
Ini adalah hari pertema dia bertemu dengan bosnya, dia bernama Biru. Sekilas tidak ada yang aneh dengan sosok Biru di mata Dipa. Diakuinya, wajahnya cantik di atas rata-rata, kelihatan manis dan tidak neko-neko. Pokoknya sejauh ini dia kelihatan baik-baik saja.
Dipa menyeruput kopi di sudut kursi yang ada di sekitaran gedung bioskop, dia memilih menunggu Biru di sana. Jika sang nona keluar dari bioskop dia siap mengantarnya kembali ke kampus.
Nampak ramai orang keluar dari gedung bioskop, Dipa mengambil gelas kopinya dan segera membuang ke tempat sampah. Bergegas menemui Biru dan teman-temannya. Namun dia masih memantau dari tempatnya dia duduk. Terlihat dari pandangannya, Biru tengah bergelendot manja di lengan seorang pemuda dengan manjanya.
Karena tidak ada aturan Biru tidak boleh pacaran, maka itu di luar tugasnya. Dipa yang belum terlihat oleh Biru dan teman-temannya pun memilih untuk berjalan di belakang Biru seusai Biru keluar dari bioskop.
Biru masih bergelendot manja di lengan Mario, Mario nampak tersenyum datar melihat tingkah Biru.
“Ya udah, aku balik dulu mau ada urusan sama Lukas dan Sean,” pamit Mario.
“Yah…kok cepet banget sih beb? Kan masih kangen,” Biru menatap Mario sembari merajuk.
“Kalau masih kangen bisa ketemu nanti malam,” Mario melipat kedua tangannya di dada. Biru menghela nafas, kedua bola matanya bergerak memutar.
“Aku usahain ya beb,” Biru memegang kedua tangan Mario. Tidak ingin membuat Mario kecewa karena dia menolak ajakannya untuk nongkrong di area balap.
“Ya udah aku balik dulu,” Mario meninggalkan Biru.
Biru menutup pintu mobilnya dengan kasar, lalu dia masuk ke dalam mobil. Luna dan Ros saling memandang heran, karena waktu di bioskop tadi Biru nampak bahagia bersama dengan Mario, tapi kini wajahnya suram.
Rasanya ingin kabur saja, ah menyebalkan sekali punya pengawal. Nggak enak nggak bisa kemana-mana, sungguh menyebalkan sekali.
Benar-benar dia merasa dikekang, Biru melemparkan tasnya ke atas ranjangnya. Ini baru sehari, dia sudah stress setengah mati. Bagaimana jika seminggu, sebulan, bahkan tahunan. Biru menjejak jejakkan kakinya di lantai. Biru bangkit dari duduknya, mondar-mandir mencari cara agar dia bisa keluar malam ini. Tapi bagaimana caranya.
Biru membuka pintu kamarnya dan melihat ke lantai bawah, nampak sepi. Mungkin bundanya sudah berada di kamar.
Biru turun dari lantai atas menuju lantai bawah, mencari Bundanya. Tidak mau jika hukumannya akan semakin ditambah, mau tidak mau dia harus mencari alasan saat ingin keluar.
Tok…tok…
Biru mengetuk kamar bundanya perlahan, tidak ada jawaban. Biru mengetuk lagi, dan pintu pun terbuka.
“Ada apa Bi?” tanya bundanya masih berdiri di depan pintu.
“Bun….” Biru memasang muka manis.
Ganis mengangkat kedua alisnya.
__ADS_1
“Bun…hari ini ada temen ulang tahun lho bun….masa iya aku nggak datang,?” Biru meremas kedua tangannya, dia memang nakal dan badung, tetapi dengan Ibunya dia tetaplah anak manis.
“Oh ya,?” tanya Ganis sembari melangkah keluar dari kamarnya. Biru menggosok tangannya, berdoa dalam hati jika Bundanya tidak akan curiga jika dia sedang berbohong.
“Iya Bun…,” jawab Biru.
“Kamu sudah bilang sama Dipa,?” tanya Ganis memastikan.
“Dipa,? Kenapa Dipa,?” Biru mengernyit.
“Iya, kan harus sama dia, kalau nggak sama dia kamu nggak boleh keluar,” Ganis menjawab tegas. Biru menghela nafas panjang, Dipa lagi Dipa lagi. Baru satu hari sudah membuatnya ingin mati saja rasanya.
“Harus ya Bun,?” tanya Biru dengan ogah-ogahan, membayangkan dia akan berada di area balap terus diawasi oleh Dipa. Oh My God…..
Bundanya mengangguk sambil tersenyum. Ini benar-benar harga mati, tidak bisa lagi ditawar oleh Biru.
“Bagaimana,?” tanya Bundanya.
Biru terdiam sejenak, daripada dia nggak bisa keluar, ya sudahlah dia menerima tawaran ini.
“Ya udah deh Bun…,” Biru menjawab dengan sedikit kesal. “Eh tapi bund…bisa nggak diantar sama Pak Budi saja,?” otak Biru sedang encer sehingga muncullah penawaran itu.
“Yah….,” Biru mendengus.
“Ya kan kamu tinggal pilih dek, mau diantar Dipa atau nggak berangkat,” ucapan itu lembut tapi jelas mengancam.
“Ya udah, eh tapi aku nggak punya nomernya Dipa lho Bun,” Biru masih beralasan.
“Tanya abangmu,”
Biru berbalik arah, lalu kembali meniti anak tangga dan naik ke kamarnya. Daripada tidak berangkat malam ini, jadi dia terpaksa meminta Dipa datang.
“Hah menyebalkan sekali,” gerutunya.
Baru saja Dipa merebahkan tubuhnya di ranjang. Setelah sore tadi dia baru pulang kerja, Dipa
lanjut membantu melatih karate.
Ponselnya berbunyi nyaring saat baru saja dia memejamkan matanya. Dipa mengambil ponselnya dan melihat nomer masuk tanpa nama.
__ADS_1
“Ya Hallo…,”
Wajah Dipa mengernyit, suara itu langsung saja melengking tinggi hingga dia harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Baik Nona,” jawba Dipa tanpa basa-basi, dia sayang telinganya. Daripada harus berlama-lama mendengar suara majikannya itu. Dipa bergegas bangkit dari ranjangnya, dan segera mencuci mukanya agar ngantuknya hilang.
“Mau kemana,?” tanya Uti yang masih sibuk di dapur mempersiapkan kue yang akan dijual esok. Dipa keluar dari kamar dan masih mendapati Uti sedang berada di ruang tengah.
“Ada kerjaan Ti,” jawab Dipa.
“Malam-malam begini,?” tanya Uti dengan wajah heran, karena dia yakin cucunya baru saja masuk kamar sehingga belum sempat memejamkan mata. “Apa nggak bisa besok,?”
“Nggak bisa Uti, harus sekarang,” jawab Dipa.
“Hah…bisa-bisanya kamu mengambil pekerjaan seperti itu, apa kamu nggak capek,?”
“Enggak Uti, tenang saja,”
“Ya sudah, hati-hati ya…,”
“Baik Uti,”
Dipa membenahi jaketnya lalu keluar rumah, bersiap menuju rumah Biru.
Biru memainkan ponselnya di teras rumah sembari menunggu Dipa datang. Andai saja tanpa Dipa dia bisa pergi, maka dia akan sampai dan bertemu Mario sekarang. Biru melihat jam tangannya, memang baru jam 8 malam. Masih terlalu sore baginya.
Terdengar suara deru motor mendekat, dan dilihatnya seorang cowok sedang melepas helmnya. Sekilas menghipnotis netranya. Ah tidak, itu kenapa Mario tidak boleh tahu kalau dia punya pengawal.
Biru melihat jam tangannya.
“Maaf….,” belum selesai Dipa mengucapkan permintaan maafnya karena membuat Biru menunggu, padahal dia sudah ngebut naik motornya.
“Buruan,” Biru bangkit dari kursinya dan mendekat ke mobilnya. Dipa mengangguk lalu bergegas membuntuti Biru yang sudah masuk ke dalam mobil.
“Kemana nona,?” tanya Dipa.
“Sudah gue shareloc, lihat di ponselmu,”
“Baik Nona,” jawab Dipa sambil mengambil ponselnya dan melihat alamat yang dikirim Biru. Dipa tidak asing dengan tempat itu.
__ADS_1
“Itu nomerku, simpan dan jangan pernah dikasihkan ke orang lain,” ujarnya ketus. Dipa hanya mengangguk kecil hampir tidak terlihat. Tanpa perbincangan lagi, Dipa mengantar Biru ke alamat yang dituju.