
Uti sudah semakin membaik kondisinya, Dipa merasa lega. Melihat Uti sehat adalah salah satu doa yang dia langitkan, orang yang sangat berjasa dalam hidupnya dan sudah dia anggap sebagai orang tua pengganti Papa dan Mamanya. Dania sedang membolak-balik buku pelajarannya, karena besok ulangan terakhir. Sudah berkali-kali Uti memintanya agar belajar saja di rumah, tidak usah menunggu di rumah sakit. Tapi Dania kekeuh, tidur di rumah sakit tidak akan mengurangi keseriusannnya dalam belajar. Akhirnya Uti dan Dipa mengiyakan.
Dipa duduk di samping Uti sambil mengulurkan gelas berisi air hangat yang diminta Uti.
“Sebentar lagi kamu wisuda, dan apa rencana kamu,?” tanya Uti sambil menatap cucunya yang tampan itu. Dipa membatin, benar juga yang diucapkan Uti, sebentar lagi dia akan wisuda. Dan seperti apa yang dia cita-citakan, dia ingin melamar pekerjaan dulu sebelum dia ingin berbisnis nantinya. Setidaknya dia akan mencari modal usaha terlebih dahulu.
“Ingin melamar kerja Uti,”
“Uti kira, Perusahaan Pak Wahono akan sangat senang jika tenaga kamu berada di sana,” secara halus Uti mendorong Dipa untuk melamar di perusahaan Ayu dan Papanya. Dipa menatap Utinya tanpa ekspresi, masih bimbang dalam hatinya. Apakah harus menuruti apa pesan Utinya atau mengikuti kata hatinya yang ingin mencari pekerjaan di tempat baru, yang benar-benar baru tanpa ada embel-embel orang dalam.
“Iya nanti Dipa nyari lowongan Uti, nyoba yang sesuai dulu sama ijazah,” Dipa terkekeh, sambil mencoba menenangkan Uti. Uti yang sudah mulai ditebak kemana arahnya, tetap sama, Uti ingin Dipa bersanding dengan Ayu.
“Dan lagi…kamu sudah harus memikirkan masa depan kamu, berumah tangga,” Uti menandaskan.
“Mas Dipa mau nikah,?” Dania menyahut, matanya langsung ke arah Dipa. Sedangkan Dipa memasang wajah datar, belum ada gambaran kesana sama sekali. “Siapa calonnya?”Dania kepo.
“Anak kecil mau tahu saja,” Uti mengibaskan tangannya sambil tersenyum, Dipa masih tidak bereaksi. Dania mendengus, lalu kembali membuka bukunya saat tidak mendapatkan jawaban dari Dipa atau Utinya.
Dipa keluar kamar perawatan setelah melihat Uti tertidur, begitu juga Dania yang tidur di ranjang penunggu. Dipa sengaja mengambil kamar VIP, demi Utinya. Toh dia sekarang bisa menghasilkan uang yang lumayan.
Dipa menghela nafasnya, lalu duduk di kursi yang tak jauh dari kamar perawatan Utinya. Dari kejauhan terlihat seorang wnaita cantik tengah duduk juga di kursi sedang melihatnya, senyumnya mengembang. Dipa yang merasa asing pun melihat wanita tersebut, dia bertanya pada dirinya, apakah wanita itu tersenyum menyapanya? Atau ada orang lain yang disapa. Dipa melihat sekelilingnya sepi, tidak ada orang. Dipa membalas senyum wanita tersebut, mungkin saja wanita tersebut mengenalnya, tapi dia lupa siapa.
Tak berapa lama, wanita itu berjalan mendekat ke arahnya.
“Maaf, apa Ibu mengenal saya,?” tanya Dipa dengan ramah. Wanita itu terdiam, tapi senyumnya mengembang.
“Boleh saya duduk,?” tanya wanita itu, wanita yang tidak lain adalah Indadari. Kebetulan dia kembali ke rumah sakit untuk membesuk saudara.
“Oh silahkan,” jawab Dipa ramah meskipun wajahnya terlihat datar.
__ADS_1
“Siapa yang sakit,?”
“Nenek saya,”
“Oh, saya juga sedang membesuk saudara saya yang sakit,” ungkap Indadari memulai percakapan, entah dia harus mulai dari mana. Tapi batinnya terasa sangat dekat dengan pemuda yang ada di kursi sampingnya.
“Maaf kalau saya membuat kamu bertanya-tanya, menyapa kamu, terasa aneh ya,?” Indadari tersenyum, matanya menatap lekat wajah Dipa. Ingatannya kembali ke beberapa tahun yang lalu saat dia meninggalkan anak laki-lakinya.
“Mungkin dia seumuran kamu,”
“Oh maaf, jika saya mengingatkan Ibu pada putra Ibu, Ibu jadi sedih,” Dipa merasa tak enak hati pada wanita itu. Wanita itu menggeleng, tidak mau Dipa menyalahkan dirinya, karena ini bukan kesalahannya.
“Tidak, tapi Ibu senang bisa melihat kamu. Oh ya, namaku Indadari, tolong sapa Ibu kalau kita ketemu suatu saat nanti ya..” pesan Indadari sebelum dia berpamitan karena sudah malam.
“Iya Bu,” jawab Dipa. Senyum Indadari kembali mengembang, dia sudah berdiri dan bersiap pergi.
“Terima kasih, nama kamu siapa,?”
“Oh Dipa, nama yang bagus, salam buat nenek semoga lekas sehat,”
“Iya Bu, terima kasih,” Dipa ikut berdiri dan mengangguk pelan. Perlahan, Indadari melangkah meninggalkan Dipa yang kembali duduk di kursinya. Dia melihat wanita itu hingga tak kelihatan lagi langkahnya.
Jika wanita yang bernama Indadari itu teringat akan putranya, begitu juga dia ingat akan Mamanya yang meninggalkannya. Ah harusnya dia tidak mengingatnya, karena mamanya sengaja meninggalkannya. Dipa tidak ingin mengingat, bahkan tidak ingin sama sekali mencari tahu keberadaan wanita itu. Entah masih hidup atau sudah
meninggal.
***
Pagi ini tak lagi sama, Indadari merasa sangat senang saat akan membesuk saudara suaminya yang sakit di rumah sakit ini. Ada dorongan semangat yang lain, setidaknya dia bisa melihat Dipa yang mirip putranya.
__ADS_1
Tapi tatapannya berbeda, Dipa tidak terlihat sama sekali pagi menjelang siang ini.
“Maaf sus, pasien yang ada di kamar itu apakah masih dirawat di sini,?” Indadari menunjuk sebuah pintu di mana Uti dirawat di sana.
“Oh, pasien di sana? Sudah pulang Bu, barusan keluarnya,” jawab perawat itu dengan ramah saat selesai memeriksa saudaranya.
“Oh,” jawaban itu yang keluar, ada rasa kecewa yang dia rasakan. Bahkan dia tidak tahu di mana Dipa tinggal, ah kenapa dia menganggap bahwa dia benar-benar anak kandungnya?.
Indadari keluar kamar perawatan saudaranya, melangkah ke lorong. Barangkali dia masih bisa bertemu dengan Dipa, ternyata tidak ada. Benar adanya jika Dipa sudah pulang ke rumah mungkin.
Indadari kembali masuk ke dalam kamar.
“Mbak…,” sapa adik suaminya itu.
“Iya,”
“Mbak melamun,?” tanya adik apirnya.
“Oh enggak,”
“Nyari siapa sih,?”
“Enggak…itu lho kemarin mbak ketemu sama seseorang, sempat ngobrol kok sekarang sudah pulang,”
“Oh,”
Indadari kini hidup berkecukupan, bersuami seorang pengusaha kaya raya, bisa dibilang dia adalah sosialita kini, berusaha mengubur masa lalu yang menyakitkan. Bagaimanapun dia sedang berusaha menyembuhkan mentalnya, rasa luka, trauma dan kehilangan. Betapa dia memendam rindu pada kedua anaknya.
Untung saja dia memiliki suami yang sangat memahami keadaannya, bahkan Indadari sendiri yang meminta mengganti nama agar dia bisa memulai hidup baru setelah sekian lama depresi. Sudah beberapa tahu dia selalu mengunjungi klinik jiwa untuk memulihkan kejiwaannya.
__ADS_1
Andai bisa mengulang waktu, dia akan memilih bertahan seberapa lukanya saat itu. Karena dia benar-benar menyesal telah meninggalkan kedua anaknya, dan rindunya kini terasa sebagai penyakit. Tapi dia harus melawan, dia harus sehat mentalnya. Dan kini dia harus kuat.
Indadari menatap ke luar jendela, batinnya terasa sesak. Tapi dia harus benar-benar berjuang kini.