
Biru menatap Dipa dari belakang, membayangkan laki-laki itu melihatnya mabuk, membopong tubuhnya. Ah rasanya ada rasa malu, tapi dia juga kesal. Bisa-bisanya Dipa melakukan itu. Biru memiringkan bibirnya. Tapi dia juga senang Dipa tidak melaporkan pada keluarganya jika dia mabuk berat.
“Hiiiish,” Biru menggerutu. Dipa mendengarnya, namun dia tetap fokus menyetir mobil.
“Nggak seharusnya lo masuk ke area party, kalau sampai Mario tahu kalau lo pengawal gue bagaimana? Bisa berape,” Biru mulai mengomel, omelan yang sudah dia pendam sejak kemarin, yang hari ini baru sempat meleleh. Dipa masih diam mendengarkan dengan khidmat.
“Harusnya lo nggak usah masuk, ih,”
“Maaf nona….,”
“Gue tahu lo bakalan ngomong apa, lo pasti akan bilang kalau ini kerjaan lo, lo harus professional, dan bla…bla..bla…,” Biru mengoceh. Dipa tersenyum kecil.
“Iya,” jawabnya singkat.
“Meskipun itu tugas lo, tapi gue sebagai nona alias majikan lo, gue berhak donk meminta,”
“Maaf nona, ini perintah,” Dipa tetap saja mendebat.
“Hiiiisssh susah ngomong sama lo,” Biru melihat ke arah samping, nggak pernah berhasil merayu Dipa agar berada di pihaknya.
“Tapi gue nggak mau kalau Mario sampai tahu lo pengawal gue,” Biru kembali menegaskan.
“Akan saya pastikan jika itu tidak akan terjadi,” Dipa menjawab mantap. Membuat Biru terdiam sesaat, hatinya masih dongkol.
Biru sedang mencatat hal-hal yang perlu dia siapkan saat pemberangkatan kemah esok hari. Kebetulan akan ada acara kemah kampus, siapa saja boleh mendaftar. Dengan kesempatan ini, Biru berharap bisa kencan dengan Mario, sehingga Biru memutuskan untuk ikut kemah.
“Wih…keren sih, nona kita yang satu ini mau nyobain kemah,” Luna sedang mencibir Biru.
Biru melirik Luna yang duduk di sampingnya.
“Serius lo mau ikut Bi,?” Ros menimpali. Dia sebenarnya ogah, tapi Biru mengajaknya agar dia ada teman yang akrab saat berkemah nanti.
“Kenapa,?” lo berdua mau mundur,?” tanya Biru menatap Ros dan Luna bergantian.
“Oh enggak….maksud gue…,” Ros menggaruk rambutnya, bisa berabe juga kalau dia menolak permintaan Biru. Bisa-bisa aliran belanjanya dari Biru macet. “Gue ikut,” ucap Ros.
__ADS_1
“Nah gitu donk, kalau kalian nggak ikut, gue ajakin Jennara,” gumam Biru dengan nada mengancam, jelas kedua sohibnya itu tidak bisa berkutik.
“Oh enggak…kita bisa kok, kita ikut….” Luna mengangguk sambil senyum.
“Yes…” ucap Ros.
Biru menepuk pundak dua temannya itu.
“Itu Dipa ikutan juga,?” tanya Luna.
“Ish…itu orang bener-bener, males gue…masa iya gue kayak bayi sih,”
“Dia baby sitternya,” Luna tertawa.
“Gue itu jadi nggak bebas ngapa-ngapain tahu nggak sih,” Biru menyipitkan kedua matanya. “Padahal gue kan pengen happy-happy, masih aja dia muncul,”
“Biarin aja sih Bi, selama lo aman-aman aja dia juga nggak bakalan ngapa-ngapain kan,?” Ros seolah membela Dipa.
“His…nggak nyaman tau nggak,?”
“Daripada lo nggak boleh ikut kemah,”
***
Ini menjadi pengalaman pertama bagi Biru, sejak jaman dahulu kala tidak sekalipun dia pernah ikut acara perkemahan dengan alasan apapun, karena dia memang nggak suka. Sesimple itu alasannya, dan tetap ya…dia lolos dengan berbagai alasan yang dia lontarkan. Dan kini tiba-tiba dia harus kemah, pilihannya sendiri.
“Kamu serius Bi,?” tanya Bundanya memastikan. Biru yang sudah siap dengan pakaian santai dan juga tas ransel di sampingnya mengangguk. Budanya agak bengong
melihat tingkah anaknya.
“Yakin,?”
“Bunda nggak percaya,?” tanya Biru lalu menggigit roti di tangannya.
“Ya udahlah terserah kamu, yang penting Dipa ikut,”
__ADS_1
“Elah Bun….,” Biru mencoba menawar.
“Baik-baik di kemah dan selamat bersenang-senang anak manis, Bunda percaya kamu akan baik-baik saja di sana,” Bundanya mengelus rambut Biru. Itu artinya penawaran Biru tidak dihiraukan, ya sudahlah. Yang penting dia akan bersama dengan Mario nanti di sana.
Ada yang berangkat bersama dengan menggunakan bus kampus, Biru memilih untuk berangkat diantar Dipa.
“Please lo nanti jangan kelihatan sama temen-temen gue, terutama Mario,” Biru sudah memasang peringatan dari awal pada Dipa.
“Iya nona,” jawab Dipa
Bagi Dipa, tidak masalah baginya jika harus bekerja dengan ritme seperti ini. Tidak berpengaruh apapun padanya, yang pasti dia akan melaporkan apa yang dilakukannya pada Kawa, abangnya Biru. Dan sejauh ini, Kawa puas dengan kinerja Dipa.
Mobil berhenti di jalanan depan area perkemahan. Dipa masih saja berdiam diri di dalam mobil, karena sesuai dengan permintaan Biru sebelumnya.
“Lo kok diam aja? Itu barang gue gimana? Kan gue nggak kuat bawanya,” omel Biru. Mengingat banyak banget barang bawaannya, 2 koper besar. Lebih mirip mau liburan, bukan kemah.
Dipa menoleh ke belakang, menatap Biru.
“Apa tidak masalah,?” tanya Dipa. Biru menghela nafas, dia teringat kembali perkataannya tadi. Bahwa Dipa tidakk boleh terlihat.
“Ya gimana caranya elo,” omel Biru. Kemudian dia keluar dari mobilnya, tidak mau tahu Dipa harus membawa barang tersebut masuk ke area perkemahan tanpa diketahui bahwa dia adalah pengawal Biru. Biru mengenakan kaca mata hitamnya agar tidak terlalu silau dengan matahari siang yang terik. Dilihatnya sudah banyak peserta yang datang di tempat ini. Tempat berumput yang sangat luas dan terlihat nyaman untuk berkemah, bagi mereka yang menyukai kemah.
Biru masuk ke area perkemahan. Dipa bersiap dengan topi dan masker serba hitam. Sambil membawa koper Biru menuju area tenda yang sudah ditentukan untuk ditempati oleh Biru.
Sedangkan Biru duduk di tempat lain yang teduh, rasanya dia tak sanggup siang hari berada di dalam tenda. Biru menatap Dipa dari kejauhan baru saja keluar tenda setelah meletakkan kopernya di sana. Dia akan setenda dengan Luna dan Ros. Ini sudah permintaannya.
Dipa berjalan keluar dari area kemah, entah dia akan berada di mana nanti. Berharapnya Dipa pulang saja, menunggunya kemah hanya akan membuatnya nganggur.
Tidak mungkin dia meninggalkan profesionalisme kerjanya, Dipa akan berada di pos keamanan, dia akan berbaur dengan para security di sana. Dengan mudahnya dia membaur demi mengawasi Biru dari kejauhan.
Dipa baru saja keluar dari toilet yang tidak jauh dari pos keamanan, dia berpapasan dengan Mario yang juga sudah berada di sana. Dipa melenggang begitu saja, tetapi tidak dengan Mario, dia nampak sedang mengingat sesuatu setelah melihat Dipa.
“Kenapa lo,?” tanya Lukas yang berjalan di samping Mario.
“Nggak apa-apa,” Mario melihat ke belakang, lalu mencoba melupakan apa yang dia pikirkan. Menganggap jika Dipa adalah mahasiswa jurusan lain yang pernah berpapasan dengannya di waktu tertentu.
__ADS_1
Malam pun tiba, suasana perkemahan begitu meriah. Karena ini perkemahan bertema liburan, sebagai acara rutin menyambut liburan semester yang baru saja tiba. Sehingga tidak ada acara resmi yang mengharuskan untuk upacara dan lain sebagainya. Murni bersenang-senang.
Biru berbaur dengan yang lainnya, karena udara yang cukup dingin. Sehingga dia mengenakan jaket yang tebal dan juga syal yang melingkar di lehernya. Di sampingnya terlihat Mario memegang gitar dan memainkannya. Merena sangat bahagia.