
Uti merasa gagal menjadi seorang Ibu yang bisa mengayomi anaknya hingga keadaan ini dialami oleh keluarganya. Yang bisa dilakukan sekarang adalah berdagang jajan kecil-kecilan dan terkadang menerima pesanan dari sekitarnya. Sedangkan Arhan hanya buruh serabutan yang tak tentu pendapatannya. Terkadang jadi kuli panggul
di pasar, kadang jadi kuli bangunan. Semua dia lakukan agar keluar kecilnya bahagia.
Hingga tercetus keinginan dari Sandra untuk pergi keluar negeri, suatu keadaan yang membuat Uti overthinking. Apakah selama ini Sandra tertekan dengan keadaan ekonomi ini dan hendak meninggalkan Arhan dan anak-anak.
Uti menghela nafas, di balik mukena, Uti meneteskan air matanya. Malam beranjak larut, Uti tetap tidak bisa memejamkan matanya malam itu. Hatinya tak karuan memikirkan anak-anaknya.
Hatinya begitu hancur saat ada salah satu anggota kepolisian yang mendatangi rumahnya malam itu. Tepat setelah adzan isya berkumandang. Saat semuanya sedang menantikan kedatangan Arhan, saat Dipa menunggu kedatangan ayah yang selalu mengajaknya bermain dan bercanda. Sandra yang menantikan suaminya pulang, karena bagi Sandra, Arhan adalah sosok suami yang sangat sabar. Begitu juga Uti yang menantikan kedatangan putra semata wayangnya. Sedangkan Dania kala itu belum mengerti apapun yang terjadi karena memang masih kecil.
“Benar dengan rumah Arhan Budianto?” tanya seorang anggota polisi yang masih lengkap dengan seragamnya. Uti dan Sandra saling bergantian menatap. Bergelut dengan pikiran masing-masing, entah salah apa yang sedang diperbuat oleh Arhan sehingga berurusan dengan pihak kepolisian.
“Iya, benar” sahut Sandra mencoba menepis degup jantungnya dan lemas kakinya. Suaranya pun bergetar tidak seperti biasanya. Matanya sudah berkaca-kaca.
“Mohon maaf, ini dengan siapanya Arhan?” tanya polisi tersebut, mereka masih dalam posisi yang sama. Berdiri di dekat pintu.
“Saya istrinya dan ini Ibu kami,” Sandra benar-benar menguatkan dirinya, sedangkan Uti sudah berdiri mematung, kakinya lemas dan hampir ambruk. Sandra memegang Uti dengan erat. Sedangkan Dipa kecil berada di belakang Uti dan Mamanya.
“Baik Bu, mohon maaf saya sampaikan jika Arhan meninggal di tempat kerja, sekarang masih di rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut kematiannya,”
__ADS_1
Berita buruk yang benar-benar tidak ingin mereka dengar, bagaikan sambaran petir yang begitu mengejutkan. Uti langsung pingsan, sedangkan Sandra menangis sejadi-jadinya, Dipa kecil meneteskan air mata tanpa suara. Dipa mematung melihat keadaan rumah yang kacau ini. Petugas kepolisian segera membantu Uti untuk dibaringkan. Sedangkan Sandra mencoba menguatkan diri. Dia berharap bahwa apa yang disampaikan oleh polisi ini hanya berita bohong.
Selepas kehebohan ini, ada beberapa tetangga dekat yang datang ke rumah kontrakan Sandra, membantu merawat Uti yang masih tidak sadarkan diri. Sedangkan Sandra dengan pakaian seadanya ikut polisi ke rumah sakit guna memastikan orang yang dimaksud adalah suaminya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit dengan mobil polisi, air mata tak henti menangis. Apakah yang dia alami ini nyata? Atau hanya halusinasi atau mimpi. Sandra mengusap air matanya dengan punggung tangannya, tak ada firasat apapun sebelumnya kalaupun ini benar terjadi.
Sandra didampingi petugas kepolisan menuju kamar jenazah untuk melihat orang yang dimaksud. Saat kain penutup dibuka, Sandra membeku, tidak ada air mata yang keluar dari mata indahnya. Dia mematung, menatap wajah tampan suaminya sudah terbujur kaku. Tangan Sandra bergetas saat mengusap wajah suaminya yang sudah dingin.
“Apakah benar ini suami anda Bu?” tanya seorang perawat. Sandra mengangguk lemah.
“Baik Bu, silahkan Ibu ikut saya ke ruangan, akan dijelaskan oleh dokter di sana. Sandra yang masih bengong dan dengan tatapan kosong pun mengikuti perawat laki-laki itu menuju sebuah ruangan yang agak jauh dari sana. Rasanya dia masih enggan meninggalkan jenazah suaminya tersebut.
“Bu…pasien atas nama Arhan Budianto meninggal secara tiba-tiba di lokasi kerja sekitar jam 5 sore tadi saat hendak pulang kerja, menurut teman kerjanya, Arhan langsung lemas dan pingsan. Ketika dibawa ke rumah sakit pun sudah tidak tertolong alias sudah meninggal dunia, dan dari pemeriksaan kami, dimungkinkan suami Ibu terkena serangan jantung,”
“Kami ikut berduka cita atas kejadian yang menimpa suami Ibu, pemeriksaan sudah selesai, namun jika Ibu dan keluarga menghendaki untuk dilakukan otopsi maka bisa diajukan ke pihak rumah sakit” dokter tersebut kembali menjelaskan.
“Terima kasih dokter, tapi saya hanya ingin suami saya pulang,” jawab Sandra dengan suara parau dan lirih.
“Baik Bu, bisa segera diurus nanti dibantu petugas,” tutup sang dokter.
__ADS_1
Sandra kembali ke kamar jenazah, sementara sang perawat membantu kepulangan Arhan, suaminya. Sandra meminta izin untuk kembali membuka penutup kain suaminya, menatapnya kembali dalam-dalam, mengusapnya dengan lembut.
“Kenapa kamu ninggalin aku dan anak-anak mas,” rintih Sandra sembari mencium wajah suaminya tersebut, terasa dingin. “Apakah aku sedang bermimpi mas? Tolong bangunkan aku.
Sandra tersadar, mengerjabkan matanya. Kepalanya terasa pusing, di sampingnya Dipa sedang menangis sendu sambil memandang wajahnya.
“Mama…..,” rengeknya lalu memeluk Sandra yang masih terbaring, nampaknya dia sudah ada di kamarnya. Sandra mengelus kepala putranya dengan lembut. Sandra berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Apakah dia benar-benar bermimpi.
Sandra mencoba bangun, hanya dia dan Dipa yang berada di bilik kamar tanpa pintu ini.
“Adik mana,?” tanya Dipa, dia berusaha duduk di tepi ranjang usang.
“Adik ada di bilik sebelah,” Dipa mengusap air matanya.
Sayup-sayup terdengar suara orang mengaji di depan, jantung Sandra seolah berhenti berdetak, Sandra dengan sekuat tenaga keluar dari bilik.
“Dipa jagain adik ya…,” pintanya pada Dipa. Dipa pun menurut. Sandra dengan sekuat tenaga keluar dari bilik kamarnya, menuju ruang depan. Di sana sudah banyak orang berkumpul mendoakan jenazah yang tengah terbujur kaku dengan sudah diselimuti kain itu. Berarti ini nyata, dia sedang tidak bermimpi. Terlihat Uti duduk di samping jenazah Arhan, air matanya masih basah, matanya sudah sangat sembab. Menolak fakta ini, Sandra kembali menangis. Dia duduk di dekat Uti, mereka saling berpelukan. Semenyakitkan ini keadaan yang mereka alami. Kehilangan orang yang mereka sayangi.
Dipa melihat dari jauh, sementara Dania kecil sedang digendong salah satu tetangga mereka untuk ditenangkan, seperti tahu apa yang sedang terjadi, Dania kecil benar-benar rewel malam ini.
__ADS_1
Dipa mengusap air matanya, dia sudah paham tentang apa itu meninggal, beberapa hari lalu pak ustadz di tempatnya mengaji menjelaskan tentang hal ini. Bahwa orang yang sudah meninggal tak akan bisa lagi kembali ke dunia, mereka akan tinggal antara surga dan neraka nantinya. Dipa tahu jika Ayahnya meninggalkan dirinya untuk selamanya.
“Ayaaaah,” rintihnya.