Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Masih Punya Hati??


__ADS_3

Mario merasa enggan untuk bertemu dengan lelaki yang ada di hadapannya sekarang. Tapi laki-laki itu tetap memaksa untuk menemuinya, sudah sangat lama laki-laki itu tidak pulang ke rumah ini. Sebuah rumah yang Mario tinggali selama beberapa tahun belakangan.


“Papa nggak nyangka kalau kamu ternyata sejahat itu dengan dia, mau kamu apa sih,?” ujarnya dengan nada sangat kecewa. Mario menatap Papanya dengan tatapan kesal, bisa-bisanya datang hanya untuk marah-marah padanya. Sedangkan hatinya masih dongkol karena baru saja putus dengan Sonya.


“Papa pikir kamu sudah serius dengan Biru, tapi ternyata kamu sejahat itu,” imbuhnya masih dengan nada yang kecewa.


“Mama pergi juga karena Papa menghianatinya kan?” Mario melawan, membuat laki-laki yang ada di hadapannya itu semakin menahan amarahnya.


“Mario….,”


“Kenapa Pa? Papa nggak mengakui ini semua,?” Mario masih menjawab Papanya dengan sangat tenang.


“Papa nggak mau berdebat, hanya saja Papa ingin menyampaikan jika perusahaan Papa sekarang sedang tidak baik-baik saja,”


Mario tersenyum sinis, meskipun hidupnya masih bergantung dari Papanya, dia tidak peduli akan hal ini sama sekali saat ini.


“Gara-gara kamu, perusahaan Papa diambang kehancuran,”


“Salah aku apa sih Pa,?” nada suara Mario mulai meninggi.


“Kamu tahu kan orang tua Biru itu siapa? Kamu nggak tahu apa bahwa selama ini yang paling banyak membantu perusahaan Papa berkembang itu adalah perusahaan keluarga Biru, tapi kini kamu menghancurkannya,” laki-laki itu menatap Mario dengan tajam.


Mario berdecak, apa iya efeknya hingga akan membuat perusahaan Papanya kolaps begitu saja. Mario tersenyum sinis. “Papa jangan mengada-ada,” Mario tidak percaya.

__ADS_1


“Terserah kamu, yang jelas, Papa kecewa sama kamu yang tega menyakiti Biru seperti itu, kamu mempermainkan dia,” laki-laki itu berdiri, menatap Mario sejenak lalu pergi lagi. Mario masih duduk di kursinya, menopang kepalanya. Terasa nyut-nyutan karena banyak fikiran akhir-akhir ini.


Sonya, pacar yang sudah bertahun-tahun menemaninya, bahkan saat dia harus berpacaran dengan Biru pun Sonya masih mendampinginya. Kini meninggalkannya begitu saja. Mario menggaruk kepalanya yang penuh dengan benang kusut itu.


“Arrrrggghhh,” Mario masih tidak menyangka jika Sonya meninggalkannya begitu saja. Mario memejamkan


matanya sejenak, lalu kembali membuka matanya, mengambil rokok sebatang, menyalakannya dan menyesapnya, berharap suntuk di kepalanya segera pergi. Mario kembali teringat Biru.


Dari sekian banyak cewek yang bersamanyam nyatanya Biru adalah cewek yang paling bucin, cewek yang paling perhatian padanya. Mario tersenyum kecut, kenapa dia tidak bisa menjadi seseorang yang baik untuk Biru. Dan malah membuatnya menjadi bahan taruhan.


            ***


“Woi ngelamun aja,” pekik sebuah suara yang sudah sangat dia kenal, iya suara Lukas yang mendekat ke arah Mari yang kini sudah berada di club malam. Mario sudah menenggak minuman cap oleng beberapa gelas, sudah agak merasa melayang.


“Lo kenapa lagi sih,?” tanya Lukas, Mario menatap Sean dan Lukas bergantian.


“Woooi woiiii, berita apalagi ini,?” Lukas berteriak sambil bertepuk tangan, sedangkan Sean melihat kedua sahabatnya itu.


“Dari raut wajah lo, Sonya minta putus dari elo,?” tanya Lukas penasaran, karena dia tahu Mario, Mario adalah playboy sejati, tidak pernah dia diputusin duluan. Entah kalau Sonya. Mario menggeleng, lagi-lagi dia menyalakan rokoknya  dan menyesapnya. Asap mengepul berada di depan wajahnya. Suara dentuman musik yang menghentak serasa membuat hatinya sedikit senang dan terhibur.


“Dengar-dengar dari anak  sebelah, dia mau nikah,” sahut Sean dengan datarnya. Mata Lukas dan Mario menatap Sean dengan terkejut.


 “Lo ngaco,” Lukas mengibaskan tangannya.

__ADS_1


“Nggak percaya….dia mau nikah sama pengusaha kaya raya, noh dia anaknya DPR,” Sean menjawab dengan meyakinkan, dan jika Sean yang berbicara, maka tidak ada yang perlu diragukan, karena Sean memang tidak pernah main-main dengan perkataannya.


“Udah deh, nggak usah galau-galau, biasanya juga happy meskipun habis putus, iya kan,?” Lukas berusaha membuat Mario lupa pada Sonya. “Lo bisa balikan lagi sama langit Biru,” Lukas malah ikutan julid, dia menahan tawanya.


“Sialan lo bencong,!” Mario ngegas, si Lukas malah tertawa terbahak-bahak. Mari mematikan rokok yang dia sesap tadi, sebenarnya masih panjang, dikarena tak sanggup lagi mendengar ejekan dari Lukas, Mari mematikan rokoknya dengan penuh emosi.


“Masih ada yang bucin sama elo,” Luka mencoba mengingatkan. “Dia tajir, dia bener-bener pengen sama elo kan,?” Lukas cocok menjadi juru bicara kampanye tingkat RT nampaknya. Sean menyenggol Lukas, dia sama sekali tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Lukas.


“Kenapa? Lo pengen tahu,?” Lukas seperti juara ghibah se-RT.


“Kalian jangan brengsek,” Mario kesal melihat kedua sohibnya itu.


“Biru kan sebucin itu sama elo, masa sih elo nggak ada sedikit aja perasaan lo sama dia.?”


“Dan lagi, demi perusahaan bokap lo,” Sean menambahkan, berita yang berhembus bisa secepat itu, sekelas Sean yang hampir tidak pernah bergosip pun tahu jika perusahaan bokapnya sedang tidak baik-baik saja. “Kenapa nggak lo coba PDKT sama dia lagi,?” seolah Mario mendapatkan angin segar.


Selama ini dia melihat Biru tak ubahnya melihat kuman, yang harusnya tak boleh nempel di kehidupan dia. Tapi Biru ternyata sebucin itu padanya, hingga terkadang Mario merasa risih dan tidak ingin menjalani kisah ini lebih lama lagi. Biru memang sebaik itu, Mario mengusap wajahnya dengan tangan kirinya. Kenapa semua orang seolah sedang memintanya untuk kembali mengingat Biru.


Suara dentuman musik semakin rancak terdengar, di sini dia sering menghabiskan waktu bersama Biru hingga larut. Apakah selama ini Biru benar-benar menikmati kebersamaan mereka di tempat seperti ini? Mengingat Biru adalah pecinta musik dangdut. Mario melamun, Sean dan Lukas meninggalkan Mario yang masih galau karena habis putus cinta.


Otaknya benar-benar terasa penuh, sedang berperang dengan keadaan sekarang. Tapi Biru sekarang berbeda dengan Biru yang dulu bersamanya, Biru menjadi tak perhatian lagi padanya, ketemu di kampus juga seolah menyiratkan kebencian terhadapnya. Terlebih ada sosok Dipa di samping Biru, dia tidak yakin jika Dipa hanya sekedar pengawalnya saja.


Mario kembali menyalakan rokoknya dan menuangkan minuman cap oleng di gelasnya, sebelum menyesap rokok, dia meneguk minumannya terlebih dahulu. Nampak di botol minuman itu sudah kosong.

__ADS_1


Mario bangkit dan meninggalkan kursinya, meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan yang masih kalut. Mario masuk ke dalam mobilnya, terdiam sejenak. Hingar bingar dari telinganya mulai memudar.


Bagaimana jika Biru benar-benar sudah melupakannya? Bagaimana jika Biru benar-benar jadian dengan Dipa si pengawalnya?. Mario menyalakan mesin mobilnya dan keluar dari tempat tersebut, untuk menghilangkan suntuk di kepalanya, dia menuju area balap seperti biasanya. Sejenak melepas penat dan lelah hatinya.


__ADS_2