperbag berukuran agak besar pada Dania.


“Buat aku,?” Dania menunjuk dirinya sendiri, Biru mengangguk.


“Wah makasih kak Biru,” dengan senang hati Dania menerimanya.


“Congrats ya atas kelulusannya, semoga setelah ini dapat kampus impian,” Biru mengerlingkan matanya.


“Makasih kak,”


“Ih nak Biru repot-repot segala bawa ginian,” Uti merasa tak enak hati.


“Enggak Uti, nggak apa-apa,” Biru menepis ketidak enakan hati Uti.

__ADS_1


Mereka berbincang dengan riang dan tak lupa kembali berfoto, Biru merasa beruntung masih bisa berada di acara ini. Ya meskipun sudah usai.


__ADS_2