
Biru sedang bersenandung, menirukan suara lagu yang terputar di mobilnya, hari semakin petang. Laju kendaraan berkurang karena jalanan macet, Biru nampak enjoy saja menikmati perjalanannya. Barang belanjaan yang tadi menumpuk di sampingnya.
Bahkan kini mobilnya berhenti karena terjebak macet. Dan tidak ada pilihan lain selain menunggu.
“Hah…begini nih, macet mulu,” gerutu Biru. Biru melihat ke kaca samping, dilihatnya seorang anak perempuan dengan pakaian lusuh sedang duduk, nampak rambutnya yang pendek itu juga lusuh. Biru memperhatikan dengan seksama.
“Jangan tinggalin gue,” Biru membuka pintu mobilnya dan keluar dengan tiba-tiba. Dipa melihat kemana Biru pergi, nampak gadis itu mendekat ke arah gadis kecil dengan wajah memelas itu. Biru berjongkok di sana.
“Hai…nama kamu siapa adik kecil,?” tanya Biru dengan lembut, gadis kecil itu kira-kira umur tujuh tahu.
“Syakila,” jawabnya singkat.
“Kamu sendirian,?” tanya Biru sambil menatap wajah gadis kecil itu, wajahnya juga lusuh, mungkin terkena debu jalanan. Gadis kecil itu menggeleng, lalu menunjuk ke arah seorang wanita yang membawa barang dagangan sedang berkeliling dari satu mobil ke mobil lainnya sambil menjajakan jualanya.
Dipa memperhatikan dengan seksama, karena kebetulan mobilnya berada di lajur sebelah kiri, dekat dengan trotoar.
Biru menatap seseorang yang ditunjuk oleh gadis kecil itu.
“Syakila sudah makan,?” tanya Biru. Gadis kecil itu menggeleng pelan. Biru meneguk ludahnya, senyumnya mengembang. Terasa sakit rasanya.
“Yuk makan sama tante,” ajak Biru dan meminta gadis kecil itu memanggilnya dengan sebutan tante. Gadis kecil itu menggeleng, dia nampak berhati-hati, takutnya Biru adalah orang jahat.
“Tenang, tante nggak jahat kok, yuk makan di sana,” Biru menunjuk ke arah sebuah tempat makan yang tidak jauh dari dia berjongkok. Gadis kecil itu masih menggeleng.
Biru bangkit dari jongkoknya dan berjalan kembali ke mobilnya, mengetuk kaca depan. Bergegas Dipa membuka jendela yang diketuk Biru.
“Kalau lo mau balik, balik duluan aja, gue mau ada urusan,” ujar Biru.
“Saya menunggu nona,” Dipa tidak mau ambil resiko.
Biru memutar bola matanya. “Lo nggak usah khawatir, gue akan baik-baik aja,” Biru memastikan.
“Saya akan memarkir kendaraan,” ujar Dipa.
Biru menghela nafas panjang, “Ok, di tempat makan itu,” Biru menunjuk sebuah tempat makan dengan parkiran yang tidak terlalu luas itu.
“Baik nona,” Dipa menyetujui, masih menunggu kendaraan yang lain berjalan, setelahnya Dipa akan memarkir kendaraan di sana.
__ADS_1
Biru kembali kepada gadis kecil yang tadi, dia sudah tidak sendirian lagi. Ibunya sudah kembali.
“Hei…yuk makan,” Biru kembali mengajak.
“Eh nona, kita mau pulang,” ujar seorang wanita dengan hijab warna hitam itu, nampak dia mengemasi barang dagangannya yang masih banyak.
“Ibu jualan apa,?” tanya Biru sambil melihat bungkusan kresek warna hitam.
“Oh ini non, ada bolpoin, tisu, nona mau beli,?” wanita itu menawarkan,”
“Oh tidak bu,” Biru melambaikan tangannya.
“Oh,” wanita kembali mengemasi barangnya.
“Sebelum pulang, kita makan di sana yuk bu dan syakila,” Biru menujuk tempat makan yang tak jauh itu. Wanita itu nampak menatap Biru, lalu ke wajah anaknya, Syakila. Dia memang sedang menahan lapar, dan anaknya pun demikian.
“Bu…Syakila lapar,” ucap gadis kecil itu sambil memegangi perutnya.
“Yuk,” Biru meraih tangan gadis kecil itu dan mengajaknya berdiri. Akhirnya mereka menerima tawaran Biru untuk makan bersama.
Dengan senang hati Biru menawarkan aneka makanan yang ingin dimakan oleh Ibu dan anak itu, mereka boleh memilih makanan sesukanya dan sepuasnya. Bahkan kalau mau membungkusnya.
Syakila nampak tersenyum ke arahnya, Biru dengan mata sendu pun akhirnya ikut tersenyum melihat pancaran mata gadis kecil itu. Sungguh Biru merasa betapa beruntungnya dia di lahirkan dengan keadaan yang benar-benar berkecukupan. Betapa beratnya yang sedang dihadapi oleh Ibu dan anak yang ada di hadapannya ini.
Dipa yang baru berhasil memarkir mobilnya itu pun menunggu di luar, tapi dia masih bisa melihat Biru yang berada di dalam. Ada rasa salut yang dia rasakan, di balik sosok Biru yang ngaco dan badung, ada sisi malaikat di hatinya. Di tengah gaya hidupnya yang hedon dan mewah, dia masih memikirkan orang lain. Dipa tersenyum tipis.
“Tante nggak makan,?” tanya Syakila.
“Tante sudah makan, makan ya banyak ya cantik…,” Biru tersenyum ke arah Syakila, gadis kecil itu mengangguk senang.
Biru meminta kepada pelayan untuk membungkuskan makanan untuk Syakila dan Ibunya. Kemudian mereka keluar dari tempat makan itu. Dilihatnya kendaraan masih terlihat rapat di jalanan.
“Oh ya, kita belanja dulu yuk,” ajak Biru.
“Oh tidak usah non, sudah cukup nona membelikan kami makan,”
“Nggak apa-apa bu, ayok,” Biru menarik tangan Syakila dan masuk ke sebuah minimarket yang kebetulan berada di samping rumah makan tadi.
__ADS_1
“Tungguin,” Biru berbisik pada Dipa, Dipa yang berdiri pun mengangguk patuh.
Biru masuk ke dalam minimarket bersama Syakila dan juga Ibunya, nampak gadis kecil itu tertarik pada sebuah makanan yang ada di etalase depan kasir. Sebuah coklat yang biasanya menjadi idola anak-anak.
“Syakila mau,?” tanya Biru sambil berjongkok. Gadis itu mengangguk senang.
“Ambilah berapapun yang Syakila mau,” ujar Biru.
“Eh jangan non, Syakila ambil satu saja ya nak, jangan banyak-banyak,” perintah Ibunya. Syakila mengangguk lalu mengambil satu sesuai perintah Ibunya.
“Ibu belanjalah kebutuhan rumah yang Ibu butuhkan,” titah Biru.
“Saya merepotkan nona,”
“Tidak, justru Ibu yang membantu saya bahagia,” gumam Biru.
Biru meminta kepada salah satu pegawai agar membantu membawakan barang belanjaan Ibu tersebut, ada beras, minyak, telur, mie, dan masih banyak yang lainnya.
“Dan coklat ini ya mas, tambah lagi 2 lusin,” Biru menunjuk coklat yang disukai oleh Syakila, serta makanan ringan yang lainnya untuk Syakila.
Biru selesai membayar semuanya, membuat Ibu Syakila tak enak hati karena sudah habis banyak.
“Bu…jangan memikirkan hal ini, ini rejeki kita berdua,” ujar Biru agar wanita itu tidak bersedih hati memikirkannya.
“Saya nggak tahu bagaimana caranya berterima kasih pada nona,”
Biru tersenyum kecil, mengedarkan pandangannya, mencari Dipa. Sosok yang dicari pun paham, akhirnya dia mendekat ke arah Biru.
“Apa om ini pacar tante,?” tanya Syakila polos. Biru meolongo, lalu nyengir.
“Buk…bukan…,” Biru menjawab.
“Tolong bawakan barang belanjaan Ibu ini, rumahnya tak jauh dari sini,” ujar Biru menyuruh Dipa membawa barang belanjaan yang lumayan banyak. “Nanti lo dibantuin sama pegawai kok, biar nggak bolak-balik,”
“Biar saya saja yang bawa non, nggak apa-apa, kasihan mas gantengnya harus manggul barang belanjaan,” Ibu Syakila menolak.
“Eh nggak apa-apa bu.” Ujar Dipa lalu membawa sebagian barang belanjaan Ibu, dia dibantu oleh salah satu pegawai minimarket.
__ADS_1
Jalanan yang tadi benar-benar padat, kini mulai terurai. Seusai mengantar Ibu dan Syakila pulang, Biru masuk ke dalam mobil. Memainkan ponselnya dan sibuk membalas pesan dari Mario.
Dipa melihat ke jalanan, fokus mengemudi dengan hati yang penuh haru.