
Biru sangat antusias belajar membuat rendang bersama Uti, dengan semangat 45 yang membara Biru melihat dan mendengarkan setiap arahan dari Uti. Seperti sedang mengikuti kursus masak.
“Ini gimana Uti,?” Biru melihat bawang merah dan bawang putih yang ada di depannya.
“Dikupas,”
“Kupas,?” Biru balik bertanya.
“Iya,” jawab Uti sambil tersenyum. Biru tersenyum meringis, baru pertama kali dia memegang bawang merah dan bawang putih, dan kali pertama juga dia akan mengupasnya. Biru memegang pisau yang ukurannya kecil untuk mengupasnya.
“Gimana caranya ya,?” Biru bergumam lirih, Uti terlihat tersenyum melihat Biru dengan aksinya yang kocak. Tangan kirinya memegang bawang putih dan tangan kanannya memegang pisau, tapi dia belum memulai mengupas.
“Gini caranya,” Uti memberikan contoh, Biru mengikutinya.
“Oh iya Uti, begitu ya, aku coba,” Biru melihat dan mempraktikkan. Meskipun tidak segesit Uti, tapi akhirnya dia berhasil, meskipun hasilnya tidak sebagus kupasan Uti, tapi ini sudah prestasi gemilang bagi Biru. Biru terkekeh, kupasan bawang putih aman. Bawang merah dimulai, dan baru beberapa kupasan bawang merah, air matanya meleleh, matanya terasa perih.
“Uti….,” Biru mengusap matanya dengan lengan bajunya. Uti lantas melihat Biru dan kaget melihat air mata Biru meleleh di pipi.
“Ya Allah…perih ya? Duh…sudah deh, nak Biru nungguin aja di luar, biar Uti masakin buat nak Biru.
“Enggak Uti…aku pengen bisa masak dan pengen lihat,” Biru masih kekeh.
“Tapi sampai merah begitu, nak Biru cuci tangan dulu deh, dibasuh wajahnya biar nggak perih lagi,” pinta Uti, Biru mengangguk dan meletakkan pisau dan bawang merah. Benar-benar bawang merah membuat matanya berair dan perih. Biru menurut apa yang dikatakan Uti.
Biru menuju sebuah kran yang ada di samping dapur, mencuci wajahnya. Alhasil malah semakin perih karena dia terburu-buru hingga belum sempat cuci tangan terlebih dulu.
__ADS_1
“Duh, makin makin deh ini perihnya,” gerutunya, menyalahkan dirinya sendiri yang ceroboh.
Dipa yang menyadari bahwa Biru sedang dalam kesulitan segera membantu, dia menadahkan air mengalir di tangannya, lalu membasuh wajah Biru. Biru tidak bisa menolak dan menurut saja, yang penting dia tidak merasakan perih lagi di matanya. Niatnya membantu, malah menyusahkan orang yang mau dibantu.
Beberapa menit, perihpun hilang. Biru beberapa kali menyedot ingusnya, imbas dari mata berairnya tadi. Dipa dengan sigap mengambilkan tisu untuk Biru.
“Terima kasih,” Biru menyeka hidungnya dengan tisu pemberian Dipa. Kini dia merasa jauh lebih baik. Mengupas bawang yang kelihatan sepele saja sudah membuatnya kerepotan dan merasa jompo. Ah dasar Biru merasa menjadi manusia lemah.
“Ternyata memasak tidak semudah apa yang aku bayangkan,” Biru mendengus, lalu diiringi tawa kecilnya. Matanya menuju Uti yang sibuk menyiapkan perbumbuan yang akan dibuat rendang. “Rendang yang nikmat dari Uti ternyata penuh perjuangan, dan aku nyerah,” gelaknya kemudian. Dipa ikut tertawa kecil, tidak menyalahkan Biru yang tidak bisa memasak, memaklumi dari kecil hidupnya serba terlayani.
“Maaf ya Uti….,” Biru bersuara agak keras agar Uti bisa mendengar. Uti yang tengah menghaluskan bumbu pun hanya tertawa kecil.
“Tidak apa-apa, sudah Uti katakana bahwa nak Biru cukup lihat saja,” Uti mengibaskan tangan.
“Niatku kan mau bantuin Uti, sekaligus kursus masak gratis,” bisik Biru pada Dipa.
Hampir tengah malam, Biru tidak tega meninggalkan Uti yang masih sibuk bolak-balik ke dapur untuk memastikan rendangnya masak dengan sempurna. Biru merasa tak enak hati hingga menemani Uti.
“Harusnya Uti istirahat,” Biru benar-benar tak enak hati.
“Uti tidak apa-apa, ini khusus untuk nak Biru,” gumam Uti. Biru tersenyum mendengarnya, Uti so sweet banget dah ah. “Harusnya nak Biru yang istirahat, besok kan harus balik ke rumah, nggak boleh capek,”
Biru menggeleng, cuma duduk-duduk doang dari tadi tidak membuatnya capek. Biru duduk di sebuah kursi kayu yang masih ada di area dapur. Uti sudah hampir selesai, terlihat sudah mematikan kompornya.
“Biasanya Uti juga buatin rendang buat Ayu,” Uti menyebut nama Ayu. Wait! Cerita menarik nih buat Biru.
__ADS_1
“Ayu?” Biru mencoba mencari tahu, siapa sebenarnya Ayu, karena siang tadi dia belum sempat ngobrol panjang dengan Ayu.
“Iya, yang tadi siang kesini itu,” imbuh Uti sambil sibuk memindahkan rendang ke dalam wadah. Sudah tengah malam, rasa capek di wajah Uti tidak kelihatan. Uti begitu energik dan lincah. Biru kagum dengan Uti. “Jadi Ayu itu teman Dipa sudah lama banget, mungkin sejak mereka SMP, Uti sampai agak lupa,” Uti tersenyum kecil sambil mengingat betapa eratnya pertemanan Dipa dan Ayu.
“Dipa dibantu sama papanya Ayu dulu saat sekolah, dan kita seperti saudara,” Uti menambahkan. Ada rasa lega, oh teman? Nggak lebih kan? Biru mengangguk mendengarkan cerita Uti.
“Yaaah…harapan kami sebagai orang tua ya sebenarnya lebih, tapi apalah daya kami orang tak punya,” senyum yang tadi mengembang di bibir Uti pun kini sirna. Rasa lega yang tadi menyelimuti Biru juga mendadak menjadi banyak tanya. harapan? harapan apakah yang dimaksud Uti? jangan-jangan....Biru mulai menebak-nebak.
“Pak Wahono, Papa Ayu, inginnya Dipa bekerja bersama beliau di perusahaannya, tapi Dipa selalu menolak, nggak tahu tu anak, padahal kalau kerja di sana kan bisa lebih dekat dengan Uti dan Dania,”
“Iya,” jawab Biru singkat.
“Pak Wahono juga sebenarnya ingin menjodohkan Ayu dengan Dipa,” kalimat ini akhirnya keluar dari bibir Uti, membuat jantung Biru seolah berhenti berdetak. Tapi kenapa?. “Tapi Uti sendiri merasa minder dengan ini semua, meskipun Uti sendiri punya harapan yang sama,” gumamnya. Uti selesai memindahkan rendang ke dalam wadah.
“Ini buat nak Biru besok,” Uti mengangkat sebuah kotak dengan ukuran lumayan besar penuh dengan rendang yang aromanya menggoda selera. Biru seakan tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Uti.
“Heh…malah melamun,” Uti mengibaskan tangannya ke depan wajah Biru. Biru terkesiap.
“Ya Uti, kenapa?” Biru baru menyadari jika Uti berbicara padanya.
“Ini untuk nak Biru, Uti simpan dulu. Dan sepertinya nak Biru sedang lelah, ayok istirahatlah,” Uti memegang pundak Biru sambil mengangguk, toh pekerjaan di dapur bisa dilanjut esok hari, karena Uti juga sedang libur tidak membuat kue untuk dijual besok.
“Iya Uti,” sahut Biru sambil memasang senyum kaku. Ah dia tidak bisa menguasai diri kali ini.
Biru masuk ke dalam kamar yang disiapkan untuknya, tak lain adalah kamar Dipa. Dipa tidur di luar, depan TV.
__ADS_1
Harapan? Apa benar Ayu dan Dipa dijodohkan?
“Ih masa iya sih mereka dijodohkan? Ini bukan jaman siti nurbaya lagi. Biru meringis, sedang tertawa. Antara menertawakan mereka atau menertawakan dirinya sendiri.