Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Penghibur Lara


__ADS_3

Biru mengeluarkan suara tangisan yang keras, Dipa menoleh ke kanan dank e kiri. Meskipun hujan, namun suara Biru cukup terdengar. Dipa khawatir jika sekitarnya menganggapnya yang telah menyakiti Biru. Ada beberapa orang melihat ke arah mereka, dengan wajah heran dengan kedua manusia yang sedang duduk di alam terbuka terkena hujan itu.


“Gue ilfill sama elo yang ternyata kampungan banget, boleh jadi lo anak orang kaya tapi lo kampungan, lo suka musik dangdut yang enggak banget,” kalimat itu kembali terngiang di telinganya. Membuat Biru semakin tergugu.


“Memangnya gue salah kalau gue suka musik dangdut,?” teriak Biru. Semakin membuat beberapa pengunjung melihat ke arah mereka. Kali ini Dipa tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia fokus melihat Biru yang nampak kesal pada seseorang, apa yang sebenarnya terjadi pada Biru hingga dia kembali menangis.


“Apakah gue kampungan,?” pekiknya lagi, “Gue nggak nyangka jika Mario sejahat ini sama gue,” Biru menepuk dadanya yang terasa sakit. “Gue kira selama ini dia juga memiliki hati yang sama seperti gue suka sama dia, tapi ternyata dia hanya mempermainkan gue,” Biru tergugu.


Dipa menghela nafas panjang, dia sudah tahu dari lama perihal ini. Niat hati tidak ingin membuat Biru kaget dan terluka, namun kini gadis itu tahu sendiri. Dan dengan teganya Mario melakukannya secara langsung.


“Tidak ada yang kurang dari nona, tidak ada yang salah dari nona, hanya saja nona berada di samping orang yang salah, maaf nona,” akhirnya Dipa buka suara. Melihat Biru begitu terluka, dia juga merasa sesak. Merasa tak sanggup menjaga Biru seperti janjinya pada keluarga Biru. Biru menatap Dipa.


Dipa berdiri dan mendekat ke arah Biru, perlahan dia menarik tangan Biru. Hujan mulai mereda, hanya titik kecil yang masih jatuh. Dipa menggandeng tangan Biru dengan erat dan mendekat ke arah laut. Terasa kaku tangan Biru, semakin erat dia memegang tangan Dipa. Dipa merasakan ketakutan di diri Biru. Namun dia tetap memegang erat tangan Biru.


Mereka semakin mendekat ke pantai, Biru semakin menarik tangan Dipa ingin lari, tapi Dipa menahannya.


“Bukankah kita tidak boleh mengingkari apa yang seharusnya kita lawan,?” ujar Dipa sambil menatap Biru, Biru balas menatap wajah Dipa. “Percayalah padaku nona,” gumam Dipa meyakinkan. Mereka kembali berjalan ke arah pantai dan air laut yang tenang mulai menyapi kaki mereka berdua. Biru tetap erat memegang lengan Dipa.


“Mereka baik-baik saja,” Dipa menenangkan. “Dan kita akan baik-baik saja,”


Tidaklah buruk meskipun Biru masih merasa ketakutan dengan air yang banyak. Kenangan masa kecilnya kembali muncul, saat dia hampir saja tenggelam di kolam renan hotel saat dia masih kecil. Saat itu dia masih berumur sekitar 5 tahunan, Biru sedang berada di kolam renang bersama dengan abangnya. Hanya saja Kawa sedang


naik ke permukaan sebentar mengambil sesuatu, tanpa sengaja Biru berada di kedalaman kolam yang dalam dan kala itu dia belum mahir berenang. Hampir saja dia tewas tenggelam, sejak itulah dia trauma dengan air yang banyak. Hingga kini dia tidak bisa berenang.


“Bukankah kita harus melawannya,?” tanya Dipa, tangan Biru masih erat memegang lengan Dipa.

__ADS_1


Biru mengangguk, dan dia merasa baik-baik saja kini. Apa karena dia sedang berpegangan dengan orang yang membuatnya percaya bahwa dia akan baik-baik saja?.


“Hujan sudah reda, mari kita pulang,” ajak Dipa, tidak lama mereka berada di pantai, hanya sekedar say hello dengan air laut. Suatu saat nanti dia berjanji akan membawa Biru ke tempat berair dan memastikan Biru akan sembuh dari traumanya. Biru mengangguk dan menyunggingkan senyumnya.


Hingga di parkiran pun Biru masih memegang lengan Dipa dengan erat, Dipa membiarkannya.


“Sebentar nona,” Dipa seolah mengingatkan pegangan tangan Biru, padahal bukan itu maksudnya. Dipa akan membuka pintu mobil dan mengambil baju ganti untuk Biru.


“Oh sorry,” Biru bergegas melepaskan pegangan tangannya dan membenahi rambutnya, dia merasa canggung.


Dipa tersenyum tipis dan mengangguk pelan, kemudian dia mengambil sebuah tas yang berisi baju ganti Biru di dalam mobilnya.


“Nona ganti bajulah, nanti nona sakit karena perjalanan akan memakan waktu yang lumayan lama nantinya,” Dipa mengulurkan tas tersebut. Biru mengambilnya dan bergegas menuju toilet untuk berganti baju.


“Kenapa sebaik ini,?” gumamnya saat selesai berganti baju, Biru memasukkan bajunya yang basah ke dalam tas plastik yang sudah disiapkan oleh Dipa pula tadi. Rambut Biru masih basah, dia menguncirkan sedemikian rupa dan bergegas kembali ke mobil, karena malam semakin larut.


“Bentar,” Biru menghentikan Dipa yang hendak menyalakan mesin mobilnya.


“Iya nona,?”


“Gue naik mobil gue aja,” pinta Biru.


“Jangan nona, biar besok diambil Pak Budi atau saya, ini sudah larut malam, nona pasti lelah,” tolak Dipa. Kenapa Biru tidak kepikiran hingga sana, Biru mengangguk pelan.


“Oh bentar, gue duduk depan saja,” tanpa menunggu persetujuan Dipa, Biru keluar dari deretan tengah dan duduk di samping Dipa. Ini pertama kalinya dia duduk di samping Dipa.

__ADS_1


Biru memasang sabuk pengamannya dengan benar, Dipa menyalakan mesin mobilnya dan mobil pun beranjak meninggalkan tempat tersebut.


“Kamu tahu dari mana kalau aku ada di sini,?” tanya Biru, tapi ada yang aneh. Apakah Biru sedang lupa dengan siapa dia bicara? Dipa menoleh ke arah Biru dan belum menjawab pertanyaan Biru.


“Kenapa?”


Dipa menggelengkan kepalanya, aku dan kamu yang terucap dari bibir Biru membuatnya agak terkejut.


“Dipa mengangkat ponsel yang ada di sampingnya, tanpa mengatakan pun akhirnya Biru tahu maksud Dipa. Bahwa Dipa menemukan Biru karena melacak dari ponsel.


“Wih, curang ih,” Biru tersenyum kecil.


“Protokoler nona,” jawab Dipa singkat.


“Bisa nggak sih nggak usah panggil nona?” pinta Biru, dia melihat ke samping, ke wajah Dipa. Dipa pun melihat ke arah Biru. Merasa tak enak jika tidak memanggil nona.


“Kenapa?”


“Biar akrab aja,”


Ya Tuhan, kenapa dia melakukan ini. Biru menepuk dahinya dan rasanya ingin memarahi dirinya sendiri yang menjadi sok akrab dengan Dipa.


“Ya maksudku, kita kan sudah agak lama kenal, biar nggak canggung aja, nggak usah panggil nona, panggil saja Biru,”


“Justru saya yang merasa aneh,” Dipa tersenyum.

__ADS_1


“Ih udah lah, lagian kamu sudah tahu banyak tentang hidupku, jadi temen aja nggak usah jadi sopir dan bodyguardku,” ujar Biru dengan sedikit kesal. Mau minta panggilan Biru saja susahnya minta ampun.


“Iya nona, eh Biru,” Dipa kelupaan. Senyum kecil mengembang dari bibir Biru. Tak berapa lama Biru tertidur dengan lelapnya di kursinya. Dipa melirik sejenak lalu kembali fokus mengemudi.


__ADS_2