Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Perginya Mama


__ADS_3

Dania menangis di kamar setelah Uti sama sekali tidak menjawab pertanyaannya, hanya raut wajah kesal dan marah.


“Masuklah ke kamarmu dan jangan pernah lagi bertanya tentang Ibu kamu,” bentak Uti. Dania yang biasanya selalu ceria merasa terpukul mendengar Uti marah kali ini. Dania memeluk guling dan sesenggukan. Air matanya tumpah begitu saja.


Dania rindu meskipun belum pernah sekalipun dia tahu wajah Mamanya, setidaknya kalau mamanya sudah tiada, dia bisa ke makamnya. Ada apa gerangan hingga Uti seperti sangat membenci mamanya, kesalahan apa yang diperbuat oleh mamanya.


            Uti di balik pintu kamar Dania nampak sangat menyesal sudah membentak Dania, gadis itu terlihat terluka. Uti merasa bersalah pada cucu kesayangannya itu.


“Uti….,” sebuah suara mengagetkannya. Uti menoleh ke arah Dipa yang berdiri tak jauh darinya, Uti tak mendengar kedatangan Dipa sebelumnya.


Teras dengan kursi kayu menjadi pilihan Dipa dan Uti untuk berbincang, Uti mengusap air matanya.


“Aku pulang sejenak karena khawatir keadaan Uti, syukur kalau Uti sudah membaik,” Dipa membuka perbincangan.


“Kamu sudah lama datangnya?” tanya Uti. Dipa mengangguk, Dipa mendengar apa yang dibicarakan oleh Uti dan Dania tadi.


“Kamu sudah mendengarnya tadi, Uti jahat ya?” Uti menyesal, air matanya kembali mengalir.


“Uti…aku dan Dania tidak pernah mengerti kenapa ini terjadi, yang aku tahu Mama jahat karena meninggalkan kita,” Dipa menunduk, itulah cerita yang selalu dia dengarkan dari Utinya.


“Mamamu yag telah membuat ayahmu meningga dunia, setelahnya dia meninggalkan kalian dan tak pernah sekalipun memberikan kabar,” itulah kalimat yang selalu dia dengar dari Utinya.

__ADS_1


Flashback


Beberapa hari setelah kepergian Arhan, Uti menjadi sangat pendiam dan terlihat sangat depresi dengan situasi ini. Anak semata wayangnya meninggalkannya untuk selamanya, sangat menyakitkan. Tanpa pamit, tanpa firasat apapun. Dan informasi yang santer terdengar karena Arhan terlalu terforsir hidupnya untuk bekerja memenuhi kebutuhan keluarga, dan kemungkinan banyak fikiran sehingga terkena serangan jantung.


Uti teringat malam sebelum kejadian, Sandra meminta izin untuk pergi ke luar negeri bekerja, bisa saja itu yang menjadi beban pikiran Arhan semakin berat. Uti merasa snagat kesal dengan Sandra, perlakuannya kepada Sandra tak lagi sama. Dia sangat marah dan muak melihat Sandra.


“Bu…makan yuk,” Sandra membujuk Uti, wanita itu sedang duduk selonjor di atas dipan kamarnya. Matanya tidak melihat ke arah Sandra yang berusaha menyuapkan makanan untuknya. “Makan sedikit saja,” Sandra kembali membujuk. “Ibu sudah 3 hari tidak makan, nanti Uti sakit,” Sandra masih lembut.


Tak berapa lama, Uti menepis sendok yang berisi nasi. Hingga berhamburan ke lantai. Sandra terkejut dengan perlakuan yang dia dapatkan dari Uti, tidak biasanya Uti melakukan hal begini. Sandra tersenyum, maklum dengan apa yang sedang Ibu mertuanya rasakan. Bisa jadi Uti masih sangat kehilangan Arhan, sama seperti halnya dia.


“Baik Bu…saya letakkan di sini ya makanannya, nanti dimakan ya…,” ucap Sandra dengan lembut. Namun tidak ada jawaban dari Uti. Sandra keluar bilik, masuk ke biliknya dan melihat Dania tertidur. Air matanya menetes, rasanya kebahagian benar-benar raib dari keluarganya yang dulu bahagia.


Sandra mengusap air matanya, berderai begitu saja. Hatinya terasa sakit, entah apa yang membuatnya sakit. Apakah karena dia kehilangan sosok suaminya? Atau karena perlakuan Ibu mertuanya yang kini berbeda. Sesakit ini.


Masih dengan posisi semula, Uti mendekat ke arah pintu kamar Sandra, menyadari kehadiran Ibu mertuanya. Sandra menghapus air matanya dengan segera, wajah yang tadi sayu pun kini berhias senyum menyambut ibunya.


“Uti…Uti perlu sesuatu? Biar saya siapkan,” ujar Sandra sambil berdiri menatap Uti, dia senang akhirnya Uti mau menemuinya, mungkin mau bicara padanya.


Uti berjalan keluar, Sandra mengikutinya. Mereka ngobrol di sebuah kursi kayu tak jauh dari dapurnya. Belum genap 7 hari Arhan meninggalkan mereka semua.


“Sandra, pergilah dari sini,” ucap Uti. Pandangannya melihat ke arah lain, tak sudi rasanya dia melihat sosok Sandra. Berhari-hari dia memikirkan kenapa Arhan bisa meninggal mendadak, jelas Arhan sedang memikirkan sesuatu yang berat kala itu. Terakhir yang dia tahu, malam itu mereka sedang memperdebatkan sesuatu.

__ADS_1


“Kamu menghabiskan pikiran Arhan, kamu egois sebagai istri, tidak mengerti kedaan Arhan hingga kamu ingin meninggalkan dia dan bekerja keluar negeri, sekarang pergilah. Pergi seperti keinginan kamu, tinggalkan anak-anak di sini, biar aku yang urus,” nada bicara Uti benar-benar terdengar kesal dan marah. Ini adalah sambaran petir yang kedua setelah berita kematian mendadak suaminya. Air mata kembali turun membasahi pipinya, Sandra tercekat. Kenapa ini yang dia peroleh. Uti tidak tahu masalah sebenarnya yang terjadi.


“Uti…,”


“Tidak ada yang perlu kamu jelaskan, Arhan meninggal karena kamu, pergilah!” Uti sedikit meninggikan nada suaranya hingga Sandra tersentak.


“Uti, aku mohon…izinkan aku bersama anak-anak, menjaga mereka dan Uti,”


“Aku nggak butuh kamu, kamu sudah merenggut Arhan, tinggalkan kami, pergilah,”


Setelah perdebatan sengit malam ini, Sandra masih bertahan dengan segala hal yang membuatnya terluka batin. Uti salah faham dengan apa yang Uti dengar tentang malam terakhir sebelum suaminya meninggal. Uti mengira jika dia tidak mau menerima Arhan karena keterbatasan ekonomi. Ingin Sandra berteriak dan protes kenapa jalan hidupnya seperti ini. Sandra tergugu di samping Dania yang sedang pulas tertidur.


Keesok harinya masih sama, Uti sama sekali tidak mau bicara padanya. Dan ketika bicara, masih sama. Uti ingin Sandra pergi dari sini, dia benar-benar muak dengan keberadaan Sandra.


“Jangan pernah kembali kesini, menghilanglah dari pandanganku, jangan pernah mencari anakmu,” pesan terakhir Uti sebelum Sandra benar-benar menyerah.


Sandra bukan menyerah, dia hanya ingin memberikan waktu pada Uti untuk bisa berfikir jernih dan berubah pikiran. Sandra pamit pada Dipa yang sudah paham akan arti ditinggalkan.


“Mama pergi kerja sebentar ya, pasti Mama segera pulang,” pamitnya kala itu. Dipa pun mengangguk, memeluk mamanya dengan mata berkaca-kaca, begitu juga Sandra. Setelah itu dia mengecup Dania kecil yang sedang bermain di lantai.


“Mama pergi dulu ya nak, mama akan segera kembali nanti,” janji Sandra. Dania kecil yang belum mengerti apapun hanya diam saja sambil bermain boneka.

__ADS_1


“Jaga adik ya mas,” Sandra mengelus puncak rambut Dipa dan menyunggingkan senyum.


“Iya ma,” Dipa mengangguk. Dia melambaikan tangan pada mamanya pada saat mamanya perlahan menghilang dari pandangannya, Sandra naik ojek menuju terminal. Bahkan dia tidak tahu arah tujuannya kemana.


__ADS_2