Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Tragedi Tengah Malam


__ADS_3

Malam yang dingin, membuat Biru gelisah. Dinginnya alam bebas dengan dinginnya AC dalam kamarnya sungguh berbeda baginya.


“Lun…bangun….gue kebelet pipis nih,” Biru mengguncang tubuh Luna, tidak ada jawaban dari Luna.


“Lunnn…anterin gue pipis,” Biru kembali berusaha. “Ros, anterin gue,” Biru berusaha memanggil Ros. Tidak ada hasilnya, mereka berdua masih tidur dengan nyenyaknya, benar-benar seperti orang pingsan.


Biru melihat layar ponselnya, jam 12 malam. Tapi Biru nggak bisa nahan pipisnya. Biru mencoba sekali lagi membangunkan Luna.


“Luuuunnn….Roooossss, anterin gue,” pekiknya.


“Heeemmm,” suara Luna terdengar, Biru lega akhirnya Luna bangun. Namun saat dilirik, Luna kembali tertidur sambil mulutnya komat-kamit, mungkin sedang bermimpi lagi makan sate.


Biru sebal, takut ngompol jika dia tidak segera keluar dari tenda. Akhirnya Biru membuka selimut yang membalut tubuhnya, melepas kaos kakinya dan segera keluar menuju tenda. Meskipun dalam hati ngeri-ngeri sedap menuju toilet yang ada di lokasi agak jauh dari tendanya. Biru sudah di luar tenda.


Sepoi angin menerpa tubuhnya, Biru menggosok kedua tangannya. Ah, Biru kembali masuk ke dalam tenda. Menambil ponselnya, dan keberadaan Dipa pun ada gunanya.


Biru memencet nomer Dipa, kalau saja tidka terpaksa. Dia tidak akan meminta Dipa menemaninya.


Dipa belum tidur, baru saja dia berbaring setelah ngopi dan berbincang dengan para bapak-bapak penjaga kemah. Ponselnya berdering, hanya nomer saja yang muncul. Karena hingga detik ini dia tidak menyimpan nomor Biru dengan nama apapun.


“Iya,” jawab Dipa.


Anterin gue. Jawab Biru dengan gelisah.


Dipa tidak jadi membaringkan diri, segera mencari sandalnya dan bergegas keluar dari ruangan. Sementara ada bapak-bapak yang masih berjaga di luar.


“Mau kemana mas,?” tanya salah satu bapak-bapak.


“Tugas Negara pak,” jawabnya singkat.


“Hah….ya ya…pergilah,”


Dipa berjalan lebih cepat, hampir mirip berlari menuju ke tempat Biru yang berdiri gelisah di depan tenda.


“Ayo buruan,” tangan Biru menarik pergelangan tangan Dipa. Dipa pun mengikutinya. Area perkemahan sudah sangat sepi.


“Lo tunggu sini jangan kemana-mana, jangan mengintip gue,” Biru mengacungkan jari telunjuknya, sempat-sempatnya dia memperingati Dipa. Yang jelas Dipa tak akan melakukan hal tercela itu. Dia mengangguk.


“Gue masuk dulu,” Biru memberikan ponselnya ke tangan Dipa.

__ADS_1


                        Sepi banget, bahkan kamar mandi ini terasa sangat angker buat Biru. Biru menutup mata sembari


berharap lekas keluar dari kamar mandi. Air pun benar-benar dingin saat terkena ke tangannya.


Akhirnya Biru keluar kamar mandi, di sana posisi Dipa masih sama. Berada di depan tembok dengan tulisan “kamar mandi putri”


Hah syukurlah, Biru merasa lega. Sungguh dia merasa ketakukan harus keluar di tengah malam di alam terbuka seperti ini. Dan besok pagi setelah teman-temannya bangun, dia akan mengumpatnya habis-habisan karena tidak mau bangun mengantarnya pipis.


Biru berjalan pelan di samping Dipa, tanpa sadar tangannya memegang kaos yang dikenakan Dipa, menahan rasa takut. Entah kepada setan atau apa.


Terdengar suara orang yang sedang bercakap dari kejauhan, kiranya juga menuju kamar mandi. Biru menajamkan pandangannya, dari samar-samar penglihatannya, nampak Mario dan Lukas berjalan.


“Hah…bagaimana ini,?” pekiknya pelan. “Nanti ketahuan ada lo di sini,” Biru nampak panik. Sebelum Mario dan Lukas menyadarinya, dengan sigapnya Dipa menarik tubuh Biru dan mengajaknya bersembunyi di balik pohon besar yang ada di kanan jalan. Suasana di sana gelap sehingga tidak akan terlihat oleh orang, tempat yang aman


untuk sembunyi.


Biru reflek memeluk tubuh Dipa karena saking paniknya, takut ketahuan oleh Mario jika dia berjalan dengan Dipa. Degup jantungnya menjadi cepat.


“Hoooh hampir saja,” gumamnya sambil mengamati Mario dan Lukas yang sudah berjalan melewati pohon tempatnya bersembunyi. Dipa menatap Biru dalam kegelapan, gadis itu masih tanpa sadar memeluknya erat. Dipa mengangkat tangannya dan menatap Biru, Biru yang akhirnya tersadar hanya melotot. Mau menyalahkan Dipa juga


tidak mungkin.


Biru melepaskan tangannya dari tubuh Dipa, membenahi rambutnya dan mulai mengatur nafas agar bernafas dengan normal kembali.


“Mana ponsel gue,?” tanya Biru. Dipa menyerahkan ponsel Biru, setelah dirasa cukup aman. Mereka keluar dari semak-semak dan kembali ke jalan menuju kemahnya.


“Nona tidak apa-apa,?” tanya Dipa memastikan jika majikannya dalam keadaan baik-baik saja. Dia menebah tangannya yang terasa gatal karena gigitan nyamuk.


“Oh ya…ya,” jawab Biru. Lengannya dipenuhi dengan daun dan juga duri kecil. Dipa mencoba membersihkannya, agar tidak melukai kulit Biru.


Sambil berjalan Dipa berhasil membersihkannya.


“Sudah, lo boleh balik,” titah Biru. Dipa mengangguk dan kembali ke ruangan bersama para bapak-bapak. Biru kembali masuk ke tenda.


                        ***


Para peserta kemah sedang bersiap di lapangan untuk senam pagi, menggerakkan tubuh agar tubuh terasa hangat.


“Kalian emang sialan sih ya sama gue,” umpat Biru sambil keluar dari tenda.

__ADS_1


“Kenapa? Apa yang salah dengan kita,?” tanya Luna sambil menggaruk kepalanya.


“Gue kebelet pipis, gue panggil kalian berdua sampe mulut berbusa,” Biru bersungut-sungut, menatap Ros dan Luna bergantian. Tangannya bersedekap.


“Oh masa sih,?” tanya Ros.


“Heleh, kalian emang keterlaluan,” Biru berlalu meninggalkan mereka menuju barisan teman-teman yang lain yang bersiap senam.


“Emang lo sadar dipanggil Biru semalam,?” tanya Luna. Ros menggeleng, karena mereka benar-benar tidak sadar sudah dipanggil Biru.


“Bi…lo nggak ngompol di tenda kan,?’ tanya Ros sambil ngakak.


“Gila emang kalian,” Biru menjawab dengan sebal.


“Lalu lo keluar sendirian? Sorry Bi…,”


“Iya lah, gue keluar sendirian,”


“Wiiih keren amat,” Luna bertepuk tangan. Biru menatap Luna dengan menyipitkan mata.


“Santai Bi….lain kali kalau kita nggak bangun, lo panggil aja ayang beb lo, eh kalau nggak gitu ayang beb gue,”


“Siapa emang,?” Ros menyela.


“Dipa lah,” jawab Luna.


“Huweeek,” Ros pura-pura muntah. Mendengar nama Dipa disebut, pikiran Biru seolah kembali pada peristiwa tengah malam tadi. Di balik pohon itu, Biru melihat pohon besar yang berdiri gagah di arah samping kirinya itu. Biru menutup matanya. Malu sendiri jika ingat kedua tangannya itu benar-benar memeluk Dipa dengan eratnya.


“Ih sial,” gumamnya.


“Kenapa lagi? Mau ke toilet? Yuk gue anterin,” ujar Luna.


“Basi, udah terang benderang, orang malam aja gue berani, ngapain pagi begini kudu ngajak elo, basi,” Biru bersungut-sungut.


“Sorry…..cantik,”


Mereka bertiga membaur di barisan untuk senam bersama, seorang instruktur muda yang cantik dengan tubuh sintal sudah berada di depan. Para laki-laki berebut baris di depan, mereka benar-benar menjelma menjadi garangan saat melihat makhluk cantik dan seksi.


Senam dimulai dengan semangat, meskipun Biru tidak bisa mengikuti gerak dengan baik karena dasarnya dia tidak bisa gerak tubuh, tapi dia cukup senang dan bersemangat. Sesekali ketawa bersama teman.

__ADS_1


__ADS_2