
Jennara menghempaskan tubuhnya setelah melihat Biru meninggalkannya dengan marah. Bukan ingin menghancurkan hubungan Mario dan Biru, tidak ada niatan sama sekali untuk mengacaukan hati Biru. Tapi apa yang dia dengar itu memang apa adanya, dan dia sendiri tidak percaya awalnya kalau Mario merencanakan ini pada Biru.
Undangan ulang tahun Mario sudah ada di tangannya, kenapa Jennara merasa jika nanti akan ada hal buruk yang akan terjadi pada Biru. Jennara menghela nafas panjang lalu menghembuskannya. Menggaruk rambutnya yang sama sekali tida gatal. Sama halnya dengan mahasiswa kelasnya yang lain, karena dosennya berhalangan hadir. Maka Jennara memutuskan untuk kembali ke perpustakaan kampus. Menghabiskan waktu di sana.
Biru keluar masuk toko yang menjual barang branded mewah, belum ada hadiah yang menurutnya cocok untuk dia kasihkan ke Mario sebagai kado ulang tahun sekaligus kado satu tahun merekapacaran. Dipa dari belakang dan ikut kemanapun Biru berjalan.
Biru yang diikuti pun diam saja tanpa protes, dia tidak peduli. Agak heran juga apa yang dilakukan oleh Biru, bisa sebucin itu pada Mario dan sampai hilang logika.
“Apa lagi ya,?” Biru bergumam pada dirinya sendiri setelah memutuskan untuk keluar dari salah satu toko tas branded. “Lo ada ide,?” tanya Biru sambil berbalik melihat Dipa.
“Ya,” Dipa terkesiap.
“Iya gue nanya sama lo, lo ada ide nggak kado buat Mario,?” Biru melipat tangannya di dada. “Atau sekiranya lo pernah dapat kado apa gitu sama cewek lo,” Biru melirik tajam ke arah Dipa, tiba-tiba dia ingat akan wajah Ayu.
Dipa melihat wajah Biru, Dipa menggeleng. Sama sekali tidak ada ide, karena dia belum pernah mendapatkan kado dari cewek.
“Oh jangan bilang lo nggak pernah dapat kado dari cewek lo,” Biru meringis. “Yang benar saja,” ucap Biru sambil senyum meringis menyepelekan.
“Hah…ya udah cabut aja, gue mau beliin dia motor aja,” Biru kembali menghadap ke depan, melengoskan wajahnya dari wajah Dipa.
Mungkin begini tabiat orang kaya, beli kado mewah pun seperti sedang beli permen. Gampang sekali. Dipa mengangguk dan kembali mengekor di belakang Biru.
Mereka sudah tiba di dealer motor, tidak hanya motor dengan harga standar. Biru lebih heboh memilih berada di stand motor yang harganya bisa membeli mobil.
“Gue pengen beli motor, tapi duit belum cukup,” kembali kalimat itu menggema di telinganya, salah satu impian Mario yang pernah terucap saat mereka ngobrol. Ya sudah tidak ada salahnya, dia memberikan yang terbaik untuk kekasihnya. Pasti Mario akan senang.
“Apakah ini untuk masnya yang di depan itu kak,?” salah satu salesnya menunjuk Dipa yang duduk di kursi tunggu, Biru melihat ke arah jari sales menunjuk Dipa.
__ADS_1
“Bukan,” buru-buru Biru menjawab sambil mengibaskan tangannya.
“Ini gue sekalian bayar, terus minta tolong kirim ke alamat ini,” Biru menyerahkan sebuah kartu yang berisikan alamat hotel yang akan digunakan untuk menghelat acara ulang tahun Mario.
“Siap kak,”
“Jangan sampai telat ya,”
“Siap kak,”
Jennara berdiri saat tahu mobil yang biasanya ditumpangi Biru Sampai di halaman rumah Biru. Hatinya masih tidak karuan, begitu nggak teganya dia pada Biru jadi dia masih ingin meyakinkan jika Mario sudah jahat padanya.
Biru menutup pintu mobilnya, sesaat dia menghentikan langkahnya saat melihat Jennara berdiri melihatnya. Ada apa lagi dia kemari.
“Bi…beri aku waktu,” Jennara memohon.
“Bi…yang aku ceritakan itu benar adanya, aku nggak mengada-ada, ini aku lakukan karena kamu baik banget Bi, kamu nggak layak mendapatkan perlakuan seperti ini,” Jennara mencari celah untuk menjelaskan. Berharap Biru mau mendengarkan apa yang dia ucapkan. Murni dia berniat untuk menyelamatkan Biru.
“Lo dibayar sama siapa,?” Biru menatap judes Jennara. “Apa gegara lo capek sama gue yang selalu minta ngerjain tugas gue itu,?”
“Bukan Bi…,”
“Ya sudah, apapun yang akan keluar dari mulut lo, gue nggak percaya,” Biru melenggang pergi meninggalkan Jennara. Jennara menghela nafas putus asa. Kemudian dia berdiri dengan wajah tanpa ekspresi.
Dari kejauhan Dipa dan Pak Budi melihat Jennara dengan wakah saling tatap dan penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Wajah Biru nampak kecewa dengan kedatangan Jennara.
“Kenapa mas,?” tanya Pak Budi pada Dipa, Dipa menggeleng pelan, lalu mendekat ke arah Jennara yang masih mematung.
__ADS_1
“Mungkin kamu yang bisa mendengarkan apa yang aku ketahui,” ucap Jennara saat melihat Dipa mendekatinya. Dia sudah beberapa kali melihat Dipa, menurut Jennara, mungkin Dipa adalah sopir Biru.
Dipa mengangkat tangannya dan mempersilahkan Jennara untuk berpindah tempat ke luar dan mengobrol.
“Jadi aku nggak mengada-ada,” ungkap Jennara setelah menceritakan apa yang sudah dia dengar dari pembicaraan Lukas, Sean dan Mario beberapa hari lalu. Dipa mengangguk paham, dan dia merasa apa yang diucapkan Jennara itu adalah kenyataan. Tidak ada maksud Jennara menjelekkan Mario.
“Kamu percaya aku kan, aku sama sekali tidak ada maksud apapun sumpah demi Tuhan,” Jennara melihat mata Dipa dengan tatapan sendu. “Aku hanya sayang sama dia, nggak mau dia diperlakukan seperti ini,” Jennara berbicara dengan tulus.
“Terima kasih atas infonya,”
“Aku nggak mau orang sebaik dia diperalat oleh orang yang sama sekali nggak punya hati macam mereka,” Jennara benar-benar tulus.
Sepeninggal Jennara, Dipa duduk sambil menikmati kopi di beranda bersama pak Budi. Jika benar ini
yang terjadi, maka dia tidak akan tinggal diam. Sebagai tanggung jawabnya sebagai pengawal Biru, dia akan melindungi Biru.
“Ayo kopinya dituang lagi Mas,” ajak Pak Budi.
“Iya pak,” Dipa mengambil cangkirnya dan kembali menyesapnya. Sore hari yang cerah, dan nampaknya malam ini Biru akan anteng di rumah tidak ingin keluar kemana pun. Waktunya untuk istirahat.
Biru melempar tasnya sembarangan di ranjangnya, hatinya masih dongkol dengan apa yang dia dengar dari Jennara, sama sekali tidak bisa dicerna apa yang dilakukan Jennara. Apa maksud dari semua ini, apakah Jennara sukda dengan Mario? Atau ada maksud apa.
Mana mungkin Mario akan melakukan tindakan sekeji ini, Biru menggelengkan kepalanya. Membuang jauh-jauh pikiran itu. Dia suka sama Mario, dan dia meyakini Mario juga mencintainya sama seperti dia mencintai Mario.
Biru melepaskan kaos kakinya dan melemparkan ke sembarang tempat, menggelung rambutnya dan bergegas menuju kamar mandi. Ingin mendinginkan pikirannya, di bergegas mandi dan berlama-lama di sana, mengendurkan pikirannya yang hari ini merasa dipermainkan oleh Jennara.
Tak lupa dia berendam di bath up dan menyalakan lilin aroma agar semakin rilex pikirannya. Biru memejamkan matanya dan menikmati aroma wangi yang menenangkan.
__ADS_1