Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Romantis yang Kacau


__ADS_3

Biru dan Mario berada di sebuah kursi kayu yang berada di pinggir sungai kecil yang mengalir, meskipun tidak terang benderang, lampu perkemahan cukup menyinari hingga tempat ini. Tidak hanya mereka berdua, ada beberapa orang yang berada di sekitaran sungai. Sekedar bercanda bersama teman, ngopi rame-rame, bermain


gitar sambil bernyanyi, dan lainnya.


Lain halnya dengan Dipa, yang berada di tempat tersebut bahkan sebelum Mario dan Biru memilih berada di tempat ini. Ini bagus, karena Biru tidak menyadari keberadaannya, sekalian Dipa bisa mengawasi Biru.


“Lo nyanyi ya beb, gue iringin nih,” gurau Mario. Tentu saja Biru akan menolaknya, karena dia sama sekali tidak bisa bernyanyi. Suaranya benar-benar cempreng saat bernyanyi, sangat berantakan dan benar-benar buta nada. Tidak mewarisi Papanya yang pandai bernyanyi dan bermain musik, berbeda juga dengan Kawa.


“Kalau gue nyanyi di sini, bisa-bisa langsung banjir ini nanti bumi perkemahan,” ujar Biru, disambut tawa Mario. Biru menatap Mario, laki-laki di sampingnya ini benar-benar membuatnya jatuh cinta. Mungkin bisa disebut cinta pertamanya.


Sejak SMA, dia sudah melihat Mario, hanya saja dia tidak dekat karena Mario adalah siswa beken, Biru yang meskipun anak orang kaya, tapi dia cukup kurang percaya diri dalam urusan cinta. Yang pada akhirnya dia bisa dekat saat kuliah.


“Senyum mulu, kenapa,?” tanya Mario.


Biru menggeleng, “Gue merasa jadi cewek yang paling beruntung,” gumam Biru sambil mengulas senyum.


“Kenapa,?”


“Karena bisa bersanding dengan lo,” senyum itu masih merekah di bibirnya.


“Ish…ternyata jago gombal,”


“Serius beb,” Biru mengangkat jarinya yang membentuk huruf V. “Gue berharapnya lo juga merasa begitu,” lirih Biru. Mario menatap Biru, lalu tertawa kecil.


“Mau kopi? Gue ambilin,” tawar Mario. Biru mengangguk.


“Ok, tunggu sini,” Mario meletakkan gitarnya dan meninggalkan Biru. “Bentar ya,” pamitnya. Biru melambaikan tangan, dia nampak tersenyum bahagia dan menunggu Mario kembali.


Jika di rumah, dia tidak akan bisa melihat bintang sebanyak ini. Di sini, di atas sana, bintang terlihat berkelip dan memenuhi langit. Sungguh sangat indah. Udara malam juga terasa dingin, hawanya masih sangat alami. Biru merekatkan jaketnya, agar udara dingin tidak membuat badannya masuk angin.


Terdengar suara petikan gitar dari sekitaran. Para peserta menikmati acara perkemahan ini, begitu juga Biru. Terasa ada yang memegang kakinya, Biru mencoba melihat ke arah bawah. Kakinya yang terbalut kaos kaki merasakan ada benda yang melewati kakinya.


Mata Biru melotot, dia melompat panic dengan apa yang dilihatnya. “Ulaaaar,” pekiknya, namun dia benar-benar panik dan hanya bisa berdiri kaku di sana.

__ADS_1


Mendengar teriakan Biru, peserta lainnya mendekati Biru dan memeriksa apa yang terjadi. Ular yang lumayan besar itu masih berada di dekat Biru.


Dipa bergegas ke arah Biru dan merangkulnya, serta mengajaknya menjauh dari tempat tersebut sambil memapahnya. Biru sangat syok dengan apa yang baru dia alami. Biru takut sekali dengan ular, apapun jenis dan seberapa kecil atau besar ular tersebut. Ular adalah binatang yang paling menakutkan baginya.


“Lo nggak apa-apa Bi,?” tanya Ros begitu melihat Biru datang dengan diantar oleh Dipa menuju tendanya. Begitu Ros dan Luna mendekat, Dipa buru-buru meninggalkan Biru agar tidak terlihat oleh teman Biru yang lainnya. Dan tak lama kemudian, Mario berlari ke arah Biru sambil membawa segelas kopi hangat dan mie instan.


“Lo nggak apa-apa beb,?” tanya Mario dengan wajah khawatirnya. Melihat Biru yang terlihat masih terkejut dengan kejadian tadi. “Sorry,” ujar Mario.


Biru duduk di depan tenda, beralaskan tikar. Mario duduk di sebelahnya, meletakkan kopi dan mie di sana.


“Gue baik-baik aja kok beb, hanya kaget banget tiba-tiba ada ular ngelewatin kaki gue,” Biru mengingat kejadian tadi sambil bergidik ngeri.


“Ya udah, nggak usah diingat-ingat, nih minum kopinya dulu biar tenang,” Mario menyodorkan segelas kopi.


“Makasih ya…,”


Mario mengangguk, dielusnya puncak rambut Biru dengan lembut.


Dari kejuahan, Lukas dan Sean melihat ke arah Mario dan Biru yang nampak mesra.


“Dia benar-benar bucin sama Mario,” kekeh Sean dengan raut sedang mengejek Lukas.


“Diem lo,” gumam Lukas yang terdengar tidak senang dengan ejekan sahabatnya itu.


“Siapin mobil lo,” Sean kembali tertawa.


Lukas tidak menghiraukan ejekan Sean lagi, dia meninggalkan Sean dan menuju tempat anak-anak berkumpul, dia memilih bergabung dengan mereka daripada mendengar ocehan Sean yang membuatnya panas dada. Lukas mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya.


                        ***


“Jadi ceritanya Dipa nyelametin lo nih,?” tanya Luna.


“Biasa aja kali, kan emang kerjaan dia,”

__ADS_1


“Lo nggak tau dia ada di sana,?” tanya Luna sambil mengoleskan lotion anti nyamuk di kakinya. Biru duduk di dekat Luna dan ikut melakukan apa yang dilakukan oleh Luna. Sementara Ros sedang bermain ponsel sambil tengkurap. Biru menggeleng.


Biru mengerjab, bisa-bisanya Dipa ada di sana. Jangan-jangan dia memang membuntutinya kemana pun dia pergi.


“Arrrgh,” Biru menggeram, tangannya meraih tas kecil di mana ponselnya tersimpan di sana. Dengan cepat Biru mengetik sesuatu.


Lo kenapa muncul di semua tempat sih? Gue baik-baik aja, mending lo pulang gih.


sent...


Pesan


terkirim, tapi masih belum centang Biru, itu tandanya belum terbaca dari si  penerima pesan. Biru mengamati pesan yang baru dia kirim. Akhirnya centang Biru. Namun tidak ada tanda-tanda Dipa membalas pesan tersebut.


“Iiiiihhh nyebelin banget,” Biru nampak gusar.


“Kenapa lagi lo,?” Luna mengernyit.


“Dasar sok jual mahal ih, orang gue kirim pesan baik-baik, nggak dibalas lah sama dia,”


“Emang apaan,?” Luna penasaran, belum juga Biru menjelaskan, Luna meraih ponsel yang berada di dekat Biru dan membaca pesan yang terkirim itu. Luna terkekeh.


“Udah Bi, biarin aja di sini, kan emang kerjaan dia, lagian dia nggak ngrepotin lo,” Luna seolah sedang membela Dipa. “Besok kalau lo izinin, biar gue aja yang ngurus dia,” ceplos Luna sambil tertawa memamerkan deretan gigi putihnya.


“Gila lo emang,”


Biru membaringkan tubuhnya dan merapatkan selimut ke tubuhnya agar hawa dingin tidak sampai menyentuh tubuhnya.


Sementara itu, Dipa sedang berbaring di pos keamanan bersama para security di sana. Menjadi makhluk paling muda di sana, tapi dia bisa berbaur dengan baik, mengikuti arah pembicaraan yang diobrolkan.


“Kopi mas,” ujar seorang laki-laki yang sekiranya seumuran dengan Pak Budi.


“Terima kasih pak,”

__ADS_1


“Nggak usah sungkan, anggap saja sudah lama kenal,” gumamnya, diiukuti anggukan kepala Dipa. Semua baik, dan menerima Dipa meskipun sebagai orang asing di sini. Mereka memahami kerjaan Dipa yang harus menjaga seseorang.


__ADS_2