Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Dia Buken Tipe Gueee


__ADS_3

Biru masih tersenyum miris, harapan? Apa saja yang dia dengar dari Uti tadi. Kenapa terlihat konyol saat menyaksikan dirinya kini.


“Hah? Gue cemburu? Nggak lah…lagian Dipa bukan tipe gue” ujarnya bergumam pada dirinya sendiri, udara di rumah ini terasa dingin walau tanpa menggunakan AC di kamar. Biru menutup tubuhnya dengan selimut warna biru muda, baunya wangi. Bisa ditebak jika selimut ini baru dikeluarkan saat kamar ini akan digunakan oleh Biru menginap malam ini, begitu juga dengan seprei dan kawan-kawannya.


“Gue nggak cemburu,” ujarnya lagi, kedua kakinya menendang selimut sehingga selimut itu kini tak lagi menutupi kedua kakinya. “Hiiiih” Biru memukul pelan dahinya dengan tangan kanannya, mengingatkan otaknya agar berfikir waras.


“Lagian biarin saja mereka dijodohkan dan saling memiliki, nggak ada urusannya sama gue,” Biru mengingatkan dirinya sendiri. Kini dia beralih dari posisi berbaring, berganti menjadi duduk. Biru mengacak-acak rambutnya. Memandangi seisi kamar Dipa yang rapi, hanya ada 1 foto yang menempel di dinding kamar ini, foto Dipa beserta Uti dan Dania. Wajah Dipa sama, hanya mungkin foto itu tidak foto terbaru.


Biru mendekat ke arah foto tersebut, memegangnya pelan tanpa menurunkan.


“Lo….iiishhhh, napa otak gue malah kepikiran dia sih, ya ampuuun,” Biru kembali memukul dahinya. “Sadaaaar, sadaaaarlah…..” Biru memejamkan matanya, lalu membukanya kembali. Tepat melihat wajah Dipa yang ada di foto tersebut.


“Lo memang cakep sih,” bisik Biru. Wajahnya berubah kecut, benar-benar kecewa pada hati kecilnya yang tidak mau kompromi sama sekali. Dia tidak butuh Dipa, hatinya tidak tertawan pada Dipa. Maunya seperti itu, tapi hatinya kenapa bertolak belakang.


“Begooooo,” Biru merutuki dirinya sendiri, dia berlari kecil menuju ranjang, memeluk guling dan merapatkan selimut hingga ke lehernya. Sudah hampir jam 2 dinihari, Biru mencoba memejamkan mata sebelum dia benar-benar menjadi gila karena memikirkan perjodohan Dipa dengan Ayu.


Sementara di tempat yang berbeda, Dipa masih menyalakan televisi. Bukan hal yang sulit baginya untuk tidur di ruangan ini, karena dari dulu dia terbiasa ketiduran di sini dan malas pindah ke kamar.


Suara televisi yang lirih masih terdengar, film action pun masih terpampang di sana. Tapi rasanya hanya sebatas menemaninya saja. Karena dia tidak tahu inti dari film tersebut.


Dipa mengambil segelas air putih yang ada di atas meja tak jauh darinya, meneguknya lalu mengembalikannya. Hingga detik ini rasanya dia masih belum percaya jika Biru sudah senyaman ini dengan keluarganya. Seorang gadis yang lahir dari keluarga kaya raya, hidup dalam kemewahan, tiba-tiba mau saja bergaul dengan keluarganya yang sederhana.


Dipa menyunggingkan senyum tipisnya, mengingat perjalanan awal saat dia melihat Biru. Sungguh gadis yang seenaknya sendiri, tapi di balik itu semua, Biru memiliki sisi kemanusiaan yang menyentuh hatinya. Hingga akhir-akhir ini Biru seolah kembali pada jalur yang diharapkan oleh keluarganya.

__ADS_1


“Nanti selepas kontrak kerja selesai, pulanglah dan bekerjalah di sini saja, jangan jauh-jauh dari Uti dan Dania,” kalimat itu kembali terngiang, pesan Uti beberapa saat yang lalu. Dipa menghela nafasnya, iya selepas kontraknya


selesai, kemungkinan dia akan kembali ke rumah. Mencari kerja yang memungkinkan untuknya bisa pulang setiap hari ke rumah.


“Kontrak…,” gumamnya pelan. Dipa mengingat jika kontraknya dengan keluarga Biru akan berakhir dalam beberapa bulan lagi. Yang lebih menyenangkan adalah melihat perubahan Biru, dia merasa tenang nantinya saat kontraknya telah selesai. Dipa kembali tersenyum lega. Wajah gadis itu tiba-tiba melintas di benaknya. Dipa menggelengkan kepalanya.


“Kamu harus memikirkan Ayu,” kembali kalimat itu terngiang di telinganya. “Keluarga Ayu lah yang menolong kita, dan Uti lihat Ayu juga menaruh hati padamu, begitu juga Pak Wahono yang juga mengharapkan kamu bisa masuk ke dalam keluarganya nanti,”


Dipa memejamkan matanya, Uti benar-benar berharap dia bisa bersama dengan Ayu. Dipa masih belum bisa memberikan kepastian.


“Dia dari keluarga yang kaya, tapi mereka tidak pernah mempermasalahkan status keluarga kita,”


Dipa masih memejamkan matanya, bayangan Biru kembali berkelebat di benaknya. Dipa meraih remot televisi dan memencet tombol off. Kemudian dia meletakkan remot tersebut di sampingnya, akhirnya dia merebahkan diri dan mencoba memejamkan mata untuk mengistirahatkan badan dan pikirannya.


Pernikahan masih jauh dalam angannya, masih ingin wisuda dan berkarir sebaik mungkin. Dipa tidak ingin menggantungkan nasib dirinya pada orang lain, termasuk keluarga pak Wahono yang senantiasa siap menampungnya bekerja nantinya.


Uti dan Dania melambaikan tangan pada Dipa dan Biru, mobil yang kemarin mogok sudah diantarkan oleh orang bengkel ke rumah Dipa. Mobil itu kini siap membawa mereka kembali pulang ke rumah Biru.


Biru memilih duduk di bangku belakang, tidak biasanya. Biasanya dia akan bersemangat duduk di samping Dipa. Dipa tidak mempermasalahkan, toh itu sebenarnya tempatnya Biru yang tepat.


Sepanjang perjalanan, Biru lebih banyak diam dan memainkan ponselnya, memasang earphone dan mendengarkan lagu kesukaannya, lagu dangdut. Tanpa ingin berbicara dengan Dipa sama sekali.


Tidak lupa Uti membawakannya rendang untuknya, untuk bisa dikimati oleh dirinya dan juga keluarganya nantinya. Biru sangat senang dengan apa yang dia rasakan saat berada di rumah Dipa, tapi terasa ada yang mengganjal juga di hatinya.

__ADS_1


Biru menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata, sesekali Dipa mencuri pandang apa yang sedang dilakukan Biru dari kaca. Ada yang aneh dengan gadis itu.


“Apa kamu sedang sakit,?” tanya Dipa. Tapi tidak ada jawaban dari yang ditanya, Biru masih menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya.


Biru tidaklah tidak mendengar suara Dipa, dia memasang volume suara juga di level yang rendah. Dia mendengar pertanyaan Dipa, tapi entahlah lidahnya terasa malas untuk sekedar membantu pita suara untuk menjawab pertanyaan Dipa. Dan dia lebih memilih terlihat tidak mendengar dan pura-pura ketiduran. Sehingga selama perjalanan sama sekali tidak ada perbincangan di antara mereka.


Dipa membantu menurunkan barang-barang dan meletakkannya di dapur. Sementara Biru dengan cueknya meninggalkan mobil begitu saja dan langsung menuju kamarnya.


“Kenapa?” tanya pak Budi. Dipa menggeleng.


 "Kalian bertengkar,?” tanya Pak Budi lagi, mendadak seperti dukun cinta. Dia menebak ada sesuatu di antara mereka berdua.


“Tidak,” jawab Dipa yakin.


“Kok seperti pasangan yang sedang saling bermusuhan,” kekehnya.


“Pak Budi bisa saja,” Dipa menjawab cuek.


Dipa selesai menurunkan barang-barang, dan hendak kembali ke kamarnya.


“Pak minta tolong cek ke bengkel, kemarin habis mogok di jalan,”


“Waaah, kenapa tuh? Padahal mobil ini nggak pernah telat servis” Pak Budi melihat mobil tersebut. “Iya mas, nanti aku suruh orang bengkel cek,”

__ADS_1


“Terima kasih ya Pak,”


“Sama-sama mas, sudah tugasku, kalau tugas mas Dip amah cukup buat Non Biru bahagia, cie…cie,” Pak Budi menutup mulutnya lalu berlalu. Dipa menghela nafas melihat tingkah konyol pak Budi, lalu dia masuk ke dalam kamarnya untuk meletakkan barang-barangnya di kamar.


__ADS_2