Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Berada Di Masa Lalu


__ADS_3

Dipa bersiap mendengarkan pertanyaan yang akan diutarakan oleh Biru, semoga bukan pertanyaan yang menyulitkan. Kenapa akhir-akhir ini Biru sering membuatnya merasa sulit, bahkan untuk menjaga jantungnya berdegup dengan normal saja sulit.


“Uti sudah sehat,?” pertanyaan itu meluncur dari bibir Biru. Ah apakah hanya itu yang ingin diutarakan? Pertanyaan itu? Nggak ada yang salah dengan pertanyaan itu. Berarti Dipa yang overthinking, Dipa tersenyum kecil.


“Sudah, Uti sudah membaik, dapat salam dari Uti, maaf baru sempat menyampaikan,”


“Oh ya? Dapat salam dari Uti?” Biru nampak sangat senang, merasa mendapatkan kesenangan saat mendengarnya. Dipa mengangguk.


“Terima kasih, kapan-kapan aku boleh kesana kan?” Biru ingin sekali kesana dan membuat rendang yang enak itu.


“Boleh,” jawab Dipa singkat.


Suara gemricik hujan masih terdengar, kopi yang tersaji di meja tadi sudah tak lagi mengepulkan asap panas seperti awalnya.  Sesaat tidak ada percakapan di antara mereka berdua. Di satu sisi Dipa merasa lega karena hanya pertanyaan itu, bukan pertanyaan yang sulit baginya.


“Besok aku mau ke kantor papa, anterin,” Biru menatap hujan. Dipa mengangguk tanpa menoleh. Tumben bilang, biasanya Dipa juga siap sedia mengantarkan kemanapun dia mau.


“Jadi aku mau magang, mending ikut papa aja nggak mau ribet,” ujarnya tanpa diminta, sudah masuk waktunya magang memang.


Jalannya Biru memang semulus itu, dilahirkan dari keluarga kaya raya, mau minta apa tinggal tunjuk, uang nggak berseri. Dan dia juga nggak mau susah-susah dalam hidup, beda dengan abangnya, yang tidak mau dikenali sebagai putra dari Saga sang konglomerat negeri ini. Biru merasa baik-baik saja dikenal sebagai putri keluarga kaya, dikenal sebagai orang kaya. Dia menikmati itu, baginya itu sebagai keuntungan.


Terlahir dari keluarga yang begitu menyayanginya, keluarga yang sempurna baginya. Dan Biru sadar ini adalah anugerah Tuhan.


“Oh ya kapan Dania kelulusan?”


Pertanyaan itu mengejutkan Dipa, “Oh, iya sebentar lagi,” jawabnya. Mendadak Dipammemikirkan apa yang menjadi keinginan Dania, bahwa Dania ingin didampingi oleh Mamanya, tentu bukan hal mudah, bahkan itu mustahil.


“Oh jangan lupa kasih tahu ya kalau waktunya” jawab Biru tanpa mengatakan tujuannya.


“Iya,” jawab Dipa singkat.

__ADS_1


Hujan yang tadi deras kini sudah berhenti, mendung hitam yang dari tadi menggelayut perlahan menghilang. Kopi yang tadi memenuhi cangkir pun tinggal cangkirnya saja.


“Aku masuk dulu, sorry ganggu istirahatnya,” Biru berdiri, melambaikan tangan. Dipa mengangguk kecil.


            ***


“Uti….sebentar lagi aku kelulusan,” Dania memijit kaki Uti yang sedang berselonjor di depan televisi.


“Iya, sebentar lagi kamu lulus SMA, dan semoga kamu mendapatkan kampus impianmu,” harap Uti. Tapi bukan itu yang Dania maksud.


“Uti…” Dania kembali memanggil.


“Hem…,” Uti berdehem, lalu menatap cucu perempuannya yang sudah dia rawat sedari kecil itu.


“Uti, boleh aku nanya sesuatu?” Dania melihat ke arah wajah Utinya, Uti mengangguk. Dania sudah lama memendam pertanyaan yang memenuhi pikirannya itu, ada rasa takut saat ingin mengucapkan, tapi dirasa inilah waktu yang tepat.


“Uti….sebenarnya di mana Mama Dania?” pertanyaan itu meluncur, Uti melihat ke arah Dania dengan tatapan kurang suka. Tapi, cepat atau lambat dia pasti akan mendengarkan pertanyaan itu. Jika Dipa tak lagi menanyakannya, tetapi berbeda dengan Dania. Dania belum tahu apa-apa saat itu.


“Dania pengen ketemu mama, setidaknya kalau mama sudah meninggal, Dania tahu letak mama dikebumikan,” Dania semakin berani bertanya, mendobrak segala rasa rindu yang merajai jiwanya.


Ingatan Uti seolah kembali ke beberapa tahun yang lalu, saat itu anak semata wayangnya masih hidup, tidak lain adalah Ayah dari Dipa dan Dania. Kala itu ayah Dipa dan Dania yang terkenal pekerja keras sangat menyayangi keluarga kecilnya, tak lupa juga sangat menyayangi Uti yang tidak lain adalah Ibu kandungnya. Karena kehidupan


ekonomi juga amburadul, ayah Dipa dan Dania yang bernama Arhan pun sangat bekerja keras tanpa kenal waktu, hingga Arhan meninggal dengan tiba-tiba.


Kala itu, di sore hari seperti biasanya. Uti, Sandra dan juga Dipa dan Dania kecil menunggu kedatangan Ayahnya pulang kerja, biasanya maghrib sudah masuk rumah. Tapi hari ini belum datang juga.


“Kenapa suamimu belum sampai rumah juga jam segini?” tanya Uti pada Sandra.


“Entahlah Buk, mungki abang ada lembur di tempat kerja”

__ADS_1


“Biasanya kalau ada lembur juga pamit dulu kan sebelum berangkat,”


“Mungkin mendadak Buk,” Sandra mencoba menenangkan Uti. Tak ada percakapan lagi di antara mereka, Uti keluar dari dapur. Dia merasa agak kesal dengan Sandra akhir-akhir ini, Uti merasa Sandra banyak menuntut dan banyak keinginan dari suaminya tanpa melihat apa pekerjaan Arhan, yang nyatanya hanya kuli serabutan. Uti melihat jam dinding, sudah hampir jam 7 malam.


Dipa sedang bermain di depan televisi rusak, dia main mobil-mobilan bekas yang diberi oleh tetangganya. Sedangkan Dania kecil sedang tertidur di bilik tanpa pintu.


Uti menghela nafas panjang, sembari berdoa agar Arhan lekas pulang.


Sandra sedang menyiapkan bahan yang akan digunakan untuk membuat jajanan, dia masih sibuk di kantor. Matanya sedikit sembab, merasa akhir-akhir ini Ibu mertuanya tidak mengerti tentang dia.


Semalam, dia baru saja mengutarakan keinginan untuk menjadi tenaga kerja di luar negeri pada suaminya, Arhan. Namun Arhan tetap bersikukuh agar istrinya tetap di rumah saja merawat anak-anak, tugas mencari nafkah adalah tugasnya. Toh Sandra juga sudah membantu membuat jajanan dan itu menghasilkan uang.


Sandra tetap kekeh ingin pergi dengan dalih agar keungan keluarga bisa membaik, tapi tetap saja Arhan menolaknya dengan lembut.


“Biar ayah saja yang mencari uang,” ujarnya sambil mengelus rambut istrinya dengan lembut.


Sandra menghela nafas panjang, dia merasa bahwa kebutuhan hidup semakin mencekik, anak-anak juga butuh mendapatkan kehidupan yang layak. Sandra meneguk ludahnya saat Arhan meninggalkan dirinya sendiri di dalam kamar.


Bilik yang tanpa pintu itu, Uti mendengar semuanya dari luar bilik. Uti tak lagi bisa memikirkan dengan gamblang apa yang menjadi dasar kenapa Sandra ingin pergi ke luar negeri.


Uti mengejar Arhan yang hendak menunaikan sholat isya kala itu.


“Kenapa? Ada masalah apa hingga Sandra ingin pergi?” Uti memegang kedua lengan Arhan. “Apa yang kurang dari kamu?”


“Ibu mendengar apa yang kami bicarakan,?” Arhan menatap Ibunya dengan wajah tenang, karena baginya perkataan Sandra bukanlah hal yang serius.


“Apa karena kamu tidak punya uang banyak,?” Uti menyimpulkan. Arhan menggeleng lalu tersenyum.


“Bukan Buk…biasa lah, lagi banyak pikiran,” jawab Arhan. “Ibuk nggak usah mikir yang enggak-enggak, kita semua akan tetap bareng, kita semua akan baik-baik saja,” Arhan kembali menenangkan.

__ADS_1


Uti menatap wajah anak semata wayangnya dengan iba, merasa bersalah juga karena kenapa keluarga ini miskin.


__ADS_2