Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Luka Yang Sebenarnya


__ADS_3

Biru tersenyum malu setelah baru saja mengirimkan pesan kepada Dipa. Kenapa posenya seolah centil begitu, Biru memandangi layarnya kembali dan sadar jika terlalu berlebihan.


“Mana udah dibaca lagi sama dia,” Biru menepuk dahinya. Sudah terlambat dia menarik pesan itu. Dan tidak ada jawaban pula dari Dipa. Biru jadi merasa malu dua kali.


“Sialan, malah nggak dijawab sama dia. Biru keluar dari mobil dan menghempaskan pintu begitu saja. Apak Budi melihat tingkah Biru sambil melongo.


“Apa nona kena tilang lagi,?” pikir Pak Budi sambil mendekati mobil dan memarkirnya kembali ke garasi.


Tak berapa lama setelah Pak Budi menyimpan mobil tersebut, Biru sudah kembali keluar namun dengan pakaian yang berbeda. Nampaknya dia akan kembali keluar.


“Siapin mobil yang satunya pak Bud,” titah Biru, tangannya sibuk memainkan ponselnya. Membalas pesan yang masuk.


“Siap non,” jawab Pak Budi tanpa protes. “Nona mau kemana lagi? Saya sopirin non,?” Pak Budi menawarkan.


“Nggak usah, aman, tuh buktinya tadi gue nggak ketilang, karena gue nyetirnya aman pake banget,” Biru bangga dengan kemajuannya karena lolos dari tilangan.


Pak Budi lega, akhirnya nonanya bebas tilangan dan dia tak harus lagi siding membayar tilangan lagi. Soalnya biasanya setiap kali Biru menyetir, itu sudah hampir pasti kena tilang. Dan imbasnya dia yang harus menebusnya.


“Baik non, siap,” Pak Budi segera menyiapkan mobil yang dimaksud, mobil warna merah yang satunya.


            Biru baru saja membalas pesan dari Jennara, dia sengaja menghubungi Jennara ingin bertemu. Ada rasa bersalah yang dia rasakan pada gadis itu. Merasa tak enak hati karena sudah pernah mencaci Jennara gegara Mario. Ah Mario lagi. Mobil sudah siap, Biru segera masuk ke dalam mobil dan menuju kafe yang sudah mereka sepakati.


Jaraknya tidak jauh, jalanan juga tergolong lengang sehingga Biru sampai di tempat yang dia tentukan tak lebih dari 20 menit. Dia melihat ke arah jam tangan di pergelangan tangan kirinya, masih kurang 10 menit dari jam janjian. Tapi ternyata Jennara sudah berada di tempat. Itulah Jennara, dia selalu tidak pernah telat dan tidak ingin ditunggu.


Jennara melambaikan tangan memberikan tanda pada Biru jika dia sudah sampai di lokasi. Biru melambaikan tangan balik dan menuju ke arah di mana Jennara duduk. Sudah ada minuman di atas meja, mungkin Jennara sudah sejak tadi berada di sana.


“Sorry, gue telat ya?” tanya Biru merasa tak enak hati.

__ADS_1


“Ah enggak kok Bi, aku tadi ketemu teman, kebetulan nggak jauh dari sini, jadi sekalian kesini setelah selesai,”


“Oh gue ganggu jadwal elo, sorry lagi…,” Biru duduk di kursinya. Jennara mengibaskan kedua tangannya.


“Enggak Bi, nggak ganggu sama sekali. Mau minum apa? Biar aku pesankan,” tawar Jennara.


“No, gue aja yang kesana,”Biru segera bangkit dan memesan minuman dan makanan di kafe tersebut. Setelahnya dia kembali duduk di depan Jennara.


“Sorry tiba-tiba ngajak lo ketemu, gue nggak mau basa-basi dan memang nggak suka basa-basi, gue mau minta maaf soal kemarin, gue nggak percaya dengan apa yang elo katakana,” Biru membuka percakapan, perihal kenapa dia ingin bertemu dengan Jennara. Jennara tidak merasa bahwa itu masalah, tapi dia merasa lega karena akhirnya Biru berada di zona yang nyaman. Tak lagi bersama Mario.


Putusnya Biru dan Mario menjadi berita paling panas minggu ini, berita tentang kejadian di pesta ulang tahun Mario juga menjadi berita yang benar-benar menjadi perbincangan panas. Jennara merasa jengah meskipun dia bukan siapa-siapa.


“Gue bodoh banget sih memang,” Biru tertawa kecil, menertawakan kebodohannya. “Hah sudahlah, gue merasa nggak enak aja sama elo,”


“Nggak apa-apa Bi, aku senang akhirnya kamu berada di situasi ini,” Jennara tersenyum tulus.


Jennara memang baik, dan Biru tak melihat itu dari awal. Dia benar-benar merasa bersalah sudah memanfaatkan Jennara dari awal.


“Ah selagi aku bisa Bi,”


“Lo baik banget,”


“Nggak sebaik itu Bi, jangan berlebihan,” Jennara merendah, merasa tak enak hati mendengar Biru mengatakan itu.


“Yuk makan dulu,” ajak Biru setelah makanan yang dia pesan datang.


            Perbincangan mereka ringan, dan Biru merasa lega. Begitulah Biru, dibalik sikapnya yang cuek acak adul, tapi hatinya lembut dan baik. Merasa mengganjal jika dia merasa habis menyakiti perasaan orang lain.

__ADS_1


Biru mengusap wajahnya dengan tisu, dia sedang bercermin setelah dari toilet. Jennara pun sudah pamit pulang, sedangkan Biru setelah ini juga akan pulang. Badannya terasa lelah ingin segera pulang dan rebahan.


Dari kejauhan, Biru melihat sosok Mario yang masuk ke dalam kafe juga, dengan seseorang.


“Nggak boleh, gue nggak boleh kabur, gue kudu berani ngadepin dia si brengsek itu,” gumamnya. Untung saja dia sudah touch up make up didalam tadi, Biru menata rambutnya. Dan dia yakin dia cantik dan siap untuk bertemu dengan Mario walau tanpa sengaja.


Semakin mendekati Mario yang tengah bergandengan tangan dengan cewek sexy, Biru semakin santai melenggang. Biru melirik ke arah Mario, dan Mario pun kebetulan melihat Biru. Tidak ada rasa menyesal di wajahnya, dia merasa biasa saja.


“Sayang, gue ke toilet dulu,” ujar suara manja cewek yang berjalan bergelendot manja di lengan Mario tadi. Mario mengangguk.


“Eh ketemu kita di sini,” Biru berlagak santai, meskipun dia deg-degan.


“Oh iya, gimana kabar lo?”


“Seperti yang lo lihat, gue baik-baik saja,” ucap Biru dengan santai, datar, dan dia harus menang dengan situasi ini.


“Thanks ya, sudah mengacaukan pesta gue semalam.”


Eh, dasar ******. Dia yang salah, malah Biru yang disalahkan. Biru menahan amarahnya.


“Gue yang jadi bahan taruhan lo, gue yang tersakiti kenapa lo yang merasa tersakiti, lo benar-benar brengsek,!” umpat Biru. Mario tersenyum sinis.


“Iya kenapa? Gue nggak pernah suka sama elo dari awal, sama sekali nggak pernah suka sama lo,”


Biru berasa mendidih, kata-kata Mario benar-benar mengiris batinnya, tapi dia tetap menahan amarahnya. Ini adalah pernyataan pertama dari Mario yang mengatakan bahwa Mario tak pernah jatuh cinta padanya dari awal. Apakah Mario serius? Seolah harga dirinya sedang dioyak-oyak.


“Iya, gue nggak pernah suka sama lo, dan ternyata lo sebucin itu sama gue,” Mario semakin memuakkan. Biru menelan ludahnya, nafasnya sudah memburu. Dia benar-benar ingin mencakar Mario.

__ADS_1


“Ternyata begini saja anak seorang konglomerat, mudah dibodohi, dan ternyata lo memang bodoh,” Mario meringis senang.


“Lo brengsek!” Biru mengeratkan gigi-giginya, untung saja dia tidak lepas kendali, menerbangkan kursi ke arah kepala Mario. “Ingat, apa yang lo perbuat pasti ada balasannya,” ungkap Biru dengan serius, melemparkan senyum lalu meninggalkan Mario. Air matanya meleleh, lepas begitu saja, terasa sangat direndahkan oleh Mario. Ternyata sejahat itu.


__ADS_2