
“Atau jangan-jangan lo udah move on karena dia,?” Luna menegaskan. Biru menatap Luna dengan tajam.
“Lo jangan sembarangan kalau ngomong, kalian tahu kan selera gue kek mana, ih kalau jangan ngaco,” Biru masih menatap kedua sohibnya dengan tatapan tajam setajam silet.
“Yakali Bi, secara Dipa cakep amat, mending Dipa kemana-mana dari pada si Mario sih kalau kata gue,”
“Ilah sebut nama dia lagi lo,”
“Bukan…maksud gue bukan begitu, ya emang, gue sebagai penilai ketampanan kaum adam di dunia ini pasti tahu lah, Mario sama Dipa ya masih gantengan Dipa kemana-mana lah, mana cool, keren, pelindung, duuuh kalau gue sih melting banget sama dia,” Luna tertawa-tawa kecil sendiri, Biru menatap Luna yang baginya terlihat aneh. Sedangkan Ros menahan tawanya melihat tingkah Luna yang kesengsem dengan Dipa itu.
“Ya kalau lo nggak mau, boleh donk gue deketin dia,” Luna nyari kesempatan.
“Enggak! Enggak ya enggak!” Biru keluar galaknya.
“Lagian kenapa lo yang sewot sih Bi, hayooo…lo cemburu ya,?” Luna masih saja ngotot.
“Asal lo tahu ya, dia itu udah dijodohkan noh di kampungnya, udah sampai sini paham?” Biru menatap Luna dengan sebal, Biru melipat kedua tangannya di dada. Luna menatap Biru sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak.
“Lo mah ngadi-ngadi Bi, biar gue nggak deketin dia,”
“Hih serah deh, mau percaya mau enggak, tanyain noh sama dia sendiri,” Biru menunjuk ke arah luar. Dari balik kaca, terlihat Dipa sedang duduk di sebuah kursi, sedang menikmati secangkir kopinya, jas yang tadi dipakai kini sudah dilepas, hanya mengenakan kemeja putih yang dilipat hingga sikunya.
“Gila sih anak orang, cakep bener,” Luna memuji Dipa yang meskipun hanya terlihat dari belakang. “Lo kok kuat sih Bi barengan dia tiap hari tapi hatimu nggak aku krekut-krekut gitu,” Luna masih melihat Dipa dari jarak jauh.
“Apaan sih krekut-krekut?, ini Ros temen lo udah sinting beneran,” Biru menunjuk Luna. Ros hanya tertawa.
“Kalau gue jadi elo, udah gue jadiin suami dari dulu tuh cowok,” Luna menopang dagunya dengan kedua tangannya. “Sungguh indah ciptaan Tuhan,”
Biru menghela nafas panjang, Luna benar-benar sudah gila. Bukan hanya Luna, dalam hati kecilnya dia juga gila karena Dipa. Dih, malah Luna ikut-ikutan, rasanya pengen dia kuncir tuh mulutnya Luna yang sedari tadi memuji Dipa. Hanya dia yang boleh memuji Dipa, nggak ada yang lain.
“Eh Bi, tapi lo seriusan kalau Dipa dijodohin di kampungnya,?” Ros ikutan nimbrung.
“Iya,” jawab Biru dengan nada ogah-ogahan.
__ADS_1
“Janur kuning belum melengkung, semua masih mungkin,” kalimat Ros seperti menyejukkan hati, seolah memberikan harapan padanya, mendadak Biru merasa senang. Hampir saja senyumnya melebar, tapi Biru keburu ingat dan menahannya. Jangan sampai Ros dan Luna tahu isi hatinya.
“Kalian habis obat ya? Dari tadi ngigo aja kerjaan kalian, kesini mau happy, malah bahas cowok mulu, gue balik dah,” Biru bangkit dari duduknya.
“Eh Bi, lo kok balik aja sih, masih kangen tahu, kita belum ghibah,” ungkap Luna.
“Ghibah noh sama gelas kopi gue yang udah kosong, udah gue balik dulu ah, mau tidur, capek dengerin mulut kalian berisik mulu,” Biru melambaikan tangan.
“Yah…nggak asyik lo Bi,” Luna mengeluh. Biru semakin menjauh dan akhirnya keluar dari kafe tersebut. Dipa yang menyadari Biru sudah hendak pulang, dia bergegas mengikuti Biru yang sudah masuk ke dalam mobil.
“Mau langsung pulang,?”
“Ya,”
“Bisa ikut aku sebentar,?” tanya Dipa dengan lembut, rasanya Biru ingin menutup telinganya. Mendengar suara Dipa yang begitu lembut membuatnya tidak tahan lagi. Apa perlu mulai besok Pak Budi saja yang mengemudi untuknya, bukan Dipa. Bisa-bisa Biru bisa mati mendadak kalau begini caranya.
“Kemana,?”
“Sebentar saja,” mobil pun melaju. Biru tidak protes kemana Dipa akan membawanya pergi.
Tibalah mereka di sebuah rumah yang sangat sederhana, baru beberapa langkah menuju rumah tersebut. Seorang gadis kecil dengan senyum terbaiknya keluar menyambut kedatangan Dipa dan Biru. Biru tak akan pernah melupakan senyuman itu.
“Syakila,?” Biru membelalakkan mata, gadis kecil yang dia temui tempo hari.
“Tante apa kabar,?” tanya Syakila dengan ramah, dia masih sangat ingat dengan Biru. Biru berjongkok agar tingginya seimbang dengan Syakila.
“Hey cantik, tante Biru baik-baik saja, bagaimana kabar kamu sayang,?” Biru memegang tangan gadis kecil itu, lalu menowel pipinya. Gadis kecil itu kini nampak lebih terurus, lebih berisi badannya. Biru merasa sangat lega melihat perubahan ini.
“Baik tante,” jawab Syakila.
“Om Dipa…terima kasih sudah menepati janji,” Syakila melihat ke arah Dipa, Biru pun ikut mendongak dan mengerutkan dahi. Janji apakah yang dimaksud?
“Iya, selamat ulang tahun ya Syakila, semoga semakin pintar, soleha, sayang sama Ibu,” Dipa menyerahkan bingkisan tersebut untuk Syakila.
__ADS_1
“Waaah apa ini om?” Syakila nampak antusias menerima kado dari Dipa.
“Eh mana terima kasihnya sama om dan tante,?” sebuah suara terdengar dari dalam rumah yang hendak menghampiri mereka. Mereka semua menoleh ke arah sumber suara, nampak Ibu Syakila tersenyum menyambut mereka.
“Terima kasih om dan tante,”
“Iya sama-sama,” jawab Dipa.
“Mari silahkan masuk mas dan non,” ajak Ibu Syakila. Mereka kini menempati sebuah kontrakan yang lebih layak daripada yang dulu. Biru berjalan di samping Dipa.
“Kamu tahu darimana kalau mereka tinggal di sini,?” tanya Biru setengah berbisik.
“Saya sering bertemu dengan Syakila,” jawab Dipa.
“Kenapa nggak bilang sama aku, dan lagi nih, hari ini ulang tahun Syakila, kenapa nggak bilang juga,?” Biru gemas rasanya merasa Dipa bergerak sendiri.
“Mari silahkan duduk non, mas,” Ibu Syakila mempersilahkan mereka duduk lesehan di atas tikar, di atasnya ada nasi kuning lengkap dengan lauknya, meskipun tidak besar, tapi cukup untuk dimakan bersama.
“Ih berapa tahun nih sayang,?” tanya Biru.
“6 tahun tante,” jawab Syakila.
“Oh bentar, duh maafin tante ya yang nggak tahu kalau hari ini Syakila ulang tahun, nah sebagai permintaan maaf, bentar ya tante belikan kue dulu,” Biru tidak mau kaah dari Dipa.
“Eh nggak usah non, ini sudah lebih dari cukup kok,” Ibu Syakila menolak.
“Enggak Bu, sebentar saja kok, ini udah pesen,”
“Hore ada kue,” Syakila kegirangan.
“Sssst….nggak boleh gitu, ini Ibu kan sudah masak nasi kuning untuk kita makan bersama,”
“Nggak apa-apa Bu, lagian Syakila belum pernah ulang tahun pake kue,” jawab Syakila polos.
__ADS_1
“Bu…nggak apa-apa, tunggu sebentar ya sayang, ini abang ojeknya sudah jalan kok,” Biru menenangkan. Syakila mengangguk dengan senyum bahagia.
Maaf ya, episode yang ini kelewat. akhirnya aku upload ulang....