Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Rencana Biru


__ADS_3

Seperti hari-hari kemarin, Biru bersemangat ke kantor Papanya sebagai mahasiswa magang. Dia selalu meminta kepada para karyawan agar tidak menganggapnya istimewa meskipun dia anaknya si pemilik perusahaan. Biru bangkit dari kursinya hendak ke pantry untuk membuat kopi agar ngantuknya hilang.


Dipa menunggu di tempat yang lain tanpa terlihat mencurigakan buat orang lain, dia menepati apa yang diucapkan oleh Tuan Saga agar menjaga Biru.


“Selamat pagi no…,” sapa seseorang, belum selesai mengucapkan selamat pagi, Biru menempelkan telunjuk di bibirnya sendiri agar orang tersebut diam. Rupanya orang itu adalah OB yang bertugas di pantry hari ini. Namanya Odang.


“Pagi mang Odang, please…jangan panggil nona…panggil mbak magang aja seperti lainnya,”


“Nggak sopan atuh non…,” Odang dengan gigi ompongnya menggaruk kepalanya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri memegang sapu.


“Huuus…nurut sama aku,” Biru menatap Odang dengan mata membulat, Odang mengangguk akhirnya.


“Nah bagus,” Biru menjentikkan jemarinya.


“Mbak magang mau buat apa? Saya buatkan, nanti saya antarkan,”


“Enggak usah, aku bisa sendiri kok bikin kopi, tinggal seduh doang, aku bisa,” Biru mengambil dua buah cangkir dan meletakkannya di atas meja.


“Ih nggak usah repot-repot mbak, meskipun saya belum ngopi…eh,…tapi nanti saja saya buat sendiri,” ujarnya menyeringai, lagi-lagi menampakkan deratan gigi yang kini ompong. Biru melihat ke arah Odang, menahan senyum. Odang pun makin bingung, dia kembali menggaruk rambut tipisnya.


“Bukan buat mamang ini mah,” Biru mengibaskan tangannya, lalu dengan gesit mengambil dua bungkus sachet kopi.


“Eh buat siapa mbak,?” tanya Odang yang terlanjur malu karena kepedean.


“Tunggu sini, nanti mamang yang antar ke lorong lantai ini, nah ada sebuah kursi di situ ada seseorang yang sedang duduk, mungkin sedang bawa laptop dan sedang sibuk dengan laptopnya, nah tolong antar buat dia ya…,” Biru mengarahkan, sambil berbicara dia menyeduh kopi tersebut.


“Siap mbak, ah kirain buat saya mbak, sudah kepedean,” Odang mengelus rambut tipisnya yang agak panjang itu.


Biru tertawa kecil, “Mang Odang buat sendiri ya…,” Biru selesai membuat kopi. Dan menyerahkan secangkir kopi buat Odang.


“Ini mang,”

__ADS_1


“Oh iya mbak, ok saya antar sekarang,” ujar Odang tanpa banyak bertanya siapa orang yang dimaksud itu. Dia menjalankan tugasnya menemui Dipa yang benar saja sedang sibuk menatap layar laptopnya entah apa yang sedang dia kerjakan.


Sedangkan Biru duduk di kursinya, meletakkan secangkir kopi yang masih mengepul itu. Tangannya dengan lihai memainkan mouse untuk mengerjakan laporan, Biru kini lebih rajin daripada saat kuliah dulu. Dia berusaha keras untuk bisa memahami apa yang ada di depannya. Tapi ternyata Biru agak kesulitan.


“Diih gimana ini, padahal harus kelar hari ini juga, kan nggak keren kalau banyak tanya ke karyawan, nanti wibawa gue jatuh,” gerutunya, tangannya mengambil cangkir dan menyesap kopinya. Matanya masih menatap layar.


“Duh nyerah,” Biru mengangkat tangannya dengan kerjaan yang ada di depannya. Tangan Biru mengambil ponsel yang ada di tasnya, memencet sebuah nomer dan berbicara berbisik pada sang lawan bicara. Tak berapa lama lawan bicara pun datang menghampiri, untung saja keadaan ruangan tidak ramai, hanya ada satu mahasiswa magang lainnya yang nampak sibuk mengerjakan laporan juga.


“Ada yang bisa kubantu,?” Dipa menawarkan bantuan.


“Yap, aku nggak bisa ini nih,” Biru menujuk kolom yang dirasa dia salah memasukkan rumusnya,”


Dipa dengan cepat membenahi dan akhirnya tak lagi berwarna merah, itu artinya sudah benar.


“Nah,” Biru menjentikkan tangannya merasa senang, hingga mahasiswa magang yang sibuk menatap layar laptop pun menatap dia. Dipa menghela nafasnya dan melihat ke arah Biru, dia suka dengan ekspresi wajah Biru yang begitu bahagia melihat layar laptopnya.


“Ok, aku balik dulu keluar,” pamit Dipa, Biru mengangguk tanpa melihat ke arah Dipa. Dipa kembali ke tempatnya semula.


“Bereees, yeeyyy,” Biru benar-benar merasa berguna.


Terdengar bunyi yang berasal dari ponselnya, Biru mencari-cari sumber suara dari ponselnya, dia lupa tepatnya dia meletakkan ponselnya.


Akhirnya ketemu, Biru meletakkan ponselnya di bawah tumpukan map yang ada di meja.


“Ya Pa…., ok,” jawab Biru setelah menutup panggilan telponnya. Tidak biasanya Papanya memintanya bertemu di kantor. Biru menaikkan kedua alisnya, lalu melakukan peregangan tangan kembali sebelum menuju lantai di mana ruangan Papanya berada.


            Seseorang yang penuh wibawa, berwajah tampan, keren, cool, idola banget. Itu menurut Biru, laki-laki yang


merupakan cinta pertamanya itu sedang duduk di kursi kebesarannya saat dia masuk ke dalam ruangan.


“Tumben sepi, tumben papa ada di kantor?” Biru langsung nyerocos. “Apa apa Pa? tumben manggil anak magang,?” Biru terkekeh. Saga menghela nafas melihat ocehan anak gadisnya, iya begitulah Biru selalu membuat suasana ramai.

__ADS_1


“Duduk,” ujar Saga dengan wajah santai, dia senang melihat perubahan Biru. Biru menurut dan duduk di kursi depan meja Saga.


“Bagaimana hubunganmu dengan Mario,?” tanya Saga tanpa basi-basi, seperti langsung kena sengatan listrik, dia sama sekali tidak menduga jika dia diminta kesini untuk membahas nama Mario.


“Kenapa memang Pa,?” Biru tidak segera menjawab.


“Jawab Papa,” ungkap Saga.


“Ngapain dibahas di kantor sih Pa,?” Biru merasa keberatan.


“Kalau di rumah kamu jarang berada di rumah, kamu keluyuran aja sama Dipa dan pulang malam,” Saga mengeluh, tapi dia tidak marah. Dia sangat percaya dengan Dipa.


Biru meringis, “Iya juga sih Pa, eh tapi tetep aja nggak enak Pa,” Biru masih kekeh.


“Lagian nggak ada orang Bi, cuma kamu dan Papa,” Saga kembali menghela nafas.


Biru ikut menghela nafas panjang, bahkan lebih panjang dari helaan nafas Papanya.


“Udah putus,” jawab Biru dengan datar.


 “Oh makanya,”


“Makanya apa,?” Biru membulatkan mata, pasti ada info. Tumben-tumbenan Papanya turun tangan.


“Papa nggak suka jika ada yang jahat sama keluarga Papa, apalagi berkaitan dengan anak Papa yang cantik,” ujar Saga. Biru menyipitkan mata, masih belum paham dengan apa yang diutarakan oleh Papanya. “Papa akan menarik investasi dari mega proyek perusahaan yang sedang dipegang oleh Papanya Mario,”


Lagi-lagi, Biru dibuat terkejut. Bisa-bisanya Papanya sat set bergerak bagai kilat. Tapi tidak gini juga.


“Pa…duh,” Biru nampak bingung. “Nggak gini juga Pa, kesian kan…,” Biru memasang wajah melas.


“Dih….anak Papa malah ngebela orang lain,” Saga mengangkat sebelah alisnya, heran dengan ekspresi Biru.

__ADS_1


Begitulah Biru, sejauh apa kemarin dia terluka. Tapi dia tidak ingin membuat orang lain susah, meskipun itu adalah orang tua Mario. Orang yang paling menyakitkan dalam hidupnya.


__ADS_2