Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Dongkol


__ADS_3

Biru menjejakkan kakinya lebih keras ke lantai saat memasuki rumah, hatinya benar-benar dongkol. Nampak suasanya rumah lengang.


“Bukeeeee, bunda mana,?” tanya Biru dengan setengah berteriak pada Marni yang tengah memasak di dapur. Yang dipanggil pun langsung menoleh ke arah Biru.


“Nooooon, Nona baik-baik saja,?” tanya Marni dengan wajah berbinar melihat Biru dengan baik-baik saja. Marni mengusap tangannya yang basah dan segera mendekat ke arah Biru, dia belum menjawab pertanyaan Biru dan malah antusias melihat kedatangan Biru.


“Bunda mana,?”Biru tanya lagi.


“Oh, Nyonya lagi pergi arisan,”


Biru mengerucutkan bibirnya, dia menarik kursi kayu meja makan dan duduk di sana.


“Yakali anaknya pulang malah pergi,” Biru mengetuk meja kayu. Marni dengan cepat mengambilkan air putih untuk Biru.


“Minum Non,” Marni menyerahkan segelas air putih.


“Makasih buke…,” Biru segera meneguk air tersebut, dan gelas kembali kosong.


“Nona gimana ceritanya,?” Marni kepo, Biru menopang dagunya dengan kedua tangannya.


“Tau ah Buke…males, gue lapar pengen makan masakan Buke….” Jawabnya.


“Oh siap, Nona mau makan apa,?”


“Apa ya….ehm…yang anget-anget seger, kayak macam dulu itu lho Buke…,” Biru mencoba mengingat.


“Oh yang asem-asem direkomendasikan mas Dipa,?” ceplos Marni.


Terdengar langkah mendekat, dan Dipa masuk dengan membawa barang bawaan dari rumah sakit.


“Eh mas, sini barangnya biar nanti dicuci,” Marni bangkit dari duduknya dan segera mengambul alih barang yang dibawa Dipa.


“Terima kasih mbak Marni,”


“Sama-sama….mas Dipa mau pesan dimasakkan apa? Biar sekalian,” Marni menawarkan, dia masih membiarkan barang bawaan itu tergeletak di lantai sambil menunggu jawaban dari Dipa.


“Terima kasih mbak, terserah saja,” jawabnya.


“Ya sudah, sama seperti Nona saja,” ungkapnya. Dipa mengangguk. Biru yang masih duduk di sana hanya mendengarkan dan tidak tertarik untuk menimpali, dia segera berdiri dan menuju kamarnya.


“Ya sudah, mas Dipa bersih diri nanti kalau sudah siap tak panggil ya…sama Nona juga, pasti kalian pada kangen masakanku,” gumam Marni sambil tertawa kecil.


“Iya,” jawab Dipa singkat. Sebelum Dipa ke kamarnya, dia melirik ke arah Biru yang meniti tangga.

__ADS_1


                        Biru menghempaskan tubuhnya di ranjangnya yang mewah dan empuk itu, menatap langit-langit kamarnya. Hatinya masih dongkol.


“Hiiisssh, bisa-bisanya dia membuat gue kesal, lagian mestinya dia ngejaga pacarnya aja, ngapain ribet sama hidup gue, males banget,”


Tok tok tok….


“Siapaaaaa,?” Biru berteriak.


Pintu terbuka, terlihat wajah Kawa yang nampak tampan itu melongok.


“Abaaaaang,” Biru membelalak, Kawa mengangkat kedua alisnya saat menampakkan wajahnya di di pintu. Dilihatnya Biru bahagia saat melihatnya datang. Kawa masuk ke dalam kamar Biru, Biru berdiri dan menghambur memeluk abangnya erat.


“Ih nggak bilang-bilang mau datang, kapan pulang,?” tanya Biru sambil melepaskan pelukannya.


“Barusan, langsung kesini, pengen lihat adik abang yang baru aja kena bom,” ujarnya sambil tertawa meledek.


“Ih abang,” Biru memukul dada Kawa pelan.


“Kamu baik-baik saja,?” Kawa duduk di tepi ranjang Biru. Biru mengangguk.


“Seperti yang abang lihat, aku baik-baik saja,” Biru merentangkan kedua tangannya.


“Ya..ya…andai tidak ada Dipa, kamu pasti sudah jadi manusia geprek,” Kawa kembali jahiil, membuat Biru cemberut.


“Loh kenyataannya begitu kan,?”


“Nggak gitu juga bang,” Biru mengelak, berusaha tidak menyalahkan Mario. Ah jadi ingat dia lagi, kemana dia? Masih marahkah?. Batinnya.


“Kamu udah gede, bisa membedakan mana yang baik dan yang enggak baik, ayo lah…lebih bisa mikir panjang sekarang,” gumam Kawa mencoba menginterupsi perasaan Biru terhadap Mario yang sampai sekarang masih bucin banget.


“Udah deh bang, aku juga tahu mana yang baik mana yang enggak,” Biru berkacak pinggang.


Kawa menatap adiknya dengan serius, adiknya memang keras kepala. “Sampai kapan kamu mau begini? Hah,?” Kawa mengelus rambut adiknya.


“Akan aku buktiin ke abang jika Mario nggak seperti anggapan orang-orang,” nada bicara Biru meyakinkan. Dia sudah lelah banyak yang menganggap Mario itu bad boy yang tidak pantas untuknya.


“Apa kamu yakin dia mencintai kamu,?” tanya Kawa. Biru menatap Kawa, belum ada jawaban yang meluncur dari bibirnya. Sebenarnya ada ragu, tapi dia tidak mau menunjukkan. Yap, sejauh mana Mario mencintainya? Dia sendiri belum tahu pasti.


“Dia cinta sama aku bang, buktinya kita sudah hampir satu tahun bersama, dan kita baik-baik saja,” Biru masih membela. Toh dia pernah juga pernah selingkuh, tapi Biru masih memaafkan. “Ih udah ah, yuk makan aku lapar,” Biru mengelus perutnya yang memang lapar, dan ini adalah salah satu alasan untuk menghindar dari ceramah abangnya tentang Mario.


“Dih,” Kawa melihat adiknya keluar dari kamar, kemudian dia mengikutinya turun ke lantai bawah untuk makan bersama.


Makanan sudah terhidang di meja makan, masih hangat dan nampak sangat nikmat. Kawa menarik kursi dan duduk di samping Biru.

__ADS_1


“Buke…..,” panggil Kawa ke Marni.


“Iya mas,?” Marni datang mendekat sambil membawa buah satu piring dan dihidangkan di meja.


“Panggil sekalian Dipa, biar makan bareng kita,” perintah Kawa pada Marni, yang diperintah pun mengangguk.


“Baik mas,” Marni pun berlalu mencari Dipa.


Biru melihat ke arah Kawa, kenapa juga Dipa harus makan bareng dia.


“Kenapa,?” tanya Kawa pada Biru yang meskipun hanya tatapan saja, dia tahu Biru bertanya tentang itu.


“Kenapa makan bareng,?” tanyanya.


“Nggak apa-apa, biar makin akrab, biar makin getol jagain kamu yang super duper dablek jadi manusia,” Kawa tertawa kecil. Kembali Biru cemberut mendengar ucapan dari abangnya.


“Hiiish,”


Tak berapa lama, Dipa pun tiba. Dia masih berdiri di dekat Kawa dan Biru yang sudah duduk manis di kursinya.


“Makanlah bersama kita, duduk,” titahnya. Awalnya agak ragu, tapi akhirnya dia menarik salah satu kursi dan duduk bersama Kawa dan Biru.


“Mari kita makan,” ajak Kawa. Dan mereka pun makan bersama. Agak canggung Dipa makan bersama dengan Kawa dan Biru. Begitu juga Biru, dia masih merasa dongkol dengan Dipa.


“Makan yang enak,” Kawa memecah kesunyian yang dari tadi hanay terdengar bunyi piring dan sendok beradu. Biru melirik ke arah abangnya, lalu kembali melihat isi dalam piringnya.


“Abang nggak pengen ngajak aku jalan gitu,?” tanya Biru.


“Kemana,?”


“Ya kemana kek, pengen jalan sama abang,”


“Males ih,”


“Abang ih,” Biru menyenggol kaki abangnya yang tidak jauh dari kakinya. “Kan udah lama nggak jalan sama abang,”


“Dipa, makan yang banyak, lo harus kuat ngadepin makhluk macam dia,” Kawa menunjuk ke arah adiknya. Biru melotot.


“Dikira gue bayi apa,” Biru mencebikkan bibirnya.


“Lo keluar aja sama Dipa,” ujar Kawa.


“Idih, kenapa jadi dia? Ogah, aku mau sama abang, udah dari kapan nggak ketemu sama abang, pengen jalan sama abang, titik!”

__ADS_1


Karena Kawa berada di rumah, kesempatan langka juga untuk bisa jalan bareng adiknya untuk sekedar ngemall bareng. Karena Kawa juga lelah dengan aktivitas kerjanya, sehingga dia berkenan jalan-jalan bersama dengan Biru. Sedangkan Dipa mendapatkan libur.


__ADS_2