
“Bulan depan kemana nih,?” tanya seorang wanita dengan banyak perhiasan yang memenuhi tangan dan juga jemarinya, tak kalah berlian yang menggantung di lehernya.
“Di rumah jeng Ganis jeng,” ujar lainnya. Ganis yang merasa disebut namanya pun terkejut, sejujurnya dia enggan untuk ikut acara arisan seperti ini. Katanya sih ini arisan para sosialita, tapi Ganis kurang nyaman dan kurang sesuai dengan apa yang ada di hati kecilnya. Tetapi Oma Rima tak mempermasalahkan dan malah meminta Ganis untuk ikut saja, katanya sebagai jalan untuk melancarkan bisnis. Membangun relasi.
“Oh ya,?” tanya Ganis, meskipun tentu bukan dia sendiri yang mengurus nantinya, tetap saja dia akan kedatangan banyak tamu.
“Tenang saja jeng, kalau di rumah kamu kan bisa pakai hotel keluarga, iya kan teman-teman,?” ujar salah seorang dengan sanggun super gede itu.
“Iya dong,” sahut yang lainnya.
Nampak di samping Ganis, seorang wanita yang sekiranya berumuran sama dengannya, hanya tersenyum simpul. Hampir sama dengan Ganis, terlihat wanita itu juga kurang nyaman berada di circle seperti ini.
“Ok jeng, siap kok,” balas Ganis akhirnya.
“Nah gitu donk, kita-kita juga pengen banget adain acara di hotel atau rumah mewah jeng Ganis,” imbuh lainnya.
“Iya,” balasnya lagi.
Suara gelak tawa mengisi ruangan tersebut, tidak di rumah, acara arisan kali ini diadakan di sebuah restoran yang kebetulan dimiliki oleh tuan rumah.
“Ayo makan-makan, kalau kurang bisa pesan lagi, jangan sungkan,”ujar seorang wanita yang tidak mengenakan perhiasan mencolok, namun terlihat elegan dan mewah.
“Iya jeng,” sahut yang lain dengan semangat.
“Mari makan,” tawar Ganis pada sebelahnya, dia sudah mengenal dia beberapa bulan yang lalu. Saat itu kelompok sosialitanya mengenalkannya padanya.
“Kenalin, namanya Jeng Inda, Indadari,” ujar sesama geng sosialita. Orangnya cantik, kalem, dan ramah. Dari awal ketemu, Ganis sudah merasa cocok berteman dengan Inda,”
“Di sini, terkadang menjengkelkan, tapi karena alasan relasi suami, jadi saya berada di sini,” bisik Ganis pada Inda, pun begitu Inda mengangguk kecil tanda setuju.
Ganis melirik ke arah Inda, karena acara inti sudah selesai, hanya tinggal makan dan ada beberapa
anggota yang undur diri karena ada acara lainnya.
“Habis ini mau kemana,?” tanya Ganis pada Inda.
__ADS_1
“Belum ada jadwal,” jawab Inda sambil tersenyum, dia sudah selesai makan, dan menunggu untuk pamitan saja.
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan belanja,?” Ganis menawarkan, toh dia lega mendapatkan kabar jika Biru sudah pulang ke rumah.
“Boleh, sudah lama juga nggak jalan-jalan belanja bareng teman,” Inda menyetujui. Dan akhirnya mereka pergi berdua untuk sekedar jalan-jalan, kalaupun ada barang bagus akan dibelinya nanti.
Mobil Inda dan dibawa sopirnya, agar lebih menyenangkan, mereka berada di dalam satu mobil.
“Gimana jeng? Sudah kerasan belum di geng sosialita,?” Ganis tertawa kecil. Begitu juga Inda, dia hanya tersenyum sekilas.
“Saat masih di Singapura, nggak ada acara begitu jeng,” sahutnya. “Dan semua baik-baik saja,”
“Yah beginilah, katanya kalau kita nggak ikut dibilang sombong,” imbuh Ganis. Inda pun mengangguk.
Obrolan mereka terputus saat ponsel Ganis berdering, nampaknya dari Kawa yang mengabarkan jika dia sudah sampai rumah. Dan dia pamit pergi jalan-jalan dengan Biru. Panggilan singkat, lalu panggilan pun terputus.
“Anak-anak jeng, mereka izin mau jalan-jalan katanya,” Ganis menjelaskan tanpa diminta, ponselnya kembali dimasukkan ke dalam tas mahalnya.
“Oh, laki-laki atau perempuan,?” tanya Inda.
“Cowok sama cewek, kalau jeng Inda anaknya berapa,?” tanya Ganis. Belum ada jawaban dari Inda, Ganis melihat ke arah Inda dengan perasaan bersalah. Ingin rasanya mengulang waktu beberapa detik yang lalu, tak ingin rasanya dia menanyakan hal itu. Mungkin saja ini menyakiti perasaan Inda.
“Hampir seumuran dengan putra saya, kapan-kapan kita ketemuan yuk dengan keluarga kita,?” Ganis menawarkan.
Tiiiiiiiin
Tiba-tiba mobil berhenti mendadak. Ganis dan Inda ikut terkejut dan hampir terantuk kursi mobil.
“Duh kenapa mang.?” Tanya Ganis pada sopirnya.
“Maaf nyonya itu tadi ada pengendara motor yang motong jalan dengan sembarangan,” timpal sang sopir.
“Duh hati-hati mang,” seru Ganis.
“Maaf nyonya,” jawabnya, mobil kembali melaju, dan tak terasa tiba di sebuah pusat perbelanjaan.
__ADS_1
Ganis dan Inda benar-benar menikmati waktu berdua untuk jalan-jalan dan berbelanja barang yang mereka sukai. Mereka sama-sama memiliki suami penguasaha, sehingga mau belanja apa saja bukan hal yang sulit.
“Ini bagus jeng, cocok untuk anak muda, yuk bisa kita couple an untuk anak-anak kita,” Ganis mengambil kaos warna putih yang akan diperuntukkan untuk Biru dan Kawa, dia juga menawarkan untuk anaknya Inda. Sebuah kaos dari brand ternama yang harganya tentu tidaklah murah.
Inda meneguk ludahnya, kaos yang bagus . mungkin akan cocok untuk kedua anaknya.
“Oh iya jeng,”
“Ok ya, jadi ambil 4 ini sekalian,” Ganis mengambil kaos tersebut. “Muat kan,?” tanya Ganis sambil menenteng kaos tersebut. Inda mengangguk kecil.
“Ok, ambil ini mbak,” Ganis menyerahkan kaos tersebut pada salah satu pelayan toko.
“Baik nyonya,” pelayan toko segera membungkus sesuai pesanan.
“Pasti akan sangat menyenangkan nanti jika kita bisa bareng anak-anak sekalian,” ujar Ganis. Tangannya menenteng belanjaan yang sudah beberapa tas. Begitu juga dengan Inda.
“Yuk kita ngopi dulu, capek ternyata keliling-keliling,” Ganis mengajak Inda ngopi di tempat VIP. Biar lebih santai dan tidak terganggu oleh banyak suara.
“Bundaaaaaa,” terdengar seruan yang tidak asing di telinga Ganis, Ganis dan Inda menoleh. Ternyata seorang gadis cantik dengan rambut agak pirang itu mendekat. Dan seorang pemuda dengan paras yang tampan ada di samping gadis itu.
“Bunda ngopi di sini,?” tanya Biru bahagia, bertemu dengan Bundanya di sini.
“Jadi kalian ada di sini? Baru sampai,?” tanya Ganis.
“Iya baru nyampe,” balas Biru.
“Eh tadi abang kan baru izin bunda, kenapa sudah sampai sini aja,?”
“Oh itu tadi karena abang izinnya pas udah mau nyampe sini,” Biru terkekeh.
“Owalah…,” Ganis mengibaskan tangannya. “Oh ya, ini kenalin temannya Bunda, namanya tante Inda,”
“Hai tante,” Biru melambaikan tangan sebelum dia salim kepada Inda. “Namaku Biru,” Biru memperkenalkan dirinya.
“Kawa,” disusul Kawa yang menyalami tangan Inda.
__ADS_1
“Ya udah deh Bun, Bunda lanjut deh sama tante Inda. Aku sama abang mau pesan kopi dulu sambil dengerin abang curhat, Mari tante” ungkap Biru mengada-ada. Ganis tersenyum melihat tingkah Biru. Kemudian kedua anaknya meninggalkan mereka.
Inda menatap Kawa dan Biru hingga keduanya masuk ke dalam salah satu tepat VIP di tempat tersebut, batinnya terasa teriris. Ada rasa iri yang dia rasakan, ingin berada di posisi Ganis saat ini.