Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Resah


__ADS_3

“Sus…kamar nomer 4 siapa sih,?” tanya Biru saat perawat sedang mengecek tekanan darah Biru.


“Oh…ada seorang bapak dirawat karena anfal, kenapa non,?” tanya perawat dengan ramah sembari mencatat hasil tekanan darah Biru yang sudah normal.


“Oh…bapak-bapak,?” Biru mengangguk-angguk.


“Iya,”


“Sendirian gitu,?” Biru kepo maksimal, siapakah bapak itu? Apakah Dipa kenal sehingga dia masuk ke dalam ruang tersebut.


“Ada yang nungguin non, putrinya,” jawab perawat tersebut sembari tersenyum. “Keadaan Nona Biru sudah membaik, nunggu dokter visit, dan kemungkinan sore nanti Nona bisa pulang, semoga ya…,”


“Oh iya sus,” Biru menjawab dengan wajah datar, bukannya senang pikirannya malah kemana-mana.


“Ya sudah, saya permisi dulu ya Nona…,”


“Iya, terima kasih sus…,”


Perawat meninggalkan kamar Biru, Biru termenung dengan keadaan berbaring. Jadi kemungkinan gadis yang bersama dengan Dipa saat di kafe tadi adalah anak dari bapak-bapak yang dirawat di ruang tadi.


“Terus siapa mereka sebenarnya,?” Biru menggigit bibir bawahnya, pikirannya mendadak oleng dengan hal yang seharusnya tidak dia pikirkan. Biru bergegas bangun dan memakai sandal bulu warna kuningnya, dia kembali melongok keluar pintu dengan posisi sama seperti tadi, hanya kepala yang keluar kamar. Memperhatikan lorong


rumah sakit ini, nampak sepi. Mungkin Dipa masih ada di dalam.


“Hish,” pekiknya sambil kembali masuk ke dalam kamarnya. Menjejakkan langkah kakinya karena sebal.


Dipa masuk ke dalam kamar tempat di mana Papanya Ayu dirawat, Dipa melihat sosok yang sedang


berbaring di ranjangnya. Dipa mendekat dan menyalami Pak Wahono.


“Bisa-bisanya kita bertemu di sini,” kekehnya merasa senang bertemu dengan Dipa. “Atau kamu sengaja jenguk Om di sini,?” Wahono nampak riang melihat Dipa datang. Ayu melihat Papanya dan Dipa bergantian.


“Oh…itu Om, kebetulan bos saya juga sakit, jadi nungguin dia dan kebetulan tadi saat sarapan ketemu Ayu di kafe,” Dipa menjelaskan.


“Oh begitukah,?” Wahono menatap Ayu, Ayu yang dari tadi diam saja, melemparkan senyum ke arah Papanya.

__ADS_1


“Iya Pa,” jawab Ayu dengan senyum yang agak kikuk.


“Kenapa kamu nggak cerita kalau ketemu Dipa di sini,?” Papanya masih menyunggingkan senyum, dia benar-benar senang sekali bertemu dengan Dipa yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri itu.


“Bentar Pa, Ayu beresin piring ini dulu,” Ayu mengambil piring yang ada di dekat Papanya dan meletakkan di meja lainnya.


“Om, apa kabar? Sedih rasanya bertemu dengan Om dalam keadaan seperti ini,” ungkap Dipa, Dipa berdiri di samping Wahono yang tengah berbaring. Laki-laki itu menatap Dipa serasa tersenyum.


“Om nggak apa-apa, lihatlah Om sehat dan segar,” jawabnya seraya terkekeh. Dipa tersenyum kecil. Wahono adalah salah satu orang yang membantu keluarganya di saat mereka merasakan kesulitan finansial, dan Dipa tidak akan pernah melupakan jasa keluarga Ayu.


“Semoga Om lekas sehat dan lekas pulang ke rumah,”


“Ah…iya terima kasih doanya, oh jangan berdiri saja, duduklah,” pinta Wahono.


“Iya Om,” Dipa menarik sebuah kursi dan duduk tak jauh dari Pak Wahono berbaring.


“Oh ya, sekarang makin sibuk nampaknya, jarang kelihatan,”


“Hanya kerja sampingan Om, sambil nunggu wisuda dan ijazah keluar,”


“Belum Om, mungkin sekitar satu bulan lagi,”


“Nyaman dengan kerjaan kamu sekarang,?”


Dipa tersenyum mendengar pertanyaan itu, jika dibilang tidak nyaman juga tidak nyaman, tapi tidak buruk juga.


“Apapun itu, kerjakan dengan niat baik, hati ikhlas, pasti menyenangkan,” Wahono memberikan nasehat.


“Iya Om,”


“Yuu,” Wahono memanggil Ayu yang tengah duduk di sofa dan membuka layar laptopnya, dia sedang mengecek laporan dari email yang dikirim oleh pegawai di perusahaan Papanya. Kebetulan Ayu bekerja di sana membantu Papanya.


“Ambilin Dipa minum,” perintahnya, Ayu mengalihkan pandangan ke Papanya.


“Tidak usah Om, tadi habis sarapan dan minum juga, masih kenyang,” Dipa menolak.

__ADS_1


“Oh,”


Ayu menatap Dipa sambil mengedikkan bahunya, Dipa kembali melihat lawan bicara, yakni Papanya Ayu.


“Nanti kalau sudah ada ijazah, kalau mau ke perusahaan Om, Om siap” tawaran emas, karena perusahaan Pak Wahono sangatlah besar dan berkembang. Dari awal Dipa sudah pernah ditawari untuk bekerja di sana meskipun belum lulus kuliah, tapi Dipa menolaknya dengan halus, karena dia sadar diri. Tak layak rasanya dia yang belum memiliki kecakapan seperti yang dibutuhkan di perusahaan tersebut.


“Akan saya coba Om,”


“Saat libur kerja kita mancing bareng,” ajak Wahono pada Dipa, dia memang memiliki hobby memancing. Dipa mengangguk. “Rasanya sudah lama Om nggak ngobrol lama sama kamu,”


Sementara itu di kamar perawatannya, Biru mondar-mandir di kamarnya dengan perasaan yang tidak jelas. Sesekali menggigit kukunya dan atau menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Biru mendekati pintu kamarnya dan membukanya, melongok keluar. Melihat arah kamar perawatan yang tadi dimasuki oleh Dipa, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa Dipa akan keluar dari sana. Ayu kembali masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu. Hal tersebut dilakukan hingga berulang-ulang kali.


“Mereka ngobrol apa saja hingga lama sekali nggak keluar? Lalu siapa mereka sih,?” Biru masih penasaran. Dan terdengar pintu terbuka, Biru bergegas menyudahi mondar-mandirnya dan segera duduk di ranjangnya.


“Beb,” sapa Mario. Biru yang tidak menyadari bahwa yang datang tersebut Mario pun tersenyum kikuk, dia pikir yang datang adalah Dipa.


“Eh Beb,” sapa balik Biru.


“Kenapa? Kok kaget begitu,?” tanya Mario. “Gue datang jemput lo beb, jadi pulang sore ini kan,?" Mario menatap wajah cantik Biru. Biru mengangguk dan membuang rasa terkejutnya.


“Gue siap-siap dulu ya,” Biru  turun dari ranjangnya dan hendak keluar kamar.


“Beb, kok malah keluar? Mau ngapain,?” tanya Mario heran.


“Oh ini, ada obrolan dengan suster tadi, bentar ya…bentar banget, wait” Biru mengacungkan jempolnya dan keluar kamar. Dia lupa tidak membawa ponselnya, dia melakukan ini untuk memberi tahu Dipa agar Dipa tidak masuk ke dalam kamarnya, karena ada Mario.


Biru bingung bagaimana cara memberi tahu Dipa, sedangkan Dipa sendiri masih belum keluar dari kamar Pak Wahono.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, pintu terbuka dari ruangan nomor 4. Biru menatap makhluk yang bercakap di ambang pintu. Yap, dia kenal siapa, dia adalah Dipa dan sebelahnya ada makhluk cantik berambut panjang. Tapi yang satu ini dia tidak mengenalnya. Biru terdiam meskipun matanya beradu pandang dengan Dipa.


“Balik dulu Yu, maaf untuk tadi ninggalin kamu begitu saja saat sarapan,” pamit Dipa.


“Nggak apa-apa, yaudah balik kerja sana nanti dicariin sama bos, makasih ya sudah tengok Papa, seneng banget tuh,” Ayu tersenyum manis. Biru meneguk ludahnya, segitu akrabnya Dipa dengan gadis itu, Biru pura-pura berjalan ngeloyor agar dikira tidak sedang memata-matai kedua insan yang berada di ambang pintu itu. Membuat


hatinya resah.

__ADS_1


Maaf baru sempat up, baru pulang dari rumah sakit selama beberapa hari. hihi...jangan lupa like ya...thank you...


__ADS_2