
Hujan baru saja reda, sepasang nenek dan kakek yang dari tadi memperhatikan mereka berdua pun sudah meninggalkan tempat mereka berteduh. Biru masih berdiri di sana, Dipa menengadahkan tangannya keluar memastikan hujan sudah benar-benar berhenti.
“Hah romantisbanget kakek dan nenek tadi,” Biru mendengus lalu tersenyum lebar, membayangkan bagaimana saat dia tua kelak bersama pasangan hidupnya. Semoga akan tetap romantis tak lekang oleh waktu.
“Sudah reda, mari pulang,” ajak Dipa. Biru terlihat menyilangkan kedua tangannya, terlihat kedinginan. Karena mendung pun masih gelap.
Dipa melepas jaketnya dan menempelkan ke punggung Biru agar Biru memakai jaket tersebut. Biru mendongak, melihat ke arah Dipa.
“Buat kamu aja, soalnya kamu yang di depan, pasti lebih dingin,”
“Pakai saja, saya sudah terbiasa dengan udara dingin,”
“Sampai kapan sih kamu mau pakai kata saya untuk berbicara denganku,” Biru protes, dia masih membiarkan jaket itu menyampir di badannya. Dipa melihat Biru, tangannya sudah memegang helm yang siap dia pakaikan untuk Biru.
“Sampai saya jadi pengawal Biru,” jawab Dipa, tangannya dengan cekatan memakaikan helm untuk Biru, tak lupa hingga berbunyi klik.
“Pleaseee nggak usah formal,” Biru masih belum memakai jaketnya.
“Ayo pulang, karena perjalanan kita masih lumayan,” Dipa segera mendekat ke arah Biru lagi yang sedang manyun, Dipa mengambil jaket dan memakaikannya untuk Biru. Terasa aneh, dan mungkin yang melihat juga. Hanya saja Biru pasrah begitu saja dan malah menahan senyumnya.
Biru sudah duduk manis di belakang Dipa, laju motor agak cepat. Dipa buru-buru agar segera sampai di rumah sebelum hujan kembali turun. Biru berpegangan erat di tubuh Dipa, melingkarkan kedua tangannya ke perut Dipa.
Biru menahan nafasnya, jantungnya ingin meledak rasanya. Kenapa bisa begini?
Please Bi…biasa aja, ngapain kamu merasa begitu? Please deh ah…
Batinnya berbisik.
Dipa yang fokus menyetir dan melihat jalan pun terasa tersentak karena tangan Biru sudah mendarat di tubuhnya, bagaimanapun dia merasa tidak bisa bernafas dengan normal, jantungnya berpacu lebih cepat. Rasa-rasanya dia ingin memarahi laju jantungnya yang tidak normal sekarang. Dipa menghela nafas panjang dan kembali fokus. Bergegas pulang sebelum benar-benar hujan turun.
Biru melepaskan pegangannya dan menunggu Dipa melepaskan helmnya, karena dia merasa kesulitan. Dipa melepaskan helm yang dipakainya sendiri sebelum melepaskan helm yang dipakai Biru, ternyata Biru masih mematung di belakangnya.
“Makasih,”
__ADS_1
“Iya,” jawab Dipa lembut lalu mengangguk kecil.
“Makasih juga udah mau aku gandeng saat ada Mario tadi, biar makin panas sekalian tuh hatinya,” ucap Biru percaya diri. Dipa kembali menunjukkan lesung pipinya. Salah satu hal yang membuat Biru terasa terhipnotis melihat Dipa.
“Oh itu, sudah sepatutnya professional dan bisa menjalankan berbagai peran,” jawab Dipa sekenanya, padahal tadi hatinya sudah nggak karuan, jantungnya meloncat-loncat.
“Yas,” Biru kembali mengingatkan otaknya, jangan membahas dan jangan berfikiran yang tidak-tidak. “Oh ya, jaketnya biar dicuci sama buke dulu ih, bau keringatku,” Biru tertawa kecil, jaket jeans itu masih menempel di tubuhnya.
“Eh nggak usah, biar saya cuci sendiri,”
“Akuuuu! bukaaaan sayaaaaa,” Biru menegaskan dengan wajah garang. “Nggak, biar dicuci sama buke,” Biru kekeh tidak mau, dia meninggalkan Dipa begitu saja.
***
Dipa mematikan AC, benar saja hujan kembali turun dengan lebatnya. Bersyukur dia dan Biru sudah sampai rumah dengan selamat dan tidak kehujanan lagi. Dipa mengibaskan handuk yang baru saja dia gunakan mengelap tubuhnya. Sore ini Biru tidak pergi kemana-mana. Jadi Dipa pun bisa beristirahat di rumah. Tumben-tumbenan akhir-akhir ini Biru menjadi gadis anteng yang suka di rumah. Berasa Dipa sedang makan gaji buta.
Tok..tok…
Terdengar pintu kamarnya diketuk, kamar Dipa berada di belakang tapi bukan kamar buangan juga, karena kamar Dipa juga mewah dengan kamar mandi dalam pula. Dipa yang baru saja memakai kaos warna hitam dan celana pendek warna senada mendekati pintu. Rambutnya masih acak-acakan karena belum dia sisir.
“Eh, Bi…ada apa? Mau pergi? Aku siap-siap dulu,” Dipa kikuk dan hendak menutup pintu kamarnya, tapi Biru mengganjal bawah pintu dengan sandal jepitnya.
“Oh enggak…nggak, aku nggak mau pergi,” Biru mengibaskan tangannya, dilihat dari dandanannya juga, Biru sedang tidak akan pergi. Biru memakai piyama tebal dan juga sandal jepit yang ada bonekanya menempel. Dipa mengernyitkan dahi. “Aku cuma pengen ngajak kamu ngopi, iya ngopi,” Biru menggaruk rambutnya.
Kenapa dia menjadi gila? Biru tersenyum, jam segini paling enak tidur, apalagi ditemani rintik hujan, tapi kenapa dia malah ke kamar Dipa dan mengajaknya ngopi.
“Oh iya siap,” jawab Dipa, sebagai pengawal professional dia akan melakukan apa saja yang bosnya suruh lakukan.
Dipa keluar dari kamarnya, Biru berjalan terlebih dahulu ke teras belakang rumah, di sana dia dapat melihat hujan tanpa harus terkena cipratan hujan. Dipa membuatkan kopi untuk Biru dan juga dia.
Dipa meletakkan dua cangkir kopi ke atas meja, baunya menyeruak menembus indra penciuman Biru.
“Wah…baunya menggoda banget,” Biru mengibaskan asapnya agar mendekat ke hidungnya. Dipa duduk di samping Biru.
__ADS_1
“Sudah lama aku nggak ngopi, biasanya sih minuman oleng,” Biru mengingat masa badungnya. “Kangen juga bisa kesana,”
Dipa menoleh, Biru terkekeh.
“Kenapa? Kaget,? Biasa aja lah, itulah kehidupanku,” Biru mengambil cangkir dan menyesap kopinya perlahan. Terasa hangat di mengalir di kerongkongannya.
“Tapi nggak dulu deh, minum kopi sambil menikmati hujan ternyata enak juga,” Biru menyunggingkan senyumnya, memang terasa nikmat dan berbeda. Menyenangkan.
“Oh ya Dip, sayang banget pas aku kesana, nggak ketemu sama adik kamu,”
“Oh iya, dia nitip salam buat kamu,”
“Ha…iya, salam balik, bilangin sama adek kamu, kapan-kapan aku kesana, mau ngajakin dia main,”
“Iya,”
“Dan lagi, aku mau buat rendang sama Uti,” Biru mengangguk-angguk merasa sangat senang dan sudah tidak sabar menantikan waktu yang belum tahu kapan itu.
“Terima kasih sudah sangat baik melihta keluargaku,”
“Keluarga kamu menyenangkan,” Biru menyeringai, senyum di bibir Dipa mendadak hilang. Benarkah keluarganya menyenangkan? Pantaskah disebut keluarga. Tak ada ayah, tak ada mama? Dipa kembali teringat akan mamanya.
“Kenapa bengong? Kapan Dania wisuda,?”
Untung saja Dipa masih bisa mendengarkan apa yang ditanya oleh Biru meskipun dia melamun.
“Oh iya, 2 mingguan lagi katanya Dania kelulusan,”
“Waaaaah…pasti menyenangkan,”
Dipa mengangguk kecil, permintaan Dania saat lulus nanti adalah didampingi oleh mama. Meski pada akhirnya Dania juga harus menerima kenyataan bahwa itu tidak mungkin akan terjadi.
“Dip…boleh nanya sesuatu,?” Biru melihat ke arah Dipa dengan mimik serius. Dipa menoleh dan menatap paras gadis cantik itu.
__ADS_1
“Ya,” jawabnya singkat. Air hujan turun dengan derasnya, suara mereka hampir tak terdengar oleh suara hujan.