Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Selalu Ada


__ADS_3

Setelah semalam dibuat kelimpungan tidak bisa tidur, kini Biru dibuat puyeng kembali oleh pernyataan Dipa yang menyatakan sedang merasakan cinta pertamanya. Biru menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, meeting pagi tadi pun dilalui dengan tidak fokus. Hanya coretan-coretan asal yang ada di bukunya. Benar-benar Dipa membuatnya hilang fokus.


Selepas meeting Biru menuju salah satu divisi, di mana dia tadi diminta kesana oleh salah seorang karyawan. Sebagai mahasiswa magang yang berbakti dan beretos kerja bagus, kata dia sih. Biru pun menurut, dia melenggang menuju divisi pemasaran.


Seseorang tengah menghadap laptopnya saat Biru mengetuk pintu yang setengah terbuka itu. Seseorang itu tidak menoleh sedikitpun.


“Permisi pak,” sapa Biru pada seorang laki-laki itu. Laki-laki itu melihat ke arah Biru sepersekian detik, kemudian berdecak. Biru merasa ada yang aneh pada dirinya, bahasa tubuh laki-laki itu sedang mencibir apa yang ada pada dirinya.


“Kamu dari kampus mana? Sudah tahu etika berpakaian belum selama ada di sini,? Kenapa bajumu seperti itu,?” gertaknya sambil melihat Biru dari ujung kepala sampai ujung kaki. Biru menyipitkan mata.


“Maksudnya gimana ya pak,?” tanya Biru menegaskan. Karena dia merasa tidak ada yang salah dengannya, seragam hitam putih yang dia siapkan untuk magang. Bundanya sendiri yang memilihkannya untuknya, dibelikan dari luar negeri juga. Rok juga berada di bawah lutut, tidak terlihat seksi baginya. Jika saja dia sendiri yang memilih seragam, apa kata pegawai yang ada di depannya itu sekarang? Apa dia akan dicaci maki. Karena Biru jika memilih pakaian, maka dia akan memilih pakaian yang minim. Tapi kali ini, dia benar-benar menurut pada Bundanya tanpa protes. Jika bundanya sudah setuju memilih seragam itu, itu artinya Papanya juga setuju. Papanya pun tidak pernah mempermasalahkan apa yang dia kenakan.


“Kamu baru magang saja sudah songong, baju terlalu seksi,” laki-laki itu berdiri meninggalkan kursinya dan mendekat ke arah Biru. Biru perlahan mundur. “Wih anak orang kaya nih,” ujarnya setelah melihat baju yang dikenakan Biru, berbeda dengan baju yang dipakai karyawan lainnya. Biru menepis tangan laki-laki itu karena merasa tak nyaman, laki-laki itu memegang pundak Biru.


“Bapak…apa yang bisa saya kerjakan,?” tanya Biru tegas, dia kesini karena akan mengerjakan pekerjaan, bukan untuk hal di luar itu. Rasanya dia sudah gemes banget dengan laki-laki yang ada di depannya itu, tapi Biru mencoba menahan diri.


“Kamu tidak menjawab pertanyaan saya,” gumamnya sambil senyum menyeringai. Seorang laki-laki kisaran umur 35 tahun, tampan tidak, jelek banget juga tidak. Dia duduk di atas meja bersedekap sambil menatap Biru. Membuat Biru merasa risih.


“Dari kampus Kuning,” jawab Biru sambil menahan emosinya yang sudah ingin meledak, ingin rasanya dia mencakar wajah laki-laki mesum itu. Kok bisa ada pegawai macam ini di sini? Biru menggaruk dahinya.

__ADS_1


“Oh…kampus Kuning, keren juga, lumayan juga, dan kamu anak orang kaya,” tebaknya. Biru menghela nafas panjang. Apa perlu dia mengatakan bahwa dia anak pemilik perusahaan ini. Ah tidak..tidak…


“Kamu fotokopi berkas ini, selanjutkan tatalah di ruang rapat,” perintahnya.


“Saya pak,?” Biru menunjuk dirinya.


“Siapa lagi? Kamu lah, dasar anak magang,” pekiknya. Biru membulatkan matanya. “Nggak usah melotot begitu,” imbuh laki-laki itu.


“Maaf pak, nama bapak siapa,?” tanya Biru sambil benar-benar amarahnya.


“Kenapa? Kamu suka sama saya sampai kamu pengen kenalan dengan saya, informasi itu mahal,” senyum miringnya tergambar di wajahnya. Biru mengerutkan keningnya, daripada berlama-lama dengan orang yang membuat dirinya stress, mending Biru segera keluar dari ruangan ini. Tidak mau berdebat panjang. Harusnya ini juga bukan pekerjaannya, karena dia bukan dari divisi pemasaran.


Biru melangkah keluar dari ruangan tersebut untuk memfotokopi berkas.


“Biru,” jawab Biru tanpa menoleh ke arah laki-laki itu.


“Setelah menata ruang rapat, buatkan saya kopi dengan gula satu sendok, antar kesini,” perintahnya. Biru masih mendengarkan tanpa menoleh. Giginya gemretak, ingin memakan manusia songong yang ada di belakangnya itu. Tangannya mengepal, geram benar-benar ingin menonjok laki-laki itu.


“Kok ada sih manusia songong macam itu di perusahaan ini,?” Biru menggumam sendiri sambil berjalan menjauh meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


“Sini,” Dipa mengambil berkas dalam map warna kuning dari tangan Biru, karena saking emosinya, Biru sampai tidak menyadari jika Dipa membuntutinya menuju ruang fotokopi. Biru menghela nafas lega, dia bersandar di tembok sambil ambil dan buang nafas, agar emosinya kembali stabil. Untung saja ada Dipa yang membantunya, toh dia juga tidak bisa mengoperasikan mesin fotokopi itu.


Dipa menyodorkan segelas air putih untuk Biru, agar gadis itu kembali tenang. Dipa tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi Dipa hafal betul jika Biru sedang kesal. Dipa melihat wajah Biru setelah gadis itu selesai minum, tangannya masih memegang gelas yang masih berisi air itu.


“Makasih,” jawab Biru sambil melihat Dipa yang masih sibuk dengan mesin fotokopi.


“Kok bisa sih di perusahaan ini ada orang macam dia, gimana HRD merekrut dia, ck,” Biru nampak kecewa.


“Namanya Raka, baru masuk hari ini di perusahaan ini, kemarin dia berada di kantor cabang di luar kota,” jelas Dipa. Biru melihat Dipa, kok bisa-bisanya Dipa lebih tahu dari dia. “Kemarin mang Odang sempat cerita pas ngantar kopi,” imbuhnya, akhirnya rasa penasaran Biru terjawab. Biru mengusap dahinya yang terasa agak berkeringat, padahal AC di setiap ruangan cukup menyejukkan. Sial, laki-laki bernama Raka itu yang membuatnya merasa jengah.


“Awas saja kalau berulah, gue nggak bakal tinggal diam,” ancam Biru. Tak segan-segan dia akan menggunakan previllidgenya untuk membuang karyawan semacam itu.


“Ini sudah selesai, aku bantu bawa sampai ruang rapat,” Dipa memegang lembaran kertas yang kini menjadi 3 map itu. Biru mengangguk. Mereka berjalan keluar menuju ruang rapat yang dimaksud.


“Dipa membantu menata ruang rapat, mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan, Biru benar-benar merasa terbantu kali ini, dia sudah lelah menahan amarah. Persiapan rapat pun selesai, Biru menebaskan kedua tangannya sambil tersenyum. Lalu dia mengangkat jempol ke arah Dipa.


“Makasih ya…aku mau bikini kopi dulu buat si songong,” Biru terasa memiliki energy baru untuk menghadapi Raka yang super rese itu.


“Mau aku buatka?” Dipa menawarkan diri. Biru menggeleng, kasihan Dipa, biar dia sendiri yang membuatkannya. Sekalian ingin lebih tahu bagaimana Raka.

__ADS_1


Dipa dan Biru akhirnya berpisah, Dipa kembali ke pojok ruangan yang tak jauh dari tempat Biru, sedangkan Biru menuju pantry di lantai ini untuk membuat segelas kopi.


“Ini pak Kopinya,” Biru masih berdiri sambil membawa kopinya. Raka memutar kursinya dan melihat ke arah Biru. Kembali, dia melihat Biru dari ujung kepala ke ujung kaki.


__ADS_2