Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Air Mata Dan Hujan


__ADS_3

“Bi…Biruuu,” teriak suara yang taka sing di telinganya, Biru baru saja melangkahkan kaki keluar dari kafe tersebut dengan perasaan yang tak karuan. Air matanya sudah membasahi pipinya. Sesakit ini yang dia dapatkan.


“Biiii,” teriak Luna dari jarak yang tidak terlalu jauh, Ros dan Luna mendapatkan kabar jika Biru berada di kafe ini dari Jennara. Jennara khawatir jika akan terjadi apa-apa pada Biru, karena sekilas Jennara melihat Mario dan ceweknya. Benar saja Biru terlihat tidak baik-baik saja saat keluar dari kafe ini.


Biru tak menghiraukan apa yang dia dengar meskipun sebenarnya dia tahu jika itu suara Luna dan Ros. Biru tidak mau tahu.


Biru masuk ke dalam mobil dan bergegas mengendarainya sebelum Ros dan Luna menghampirinya. Dia tidak ingin bertemu dengan mereka, memang sejak kejadian ulang tahun Mario. Biru tak pernah sama sekali bertemu dengan Ros dan Luna, pesan pun menumpuk tak terbalas. Rasanya dia ingin meninggalkan orang-orang yang membuat sesak dadanya hingga kini.


Biru mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, rasanya melegakan. Sejenak dia lupa akan janjinya pada Dipa untuk menyetir di bawah kecepatan tinggi. Musik dangdut dia nyalakan keras-keras, untuk menghilangkan rasa engap di hatinya.


            Mario menarik kursi dan duduk di sana, tak berapa lama ceweknya datang.


“Loh mana teman lo sayang,?” tanya gadis centil itu.


“Udah pergi,”


“Bisa-bisanya lo pacaran sama gadis begitu,” senyum sinisnya keluar.


“Nggak usah dibahas, udah basi” Mario mengibaskan tangannya.


“Gila aja sih jaman gini suka dangdut, lawak banget,” gelak tawa keluar dari mulut mereka berdua. Jika ingat hal itu, Mario juga merasa malu. Boleh jadi dia memang anak konglomerat, tapi selera Biru benar-benar membuatnya malu. Dangdut coy. Bagi Mario dangdut itu kampungan.

__ADS_1


            Biru masih menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan hatinya terasa lega. Biru menambak volume suara musik dangdutnya.


“Nggak ada yang salah dengan selera gue kan? Nggak ada yang salah dengan gue kan?” Biru berteriak dalam mobil. Sudah hampir separo perjalanan menuju lovebeach, yap. Ini adalah pantai pertama yang dia datangi bersama dengan Dipa. Meskipun dia tidak suka dengan air, tapi kenapa dia ke arah sini.


Matahari sudah kembali ke peraduannya. Pak Budi yang berada di rumah merasa khawatir karena sang nona belum juga kembali, kebetulan kedua orang tua Biru sedang berada di luar negeri untuk perjalanan bisnis.


“Kemana ya non Biru teh nggak balik-balik sudah jam segini,” Pak Budi bergumam dengan dirinya sendiri. Pak Budi mengambil ponselnya dan menghubungi Dipa untuk dimintai tolong. Dia benar-benar khawatir karena Biru belum pulang.


            ***


Berkali-kali Dipa menyalakan mesin motornya yang ada di depan rumah, namun nihil. Dia mencoba melihat apa yang rusak, tapi ternyata juga tidak ditemukan. Mau dibawa ke bengkel juga kelamaan. Bisa-bisanya motor yang biasanya baik-baik saja tiba-tiba rusak tanpa permisi. Dipa berlari ke ujung gang dan mencari bus menuju rumah Biru. Untung saja ada bus saat Dipa sampai di halte. Dengan nafas yang masih ngos-ngosan Dipa langsung masuk ke dalam bus. Dia sengaja berlari agar tidak ketinggalan bus.


Dipa bernafas lega saat duduk di bangku Bus yang lumayan penuh oleh penumpang. Dia bergegas berangkat saat mendapatkan kabar dari Pak Budi. Dia juga berusaha menghubungi Biru, tapi ponsel Biru tak ada jawaban. Semakin membuat Dipa merasa khawatir.


Namun nihil, tidak ada jawaban sama sekali. Dipa ingat jika dia sudah menyeting keberadaan ponsel Biru. Dia segera mengecek ponselnya dan ternyata Biru ke arah lovebeach malam-malam begini.


“Kenapa nekat,?” gumamnya. Dia berharap segera sampai ke rumah Biru dan segera menyusul Biru. Rasanya begitu lama bus itu sampai di rumah Biru. Dia sudah tidak sabar ingin segera menyusul Biru, benar-benar tidak ingin terjadi apa-apa pada gadis itu.


Sedang apakah dia? Kenapa dia kesana malam-malam begini? Ada masalahkah?


Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikiran Dipa. Dipa menghela nafas panjang, tak bisa sedikitpun dia bernafas lega. Satu jam kemudian dia sampai di rumah Biru. Pak Budi yang sedari tadi juga bingung ternyata sudah menyiapkan mobil untuk Dipa.

__ADS_1


“Kemana mas,?” tanya Pak Budi penasaran.


“Doakan semoga cepat ketemu Pak,” jawab Dipa yang sudah berada di balik kemudi.


“Baik mas, hati-hati ya, dan cepat balik bawa nona pulang,”


“Siap pak Bud,” jawaban singkat itu berlalu terkena angin karena Dipa menjawab sambil berlalu, dengan kecepatan yang agak tinggi, Dipa menyibak jalanan yang lumayan ramai. Hatinya merasa tak tenang begitu mendapat kabar jika Biru belum pulang.


Butuh waktu lumayan untuk sampai di lokasi, semoga Biru benar berada di sana dan harapannya Biru dalam keadaan baik-baik saja.


            Biru sedang mengaduk minumannya sambil menikmati alunan musik, yah…meskipun bukan musik dangdut kesukaannya tapi lumayan lah menghibur harinya. Kala itu, dia pernah merencanakan akan mengajak Mario kencan kesini, menikmati malam romantis berdua.


Alam sedang tidak bersahabat, tiba-tiba gerimis datang. Biru yang berada di tempat terbuka tanpa atap tetap membiarkan dirinya tertimpa gerimis. Terlihat para tamu yang berada di atap terbuka berlarian mencari tempat berteduh, tapi Biru tetap berada di sana. Memandang laut lepas yang berombak dengan tenang.


Mobil berhenti di parkiran yang penuh dengan kendaraan, meskipun sudah malam dan dalam kondisi hujan, tempat ini tetap saja penuh. Dipa keluar dari mobil, berlari masuk ke dalam lovebeach. Mengedarkan pandangannya ke setiap sudut, menyapu setiap wajah yang ada di sana. Berdoa agar bertemu dengan yang dia cari.


Terlihat seseorang dari belakang, dari jarak yang tidak jauh tapi juga tidak terlalu dekat darinya. Tapi Dipa hafal dengan dia, Dipa bernafas lega melihat Biru duduk di sana. Tubuhnya sudah hampir basah karena gerimis yang semakin deras turun ke bumi.


Dipa menghampiri sosok itu, sosok yang diyakini adalah Biru. Dipa berdiri di samping Biru, dia juga basah oleh gerimis malam ini.


“Maaf saya terlambat,” gumam Dipa. Biru menoleh ke arah samping, tiba-tiba ada suara yang membuyarkan lamunannya. Sejenak dia memikirkan Mario, tapi yang muncul adalah sosok yang lain.

__ADS_1


Biru terdiam, dia kembali memalingkan pandangannya ke arah lautan yang tenang. Dipa menarik kursi yang sudah basah, tak masalah baginya. Duduk di depan Biru, nampak gadis itu baru saja menangis. Dipa diam saja dan membiarkan Biru melakukan apa yang dia ingin lakukan, dia hanya ingin menemani dan memastikan Biru baik-baik saja.


Hujan semakin deras, Biru membiarkan minumannya bercampur dengan air hujan. Dan dia tidak menyentuhnya sama sekali. Biru kembali menangis, air matanya berbaur dengan air hujan yang turun. Biru meluruhkan luka batinnya bersamaan dengan hujan malam ini, ditemani oleh Dipa yang berada di depannya.


__ADS_2