Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Bersama Yang Terkasih


__ADS_3

Pengalaman pertama yang membuat Biru merasakan alam bebas, ada senangnya ada juga jengkelnya. Di mana dia bisa menghabiskan banyak waktu bersama Mario. Tapi sebalnya, dia harus merasakan kesusahan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Harus mandi antri dengan yang lainnya, ini hal yang sangatmenyebalkan baginya.


Dan lagi, Biru selalu merasa diawasi oleh Dipa. Benar-benar dia tanpa lelah menungguinya kemah.


“Kenapa sih,?” tanya Mario yang sedang berbaring di sebelahnya, ini adalah malam terakhir mereka berada di bumi perkemahan ini. Yang lain sedang berada di luar menikmati api unggun, Biru dan Mario berada di tenda yang ditempati Biru.


“Hum?” Biru menoleh ke arah Mario, cowok di sampingnya itu tersenyum. “Nggak…ini lagi mikir ini alam terakhir, dan rasanya masih pengen lama-lama sama kamu beb,” Biru memiringkan badannya.


 “Oh ya.?” Mario tersenyum. Biru mengangguk sambil tersenyum. “Bakalan sulit ketemu lagi kan…” hampir saja Biru keceplosan.


Mario melihat ke arah Biru sambil tengkurap. “Kenapa sih akhir-akhir ini lo nggak bisa seperti dulu sih,?” Mario penasaran, karena memang Biru tidak seperti dulu lagi. Baginya dia lebih anteng sekarang, nggak bisa keluar seperti dulu lagi, tidak sebebas dulu lagi.


“Oh…itu,” Biru mulai bingung harus menjawab apa. “Karena bokap nyokap beb, kan sejak kejadian gue mabuk terus bertengkar itu nah itu jadi kemana-mana sulit banget,” Biru tetap menggunakan itu menjadi alasannya.


“Dulu juga bokap nyokap tahu kan kalau lo suka keluar malam,”


“Iya, tapi yang kemarin itu menurut bokap nyokap sudah keterlaluan, makanya gue disekap di rumah,” Biru masih beralasan. Biru memegang tangan Mario, dan menatapnya lekat. “Yang penting kan kita masih bisa ketemu,”


“Iya sih, tapi nggak asik aja kalau hanya begini, nggak bisa nongkrong malam lagi seperti dulu,”


Biru menghela nafas panjang, benar juga apa yang dikatakan oleh Mario. Dia merasa kehilangan kebebasannya akhir-akhir ini.


“Nggak usah lo pikirin beb,” Mario mengusap wajah Biru dengan lembut, wajah kedua mendekat, derus nafas halus itu terdengar. Semakin dekat dan ada yang terasa aneh dirasakan Biru. Kaki kirinya terasa dingin ada yang menyentuh. Namun Biru masih fokus dengan apa yang ada di hadapannya, matanya sudah terpejam.


Benda terasa dingin itu makin terasa di kakinya, Biru tidak tahan lagi dan reflek mengibaskan kakinya, matanya terbuka sebelum benar-benar tersentuh oleh wajah Mario. Biru mengambil bantal yang ada di sebelahnya lalu memukul benda yang menempel di kakinya tadi, rupanya seekor katak. Biru jingkrak-jingkrak sambil melempar bantal ke arah katak yang melompat di pojok tenda.


Mario yang gagal bermesraan pun ikut bangkit dan mencoba mengusir katak tersebut, Biru berlari keluar tenda karena merasa jijik. Biru mengusap lengannya bergantian kanan dan kiri.


Mario menyusul kemudian.


“Udah keluar,?” tanya Biru menanyakan perihal katak. “Hih sumpah gue jijik banget, bisa-bisanya ada katak di dalam, hiiiih,” Biru bergidik.


“Udah pergi,”


“Ya udah, yuk kita gabung ke api unggun saja.” Pungkas Biru, Mario melingkarkan tangannya di pinggang Biru dan segera menuju teman yang ada di area api unggun.

__ADS_1


                        ***


Terdengar suara batuk dari dapur, Dania memperhatikan Utinya sedang terbatuk sambil memasak.


“Uti….Uti istirahat aja deh, biar aku yang beresin,” Dania baru saja meletakkan tasnya, dia baru pulang sekolah.


“Kamu istirahat saja, pasti capek pulang dari sekolah, Uti nggak apa-apa,” Uti menggelengkan kepala, Uti sedang membersihakn wortel, untuk membuat jajanan besok. Dania menghembuskan nafas kasar, dia tahu neneknya, keras kepala sekali. Bahkan saat sakit pun nggak mau istirahat.


“Uti kenapa sih….nggak apa-apa kan Uti istirahat dulu buat kuenya, nanti kalau sudah sembuh buat lagi,”


“Uti baik-baik saja Dan, kamu makanlah, itu sudah Uti siapkan,” urainya masih sambil membersihkan wortel, Dania memeluk Utinya dari belakang.


“Uti…aku sayang banget sama Uti,”


Uti mengelus tangan Dania yang memeluknya.


“Uti juga sayang sama kamu dan juga kakak kamu,”


“Makanya Uti harus sehat, Uti nggak boleh sakit,” Dania beralih, kini dia berada di samping Utinya dan menatapnya lekat.


“Hah, aku juga kangen, nanti Mas bakalan pulang sebentar katanya, kita makan malam bersama,” bisiknya dengan raut wajah gembira.


“Benarkah,?” tanya Uti dengan raut wajah bahagia pula. Dania mengangguk.


“Kalau gitu Uti akan masak kesukaan Masmu,”


“Aku boleh bantu kan Uti,?”


“Boleh, tapi sekarang ganti baju dan makan,”


“Siap Uti,” ujar Dania sambil hormat kepada neneknya. Utinya tersenyum melihat tingkah Dania, Dania segera meninggalkan dapur menuju kamar untuk berganti baju dan segera makan siang.


                         Dipa mendapatkan sedikit waktu untuk sekedar pulang melihat Uti dan Dania. Kebetulan Kawa sedang pulang, sehingga dia ada kesempatan untuk pulang.


“Pulanglah, pasti keluarga lo juga kangen sama lo,” ujar Kawa saat melihat Dipa yang baru saja mengantar Biru pulang dari kemahnya.

__ADS_1


“Terima kasih,” ujar Dipa.


“Sejauh ini gue suka kerja lo, jadi tidak ada salahnya memberi lo bonus,”


Dipa menganggukkan kepalanya, setelah mendapatkan izin, Dipa bergegas mempersiapkan diri untuk pulang ke rumah bertemu dengan Uti dan juga Dania. Dia juga sangat merindukan keluarganya.


                        Makan malam sudah siap di atas meja, Uti dan Dania benar-benar menyiapkan begitu banyak makanan untuk menyambut kedatangan Dipa. Sesekali terdengar batuk dari Uti.


“Uti ini minum dulu,” Dania dengan cekatan mengambilkan segelas air hangat dan menyerahkan kepada neneknya. “Duduk dulu,” Dania menarik kursi dan Uti duduk di sana sambil meneguk air hangat tersebut.


Terdengar deru sepeda motor memasuki halaman rumah, Dania dan juga Uti sudah sangat hafal siapa itu. Dania segera berlari menuju pintu depan dan membuka pintu. Dilihatnya Dipa turun dari motornya dan melepas helmnya.


“Mas Dipaaaaa,” Dania menghambur ke arah Dipa dan memeluknya erat. Dipa yang tak siap dengan sergapan adiknya itu agak terhuyung, namun senyumnya mengembang di wajahnya.


“Rinduuuuuu,” ujar Dania lagi.


“Iya Mas juga rindu, Uti mana,?” tanya Dipa yang celingukan mencari Utinya, biasanya Utinya akan ikut menyambut di depan.


“Itu di dalam, lagi nyiapin makanan,”


“Oh,” Dipa masuk ke dalam sambil digandeng oleh Dania.


“Assalamualaikum Uti…,” terdengar suara Dipa yang khas.


“Waalaikumsalam anak ganteng,” Uti merentangkan tangannya dan memeluk cucunya itu dengan hangat.


“Uti kok kelihatan pucat, Uti sakit,?” tanya Dipa dengan raut wajah khawatir. Uti menggeleng.


“Enggak…Uti hanya sakit rindu sama kamu,” Uti menyentil hidung Dipa.


“Beneran,?” tanya Dipa tak percaya, kemudian dia menoleh ke arah Dania untuk memastikan. Dania mengedikkan bahunya. Mereka sudah berada di kursinya masing-masing.


“Ayo makanlah, nikmatilah,” ujar Uti. Dipa melihat makanan kesukaannya tersuguh di atas meja. Sudah lama dia tidak menikmati aneka makanan ini, aneka seafood lengkap dengan sambal.


“Ayo makanlah,”Uti kembali memberikan perintah.

__ADS_1


Mereka menikmati makan malam dengan hati senang, Uti yang merindukan kedatangan Dipa nampak sangat bahagia. Begitu juga Dania dan Dipa.


__ADS_2