
Lebih dari jam 12 malam mereka baru tiba di rumah Biru, sepanjang perjalanan tadi Biru juga tertidur. Sesekali Dipa melihat raut wajah Biru, nampak kelelahan. Bekas tangisnya juga masih trelihat dari wajahnya. Dipa merasa iba dengan gadis baik itu, kenapa ada orang yang menyakitinya sebegitunya. Tangan kiri Dipa membenahi jaket yang dia selimutkan ke tubuh Biru.
Dipa membuka pintu mobil, tapi Biru masih anteng tertidur. Mau membangunkan pun tidak enak dan tidak tega.
“Gendong saja mas,” bisik Pak Budi yang gelagapan juga baru kebangun saat mendengar suara mobil masuk.
Dipa masih ragu, merasa tak enak. Takutnya dianggap mengambil kesempatan.
“Kalau nggak gitu bangunin saja,”
Nah ini juga menjadi pilihan yang sulit, membangunkan juga tidak tega. Dipa membuka pintu mobil lebih lebar, dan Biru tetap saja tidur dengan tenangnya. Akhirnya Dipa membopong Biru, tidak ada perlawanan dari gadis itu. Benar-benar dia kelelahan nampaknya.
“Nah gitu donk,” Pak Budi menepuk pundak Dipa pelan, Dipa membawa Biru menuju kamarnya yang ada di lantai 2. Dipa agak membenahi posisi Biru yang terasa agak merosot. Tenaganya masih kuat membawa gadis itu masuk hingga ke kamarnya.
Akhirnya Biru sudah sampai di ranjangnya, sudah terbaring nyaman di sana. Tidak lupa Dipa menyelimuti tubuh Biru dengan selimut hangat, AC pun dinyalakan. Sejenak Dipa melihat ke wajah Biru yang sama sekali tidak terusik. Dalam hati Dipa berdoa agar gadis itu jangan sedih lagi, agar gadis itu menemukan bahagianya.
Dipa menutup pintu perlahan agar tidak membangunkan Biru. Dia kembali ke bawah meniti anak tangga dan menuju kamarnya, ingin merehatkan diri karena seharian dia benar-benar tidak rebahan.
Dipa melepas bajunya dan membersihkan diri ke kamar mandi, badannya terasa lengket setelah sempat terkena air hujan tadi. Setelah selesai membersihkan diri dan berganti baju, dia mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
***
Sinar matahari pagi menembus jendela Biru samar-samar, Biru memicingkan matanya, menguceknya dan memastikan dia berada di tempat yang nyaman. Setelah matanya terbuka sempurna, tempat ini adalah kamarnya.
“Sejak kapan gue ada di sini?,” Biru duduk di atas ranjang masih dengan selimut di badannya. Biru menggaruk rambutnya. “Apa Dipa yang bawa gue kesini?” gumamnya. Lantas senyum kecilnya mengembang tanpa sebab. “Dia bawa gue kesini,?”
Padahal ini bukan yang pertama kali Dipa membantunya membawa dia ke kamar. Biru melempar selimut tebalnya dan bergegas menuju kamar mandi sebelum dia menyarap, karena perutnya sudah sangat lapar.
Biru membersihkan dirinya dengan segera, mengganti baju santai, menyisir rambutnya dan membiarkannya tergerai. Biru keluar dari kamarnya menuju lantai bawah untuk menuruti demo di perutnya.
“Bukeeeeee, lapaaaaaar,” pekik Biru pada Marni.
“Iya non, mau sarapan apa? Ini tadi saya buat nasi goreng”
__ADS_1
“Boleh, mau aku Buke…,”
“Siap non,”
“Oh ya, Dipa sudah sarapan?” tanya Biru sambil celingukan.
“Oh nyari mas Dipa?” tanya Buke. “Dia sudah sarapan pagi tadi non,”
“Oh,” hanya itu yang keluar dari mulut Biru, memang ini sudah tidak pagi lagi, sudah agak siang. Sudah lewat jam sarapan.
“Ini non, silahkan,”
“Makasih Bukeee,”
“Iya non,” jawab Marni.
Sarapan kesiangan sudah usai, perut yang tadi sempat demo kini sudah kembali tenang. Biru meninggalkan ruang makan dan keluar rumah, rumah masih sepi karena kedua orang tuanya masih berada di luar negeri. Biru celingukan seperti mencari sesuatu.
“Kamu…,” Biru menatap Dipa dengan mata membulat.
“Maaf kalau mengagetkan,” Dipa merasa bersalah, dia baru saja keluar dari kamarnya dan hendak menuju garasi untuk mengecek mobil yang akan digunakan untuk mengantar Biru ke kampus siang nanti.
“Aku nggak mau naik mobil,” ungkap Biru sambil bersedekap. Dipa mengernyit, salah satu SOP adalah mengantar Biru dengan mobil biar aman dan nyaman tidak kepanasan maupun kehujanan. “Pokoknya nggak mau, aku mau naik motor,” ujarnya lagi.
“Apa saya siapkan motor yang ada di garasi,?” Biru menggeleng. “Maunya naik motor yang biasa kamu naikin,”
Dipa semakin mengernyitkan dahi, jelas yang dimaksud Biru adalah motor Dipa sendiri, karena meski di rumah ini ada banyak mobil dan motor, tetap saja Dipa mengendarai motornya sendiri kemana-mana.
“Tapi kenapa sepertinya aku nggak lihat motor kamu,?” Biru mengedarkan pandangan di garasi, biasanya motor Dipa terparkir di pojokan.
“Oh, iya motor saya sedang rusak jadi saya tinggal di rumah,” Dipa tersenyum tipis.
“Oh ya? Jadi semalam kamu sampai sini….” Biru menggantung kalimatnya.
__ADS_1
“Saya naik bus,”
“Woilah….” Biru menepuk dahinya, bisa-bisanya Dipa melakukan ini untuknya, Biru mengatupkan bibirnya, menahan senyum yang ingin mengembang karena bahagia, sebegitunya Dipa terhadapnya.
“Ini tanggung jawab saya, tugas saya melindungi nona,”
“Biru” Biru menegaskan sambil menatap tajam Dipa, lagi-lagi Dipa memanggilnya nyonya.
“Iya, maaf…Bi..Biru” ulang Dipa. “Ini tugas saya melindungi yang harus saya lindungi sebagai pekerjaan saya,”
“Hanya sebatas pekerjaan?” tanya Biru memastikan, agak kecewa saat mendengar kalimat yang meluncur itu. Dipa mengangguk, matanya menatap Biru.
“Oh,” Biru nampak kecewa. “Ya udah ih, nanti naik motor itu saja,” Biru menunjuk sebuah motor yang baru dilihat oleh Dipa, sebelumnya motor itu belum pernah dia lihat.
“Motor siapa,?” tanya Dipa memastikan, sebuah motor keluaran terbaru yang harganya dia tahu tidaklah murah.
“Motor tetangga…ya kali motor curian, motorku lah, pakek ini saja” Biru berbalik arah hendak masuk ke dalam rumah, tapi baru beberapa langkah dia kembali berbalik arah dan melihat Dipa. “Buat kamu aja, itung-itung kamu sudah baik dan bekerja professional melindungiku,” Biru menatap Dipa.
“Wah…tidak usah,”
“Nggak usah merasa nggak enak, aku serius”
“Jangan Bi…,”
“Udah deh, bokap nyokap juga nggak bakalan protes, ini uangku sendiri dan menggunakan hakku sendiri,” Biru mengibaskan tangannya. Ini adalah motor yang sebenarnya akan dia persembahkan untuk ulang tahun Mario tempo hari, dan dia memutuskan untuk memberikannya untuk Dipa saja. Momennya juga pas karena motor Dipa sudah rusak, sudah saatnya ganti, begitulah yang ada di benak Biru.
Dipa masih terdiam, merasa tak enak hati melihat Biru memberikan barang mewah seperti memberikannya permen saja. Apakah dia pantas menerima ini? Toh gaji bulanannya juga banyak, itu juga belum termasuk bonus. Betapa baiknya keluarga Biru terhadapnya.
“Aku siap-siap dulu, kita berangkat naik motor,” Biru kembali memutuskan. Dipa mengangguk kecil dan hendak bersiap juga untuk mengantar Biru ke kampus.
Tepat pukul 11 siang mereka hendak berangkat, matahari kebetulan tidak begitu terik karena mendung sedikit menghalangi.
“Yuk ah,” Biru bergegas mendekat ke arah motor yang akan dia tumpangi. Dipa mengambil helm dan memakaikannya untuk Biru. Kembali degup jantung Biru memburu. Ah sial, cuma begitu saja sudah membuatnya begini. Biru merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1