Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Baper?


__ADS_3

Angin menerpa wajah Biru yang meskipun sudah terhalang dengan kaca helm, Dipa mengendarai motornya dengan hati-hati agar Biru tidak kaget dengan angin yang menerpa. Jarang sekali Biru mengendarai motor, hampir pasti tidak pernah. Kalaupun pernah pun hanya keliling halaman rumah, paling banter jalanan komplek saja.


“Ternyata menyenangkan,” pekiknya dengan riang, Dipa yang melihat dari kaca spion Biru sedang merentangkan kedua tangannya pun tersenyum. Baginya ini hal biasa, tapi kenapa Biru begitu bahagia.


“Kamu nanti tungguin aku ya, masuk gedung aja,” pinta Biru. Tidak biasanya dia meminta seperti itu, paling banter dulu Dipa disuruh untuk menunggu di parkiran dan tidak boleh terlihat.


“Jangan GR dulu, karena kan ini naik motor, kalau nunggu di parkiran takutnya kamu kepanasan, kan aku nggak mau jadi orang sombong yang membiarkan pengawalnya kepanasan” Biru mencari alasan yang masuk akal. Padahal di parkiran juga ada tempat berteduh, tak jauh dari parkiran juga ada kantin yang bisa digunakan untuk


nongkrong. “Kamu mau kan,?” Biru berbicara dengan mendekatkan kepalanya ke depan.


“Iya,” jawab Dipa singkat. Biru mengacungkan jempol tangan kanan ke depan pertanda sip. Dipa tersenyum tipis.


Mengendarai motor ternyata lebih cepat sampai di kampus karena bebas macet, bisa sat set jalan menembus jalan yang agak ribet.


“Hah sampai juga, ayok,” Biru berjalan ngeloyor begitu saja dengan langkah cepatnya. Dipa melongo melihat Biru sudah meninggalkannya, Dipa meletakkan helmnya di jok motor.


“Bi…tunggu!” Dipa agak berteriak.


“Kenapa? Kamu nggak bisa ngejar aku gitu,?”


“Bukan begitu,”


“Lalu apa?” tanya Biru masih saja berjalan, dan kini semakin menjauh.


“Helmnya belum dilepas,” Dipa mengingatkan. Seketika langkah Biru langsung terhenti seperti rem pakem yang menghentikan laju roda kendaraan.


“Kok nggak bilang,?” Biru berbalik arah dan menatap Dipa, yang ditatap tersenyum kecil.


“Iya maaf,” Dipa minta maaf, seharusnya tak butuh dia yang minta maaf karena Dipa pun sudah mengingatkan, Biru saja yang terlalu bersemangat.


Dipa melepaskan helm yang dipakai Biru setelah gadis itu kesulitan membukanya.

__ADS_1


“Hah, bisa-bisanya lupa kalau masih pakai helm,” Biru memukul kecil helm yang sudah di letakkan di jok motor itu.


“Kebiasaan pakai mobil,” sahut Dipa.


“Iya ya, ya udah yuk,” Biru menarik tangan Dipa, Dipa melihat tangan Biru saat menarik tangannya.


Hingga mereka tiba di gedung perkuliahan Biru.


“Eh maaf,” Biru baru sadar jika sejak tadi dia menarik tangan Dipa. Dipa mengangguk.


“Saya tunggu sini saja ya,” Dipa menunjuk sebuah bangku yang ada di depan gedung perkuliahan. “Nggak enak kalau menunggu di dalam”


“Nggak apa-apa, di sini masih panas, masa kamu tega aku dapat label majikan jahat sih,?” Biru merajuk. Dipa mengangguk lagi, membuntuti Biru.


            Sambil menunggu, Dipa memanfaatkan perpustakaan digital yang ada di sudut ruang perkuliahan. Tanpa disadari, Biru sudah selesai perkulihannya. Gadis itu berdiri di sampingnya. Dipa belum menyadarinya.


“Masih pengen di sini,?” Biru mengagetkan Dipa.


“Oh sudah selesai,?” tanya Dipa sambil menutup layar yang dia baca.


“Kita balik aja ya, kok kelihatannya sudah mulai tebal mendungnya, takut kehujanan,” Dipa sudah berdiri, Biru mengangguk menyetujui.


Mereka keluar gedung bebarengan, saat hampir tiba di parkiran. Mereka berpapasan dengan Mario, tatapan Mario tak lepas dari mereka berdua. Sementara Biru merasa muak.


Kenapa kampus yang luas begini terasa sempit banget hingga mempertemukan dia dengan Mario dengan mudahnya. Mendung sudah menggelayut, Biru rasanya ingin cepat-cepat sampai di parkiran dan tidak melihat Mario lagi.


“Jadi benar selama ini lo selingkuh sama dia?, cih!” Mario seolah meledek. Biru terdiam dan menatap mata Mario dengan tajam, tidak ingin mengumpat apapun. Sudah cukup waktunya untuk Mario.


“Jangan mengatakan apapun untuk dia, dia terlalu baik untuk kamu sakiti” gertak Dipa dengan suara tegas.


“Kalau memang gue suka dan pacaran sama dia kenapa? Ada masalah sama elo?” Biru menatap Mario dengan tatapan benar-benar muak dan marah. Tangannga menggamit lengan Dipa dengan manja seolah menunjukkan jika mereka adalah pasangan.

__ADS_1


Dipa agak kaget dengan perlakuan Biru, tapi dia berusaha tenang setenang mungkin. Menjinakkan jantungnya yang degupnya semakin tak karuan.


“Hah sudah berani ngomong lo sekarang!”


“Jangan sakiti Biru, atau kamu akan berurusan dengan saya!” Dipa menatap Mario tajam. Mario merasa kesal karena merasa ditantang oleh Mario, kalau saja tidak di kampus dan tidak ada CCTV di mana-mana, dia sudah memukul Dipa.


Begitu juga Dipa, jika saja tidak berada di lingkungan kampus, dia sudah akan menarik Mario dan menghajarnya sebagai balasan sudah menyakiti Biru selama ini.


Biru menarik lengan Dipa dan mengajaknya bergegas meninggalkan Mario gila itu, tangan Biru masih menggamit lengan Dipa dan baru sadar saat sampai di dekat motornya.


“Sorry aku kebawa suasana” Biru kembali insyaf sudah menggamit lengan Dipa. Dipa diam saja, dia memakaikan helm Biru dan mengajak Biru segera naik ke atas motor dan pulang. Karena mendung begitu tebal, khawatir mereka akan kehujanan di tengah jalan.


Benar saja, belum sampai separoh perjalanan, hujan mengguyur. Kebetulan tidak ada jas hujan di dalam jok motor. Dipa menepikan motornya di emperan toko, ada beberapa orang yang juga berhenti di sana menunggu hingga hujan reda.


“Wah ternyata menyenangkan juga bisa berteduh begini,” Biru terkekeh. Dipa menghela nafas panjang, kenapa Biru sesenang ini.


“Saya telfonkan Pak Budi ya, biar kamu dijemput di sini?” Dipa meminta persetujuan, tak lucu rasanya jika Biru akan sakit setelah kena angin dingin saat hujan begini.


“No, aku nggak mau,” Biru menatap air hujan yang jatuh di aspal, terasa menyejukkan dan menenangkan. “Aku mau menunggu hujan reda dan pulang naik motor,” Biru tetap kekeh dengan keinginannya.


“Kenapa,?” Dipa iseng bertanya.


“Karena aku suka hujan, dan aku senang naik motor,” jawaban terdengar klise. Dipa tersenyum kecil, bukan itu yang ingin dia dengar sebenarnya.


“Kenapa melihatku seperti itu,?” Biru menatap ke depan, tapi seolah dia tahu jika Dipa sedang menatapnya.


Dipa menggeleng, “Baik saya turuti” ungkap Dipa kemudian tanpa menjawab pertanyaan dari Biru.


Terdapat seorang pasangan yang lumayan sepuh yang juga berteduh di dekat mereka.


“Kalian pengantin baru?” tanya si nenek. Biru menunjuk dirinya, memastikan jika yang diajak bicara adalah dia.

__ADS_1


“Iya kamu nak, kalian pasangan yang sangat serasi,” imbuh sang nenek. Biru mengatupkan bibirnya sambil menahan senyum, pipinya terasa panas. Bisa-bisanya nenek itu beranggapan demikian. Dipa hanya melihat ke arah Biru lalu ke nenek, Dipa hanya melemparkan senyum manisnya dan mengangguk kecil, terasa tak enak.


Baginya mungkin penghargaan, tapi bagi Biru, jelas bukan kelasnya.


__ADS_2