
Berwajah tampan, badan tegap tinggi, kulitnya putih bersih. Sejak kecil kehidupannya sudah sangat keras, sehingga membuatnya banyak belajar dari hidupnya. Dia juga bekerja keras sejak kecil.
Dipa memakai jaket warna hitamnya untuk melindungi tubuhnya dari udara yang akan menerpanya saat di jalan. Motornya sudah di luar, berbekal alamat yang sudah dishare oleh Rendra. Dipa berangkat menuju kesana. Hari masih pagi, untuk agenda hari ini adalah mengantarkan sang nona ke kampus. Semoga saja dia beruntung dengan nona yang bisa dia ajak kerjasama. Tidak ada info yang lengkap dari Rendra tentang calon bosnya itu. Siapapun dia nantinya, Dipa selalu percaya diri dan professional.
Dipa sosok pekerja keras, sudah beberapa tahun dia bekerja untuk membiayai kuliahnya, sekolah adiknya, dan juga neneknya yang sudah sepuh. Dia merasa lega akhirnya dia bisa menyelesaikan pendidikannya, sambil menunggu wisuda dia bekerja.
Tawaran dari Rendra sedikit memberikan angin segar baginya, karena menawarkan gaji yang lumayan besar baginya. Jadi dia bersedia menyanggupinya. Sebagai batu loncatan dia sebelum mendapatkan pekerjaan yang sesungguhnya sesuai dengan kemampuannya.
Suara deru motor mulai terdengar, Dipa bergegas menarik gas motornya dan berangkat menuju rumah sang nona. Tidak ada info lengkap yang dia peroleh dari Rendra tentang calon bosnya.
Biru memoles wajahnya dengan make up seperti biasa, agak malas sebenarnya dia. Karena mulai hari dia akan selalu dibuntuti oleh pengawal barunya.
“Hishh….,” gerutunya sambil memoleskan blush on di pipinya hingga merona cantik. Biru sudah selesai, dia membuka pintu kamarnya. Semerbak bau parfumnya benar-benar merebak di indera penciuman yang dekat dengan dia. Biru meniti anak tangga, bersiap sarapan bersama keluarganya.
“Abang sudah berangkat bun,?” tanya Biru setelah hanya mendapati bundanya yang berada di ruang makan. Biru menarik kursi dan duduk di dekat bundanya. Bundanya menyiapkan roti dan selai di piring Biru.
“Sudah, abangmu sudah berangkat pagi-pagi banget tadi, nggak sempat pamitan langsung ke kamar kamu, karena saat diketuk, kamu bener-bener nggak jawab,” ujar Ganis.
“Makasih bun,” ujar Biru sopan saat roti sudah ada di piringnya berikut dengan selainya sudah dioles.
“Iya, makanlah yah banyak,”
“Papa mana,?”
“Papa kamu juga sudah berangkat, ada kerjaan ke luar kota, jadi berangkat pagi banget,”
“Bun…,” Biru senyum menyeringai, kedua tangannya memegang roti yang siap disantap.
__ADS_1
“Apa,?” Ganis mencium gelagat dari putrinya itu.
“Kan nggak ada itu Papa sama abang, jadi bagaimana kalau Biru berangkat sendiri aja,” Biru mulai nego dengan bundanya.
Ganis menatap putrinya dengan ekspresi gemas, Biru tersenyum.
“Mau apa lagi Bi…? Sudah berapa kali Bunda selalu berusaha menutupi apa yang kamu lakukan, tapi nyatanya kamu selalu bohongin bunda juga kan,?”Ganis menghela nafas panjang. Beberapa kali dia sudah berusaha melindungi “kenakalan” putrinya itu, dia tahu apa yang dilakukan putrinya itu. Ganis nampak bersedih dengan keadaan ini.
“Bi…tolong kali ini nurut ya…,” gumamnya.
Biru menghela nafas, dan akhirnya mengangguk lemah.
“Makasih ya sayang….putri Bunda cantik banget hari ini,”
“O berarti kemarin nggak cantik ya bun,?” Biru menyeringai.
“Ok bun, aku berangkat dulu ya, takut telat,” ujarnya sambil bangkit dari kursinya.
Baru saja Biru selesai merias dirinya, kemeja warna biru muda dan bawahan rok selutut warna biru navy. Tidak lupa membawa tas merk ternama dengan warna hitam dan sepatu warna hitam.
Dipa sedang berbincang dengan Pak Budi, sopir yang disiapkan untuk Biru sebenarnya. Sambil menunggu sang nona keluar. Aroma parfum menyeruak, Pak Budi mengangguk memberikan hormat pada sosok yang baru datang. Dia mematung di dekat pak Budi dan juga Dipa.
Dipa menoleh ke sosok yang baru datang, makhluk jelita itu beberapa detik menyita pandangannya. Apakah dia sang nona itu? Dipa membuang pandangannya setelah dia mengangguk memberikan salam.
Biru membuka pintu mobil dengan wajah datar, hatinya terasa dongkol. Bahkan dia enggan melihat wajah sang pengawal dengan seksama.
Pak Budi memberikan isyarat pada Dipa agar segera masuk ke dalam mobil dan segera mengantarkan Biru. Dipa mengangguk dan bergegas masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Dipa memasang sabuk pengamannya dan bersiap berangkat.
“Huh menyebalkan sekali,” gerutu Biru. Dipa diam saja dan tetap fokus menyetir. Sekilas Dipa melihat Biru dari kaca depan. Dipa tahu namanya dari Pak Budi dan sekelumit cerita dari Pak Budi juga.
Biru menghela nafas panjang, dia meletakkan ponselnya dan melihat sosok pengawalnya dari belakang. Baru menyadari jika sosok yang tengah menyetir itu nampaknya wajahnya di atas rata-rata. Secara tidak langsung dia mengakui jika Dipa tampan.
“Ampun deh,” gerutunya lagi. Menyadari bahwa ini adalah masalah yang akan muncul nantinya.
“Oh ya, pasti lo sudah dengar siapa tentang gue kan,?” Biru berbicara dengan Dipa, namun pandangannya melihat ke arah layar ponselnya.
“Uhm,?” Dipa hanya menyahut demikian, pandangannya pun fokus ke jalan yang padat.
“Iya, pasti lo sudah tahu siapa gue kan,?” Biru bertanya sekali lagi, dia amat percaya diri jika banyak orang mengenalnya, melebihi seorang selebgram atau artis sekalipun. Terlihat Dipa tersenyum tipis, karena dia tidak tahu siapa Biru. Dia pun hanya mendengar cerita singkat dari Rendra bahwa Biru adalah gadis yang sulit diatur keluarganya. Sedangkan cerita pendek tadi pagi dari Pak Budi pun tidak menjelaskan secara gamblang siapa Biru.
“Jadi tolong ya…meskipun lo sudah ditunjuk jadi bodyguard gue, lo jangan merasa di atas angin bisa ngatur hidup gue!” pesan Biru dengan nada ancaman. “Ingat, jangan dekat-dekat gue, gue nggak mau citra gue menjadi aneh karena ada pengawal di hidup gue,” Biru kembali menandaskan.
Ini bertentangan dengan apa yang sudah dia tanda tangai sesuai kesepakatan dengan Rendra dan Kawa tempo hari. Bahwa dia harus benar-benar mengawasi Biru, bahkan harus ikut kemanapun dia pergi.
“Maaf nona, saya akan berpegang tegung pada apa yang menjadi kesepakatan kerja saya dengan Tuan Kawa untuk anda,”
Biru melotot mendengar jawaban dari pengawal yang dia belum tahu namanya itu. “Issshh,” Biru mengepalkan tangannya.
“Jadi lo nggak mau nurutin gue nih,? Gini deh…,” Biru menggaruk kepalanya, mencoba berdiplomasi dengan Dipa. “Lo jangan sampai terlihat di dekat gue kalau lo pengawal gue, paham,? Gue bukan anak kecil yang kemana-mana pakai baby sitter,”
“Baik nona, akan saya usahakan sebaik mungkin,” jawab Dipa.
“Kita perlu bicara tentang aturan-aturan yang harus lo lakuin, tunggu waktu yang tepat,” Biru membuka pintu mobilnya dan keluar, karena sudah sampai di kampus. Dipa memarkir mobil tersebut, dia pun ikut turun dan melihat Biru hendak menuju kelasnya. Nampak Biru menyapa teman-temannya.
__ADS_1