Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Hati Yang Cerah


__ADS_3

“Nona…,”


“Ya?” tanya Biru sebelum keluar dari mobilnya. Dipa terdiam sejenak, melihat ke arah Biru yang masih menahan dirinya untuk keluar.


“Ehm…enggak….oh ini tertinggal,” Dipa mencari alasan, dan menyerahkan kacamata hitam Biru yang tergeletak di sampingnya. Dipa nampak gugup.


Biru menyipitkan mata dan nampak sebal melihat kebegoan yang hakiki dari Dipa. What? Kacamata?. Biru menghembuskan nafas, tanpa mengambil kacamata yang diulurkan Dipa, Biru keluar dari mobil dan menghempaskan pintu mobilnya.


Dipa memejamkan mata dan menepuk dahinya, sebodoh itu yang dilakukannya.


                        Biru berjalan dengan anggun menuju kelasnya.


“Cie…yang lagi bahagia,” ujar Luna. Biru tetap berlalu. Karena dia sedang memikirkan tugasnya yang belum selesai, boro-boro memikirkan tugas, hatinya sedang sibuk bahagia karena Mario. Titik!


Biru menghampiri Jennara yang sedang duduk di kursinya, tepatnya di pojok kelas. Terlihat gadis berkaca mata itu sedang membaca buku. Biru menarik kursi yang ada di depan Jennara dan membalikkan menghadap Jennara.


“Hai,” sapa Biru sambil tersenyum.


“Oh iya, ini.” Jennara mengeluarkan lembaran kertas yang ada di dalam tas ranselnya.


“Thanks Jenna, lo baik banget,” Biru mengambil tugas tersebut dan tersenyum manis. “Gue nggak akan pernah lupa dengan kebaikan lo,” kerlingnya.


“Sama-sama,” ujar Jennara sambil membalas dengan senyuman. Biru yang sudah mendapatkan tugasnya pun kembali ke kursinya.


“Ih lo jahat banget selalu manfaatin Jenna,” Ros mencebik.


“Nggak usah syirik, lagian dia juga nggak merasa gue manfaatin,” Biru membela diri, dia meletakkan tugas di depannya, siap dikumpulkan hari ini.


“Lagi bahagia, senyumnya ngembang mulu kek kembang mawar,” ujar Luna, masih mencoba menggoda Biru yang belum sama sekali bercerita perihal acara baikannya dengan Mario.


“Iyes, gue bahagiaaaa,” Biru merentangkan kedua tangannya ke samping.


                        Seperti sebelum-belumnya, jika Biru bahagia, maka dia akan senang hati mentraktir teman-temannya. Kali ini Biru mengajak mereka ke mall, sebenarnya bukan murni kemauan Biru, Luna dan Ros lah yang memberikan ide untuk berbelanja di sini.


“Ini ada tas keluaran baru lho Bi,” ujar Luna sambil bersemangat berjalan menuju toko tas yang dimaksud.


“Oh ya,?”


“Iya,” Luna masih berbinar. Mereka bertiga berjalan bersama, sedangkan Dipa membuntuti dari belakang. Selepas kuliah hari ini usai, Biru benar-benar menuruti Luna dan Ros untuk shopping.

__ADS_1


“Ih cantik banget,” Luna mengangkat sebuah tas dengan merk mahal, dan memang ini keluaran terbaru. Biru melihat tas warna hitam yang dijinjing oleh Luna.


“Ini juga cantik,” Ros menunjuk yang warna coklat tua. “Ini keluaran baru juga kan kak,?” tanya Ros pada penjaga toko.


“Iya kak, dua ini sama-sama keluaran terbaru, baru kemarin,” jawab pegawai perempuan itu dengan ramah. Ros dan Luna nampak sangat bahagia. Jika untuk ukuran Biru, barang tersebut kurang nendang di hatinya.


“Boleh nggak nih ditraktir ini,?” Luna tersenyum ke arah Biru dengan mata berbinar.


“Ambil aja,” Biru mengibaskan tangannya.


“Lo nggak beli,?” tanya Ros. Biru menggeleng.


“Nggak sreg di hati,” imbuhnya lalu duduk di sebuah kursi, tangannya mengeluarkan ponsel dan membukanya. Ada pesan yang masuk dari Mario. Biru membalas pesan tersebut dengan wajah senangnya.


“Sudah Bi,” teriak Luna dari meja kasir, tangannya melambaik ke arah Biru. Biru memasukkan ponselnya dan berjalan ke arah Ros dan Luna yang masing-masing membeli satu tas.


“Ini,” Biru mengeluarkan kartu sakti warna hitamnya. Ros dan Luna sangat senang, punya teman seperti Biru memang sangat menyenangkan, nggak pernah itung-itungan. Biru menyerahkan kartunya itu pada kasir.


“Eh tolong bungkus satu lagi kak,” ujar Biru.


“Katanya nggak suka?.” Luna melihat ke arah Biru.


“Ehm…yang mana ya? Pokoknya anaknya manis, pendiam, cocoknya yang mana ya kak,?” tanya Biru. Pegawai itu membawa Biru ke etalase koleksi lainnya. Terdapat warna krem muda yang cantik.


“Ini bukan keluaran baru,?” tanya Biru sambil menunjuk tas tersebut. Terlihat Ros dan Luna masih mematung di depan kasir sambil saling bertanya dengan apa yang dilakukan oleh Biru.


“Bukan kak, bulan kemarin sih kak, tapi bagus juga,” ujarnya.


“Ok, ini ya kak,” Biru memutuskan.


“Baik kak, mau dicek dulu,?” tanyanya.


“Nggak usah, gue yakin pasti bagus deh kalau kakaknya bilang bagus,”


“Baik kak, silahkan ke kasir,” ujar pegawai dengan ramah.


“Katanya nggak suka,?” tanya Ros begitu melihat Biru kembali ke kasir.


“Buat seseorang,”

__ADS_1


“Seseorang,?” Luna bertanya kembali, Biru tidak menjawab kali ini. Tangannya menerima uluran kartu dari kasir. Lalu mereka menerima barang belanjaannya masing-masing. Daripada ribet, Biru menyuruh Dipa untuk membawakan barang belanjaannya.


Tidak hanya tas, mereka juga membeli baju, sepatu, dan barang lainnya.  Sebegitu royalnya Biru pada temannya itu.


Setelah mereka puas, mereka makan di sebuah restoran yang ada di dalam mall tersebut. Tak lupa Biru pun menyuruh Dipa untuk makan siang sekalian, tetapi berada di meja yang berbeda. Dipa mengiyakan saja, barang bawaan dari tiga gadis itu benar-benar menggunung, dia meletakkan di kursi dan sebagian lagi di lantai. Dipa menggelengkan kepalanya. Beginikah cara orang kaya belanja? Benar-benar tidak mengkhawatirkan isi dompet jebol, bahkan mereka tidak menggunakan uang cash sama sekali.


Dipa tersenyum tipis, menertawakan dirinya. Kapan dia akan bisa membahagiakan nenek dan adiknya, mengajaknya belanja sesuka hatinya.


Terdengar gelak tawa dari Biru dan teman-temannya, mereka sangat bahagia, terlebih wajah Ros dan Luna yang nampak puas berbelanja gratis dengan uang Biru.


“Thanks ya Bi…semoga hubungan lo sama Mario langgeng selalu,” doa Ros dan diamini oleh Luna.


“Kalau lo bahagia, gue juga ikut bahagia,” sahut Luna.


“Ish…jangan peres,”


“Nggak peres lah Bi, lagian kita emang pengen lo bahagia kok sama Mario,” bantah Ros, Luna mengangguk.


“Eh tapi itu pengawal lo serius deh, cakep amat,” puji Luna sambil melihat Dipa dari jarak jauh, yang ditatap sedang tidak memperhatikan ketiga cewek itu.


“Kalau lo suka bilang aja,” Biru menaikkan bibirnya.


“Siap, bantuin yak,” Luna terkekeh.


“Ogah,” Biru buru-buru menolak.


“Oh ya Bi, kemarin lo kabur nggak kuliah kemana? Nggak yakin sih kalau lo pulang begitu aja,”


“Uhm,?” Biru menyipitkan kedua matanya. Sedang mencari jawaban untuk pertanyaan itu, jika dia jujur kalau dia pergi ke pantai sama Dipa maka akan menimbulkan asumsi aneh-aneh dari Luna dan Ros.


“Gue…gue ada lah,” Biru mengibaskan tangannya.


“Elaah Bi, sekarang suka main rahasia-rahasiaan sama kita,”


“Ya pokoknya adalah, nenangin diri,”


“Ya udah deh, apapun itu yang penting lo bahagia sekarang, dan udah baikan sama Mario si pujaan hati,”


Biru mengangguk, mengangkat jempol tangan kanannya lalu menyeruput minumannya dan segera beranjak meninggalkan restoran ini.

__ADS_1


__ADS_2