
“Lo balik aja,” bisik Biru pada Dipa tanpa mempedulikan jika Ayu masih memperhatikan diam-diam.
Dipa menatap Biru dengan tatapan penuh tanya, Biru mengedipkan matanya sambil menarik lengan Dipa. “Please…lo langsung nunggu aja di parkir, gue balik bareng Mario,”
“Biar sama saya saja Nona,” Dipa tidak mau kecolongan. Biru menghela nafas, dia ingin balik bareng Mario.
Ayu memperhatikan Dipa dan juga gadis yang belum dia kenal itu, nampak gadis itu sangat dominan terhadap Dipa.
“Apa dia bosnya,?” bisiknya bertanya pada dirinya sendiri. Ayu bergegas mengangguk kecil saat beradu pandang dengan Biru tanpa sengaja, lalu Ayu kembali menutup pintu ruang perawatanan Papanya.
Biru terdiam melihat anggukan Ayu, dia kembali fokus ke Dipa yang nampaknya tak rela dia pulang bareng Mario.
“Please…gue mau bareng Mario” ujarnya lagi.
“Ini tanggung jawab saya Nona,” Dipa menegaskan, dia kekeh tidak mau meninggalkan Biru pulang bersama dengan Mario. Biru menatap Dipa dan kembali menghela nafas, tangannya terlipat ke depan. Memang Dipa keras kepala banget bagi Biru.
“Mau lo apa sih,?” tanya Biru kesal.
“Saya hanya menjalankan pekerjaan saya,” jawab Dipa.
Biru tersenyum sinis, “Noh selesaikan kerjaan lo sama dia, gue bisa pulang sendiri,” Biru menunjuk pintu di mana Papa Ayu dirawat, Dipa menoleh ke arah yang ditunjuk Biru. “Gue bisa pulang sendiri,” Biru kembali menegaskan dengan nada ketus.
“Nona,” Dipa menarik lengan Biru yang hendak pergi.
“Lepasin,” Biru berusaha menarik tangannya. Dipa melepaskan karena takut tangan Biru terluka.
“Nona adalah tanggung jawab saya, jadi saya akan mengantar Nona sampai di rumah, setelahnya terserah Nona,” ungkap Dipa akhirnya.
Tanpa mereka sadari, Mario berada di depan pintu kamar perawatan Biru, dia melihat Biru sedang berdebat dengan seorang laki-laki yang tidak dia kenal, tapi juga tidak asing wajahnya. Dia merasa sudah pernah bertemu dengan Dipa sebelumnya.
Mario mendekat ke arah Biru, lalu merangsek ke arah Dipa. Mario menatap Dipa dengan tatapan tajam.
“Ngapain lo sama cewek gue,?” nada suaranya sangat tajam. Dipa menatap Mario dengan tatapan santai.
__ADS_1
“Saya mau mengantarkan Nona pulang,” jawab Dipa akhirnya, sudah kepalang basah. Biru mengurut keningnya, kejadian yang tidak dia sangka. Dipa dan Mario bertemu di tempat seperti ini, saat ini. Biru benar-benar pusing.
“Ini siapa beb,?” tanya Mario menatap Biru dengan wajah penasaran, dia tidak suka jika ada laki-laki lain yang dekat dengan Biru, siapapun itu.
“Gue bisa jelasin beb,” Biru menarik lengan Mario.
“Lo jangan macem-macem sama cewek gue,!” ancam Mario pada Dipa, telunjuknya mengarah ke wajah Dipa. Sementara Dipa hanya diam saja, tidak takut sama sekali dengan ancaman Mario.
Biru menarik tangan Mario dan mengajaknya masuk ke dalam kamar perawatannya. Mario nurut, dengan wajah sebal dia duduk di atas sofa, Biru duduk di sofa yang berseberangan. Menatap Mario dengan wajah bersalah.
“Jelasin dia siapa,?” Mario masih bersungut-sungut.
“Beb…lo tau kan bokap nyokap gue setelah peristiwa di club malam waktu itu, yang hampir ngebuat gue dilaporin ke pihak berwajib,” Biru memulai cerita. Mario diam saja, hatinya benar-benar dongkol, melihat Biru berinteraksi dengan laki-laki yang muda dan tampan itu.
“Setelah itu, abang gue punya ide buat nyewa pengawal buat gue,” Biru membuka rahasia, sebenarnya enggan, hanya saja sudah kepalang basah.
“What,?” Mario melotot, jelas Mario kini sedang marah padanya. Biru menghela nafas, menenangkan dirinya sendiri.
“Dia pengawal gue beb,” jawabnya.
“I’m sorry beb,” Biru memohon.
“Kan udah gue bilang, gue nggak suka lo dekat cowok,”
“Lha mau gimana lagi, itu juga yang milih keluarga gue, kalau gue nggak mau, gue nggak boleh kemana-mana,” Biru menjawab.
“Alasan sih, lo juga pasti suka sama dia,” Mario menuduh.
Terdengar pintu terbuka, Dipa masuk bersama perawat dan dokter.
“Selamat sore Nona Biru,” sapa perawat.
“Iya,” jawab Biru segera menetralkan wajahnya kembali, sebenarnya dia amat kalut mendengar Mario marah. Melihat banyak orang masuk ke dalam, Mario tanpa sepatah katapun keluar dari kamar perawatan Biru. Biru hanya bisa menatapnya.
__ADS_1
“Nona Biru…semua keadaan baik dilihat dari hasil tesnya, jadi Nona bisa pulang sore ini,” ungkap dokter laki-laki itu dengan lembut.
“Oh iya dokter, terima kasih,”
“Apa ada keluhan,?” tanya dokter lagi. Biru menggeleng pelan sambil melemparkan senyumannya, dia baik-baik saja sekarang. Yang nggak baik adalah hatinya, dia merasa khawatir dengan Mario.
“Tidak dok,” Biru menggeleng.
“Baik, kita siapkan semuanya ya Nona,” imbuh perawat, Biru mengangguk kecil.
“Baik, semoga Nona sehat selalu,” ungkap dokter lalu keluar kamar, begitu juga perawat yang ikut tadi.
Dipa mendekat ke arah lemari dan membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang, Biru memegang kepalanya, lalu membuang tubuhnya di sofa sambil diam saja, dia sekilas melihat ke arah Dipa. Dia jengkel, entah dirinya atau dengan Dipa. Situasi ini benar-benar membuatnya kesal.
Biru bergegas mengambil baju ganti yang disiapkan Dipa di atas ranjang sebelum Dipa keluar kamar. Dipa memilih menunggu di kursi depan kamar perawatan Biru.
Biru sejenak melihat ke arah pintu, dengan langkah ogah-ogahan dia mengambil baju yang sudah disiapkan Dipa. Segera masuk ke kamar mandi dan berganti baju.
***
Setelah urusan administrasi selesai, Biru dan Dipa menuju mobil yang terparkir. Tidak ada percakapan di antara mereka berdua.
Dalam benak Biru, pikirannya dipenuhi dengan Mario. Mario yang sedang marah padanya, bahkan Mario tidak memberikan kabar sama sekali.
Dipa fokus menyetir, membiarkan Biru sibuk dengan pikirannya. Dia tahu apa yang ada di benak Biru, pasti Biru marah padanya saat ini. Tapi ini tanggung jawabnya, dia tidak mau kecolongan lagi. Karena Nyonya Ganis dan juga Tuan Saga sudah mempercayakan Biru padanya. Benar-benar dia harus menjaga Nonanya dengan baik.
Mobil berjalan perlahan karena macet, sore hari lalu lintas memang sangat padat karena bareng dengan banyak orang yang sedang pulang kerja.
Biru hanya melihat lalu lalang kendaraan, tidak ada keinginan sama sekali untuk melakukan apapun, bahkan dia membiarkan ponselnya begitu saja tergeletak di sampingnya. Karena dia sangat paham, bahwa Mario tak akan menghubunginya, entah sampai kapan ngambeknya.
Akhirnya mobil memasuki garasi yang luas di rumah Biru, Dipa turun dari mobil. Begitu juga Biru, Biru membanting pintunya dan berdiri.
“Harusnya lo urus saja cewek lo, bukan gue,” ujarnya lalu berlalu meninggalkan Dipa yang tengah sibuk menurunkan barang yang dari rumah sakit, dibantu Pak Budi yang lari tergopoh.
__ADS_1
“Nona kenapa,?” tanya Pak Budi yang masih berhasil mendengar ocehan Biru. Dipa hanya tersenyum tanpa menjawab.
“Lah mirip orang cemburu,” Pak Budi terkekeh.