Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Konser


__ADS_3

Dipa bersiap mengantar Biru ke sebuah acara kampus malam ini, benar-benar tidak ada waktu untuk sekedar meletakkan barang bawaan yang dibawain oleh Utinya ke kamarnya.


“Udah bawa saja Mas,” sahut Pak Budi melihat kegugupan Dipa. Sementara Biru sudah berada di dalam mobil 10 menit yang lalu, untung saja mobil itu tidak ikut terbakar dengan emosi Biru yang kelamaan nunggu Dipa.


Dipa terkena macet karena ada kecelakaan di jalan, akhirnya dia mengambil jalur yang lain, dan alhasil lama juga akhirnya nyampainya.


Dipa mengangguk dan membawa tas masuk ke dalam mobil, Dipa melirik ke arah kaca depan, dilihatnya sekilas wajah Biru yang beneran kesal karena Dipa baru datang.


Bagaimana tidak, sesudah berdepat dengan Bundanya, dia sama sekali tidak boleh minta antar Pak Budi, kalaupun mau keluar malam ini harus sama Dipa. Jika tidak mau berarti tidak boleh keluar.


“Buat apa sih dek lihat konser di kampus,? Bukankah biasanya adek lihat konser khusus kan,?” tanya Bundanya. Tidak biasanya Biru ngotot ingin nonton konser di kampus. Biasanya Biru akan memilih konser yang berbayar dan duduk di bangku VVIP. Jelas Bundanya penuh tanda tanya, sejak kapan Biru suka keramaian yang membuatnya nggak nyaman?.


“Ini acara beda Bun, ah udahlah Bunda nggak bakalan ngerti,”


“Ya sudah, berangkatlah sama Dipa,” putusnya.


Ok, akhirnya dengan berat hati Biru kembali menurut. Sudah dandan dari jam berapa, ternyata Dipa tidak sampai juga di rumahnya, kesal dan marah campur aduk jadi satu.


“Gila ya, gue nunggu sampai karatan.” Gumamnya menahan amarahnya. Dipa mengangguk kecil sebagai ucapan maafnya. Sudah dari tadi ponselnya berdering, itu panggilan dari Ros dan Luna, serta dari Mario sekali. Pasti mereka menunggu kedatangan Biru di venue konser salah satu band ternama di negeri ini.


Iya, memang alasan Biru untuk nonton konser di kampusnya adalah hanya sebuah alasan. Yang terpenting dia bisa berduaan dengan Mario.


Dipa menyalakan mesin mobilnya dan bersiap berangkat menuju kampus, dalam hatinya dia berdoa agar jalanan malam ini mulus lancer tidak macet.

__ADS_1


Dan benar saja, jika di belakang Biru masih nampak bersungut-sungut, doa Dipa terkabul. Jalanan lancar dan dengan cepat dia bisa mengantarkan Biru menunju  tempat konser berlangsung.


“Tolong cariin gue minum, gara-gara lo gue sampai lupa minum dan nggak bawa minum,” ungkapnya setelah dia turun dari mobil.


“Baik nona,” Dipa mengamati sekitar, di sana ada Ros dan juga Luna yang melambaikan tangan menyambut kedatangan Biru. Dipa lega karena Biru bersama Ros dan Luna, dia akan membelikan Biru minum dan menyusul tak jauh dari Biru berada sekarang.


                        Setelah sejenak bersapa sejenak dengan Ros dan Luna, Biru meninggalkan dua sohibnya itu dan memilih berduaan dengan Mario di deretan agak depan. Dan begitu Dipa kembali dengan minuman di tangan, dia sudah tidak melihat Biru, begitu juga dengan Ros dan Luna yang sudah menghilang dari pandangannya. Tempat konser penuh dengan lautan manusia, rasanya dia mustahil menemukan Biru dengan hanya mencari secara manual.


Dipa merangsek ke depan mencoba mencari Biru meskipun akan sulit, tangannya masih memegang botol air mineral. Berharap bisa segera menjumpai Biru. Dipa mengambil ponsel yang ada di saku jaketnya, melihat nomor Biru. Mencoba menghubungi nomor tersebut, tapi jelas tidak ada jawaban.


                        Biru nampak sangat senang menonton konser bersama dengan Mario, mereka tertawa bersama dan


menikmati acara yang baru saja dimulai itu. Suara menggelegar dari MC yang membuka acara. Acara malam ini mendatangkan band nasional yang memang sedang digandrungi para kawula muda.


“Huuuu…...I love you!” teriak Biru, meskipun mustahil bisa terdengar. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh Biru sebenarnya, bahkan dia bisa mendatangkan band ini di acara ulang tahunnya atau hanya mengundang secara iseng. Hanya saja ini beda, dia bisa bersama dengan Mario sesuka hatinya.


Sedangkan Dipa masih sibuk memencet nomor Biru, dan tetap tidak ada jawaban. Dia semakin merasa bersalah, jika terjadi apa-apa dengan Biru di tempat ini. Maka dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


Dipa mendesah, bisa-bisanya secepat kilat Biru pergi. Atau Biru memang sengaja meninggalkannya. Dalam hati dia berdoa, semoga Biru baik-baik saja.


2 jam lamanya Dipa benar-benar mencari Biru, dan menuju lagu penutupan, pandangan Dipa menangkap sosok yang dia kenal. Dipa menghela nafas lega, Biru sedang bergandengan mesra dengan Mari. Dipa menjaga jarak, agar tidak terlihat sedang mengawasi Biru.


Tangannya masih memegang botol air mineral.

__ADS_1


“Duuuuuaaaaaar,” terdengar suara yang mengagetkan dari dalam ruangan. Ada sesuatu yang meledak. Para penonton berlari berhamburan tanpa arah guna menyelamatkan diri masing-masing. Dipa yang juga kaget mendengar ledakan yang entah bersumber darimana itu segera berjalan menyibak para penonton yang sedang berusaha keluar dari dari area konser.


Dipa mendekat ke arah Biru yang masih dalam pandangannya, namun terlihat Biru oleng dan terhuyung oleh orang yang berlarian. Sementara Mario sudah tidak berada di sana.


Biru nampak panik dan hampir saja terjatuh, jika saja benar dia terjatuh, bisa dimungkinkan dia akan cedera, bahkan diinjak-injak oleh penonton lainnya. Ini bisa berakibat fatal.


Dipa menangkap tubuh Biru tepat waktu, Biru menutup kedua telinganya dengan tangannya, matanya memejam erat. Saat dia menyadari ada seseorang yang menangkap tubuhnya, dia merasa lega.


“Terima kasih beb, gue takut banget,” bisiknya, suaranya parau, dia menahan tangis. Mungkinkah dia akan mati di sini jika Mario tidak menolongnya.


Dipa tidak mengucapkan sepatah katapun, dia mencoba mencari jalan keluar. Di mana dia juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dipegangnya lengan Biru dengan erat, suara tangisan Biru terdengar di dekat telinganya. Dipa memeluk tubuh Biru dengan tangan kanannya dan mencari jalan keluar.


Akhirnya mereka berada di luar area, pihak keamanan sudah masuk ke dalam dan mengecek apa yang sebenarnya terjadi.


“Beb…gue nggak mati kan,?” Biru masih menutup matanya dengan kedua tangannya. Dipa mengajak Biru duduk di sebuah bangku, di sana sudah banyak orang yang berkumpul.


Dipa memegang tangan Biru dan menurunkan sejenak tangan itu, Biru masih memejamkan matanya.


“Minumlah,” Dipa menyodorkan air mineral di depan Biru.


Perlahan sadar, meskipun dalam ketakutan yang teramat, dia tahu suara itu. Bukan suara Mario. Kok bisa?


Perlahan Biru membuka matanya, di sekelilingnya sudah banyak orang yang sedang duduk. Biru melihat Dipa duduk di sebelahnya, jadi yang selama ini bersamanya saat setelah ada ledakan adalah Dipa, kemana Mario? Ah lagi-lagi Biru merasa Mario mencampakkannya, meskipun dalam keadaan bahaya seperti ini.

__ADS_1


Biru membuka seal botol tersebut dan meneguknya.


Happy reading....jangan lupa like nya ya man teman, terima kasih....


__ADS_2