Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Aku Sudah Sampai


__ADS_3

Kenapa hatinya terasa galau, terasa gelisah. Biru kembali membuka tutup botol minumannya. Kenapa tadi Ayu kesini? Ada apakah sebenarnya antara Dipa dan Ayu?. Biru memukul pelan kepalanya, mengingatkan pada dirinya, tak usahlah dia berpikiran yang aneh-aneh. Biarin aja, ini adalah hidupnya Dipa.


“Gue mau nemenin Uti, gue mau minta resep rendang buatan Uti,” Biru berdiri meninggalkan kursinya, Dipa melongo melihat Biru sudah melangkah. Dipa bergegas mengikuti Biru yang berjalan kembali menuju kamar perawatan Uti.


Biru membuka pintu perlahan, kebetulan Dipa mampir ke ruang perawat untuk menanyakan sesuatu.


“Uti sudah bangun,?” Biru menutup pintu dengan hati-hati.


“Sini,” Uti melambaikan tangan.


“Uti mau makan,?” Biru menawarkan, Uti menggeleng.


“Apa Dipa nakal saat kerja,?” pertanyaan Uti terdengar lucu, seperti nenek yang khawatir pada cucu yang masih TK. Biru menggeleng.


“Dipa baik Uti,” Biru tersenyum, memang Dipa sebaik itu. Tak pernah Dipa mengecewakan dia. Ah sadarlah, kenapa Biru kembali seolah memuji Dipa.


“Syukurlah kalau dia bekerja dengan baik, Uti khawatir jika dia nakal atau menyakitimu nak, Uti senang sekali mendengar cerita Dipa jika Nona dan keluarganya baik sekali dengan dia, terima kasih ya,” Uti berucap dengan tulus. Biru merasa tersanjung. Ah masa iya Dipa sering menceritakan tentang dirinya pada Uti. Hal ini membuatnya merasa benar-benar tersanjung. Tapi apa yang diceritakan Dipa tentangnya? Hal baikkah? Atau kebawelan dia.


“Uti…,”


“Iya? Ada yang ingin kamu sampaikan nak? Tentang kenakalan Dipa?” tanya Uti penasaran. Biru mengibaskan tangannya sambil menggeleng.


“Bukan Uti….”


“Oh lantas kenapa,?”


“Dipa cerita apa sama Uti tentang aku,?” Biru menggigit bibirnya sendiri, sambil menahan malu. Kenapa dia bertanya seperti ini kepada Uti.


“Oh enggak…Dipa ceritanya baik-baik kok, kan memang kalau baik kenapa harus menceritakan yang buruk,” jawab Uti. Biru menahan rasa bahagianya, kenapa Dipa sebaik itu? Padahal dia galak banget menurutnya. Biru menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ingin tersenyum, tapi takut dianggap gila. Ah entahlah, kenapa dia bisa senyum-senyum sendiri nggak jelas begini. Kedua tangannya digosok. Uti melihat Biru yang lagi salah tingkah.


“Kenapa,?”


“Oh enggak Ti, hehe…” pipi Biru memanas, jangan sampai dia kelihatan sedang salah tingkah. “Ti….kapan hari aku makan rendang yang dibawa Dipa, enaaaak banget,”


“Oh ya?” Uti nampak senang mendengarnya. Biru mengangguk dengan wajah bahagia. “Kamu suka,?” tanya Uti lagi.


“Banget Ti, enak banget,”


“Oh baik, kapan-kapan Uti buatin buat Non Biru,”

__ADS_1


“Jangan panggil Non lah Uti, panggil aja Biru,”


“Nggak enak, masa iya Uti panggil nama aja?,” bagaimanapun Biru adalah bosnya Dipa.


“Nggak apa-apa Uti, Biru” Biru kembali menegaskan. Biru tak enak hati jika sampai Uti memanggilnya non, dia merasa biasa saja dan tidak ingin dianggap bos atau apapun itu. “Uti cepat sehat ya..,” Biru mengelus tangan Uti lembut, mengingatkan akan Omanya. Sudah lama dia tidak bertemu dengan Omanya, dan dia merindukan Omanya.


Uti Dipa merasa senang dengan seseorang yang sedang berbincang di sampingnya itu, ternyata baik dan ceria. Betapa bersyukurnya Uti saat ini.


“Iya, nanti kalau sudah sehat bener ya Biru kesini lagi,”


Biru mengangguk mantap.


                        Dipa mengantarkan Biru hingga parkiran depan rumah sakit. Merasa tak enak hati karena tidak bisa


mengantar Biru sampai rumah.


“Lo nggak usah merasa bersalah, gue nggak apa-apa, lagian lo kan dalam masa cuti kan,” Biru menenangkan seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Dipa. Pemuda tampan itu mengangguk kecil. Ah tidak, kenapa dia memuji ketampanan Dipa. Meskipun sedang dalam keadaan lelah pun Dipa kelihatan tampan.


“Saya merasa nggak enak, sudah membuat nona kesini, dan sekarang saya tidak bisa mengantar nona,”


Biru melipat kedua tangannya di dada, sambil menghembuskan nafas dan melihat wajah Dipa.


“Please deh Dip…lo nggak salah, gue yang kesini dan itupun bukan karena elo, tapi gue pengen ketemu Uti,” skak Biru.


“Gue bakalan hati-hati, gue janji,” Biru tersenyum manis ke arah Dipa, Dipa mengangguk. Tidak tega tapi dia juga harus menunggu Utinya karena Dania belum datang. “Tungguin Uti, semoga lekas sehat, dan gue bakal kesini lagi mau buat rendang sama Uti,” Biru kembali tersenyum, tumben-tumbenan gigi gadis itu sering terlihat, nggak jutek, dan terlihat menyenangkan.


Dia merasa lega melihat Biru sudah terlihat baik-baik saja, semoga rasa patah hatinya sudah membaik.


“Lo jangan ngelihatin gue seperti itu,” Biru mengibaskan tangannya, pipinya terasa panas dilihat Dipa seperti itu. Dipa pun sadar dengan apa yang dilakukannya, kenapa juga dia melihat Biru seperti itu.


“Maaf, silahkan nona,” Dipa membukakan pintu untuk Biru.


“Makasih, gue aman,” Biru memegang kemudi, lalu menyalakan mesin mobilnya,”


Dipa memakaikan sabuk pengaman untuk Biru, degup jantung Biru terasa berdetak lebih kencang saat Dipa memakaikan sabuk pengaman untuknya, bahkan bau parfum Dipa tercium dengan jelas.


“Hati-hati,”


“Iya siap,” Biru pun melajukan kendaraannya perlahan dan meninggalkan area parkir dan juga Dipa. Dipa melihat hingga mobil tersebut menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Biru menikmati perjalanannya dengan hati senang. Tanpa dia sadari, dia senang melihat Dipa dalam keadaan baik, ah apakah hanya itu yang membuatnya senang? Entahlah. Yang pasti kini senyumnya mengembang, tak lupa dia menyalakan lagu dangdut dan mengikuti irama lagu yang dia dengar. Sesuai janjinya, dia nggak akan mengendarai mobilnya melebihi kecepatan normal. Janji? Iya dia merasa sudah janji dengan Dipa. Ah padahal nggak janji juga kan?.


Biru merasa senang, tenang batinnya. Sepanjang jalan pokoknya menyenangkan saja rasanya.


                        Dipa duduk di kursi sambil menyuapi Uti, sedangkan Dania mengupaskan buah apel untuk Utinya. Dia sudah pulang dari sekolah.


“Eh seriusan bosnya mas tadi habis kesini?” tanya Dania.


“Iya,” jawab Dipa singkat.


“Eh gimana-gimana? Cantik? Fotonya donk,” Dania kepo.


“Hussh,” Uti mengingatkan, Dania melihat Uti dan Dipa bergantian.


Dania mengulurkan buah yang sudah dia kupas untuk Utinya.


“Bentaran, Uti belum selesai makan,” Dipa mengambil buah tersebut dan meletakkannya di meja samping ranjang Uti.


“Cantik nggak mas,?” bisik Dania di sebelah telinga. Dipa melirik Dania.


“Sudah, Uti mau minum,” kalimat Uti membuyarkan perbisikan yang dilakukan Dania. Bersamaan itu pula ponsel Dipa yang diletakkan di meja dekat piring apel berbunyi. Dipa mengambilkan minum untuk Uti.


“Ada pesan masuk mas, kali aja penting,” Dania mengingatkan. Dipa kembali meletakkan gelas minum Uti. Dania dengan cepat mengambilkan potongan apel untuk Uti.


“Ini Uti, makan buah dulu,”


“Nanti aja, Uti kenyang,”


“Yah Uti, padahal udah aku kupasin,” Dania cemberut.


“Iya nanti Uti makan,”


Dania kembali meletakkan apel tersebut di meja, dan matanya melirik ke layar ponsel Dipa yang posisinya tak jauh darinya.


“Wiiiiih,” Dania terkesima dengan sebuah poto yang diterima oleh Dipa.


Nampak Biru dengan pose selfie berada di dalam mobil, tapi Dipa hafal jika posisi itu berada di garasi rumah Biru.


Gue sudah sampai.

__ADS_1


Wajah cantik itu terpampang di layar ponselnya, Dipa tersenyum kecil.


“Ecieeeee,” Dania menutup mulutnya meledek Dipa.


__ADS_2