Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Ternyata


__ADS_3

“Lo kalah,!” teriak Lukas pada Sean, tawanya meledak begitu saja. Sean tersenyum kecut, dia bakal melepaskan salah satu mobil mewah yang ada dari garasi rumahnya untuk Mario nantinya jika benar-benar dia kalah.


“Kurang 2 hari lagi,” Lukas kembali menegaskan, tawanya belum surut. Dia sangat bahagia melihat wajah Sean yang gusar. Sementara Mario merasa menang. Lukas mengangkat tangannya, mengajak tos Mario. Mario pun menerimanya dan tak kalah girang.


“Mobil satu doang, tapi lo nggak bisa ambil yang paling berharga dari Biru,” Sean tersenyum sinis, seolah kembali menantang Mario.


“Lo mau taruhan apalagi,?” tanya Mario.


Sean tertawa mengejek, karena Mario sudah berkali-kai gagal untuk mendapatkan Biru seutuhnya.


“Bentar lagi ulang tahun lo, bentar lagi kalian setahun, itu artinya lo menang, tapi gue tantang lo untuk ngedapetin Biru seutuhnya, gue tambahin satu mobil lagi kalau bisa, kalau enggak bisa berarti lo bukan laki-laki,” Sean tertawa


menantang.


“Sinting lo!” Lukas ikut tertawa, tidak tahu dia berada di pihak mana. Yang jelas dia bahagia melihat keseruan dua sohibnya. Tinggal beberapa hari lagi semua akan bisa dilihat. Mario mengelus janggutnya, sejenak tertantang untuk ikut tantangan dari Sean. Kepalang tanggung bagi Sean, karena selama ini Mario memang terkenal playboy, bisa-bisanya dia tidak bisa menaklukkan Biru.


Mario merasa geram, baru ingat jika selama ini Biru sulit untuk diajak keluar bebas karena ada bodyguard yang dia sembunyikan  selama ini. Ah dasar, kenapa tidak jujur dari awal.


“Eh malah bengong, lo mau nerima tantangan gue nggak,?”Sean menyenggol lengan Mario, Mario yang tadi bengong menatap Sean pun hanya menatap tajam kedua sohibnya itu.


“Kalian memang agak-agak, gue terima!” ujarnya mantap. Sean tertawa, begitu juga Lukas, Sean mengangkat tangannya dan berjabat tangan. Tanda setuju.


                        ***


Meski masih bergelut dengan perasaan dongkolnya karena merasa dibohongi, Mario tetap harus berbaik hati pada Biru untuk bisa memenangkan tantangannya. Karena beberapa hari lagi ulang tahunnya, dia benar-benar harus memainkan perannya dengan baik tanpa cela. Demi mendapatkan mobil dari Sean.


“Bi…boleh nggak ngobrol sebentar?,” Biru menoleh saat suara itu sedikit mengagetkan dia saat dia tengah memainkan ponsel, dia tengah duduk di gazobo depan ruang kelasnya. Ros dan Luna belum datang.


“Ya Jenn,?” Biru menoleh dan melihat Jennara tengah berdiri dengan gaya yang seperti biasanya, baginya Jenna culun. “Ada apa,?”

__ADS_1


“Boleh bicara sebentar,?” Jennara meminta izin.


“Hah, duduklah,” Biru menggeser badannya dan menepuk tempat kosong untuk Jennara duduk di sana. Jennara mengangguk, tangannya membenahi kacamatanya lalu duduk di sana. Beberapa kali Jennara nampak ragu untuk mengatakan apa yang dia dengar kemarin.


Kemarin tanpa sengaja dia mendengarkankan Mario, Lukas, dan Sean sedang membicarakan Biru.


“Apa Jenn,?” Biru kembali mengulang pertanyaannya.


“Apa kamu masih sama Mario,?” Jennara memastikan, tanpa ditanya begitu pun Jenna tahu kalau Biru masih berpacaran dengan Mario.


“Kenapa emang,?” Biru meletakkan ponselnya, pikirannya langsung on begitu mendengar pertanyaan dari Jennara yang baginya terasa aneh dan mengagetkan itu. “Jangan bikin gue berpikiran aneh-aneh deh Jenn,” Biru merasa nggak sabaran.


“Ehm…sorry ya Bi…bukan apa-apa, tapi boleh nggak aku nanya sesuatu ke kamu,?”


“Buruan deh Jenn,”


“Kamu apa merasa Mario sangat mencintaimu,?” Jennara memberanikan diri bertanya hal tersebut, jelas bagi Biru ini adalah pertanyaan konyol. Keluarlah tawa Biru, menertawakan pertanyaan Jennara.


“Gue baik sama elo ya sekedar baik aja, nggak mau jadi sohib elo, kok lo malah ngelunjak begini,”


“Maaf Bi kalau kamu merasa aku nggak sopan, tapi kemarin aku dengar jika kamu hanya bahan taruhan saja,” Jennara mengungkapkan. Biru menatap Jennara dengan wajah biasa saja, lalu tawanya meledak. Dia merasa sedang mendengarkan lelucon.


“Lo maunya apa Jenn? Lo mau gue percaya sama lo,?” Biru menggelengkan kepalanya, nggak habis pikir Jennara yang kalem cupu itu bisa merencanakan hal ini.


“Bi…,”


“Udah deh Jenn, kalau lo mau bersaing sama gue tentang Mario, gue ingetin dari awal, lo bukan kelas gue dan Mario, jadi lo nggak usah buang-buang waktu buat semua ini,”


“Bi…,” Jennara berusaha menjelaskan, tapi Biru keburu sudah tidak ingin mendengarkan cerita ini sama sekali.

__ADS_1


“Udah ya Jenn, baiknya lo kalau mau nyari cowok, carilah yang sepadan sama elo. Dan gue kira lo baik hati, tapi nyatanya lo jahat, dan lo tega ngefitnah Mario cowok gue, gue kecewa sama Lo!” pekik Biru sembari berlalu meninggalkan Jennara.


Jennara menatap kepergian Biru yang entah kemana, padahal seharusnya ini adalah jam kuliah. Terlanjur tidak mood dan dia akhirnya memutuskan pergi.


                        Biru membuka pintu mobil, di sana ada Dipa yang berada di kursi kemudi.


“Bukannya ini masih jam kuliah non,?” tanya Dipa, dia sudah hapal dengan jadwal kuliah Biru.


“Nggak ada dosennya, ayo balik,” jawab Biru dengan wajah kesal. Meskipun dia kekeh jika Jennara hanya memfitnah Mario, tapi batinnya terasa sakit. Bisa-bisanya Jennara melakukan ini padanya. Dia sudah merasa baik dengan Jennara, tapi Jennara membalasnya dengan ini. Sungguh terlalu.


Dipa membuka pintu mobilnya.


“Lo mau kemana,?” teriak Biru pada Dipa. Dipa melongokkan kepalanya di pintu mobil.


“Mau cek ke kelas,” jawab Dipa ingin memastikan apakah ada dosen atau enggak.


“Lo gila ya, ok deh gue ngaku, nggak tau dosennya ada atau tidak, tapi yang jelas kali ini gue nggak mau nurut elo, gue mau pergi lagi nggak ingin kuliah,” Biru berteriak ngambek, baru kali ini Biru benar-benar menolak. Dipa tertegun.


Terdengar ponsel Biru berdering, nama Luna tertera di sana.


“Ya?” jawab Biru dengan nada masih kesal. “Ok gue lihat,” Biru segera menutup ponselnya dan melihat grub kelasnya. Dan betapa bersyukurnya dia karena ada pengumuman jika dosen kelasnya kali ini berhalangan hadir.


Biru mengangkat ponselnya keluar jendela, memperlihatkan pada Dipa. Dipa membacanya dengan seksama dan mengangguk. Fiuh, Biru sangat bersyukur kelasnya benar-benar kosong. Jadi dia bisa melipir pergi meninggalkan kampus dengan tenang.


“Kemana non,?” tanya Dipa.


“Pokoknya jangan pulang dulu, gue mau nyari hadiah buat Mario,” jawabnya. Membayangkan Mario saja sudah sangat bahagia, karena besok adalah ulang tahun Mario dan juga satu tahun memperingati hubungannya dengan Mario. Ah pasti sangat menyenangkan.


Biru tersenyum sendiri sambil menyimpan ponselnya.

__ADS_1


Dipa mengarahkan mobilnya ke sebuah tempat perbelanjaan di mana biasanya Biru suka belanja di sana karena banyak barang bermerk di sana. Biru bersemangat untuk mencari barang yang sekiranya cocok untuk hadiah Mario besok.


__ADS_2