
Seorang wanita dengan rambut yang didominasi warna putih itu melihat seorang pemuda yang sedang memakai sepatunya. Rupanya dia hendak pergi malam ini, memenuhi janji pada seseorang.
“Uti…Dipa pergi dulu ya,” pamitnya seraya mendekati neneknya yang dia panggil dengan sebutan Uti itu. Sejak kecil dia sudah diasuh oleh neneknya sejak ayahnya meninggal dan ibunya entah pergi kemana. Uti adalah Ibu dari ayahnya.
“Mau kemana,?” tanya Uti yang selalu khawatir tiap kali cucu-cucunya pamit pergi, apalagi malam.
“Ada janji sama teman,”
“Iya, hati-hati ya…,” Uti mengelus rambut Dipa yang sedang berlutut di hadapan neneknya. “Dania kemana,?” Uti menanyakan keberadaan adik Dipa.
“Dia belajar di kamarnya,” sahut Dipa seraya berdiri.
“Oh ya sudah, segeralah berangkat,”
“Baik Uti,” jawabnya sopan.
Dipa, seorang pemuda yang berumur 25 tahun, berperawakan tinggi, matanya tajam, rahangnya tegas, hidung mancung, rambutnya tidak panjang tapi juga tidak cepak pendek. Sudah sejak kecil dia ditinggal oleh ayahnya, meninggal karena suatu hal yang hingga detik ini belum bisa dia cerna. Karena setiap kali dia bertanya perihal itu pada neneknya, neneknya enggan menjawab. Sedangkan Ibunya meninggalkan dia dan adiknya sejak 2 tahun kepergiaan ayahnya, kala itu dia berumur 4 tahun.
Dipa mencari-cari di mana sosok yang mengajaknya bertemu di tempat ini. Sebuah lambaian tangan memberikan tanda bahwa yang bersangkutan berada di sana. Diba bergegas menuju kursi tersebut. Dua orang pemuda yang umurnya sedikit di atasnya itu tengah duduk. Dipa membalas sapaan salam mereka dan saling mengepalkan tinju tangan.
“Maaf kalau terlambat,” ujar Dipa, dia merasa sudah tepat waktu, tetapi ternyata Rendra sudah menunggunya terlebih dahulu.
“Santai saja sih, nggak usah formal-formal,” Rendra menepuk bahu Dipa. “Oh ya kenalin nih, Kawa, temanku,” Rendra mengenalkan Kawa. Kawa mengangguk, begitu juga Dipa.
“Jadi ini orangnya, jadi aku yakin dia bisa menjaga Biru dengan baik. Aku sudah kenal Dipa dengan baik,”
“Bela diri apa yang kamu kuasai,?” tanya Kawa langsung ke intinya, meskipun dia juga tidak berharap bahwa akan terjadi hal-hal yang membahayakan nantinya.
“Karate,” sahut Dipa tegas, dia sudah beberapa tahun menggeluti karate dan sudah sampai di tingkat paling atas.
“Dulu pernah latihan bareng bro, jadi aku tahu kapasitasnya, nggak diragukan,” puji Rendra.
Seorang pelayan datang ke meja mereka, meletakkan minuman yang sudah dipesan Rendra di awal tadi. Rendra mengeluarkan selembar kertas kontrak yang akan ditanda tangani sebagai persetujuan perjanjian kerja di antara mereka.
Rendra menyerahkannya pada Dipa, dan Dipa mulai membacanya perlahan sebelum dia tanda tangan nantinya. Dipa membaca dengan seksama, jangan sampai ada pihak yang dirugikan. Dia masih menganggap semua normal, kerjaannya adalah selain menjadi pengawal Biru, dia juga akan menemani kemana saja Biru pergi. Misalnya ke
kampus, shopping, nonton, dan aktivitas Biru lainnya termasuk nongkrong bersama teman-teman.
“Tenang saja, karena memang ini untuk pengawalan anak bandel, jadi nanti aku kasih tambah, soalnya sekalian nyopirin dia kan,? Bagaimana?” tanya Kawa.
__ADS_1
So far Dipa menerima pekerjaan ini, meskipun dia belum tahu siapa Biru yang dimaksud, bagaimana orangnya dan lain sebagainya.
“Tenang saja, dia unik, unik banget, aku yakin kamu bisa bisa menjaga belut itu,” ujar Rendra sembari terkekeh. Dari penjelasan awal itu, nampaknya seseorang yang dipanggil Biru itu badung. Dipa tidak peduli, niatnya ingin bekerja. Karena dia harus bekerja keras untuk biaya adiknya sekolah dan juga neneknya yang semakin renta karena usia.
Dipa mengambil bolpoin dan menandatangai surat perjanjian kerja itu, niat baik maka akan dipermudah oleh Tuhan. Itulah yang ada di dalam hatinya.
Kemudian Kawa juga membubuhkan tanda tangan di sana, mereka saling bersalaman.
“Semoga adikmu selamat lahir batin nggak badung lagi,” ujar Rendra penuh harap. Kawa mengangguk. Sedangkan Dipa hanya tersenyum kecil.
“Besok mulai kerja,” ungkap Kawa.
***
“Dih kenapa abang curang,?” Biru masuk ke ruangan kerja Kawa yang ada di rumah tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tangannya terlipat di dada, bibirnya manyun bercenti-centi. Benar-benar dia marah dengan abangnya itu. Karena perjanjian awal adalah memilih bodyguard untuknya berdasarkan kesepakatan bersama, bukan sepihak.
“Curang, aku nggak mau!” ujarnya dengan nada tinggi.
Sang lawan bicara, Kawa nampak sangat santai menanggapi adiknya yang sedang marah-marah itu. Dia masih saja menghadap laptop yang ada di depannya.
“Bang…pokoknya Biru nggak mau, batalin!”
“Bodo amat, Papa nggak bakalan tega melihat anak cantiknya di penjara, aku nggak percaya itu!,” sungut Biru.
“Kata siapa,?” Kawa masih sangat santai.
Biru terdiam, abangnya yang tenang sungguh membuatnya sebal. “Habisnya abang sama bang Rendra curang, ngapain milih pengawal yang sama sekali nggak ikut audisi,?” protesnya masih belum mereda.
“Lalu kenapa kamu menyuruh temanmu untuk mencarikan calon pengawal buat kamu,? Lalu kamu setting sedemikian rupa, apa itu tidak curang namanya?,” Kawa membalikkan keadaan.
Biru kicep tidak bisa membantah, akal bulusnya tidak mempan. Akal bulusnya gagal lolos di tangan Kawa dan Rendra.
“Kata siapa,?” nada bicara Biru mulai merendah.
“Kata siapa,? Abang sudah tahu akal bulusmu itu, karena kamu curang jadi hukumannya adalah ya sudah kamu tinggal ngikut saja siapa pengawal kamu.
“Abaaaang,!” Biru mencoba protes lagi.
“Nggak ada protes-protes lagi,”
__ADS_1
“Tapi kan syaratnya kemarin harusnya nggak begitu,”
“Kamu nurut saja daripada kamu jadi gembel mulai besok,” Kawa mengancam.
“Dia cakep nggak,?” tanya Biru sambil cemberut, dia sudah bisa membayangkan bagaimana ekspresi Mario saat tahu nanti dia punya pengawal.
“Kan kamu belum tahu dia cewek atau cowok,”
“Oh iya ding, cowok apa cewek bang,?”
“Cowok,”
“Nah kan,” Biru mengibaskan tangannya. “Ah abang,”
“Nanti kamu lihat sendiri lah, kalau kataku sih cakepan abang,” Kawa tersenyum sambil memperlihatkan wajahnya agak mendekat ke wajah Biru.
“Ih abang narsis,”
Kawa terkekeh melihat tingkah adiknya, dia suka sekali menjahili adiknya.
“Semoga nanti saat abang kembali, kamu sudah menjadi gadis manis yang baik-baik.” Kawa mengusap puncak kepala adiknya dengan sayang.
“Jadi selama ini aku kurang baik,?” Biru bertanya sambil menatap abangnya.
“Kamu baik, hanya karena cowok aja kamu jadi bego, paham,?”
“Ih Mario jangan dibawa-bawa bang, dia baik loh,” Biru membela Mario. Kawa mengangguk angguk pura-pura nggak paham saja.
“Iya baik, baik sampai kamu diselingkuhi berkali-kali, padahal pacaran juga baru berapa bulan,” cibir Kawa.
“Ah abang ini ah, suka banget begini,”
“Nah kan kenyataan kan,?”
Biru memang sudah berkali-kali diselingkuhi oleh Mario, tapi tetap saja dia masih bertahan. Karena setelah kejadian perselingkuhan itu, Mario akan berbuat baik lagi padanya, meminta maaf. Karena saking bucinnya, Biru pun memaafkan dan kembali lagi ke pelukan Mario sang pujaan hati.
“Jadi besok nih ketemu pengawal barunya,?” tanya Biru malas-malasan, itu artinya mulai besok kemana-mana dia akan dikawal oleh orang itu.
“Iya,” jawab Kawa singkat. “Baik-baik kamu,”
__ADS_1
“Hahhh,” Biru menatap plafon ruang kerja Kawa, dia begitu jengah dengan peraturan ini.