Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Hati-Hati Di Jalan Anakku


__ADS_3

Indadari merasakan kehilangan yang teramat dalam, batinnya kembali merasa kehilangan. 20 tahun lalu, dia melangkah sambil menahan duka yang teramat perih di hatinya. Dua permata hatinya dia tinggalkan begitu saja. Sepanjang jalan, hanya perih yang dia rasakan. Entah sampai kapan dia akan bisa menemui buah hatinya itu. Hingga detik ini belum ada kesempatan untuk memeluk dua buah hatinya itu.


Air bening keluar dari matanya yang masih terpejam, di sampingnya ada suaminya yang duduk dengan wajah cemas. Sesekali dia menyeka air mata yang keluar dari mata istrinya itu. Dia menunggu hingga istrinya mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Infus menancap di tangan kiri istrinya, sesekali pula dia mengelus tangan istrinya dengan lembut.


Rasanya seperti disambar petir saat mendengar kabar bahwa istrinya tiba-tiba pingsan dan dibawa ke rumah sakit oleh keluarga Ganis. Merasa bersalah karena tidak berada di tempat saat istrinya pingsan.


Indadari membuka matanya, menengok ke arah suaminya. Senyum getir terlihat di bibirnya.


“Nggak apa-apa sayang, apa kamu sudah merasa lebih baik dari yang tadi?” tanya Bagas dengan lembut. Indadari mengangguk. Meskipun masih sama saja, masih terasa sesak.


“Aku siap mendengarkanmu sayang,” ujarnya pada istrinya, tangannya masih memegang lembut tangan istrinya. Bagas memang sosok yang sangat sabar. Sejak ditinggalkan oleh mendiang suaminya, sebenarnya Indadari tak mau lagi menikah. Tapi Bagas begitu sabar dan akhirnya dia luluh juga. Bagas mau menikahinya dengan segala


masa lalu dan kenangannya.


“Mas, andaikan aku menemukan anak-anak, apakah mas masih akan menyayangiku seperti sekarang,?” tanya Indadari dengan gusar.


Wajah laki-laki itu tersenyum seperti biasanya, teduh. Rambutnya sudah mulai memutih. Dia mengeratkan tangannya memegang tangan istrinya.


“Aku tidak akan pernah mengingkari janjiku, bahkan kamu ingat kan jika aku akan mencari tahu di mana kedua belahan jiwamu,” ungkapnya. Iya, Bagas selalu meyakinkan istrinya jika dia akan menerima istrinya dengan segala kondisi. Dari awal bertemu dengan Indadari, istrinya sudah menceritakan semua yang telah terjadi. Istrinya begitu terguncang jiwa dan mentalnya, hingga mencoba mengubah jati dirinya. Dia sudah putus asa dengan hidupnya dan memilih pergi ke luar negeri, namun nampaknya takdir menuliskan garis yang berbeda, dia dipertemukan dengan Bagas yang akhirnya membawanya kembali pulang ke tanah air.


Awalnya, dia merasa kenangan tentang kepahitan hidupnya kembali muncul, tapi dia harus meredam semua itu. Bukankah dia sudah menjadi orang yang baru dengan mengganti namanya? Tapi tidak, nyatanya semakin dia berusaha menjadi orang lain, jiwa keibuannya bergejolak ingin bertemu dengan kedua buah hatinya.


Indadari meneguk ludahnya, tenggorokannya terasa sakit. Dia tidak ingat bagaimana awal mula dia dibawa ke rumah sakit.


“Maafkan aku yang tidak ada di sampingmu tadi sayang,”


“Bukan salah mas Bagas,”


“Lantas, adakah hal lain yang membuatnya seperti ini, apakah aku sedang menantikan berita bahagia itu,?”

__ADS_1


Indadari terdiam sejenak, pandangannya menerawang. Air matanya kembali meleleh, rasanya tak ada tenaga untuk bercerita. Entah dia sedang sangat bahagia atau sedang menguak luka dalam hidupnya.


“Ssstttt,” Bagas mendekati istrinya dan memeluknya, menenangkan istrinya. Dia tidak akan memaksa istrinya untuk bercerita hingga istrinya siap. Dia sangat memahami istrinya.


“Mas, bantu aku menghadapi semua ini, aku butuh waktu untuk mencerna takdir ini,” ujarnya sambil tergugu. Bagas mengusap air mata istrinya kembali, menenangkan, dan dia mengangguk mantap. Nampaknya apa yang dia pikirkan sepertinya benar adanya. Dia merasa ikut bahagia. “Bantu aku mas,”


“Iya sayang,”


Sementara itu Biru dan Dipa menunggu di luar ruangan. Pintu terdengar terbuka, terlihat suami Indadari keluar ruangan dengan senyum sumringah.


“Bagaimana kabar tante om? Apakah tante sudah baik-baik saja,?” tanya Biru sambil berdiri mendekati Bagas.


“Terima kasih anak-anak baik, istri om baik-baik saja kok, oh ya…tante Inda mau ketemu, sekalian nitip tante dulu ya, om ada urusan di bawah sebentar,” Om Bagas seolah memberikan kesempatan pada Dipa dan Biru untuk masuk ke dalam kamar perawatan.


Biru dengan senang hati, dia segera masuk ke dalam kamar perawatan, Dipa mengikuti Biru. Sedangkan dari jarak beberapa meter, Bagas melihat keduanya masuk ke kamar perawatan istrinya.


Indadari menatap Biru dan Dipa bergantian.


Ya Tuhan…jika benar ini putraku, aku sangat bersyukur melihatnya tumbuh sehat, dia sangat tampan. Bisiknya dalam hati, senyumnya mengembang.


 "Ya Ampun tan….tadi aku kaget banget loh lihat tante tiba-tiba pingsan,” gumam Biru sambil berdiri di samping Indadari.


“Apa Ibu masih pusing, masih terasa sakit,?” tanya Dipa, mendengar panggilan Ibu, membuat Indadari ingin menangis, ingin memeluk dan menumpahkan semua kerinduan yang dia pendam selama puluhan tahun. Terasa amat sakit, inikah rasanya? Tapi dia tidak bisa mengungkapkan begitu saja. Terasa sakit, terasa ada yang mengganjal di batinnya.


“Oh, Ibu baik-baik saja nak, biasa…Ibu memang suka drop tensi darahnya, kecapaian mungkin, semoga besok sudah kembali normal,” jawabnya sambil menata hati.


“Oh ya tan, ehm…tadi tante sempat bilang kalau ada anak tante, kok nggak ada di sini,?” Biru merasa kepo.


“Oh…iya, belum…dia belum datang,” jawba Indadari dengan kikuk, dia harus menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun dia meyakini jika yang ada di hadapannya adalah Dipa putranya. “Kenapa? Kamu penasaran dengan anak tante,?” Indadari menggoda.

__ADS_1


“Ehm….penasaran nggak ya,?” Biru berseloroh.


Di sampingnya, Dipa melirik ke gadis itu. Indadari yang menyadari hal itu pun tersenyum.


“Kenapa tante tersenyum begitu,?” Biru mengernyit.


“Ah enggak…kalian lucu,”


“Kalian? Kita maksudnya,?” Biru menunjuk dirinya, lalu bergantian menunjuk Dipa yang sudah dalam mode normal, tidak lagi meliriknya. Indadari mengangguk. “Kok bisa sih tan,?” Biru merasa nggak ada yang lucu di antara mereka berdua.


“Nggak..nggak…nggak usah dipikirkan, oh ya…duduk lah, nanti kalian capek,” Indadari mempersilahkan Biru dan Dipa duduk. Dipa mengambilkan sebuah kursi untuk Biru, sedangkan dia tetap memilih berdiri di samping Biru.


“Oh ya tan..maaf ya, tadi Bunda sebenarnya ikut kesini, eh ternyata ada yang harus dilakukan jadi nggak sempat jenguk tante,” Biru menyampaikan salam bundanya untuk Indadari.


“Nggak apa-apa sayang, terima kasih ya, maaf lo tante merepotkan kalian, padahal tante nggak apa-apa,” Indadari merasa tak enak.


“Nggak tante, nggak repot, serius, lagian dia,” Biru menunjuk ke arah Dipa. “Tenaganya super kok, kuat gendong manusia yang ukurannya sekita,” Biru tergelak, akhirnya Indadari ikut tertawa. Yang tadinya Indadari merasa tegang bagaimana menatap hatinya, kini bisa luwes menghadapi Dipa. Terasa ringan dan sangat menyenangkan.


Akhirnya Biru dan Dipa hendak pamit meninggalkan Indadari, sebelumnya Indadari meminta kedua tangan dua insan itu. Dengan lembut Indadari memegang erat tangan Biru dan Dipa.


“Terima kasih sudah mengantar tante kesini,” ujarnya dengan nada mendalam, dia merasa sangat bahagia.


“Sama-sama tan, tante lekas sehat ya…,”


“Lekas sehat Bu,” Dipa menganggukkan kepala.


Ah rasanya, dia kembali merasakan kehangatan menyentuh tangan putranya, dia berusaha kembali menahan air matanya agar tidak jatuh saat ini. Indadari mengangguk pelan.


 “Ya..hati-hati di jalan ya…,”

__ADS_1


__ADS_2