Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Boleh Libur


__ADS_3

“Lembutkanlah hatimu untuk Ayu,” titah Uti pada Dipa, karena Kawa mengizinkannya untuk sejenak menghabiskan waktu bersama keluarga, sehingga Dipa bisa pulang sejenak. Dipa memikirkan apa yang diucapkan oleh Uti. Sudah lama dia memikirkan apa yang diinginkan oleh Utinya. Uti ingin Dipa bisa dekat dengan Ayu.


Dipa mengetuk pintu kayu yang gagah itu, dia sengaja datang di sore hari setelah mendapatkan kabar jika Pak Wahono pulang sore ini.


“Hai,” sapa Ayu sesaat setelah membuka pintu gagah itu. Nampak di depannya, wajah tampan Dipa tanpa senyuman. Seorang pemuda yang dia kagumi sejak dari lama, tapi nyatanya hatinya masih beku.


“Masuk,” ajak Ayu.


“Terima kasih, Om sudah sampai rumah,?” Dipa mengekor di belakang Ayu, Ayu berjalan menuju ruang samping, terlihat Pak Wahono sedang duduk di sana melihat ikan yang sedang berebut makanan.


“Eh, ada Dipa,”


Dipa menyalami Pak Wahono sambil menunduk, Pak Wahono menepuk pundak Dipa.


“Bagaimana kabar Om,?”


“Seperti yang kamu lihat, Om baik-baik saja,” Wahono menunjuk dirinya dan merasa sangat sehat.


“Syukurlah Om, saya senang mendengarnya,” Wahono tersenyum. “Yu, buatin kopi buat Dipa,”


“Oh tidak usah Om, terima kasih,”


“Nggak apa-apa, buatin Yu, sekalian buatin Papa teh tawar,” ujarnya. Ayu yang tadi masih berdiri tak jauh dari Papanya dan Dipa pun segera masuk ke dalam, ini adalah perintah Papanya, meskipun ada asisten rumah tangga, Papanya suka jika Ayu yang membuatnya sendiri.


“Apa non,?” salah satu mbak rumah tangganya saat melihat Ayu masuk ke dapur.


“Buat kopi mbok,”


“Biar sama saya saja non,”


“Nggak usah mbok, Papa mintanya aku yang buatin,” Ayu mengambil dua cangkir, bersiap membuat pesanan Papanya.


“Apa itu calonnya non Ayu,?” si mbok tersenyum melihat Ayu, Ayu tetap sibuk dengan dua cangkir yang ada di depannya.


“Apa sih mbok,” Ayu menepis.


“Tampan non, ih cakep banget,” si mbok tersenyum bahagia, dia melihat Dipa saat Dipa masuk tadi. “Kalau saja Mbok punya anak cewek, mbok mau dia jadi mantu si mbok, tapi sepertinya jelas nggak mungkin dia milih anak si mbok,” mbok terkekeh, merasa sadar diri.


“Ih si mbok mah,”


Minuman yang dibuat Ayu telah siap, dia meninggalkan si mbok yang ada di dapur.

__ADS_1


Ayu meletakkan minumannya di meja kecil di antara Papanya dan Dipa. Kemudian dia mengambil salah satu kursi dan duduk di sana, sambil mendengarkan Papa dan Dipa mengobrol. Ayu tak tinggal diam, dia membuka laptop dan mengecek pekerjaannya.


“Salam buat Uti, Om sudah lama sekali tidak bertemu dengan Utimu,”


“Iya Om, maafkan Uti yang belum sempat menjenguk Om,”


“Ah jangan fikirkan hal itu, pokoknya yang penting Uti sehat selalu,” Wahono mengambil cangkir tehnya dan menyesapnya, terasa menghangatkan kerongkongannya. “Minumlah kopinya,” perintah Wahono.


“Iya om, terima kasih,” Dipa meraih cangkir dan menyesap kopi yang masih mengepul itu, kemudian meletakkannya kembali.


“Jadi, apa rencana kalian,?” tanya Wahono sambil melihat Dipa, kemudian Ayu secara bergantian. Dipa yang mendapat sodoran pertanyaan itu masih mencoba mencernanya.


Ayu yang sibuk menatap layar laptopnya pun langsung melihat ke arah Papanya.


“Kenapa?  Bukannya kalian sudah sama-sama dewasa,?” Wahono melemparkan senyum pada mereka. Dipa tersenyum kaku, Ayu mengerutkan dahinya.


“Pa…saatnya Papa minum obat dan istirahat,” Ayu mengiterupsi Papanya dengan cara halus.


“Mboook,” panggil Ayu pada si mbok, merasa dipanggil. Si mbok berlari kecil menuju teras samping.


“Iya non,?” si mbok sudah sampai di sana. Matanya melihat ke arah Dipa yang baginya tampan itu, dan benar saja, Dipa memang sangat tampan.


“Siap non, mari tuan,” si mbok meminta Pak Wahono masuk ke dalam.


“Nanti kita ngobrol lagi, Papa nggak boleh telat minum obat dan istirahatnya,”


Pak Wahono mengangkat kedua alisnya, seperti biasa, Ayu selalu mengelak saat diajak ngobrol tentang Dipa dan perjodohan mereka berdua.


                        Tinggalah Ayu dan Dipa berdua di sana.


“Terima kasih sudah datang,” Ayu meletakkan laptopnya. Ayu tahu jika Papanya menginginkan Dipa menjadi menantunya, dan Ayu sendiri sesungguhnya berharap itu terjadi, namun dia juga tidak mau jika ini terjadi jika terpaksa.


“Apa yang kamu pikirkan tentang Papa,?” Ayu melempar pertanyaan yang baru saja terasa tenang setelah Pak Wahono meninggalkan tempat ini.


“Om Wahono sudah aku anggap seperti orang tua sendiri,”


“Bukan, maksudku bagaimana jika Papa menginginkan kita menikah,?” tanya Ayu langsung ke intinya.


“Menikah bukan tentang kita berdua, jadi aku rasa aku belum bisa menjawabnya,” jawab Dipa diplomatis. Ayu mengangguk sambil tersenyum, agak sulit mengambil hati Dipa. Inipun dia sudah tahu, Dipa melakukan penolakan. Andai saja Dipa memiliki hati yang sama, maka tidak akan sesusah ini.


“Ok, nggak masalah, nggak usah kamu pikir,” Ayu menyunggingkan senyum. “Tahu sendiri kan Papa seperti apa,” Ayu terkekeh. Agak kecewa, ya tapi inilah Dipa. Salah satu yang menbuat dia suka pada Dipa adalah sikap Dipa yang dingin.

__ADS_1


Sejenak tidak ada percakapan di antara mereka, deru angin sore menerpa wajah Ayu. Membuat anak rambutnya bergoyang, Ayu menatap ikan yang seolah sedang berkejaran di dalam kolam.


“Aku balik dulu ya, ada janji sama Dania,”


“Oh, ok…makasih ya sudah kesini buat Papa,”


“Semoga Om lekas sehat,”


“Terima kasih,”


Ayu mengikuti langkah Dipa menuju pintu luar, hari semakin sore. Menuju maghrib, Dipa mengendarai motornya menuju rumah.


                        Setelah makan malam, Dania dengan senang hati berganti baju dan segera keluar dari kamarnya. Dipa berjanji akan mengajaknya untuk nongkrong di salah satu coffee shop tak jauh dari rumahnya. Senang sekali, karena ini adalah salah satu kesempatan langka baginya sekarang. Dipa selalu sibuk dengan pekerjaannya.


“Aku sudah siap mas,” Dania merentangkan kedua tangannya. Mengenakan kaos putih dan celana jeangs, rambut panjangnya dibiarkan tergerai, tas selempang kecil warna abu-abu tak lupa sebagai pelengkap fashionnya.


Dipa mengangguk, dia duduk menunggu Dania selesai dandan sejak 30 menit yang lalu.


“Lama ya,?” tanya Dania.


“Lamaaa,” jawab Dipa singkat.


“Ya maaf, namanya juga cewek,” Dania membela dirinya.


            Laju motor perlahan menjauh dari halaman rumah mereka, Dania berpegangan erat. Senang sekali rasanya bisa jalan bareng Dipa.


“Mas,” teriak Dania.


“Hehm,?” Dipa hanya berdehem sambil memiringkan kepalanya, agar suara Dania terdengar.


“Besok pas aku perpisahan, siapa yang bakal datang,?” tanya Dania, dia sudah tidak sabar membicarakan perihal wisuda perpisahan sekolahnya.


“Maunya siapa,?” Dipa balik bertanya.


Dania mengerucutkan bibirnya, ingin menjawab ke intinya, dia ingin Mamanya yang datang. Tapi nyatanya yang ada di depan mata adalah Dipa dan Uti.


“Adanya Mas sama Uti,”


“Ya udah kan, berarti kalau nggak Mas ya Uti,” jawba Dipa.


“Ih,” gerutu Dania, tapi suaranya kalah dengan suara deru kendaraan lain, sehingga Dipa tak mendengarnya. Dania mengeratkan pegangan tangannya, menyandarkan kepalanya di punggung Dipa. Dia merindukan dan menginginkan Mamanya.

__ADS_1


__ADS_2