
“Apa majikanmu memperlakukanmu dengan baik,?” tanya Uti, Dipa yang membantu Uti membersihkan sayuran menoleh ke arah Uti. Dipa sedang duduk di lantai dengan santainya, begitu juga Uti, hanya Uti duduk dengan kursi plastik pendek berwarna pink.
“Iya Uti, mereka baik,” jawab Dipa tanpa jeda. Dia mengingat kebaikan keluarga Biru, Bunda Biru sangat baik padanya.
“Syukurlah, Uti takut kalau sampai kamu diperlakukan semena-mena,” Utinya nampak khawatir.
“Amaan, Uti nggak usah khawatir,”
“Lalu kerjaan kamu nggak berbahaya kan, Uti kalau lihat di televisi itu kerja seperti kamu kan harus berhadapan dengan para penjahat,”
Dipa tertawa kecil, Utinya memang salah satu penggemar sinetron. Bahkan dia heboh sendiri kalau sedang nonton sinetron.
“Enggak Uti, kerjaan Dipa aman kok, Aman,”
“Syukurlah, Uti benar-benar tenang sekarang, tapi apa yang kamu kawal itu anak kecil? Atau seusia Dania,?” Uti mendadak kepo.
“Ehm….sudah kuliah Ti, di atas Dania lah umurannya,”
“Oh, dia cantik,?” tanya Uti. Dipa kembali tertawa.
“Kok malah tertawa,” Uti mengibaskan tangannya.
“Namanya juga cewek,” jawab Dipa diplomatis.
“Masih cantikan ayu kan,?” Uti mengingatkan Dipa jika kepulangannya ini sama sekali tanpa diketahui Ayu, bahkan dia tidak sempat menemui Ayu sebelum siang nanti dia akan kembali ke rumah Biru. Dipa tidak menjawab pertanyaan Utinya. Dia bergegas meninggalkan Utinya karena ada panggilan masuk.
“Bentar Uti,” Dipa menghampiri ponselnya yang dia letakkan di atas meja dapur tak jauh darinya.
Nama Pak Budi berada di layar panggilan.
“Ya Pak Bud,?” Dipa mendengarkan suara seksama dari Pak Budi. Bahwasanya nanti siang Biru akan ada acara di luar, dan lagi-lagi harus Dipa yang mengantar. Karena Ganis merasa khawatir Pak Budi hanya akan dikibuli oleh Bira.
“Iya pak, saya siap-siap dan bergegas berangkat,” ujarnya lalu menutup panggilannya.
“Siapa?” tanya Uti.
“Pak Budi,”
“Siapa itu,?”
“Sopir keluarga Nona Biru,”
“Biru,? Siapa itu? Kenapa warna,?” tanya Uti dengan polosnya. Dipa tertawa, dia kembali duduk di lantai dan membereskan sayuran yang sudah dia bersihkan dan dia potongi itu.
“Biru itu nama orang yang Dipa kawal Uti,”
__ADS_1
“Oh, namanya unik sekali,”
Awalnya Dipa juga merasa seperti itu, saat mendengar nama itu, nama yang unik. Dan ternyata seorang-orangnya juga unik.
“Ya sudah, cepatlah berkemas. Untung saja Uti sudah buatkan rendang sejak semalam, nanti bawalah,”
“Nggak usah repot-repot Uti, kan Dipa nggak mau kemah, lagian keluarga tempat Dipa kerja memberikan cukup makanan,” Dipa tidak ingin merepotkan neneknya. Cukuplah rendang itu untuk nenek dan Dania.
“Kamu ini, sudah nggak usah beralasan,”
Dipa mengangkat kedua alisnya, begitulah neneknya, karena Uti tahu rendang buatan Uti adalah salah satu makanan favoritnya.
Uti segera mengemas rendang buatannya ke dalam wadah plastik yang aman untuk dibawa, segera dia meletakkan ke dalam tas warna biru dan meletakkan ke atas meja sembari menunggu Dipa selesai siap-siap di dalam.
Untung saja semalam Uti sudah memasakkannya.
“Kamu nggak makan dulu,?” tanya Uti setelah melihat Dipa sudah bersiap untuk kembali berangkat.
“Enggak Uti, masih kenyang, Uti hati-hati ya, jaga kesehatan, Dania juga…maaf nggak bisa nunggu dia balik dari sekolah,”
Uti mengelus lengan Dipa, “Sudahlah, namanya orang kerja, kamu juga jaga kesehatan, lain waktu kalau pulang temuilah Ayu,” Uti tersenyum tipis.
“Iya Uti,”
“Eh ini jangan lupa dibawa,” Uti mengambil tas berwarna biru itu dan membawanya keluar, mengantar Dipa hingga menuju motornya.
“Iya Uti, Assalamualaikum…,” seru Dipa.
“Waalaikumsalam,” Uti melambaikan tangan dan tersenyum melihat keberangkatan Dipa, hatinya terasa sepi dan sedih, tapi biarlah cucunya itu menggeluti apa yang dia bisa sekarang, dia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk cucu-cucunya.
Deru motor perlahan menghilang dari pendengarannya, begitu juga dengan Dipa yang mulai melaju. Uti bersiap masuk ke dalam rumah menyelesaikan pekerjaannya.
Terdengar suara mobil, Uti yang sudah berbalik badan hendak masuk ke rumah pun kembali membalikkan badan, melihat ke depan pagar rumahnya. Sebuah mobil berwarna putih berhenti di sana, Uti memperhatikan siapa yang datang. Ternyata Ayu.
Cewek berambut panjang itu turun dari mobil, senyumnya sudah mengembang sejak dia melangkah dan melihat Uti di teras rumah.
Tangan kanannya memegang sesuatu, tentu itu adalah oleh-oleh untuk Uti dan Dania.
“Assalamualaikum Uti…,” sapanya saat hendak mendekati Uti.
“Waalaikumsalam…eh cah ayu apa kabar,?” tanya Uti sembari menyambut uluran tangan Ayu untuk salim.
“Alhamdulillah Uti, Ayu baik-baik saja,”
Mereka duduk di bangku belakang rumah sambil menikmati sepoi-sepoi angin siang ini. Es teh untuk Ayu dan teh tawar hangat untuk Uti.
__ADS_1
“Maaf baru sempat kesini Uti,”
“Uti paham karena kesibukan kamu, yang penting kita semua sehat-sehat,” balas Uti memahami keadaan Ayu yang membantu bisnis keluarga yang memang sedang berkembang pesat.
“Iya Uti Amiiin,” sambung Ayu. Gadis itu memang cantik, sama dengan namanya.
“Maafkan Uti yang nggak sempat memberi tahu jika Dipa pulang,” Uti menghela nafas panjang.
“Dipa pulang,?” Ayu mengangkat kedua alisnya, sudah lama dia tidak bertemu, bahkan bertukar kabar pun hingga tidak sempat saking sibuknya.
“Iya, barusan balik,”
“O…,” Ayu mengangguk.
“Apa dia tidak pernah menghubungi kamu,?” Uti bertanya dengan nada hati-hati, dalam hati dia merasa kecewa dengan apa yang dilakukan Dipa. Meskipun dia belum mendengar jawaban dari Ayu, tapi dari raut wajah Ayu, nampaknya apa yang dia khawatirkan terbukti. Ayu menggeleng, senyumnya masih mengembang.
“Oh…anak itu…maafkan dia,” sahut Uti sembari menahan rasa kecewanya.
“Uti…Uti nggak usah mikir yang aneh-aneh, saya sibuk, Dipa juga sibuk, kita sama-sama sibuk, tapi Ayu percaya lain waktu kita akan bertemu kok.” Tangan Ayu meraih tangan Uti dan mengelusnya lembut. Uti mencoba tersenyum kecil lalu mengangguk, mengubur rasa kecewanya dengan kelapangan hati Ayu.
Keluarga Ayu sudah banyak membantu keluarganya sejak dulu, maka Uti tidak mau membuat keluarga Ayu kecewa dengan apa yang dilakukan oleh keluarganya.
“Uti sudah makan,?” tanya Ayu dengan lembut, mencoba mengalihkan apa yang sedang dipikirkan oleh Uti.
“Belum,”
“Bagaimana jika kita makan di luar?” Ayu menawarkan.
“Kenapa kamu baik sekali, perhatian sekali,” Uti serasa ingin menangis saja.
“Uti…Uti jangan gitu…Uti udah aku anggap sebagai nenek Ayu sendiri,” Ayu bangkit dari kursinya dan menghampiri Uti, Ayu memeluk Uti dari samping.
“Iya boleh, kita keluar…tapi bolehkah nunggu Dania pulang sekolah,?”
“Oh boleh Uti, ok kita tunggu,”
“Baiklah, sebentar lagi dia akan pulang. Uti siap-siap dulu, eh tapi apa Ayu nggak sibuk hari ini,?” Uti khawatir jika dia hanya akan merepotkan Ayu saja.
“Nggak Uti, nggak sama sekali, aman kok,” Ayu tersenyum full.
“Baik, Uti ganti baju dulu yang bagusan biar Ayu nggak malu ngajak Uti keluar,”
“Ah Uti bisa saja, padahal Uti sudah cantik,” puji Ayu.
“Ah bisa aja,”
__ADS_1
Ayu menatap sekeliling, dalam hati dia merasa kecewa. Tangannya meraih ponsel dan mencari nama yang dia cari. Tangannya mengetik sesuatu dan dia kirimkan ke nomor tersebut.