Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Makin Kesini, Makin Kesana


__ADS_3

Ada sekitar 10 mahasiswa yang magang di perusahaan induk, Biru duduk sendirian dan sesekali melihat sekelilingnya. Menunggu orang yang akan memberikan pengarahan. Biru nampak kecewa karena waktunya tidak sesuai.


Baru saja Biru hendak keluar, 3 orang masuk ke dalam aula1 orang laki-laki dan seorang perempuan yang terlihat jutek.


“Selamat siang,” sapa seorang perempuan tersebut, ruangan yang tadi agak gaduh itu mendadak hening. Biru menatap perempuan tersebut, sadar jika yang berada di ruangan tersebut adalah salah satu anak bosnya, maka perempuan tersebut mengubah mimik wajahnya menjadi lebih ramah.


“Nah gitu kan enak, heran deh masih aja orang jutek gitu bertahan di kantor ini,” gumam Biru sambil menghela nafas.


Setelah panjang lebar menyampaikan aturan-aturan dan pekerjaan mahasiswa magang hingga paham, perempuan tersebut melemparkan senyumnya.


“Ada yang ditanyakan?” tanya seorang laki-laki yang ada di sebelah kanan perempuan yang sudah memperkenalkan diri bernama Zaza.


Biru mengangkat tangannya.


“Iya nona Biru, silahkan,” ujar Zaza mempersilahkan.


“Maaf buk, semisal kita mau ijin layaknya pegawai yang ada di sini bisa nggak?” Biru bertanya asal.


“Bisa, silahkan nanti ke koordinator bidangnya masing-masing,”


“Ok terima kasih,” sahut Biru.


“Baik, jika tidak ada yang ditanyakan lagi, Pak Andreas akan membawa kalian keliling di bagian bidang yang akan kalian pelajari nantinya, selamat magang di perusahaan ini, gunakan kesempatan sebaik mungkin, karena apa? Ketika kalian keterima magang di sini, itu artinya anda akan punya peluang masuk di perusahaan lain lebih besar nanti,” ujarnya membanggakan perusahaan ini.


“Peres mah dia,” bisik Biru tanpa melihat wajah Zaza. Semua yang ada di ruangan tersebut keluar dan mengikuti pak Andreas, begitu juga Biru. Dia mengikuti semua arahan yang disampaikan. Karena kantor ini begitu luas, ada banyak manusia di sini. Ada yang mengenalnya, tapi ternyata banyak juga yang tidak mengenalnya.


Biru mencari Dipa yang tidak terlihat sejak dia keluar dari aula tadi.


“Ada yang ditanyakan? Nona?” tanya Pak Andreas.


“Oh, tidak pak,” Biru melihat ke arah pak Andreas yang melihatnya sedang mencari seseorang.


“Baik, jika besok mengalami kesulitan, kalian bisa bertanya kepada saya, mengerti?” tanya pak Andreas kepada mahasiswa magang.


“Siap pak, terima kasih,” jawab mereka kompak, termasuk Biru.


Biru menjauh dari para mahasiswa lainnya, menepi dan duduk di sebuah kursi. Tak lama terdengar suara derap langkah, semakin mendekat. Biru mendongak, Dipa sudah berada di depannya.


“Pulang sekarang,?” tanya Dipa.


“Aku mau jalan sama Luna dan Ros,” jawab Biru, sudah sangat lama dia tidak jalan dengan mereka.


“Baik, aku antar,”

__ADS_1


Biru berdiri dan bergegas melangkah, Dipa mengimbangi langkah Biru, berjalan di samping Biru. Tangannya dengan cekatan memencet tombol lift, tak berapa lama lift terbuka, Dipa mempersilahkan Biru masuk terlebih dahulu. Hanya mereka berdua yang berada di dalam lift. Tidak ada percakapan antara mereka.


“Apa kamu sakit,?” tanya Dipa. Biru melihat ke arah Dipa sepersekian detik, kemudian kembali lagi melihat ke depan.


“Enggak,” jawabnya singkat.


Dipa mengangguk kecil, apa yang sedang dipikirkan oleh Biru, sejak tadi pagi diam saja tidak seperti biasanya.


Nggak usah nanyain gue kenapa, gue nggak apa-apa. Sebaiknya kita asing seperti dulu please… pekik Biru dalam hati. Kenapa mengatakan begini saja dia tidak punya nyali. Berada di lift berdua begini membuatnya mati kutu, kenapa lama sekali rasanya.


Bau parfum Dipa tercium sempurna, pantulan Dipa di dalam lift juga samar terlihat, meski samar, tapi di mata Biru Dipa memang nampak sempurna banget.


Tuhan, tolonglah jangan buat gue gila sekarang. Biru memberontak.


Ting….


Akhirnya pintu lift terbuka, Biru membuang nafas dari mulut, merasa sangat lega, jika terkurung berdua dalam lift lebih lama lagi, bisa-bisa dia pingsan di sana di pelukan Dipa. Biru menepuk dahinya lalu berjalan agak cepat, berburu waktu karena janjian dengan Ros dan Luna.


Dipa dengan setia mengantarkan Biru hingga ke tempat tujuan. Seperti permintaan dari Saga tadi, Dipa mengawasi Biru tapi tak harus selalu berada di jarak yang amat dekat.


Biru melambaikan tangan ke arah Ros dan Luna yang sudah tiba.


“Lo belum mesenin gue kan,?” tanya Biru.


“Gila, lama nggak ketemu udah macam artis aja,” senggol Luna.


“Dari mana aja kalian kok baru bilang gini ke gue? Gue memang sibuk,” ucap Biru songong.


“Iya deh,” jawab Luna dengan nada biasa saja, tidak marah ataupun jengkel.


“Kalian para penghianat, untung aja gue baik, gue maafin lo pada,” Biru menunjuk satu persatu bergantian.


“Itulah Bi, gue mau minta maaf,”


“Lo sebenarnya tahu kan kalau Mar…oh si brengsek itu mainin gue,?” Biru sedang mengkonfirmasi kedua sohibnya itu.


“Ehm tahu akhir-akhir sih Bi,”


“Lo pada jahat banget sama gue,”


“Makanya kita minta maaf Bi,” sahut Ros.


“Tapi lo udah move on kan dari dia,?” tanya Luna.

__ADS_1


“Lupain aja,” Biru mengibaskan tangannya. Tak ingin mengingat Mario brengsek itu lagi.


“Eh tapi Bi, katanya dia lagi ada problem tuh, dan gue denger-denger dia nyariin elo,”


“Bodooo amaaaaat” ujar Biru dengan suara keras.


“Kalau dia suka sama elo beneran gimana Bi,?” tanya Luna iseng. “Denger-denger dari teman kampus sih dia lagi begini,”


“Lo pada kenapa sih, gue kesini nggak mau bahas dia ih, pulang nih gue,” ujar Biru dengan nada kesal. Untung saja pelayan segera datang membawa pesanannya, ice coffee salah satu minuman favoritnya. Mengademkan otaknya yang sedang panas.


“Sorry…sorry,” Ros mengangkat tangan pertanda minta maaf, Ros menyenggol Luna agar melakukan


hal yang sama.


“Sorry Bi,”


“Males banget gue,”


“Iya maaf,” Ros mengulangi. “Eh lo jadi magang di perusahaan bokap,?”


“Jadi, kenapa? Kalian di mana,?” di perusahaan Mac Pro kit amah, mau masuk di Arjuna Group nggak masuk penjaringan, gila aja ya…baru mau magang aja kudu tes juga,” Luna mengeluh.


“Iya lah, perusahaan bokap memang dari dulu begitu, makanya lolos magang di sana jadi modal ketrima kerja,” Biru menjawab dengan bangganya.


“Lo Bi kagak bantuin kita, tega banget lo,”


“Bodo amat lah, orang gue juga usaha masuk perusahaan bokap gue sendiri, jangan dikira gue pake jalur orang dalam,”


“Serius lo,?” tanya Ros nampak tidak percaya.


“Ngapain gue bohong, sejak kapan gue suka bohongin kalian, kalian aja yang nggak suka jujur sama gue,”


“Ceilah Bi, bau-baunya masih dendam aja sama kita,” Luna menyenggol lengan Ros.


“Oh ya sama siapa lo kemarin,?” Ros mengalihkan pembicaraan.


“Biasa,”


“Siapa,?”


“Siapa lagi kalau bukan bebeb gue,” Luna dengan percaya diri menyebut Dipa adalah bebebnya.


“Pede banget lo, jauh-jauh dari Dipa” ujar Biru dengan mimik wajah serius. Luna dan Ros menatap Biru dengan tatapan heran.

__ADS_1


Bantu like, vote, rate ya readers....


__ADS_2