
Sore itu, saat udara berhembus agak sejuk dari biasanya. Langit senja yang biasanya berhias matahari sore keemasan pun tak nampak. Hujan baru saja turun, dan kini mendung masih menyelimuti langit di atas sana.
Biru duduk dengan tenang sambil menikmati teh hangat di sebuah sudut meja di sebuah café, dia sengaja datang lebih awal dari jam janjiannya. Dia sudah menyiapkan semuanya. Dipa menunggu di mobil sesuai permintaannya, tak perlu Dipa berada di satu ruang bersamanya, dia berjanji jika dia akan baik-baik saja.
Biru melambaikan tangannya saat orang yang dia tunggu tiba, tidak membawa apa-apa, hanya tangan kosong, senyum pun tidak merekah. Biru mempersilahkan Mario duduk di salah satu kursi yang ada di depannya.
Ini adalah pertemuan pertama setelah kejadian pesta tempo hari.
“Sorry kalau membuat waktumu tersita dengan janji ini,” Biru membuka obrolan. “Gue sudah pesan minuman kesukaan lo,” Biru melambaikan tangan ke arah pelayan, dan pelayan sudah tahu kode dari Biru. Pelayan dengan cekatan membuatkan minuman yang dimaksud, kopi ekspresso. Sejurus kemudian kopi itu sudah tersaji di depan
Mario, asapnya masih mengepul.
“Gue tak akan pernah lupa apa yang menjadi kesukaannmu, dan apa yang nggak lo suka,” Biru menyesap tehnya. Menunggu ekspresi dari Mario.
“To the point saja Bi,” ungkapnya, tangannya memainkan pegangan cangkir kopi. Biru melihat ke arah mata Mario, mata itu, mata yang dia sukai, tapi pandangan mata Mario segera beralih, melihat ke arah lainnya.
“Gue tahu apa yang akan lo sampein,”
“Sebelumnya gue minta maaf atas kejadian kemarin, gue hanya bercanda,” Mario mengatakannya tanpa raut menyesal di wajahnya. Biru tersenyum kecut, ternyata Mario seburuk ini. Entah dia lupa atau beneran sengaja. Biru masih sangat ingat bagaimana dia menceritakan tentang phobia pada air yang banyak, dia sering banget cerita ini
__ADS_1
ke Mario. Benarkah Mario tidak tahu?.
“Iya, anggap saja seperti itu,” Biru melipat kedua tangannya di dada. Mario merasa terintimidasi. Biru menelan ludahnya, terasa sakit, jika benar-benar Mario lupa hal ini, itu berarti juga Mario tidak akan tahu apa kesukaannya, apa makanan favoritnya dan lain-lain. Sungguh, dia merasa sedang cinta sendiri. Dan bodohnya dia benar-benar cinta buta pada Mario. “Kita putus,” putus Biru dengan raut wajah getir.
Mario tertawa kecil tapi bahunya ikut berguncang, tidak lucu baginya jika dia yang diputuskan oleh cewek. “Lo ngomong apa,?” tanya Mario sambil menatap Biru yang nampaknya tekadnya sudah bulat.
“Gue cinta sendiri,”
“Harusnya gue yang bilang itu, bukan lo, lo cewek nggak asik, lo nggak menyenangkan,” ujar Mario dengan tatapan wajah menahan amarah. Biru yang mendengar semua kalimat Mario mencoba menahan amarahnya, rasanya darahnya sudah mendidih dan ingin menyiramkan tehnya ke wajah Mario saat ini juga. Tapi dia menahannya, jangan sampai itu terjadi.
“Lantas apa bedanya, sama saja kan, yang jelas lo menang taruhan,” Biru tersenyum sinis. “Selamat lo menang, dan setahun gue seperti kerbau yang dicocok hidungnya, lo menang,” Biru bertepuk tangan. Mario terdiam begitu saja.
“Jikalau tidak mampu dari segi finansial, setidaknya elo punya hati yang kaya,” sindir Biru. Dia sadar jika selama ini, apa-apa dia, segala sesuatu Biru yang akan menggelontorkan uang.
Biru bangkit dari duduknya dan meninggalkan Mario begitu saja. Gerimis kembali turun, Biru segera masuk ke dalam mobil yang memang terparkir tak jauh dari café, melihat Biru sudah masuk ke dalam mobil. Dipa menyalakan mesin mobilnya dan menunggu perintah kemana Biru ingin pergi.
“Jalan aja,” perintah Biru. Dipa mengangguk.
Di suatu tempat yang terbuka, tempatnya agak menanjak sehingga bisa melihat lampu menyala di bawah sana, Biru ingin berhenti di sini. Ada beberapa gazebo, gerimis masih turun meski tidak deras. Biru keluar dari mobil tanpa membawa tas maupun ponsel. Lantas dia berada di tepi dekat sebuah pohon kecil. Matanya melihat ke arah lampu kerlap-kerlip di bawah sana. Saat sampai di sana, malam sudah menyapa. Tapi lampu taman terlihat indah menerangi.
__ADS_1
Biru menikmati tubuhnya diguyur gerimis, tak terasa Biru meneteskan air matanya. Terasa sakit, apa yang dia alami terasa sangat menyakitkan. Orang yang sangat dia cintai, sebucin itu. Dan berakhir seperti ini, sangat menyakitkan. Biru terisak. Tangannya memegang besi pembatas.
Dipa masih di balik kemudi, membiarkan Biru melepas apa yang mengganjal di batinnya, membuang lukanya. Dilihatnya, gerimis yang tadinya tenang, mendadak menjadi lebih deras. Dipa mengambil sebuah payung, keluar dari mobil dan berjalan mendekat ke arah Biru.
Biru yang masih sibuk dengan luka batin dan tangisannya tidak menghiraukan air langit yang jatuh menimpanya. Batinnya terasa sakit.
Dipa mengulurkan payung dari belakang, melindungi tubuh Biru agar tidak basah oleh air hujan. Bahu gadis itu terlihat terguncang naik turun. Sesakit inikah luka batinnya?
“Kenapa sesakit ini melepas orang yang bahkan sudah menyakitimu?” tanya Biru saat menyadari ada seseorang di belakangnya. Dipa terdiam, salah satu hal yang tidak ingin dia lihat, tidak ingin dia dengar dari Biru. Dipa tidak mau melihat Biru terluka. Tapi nyatanya, gadis yang ada di depannya itu terluka sedalam ini.
Biru memutar tubuhnya, benar saja air mata yang sudah tercampur dengan tetesan air hujan itu masih terlihat. Matanya juga sendu. Dipa bisa melihatnya dengan jelas. Senyum Biru mengembang.
“Gue bodoh, lo pasti menertawakan gue,” Biru mengusap hidungnya dengan punggung tangannya. “Lo pasti menertawakan gue,”
Dipa merogoh saku yang ada di samping, mengambil sapu tangan, mengulurkannya untuk Biru. Biru kembali tertawa namun dengan deraian air mata, tangannya mengambil sapu tangan warna biru laut itu dan mengusap air matanya.
“Lo pasti sudah tahu semuanya kan? Tapi lo nggak mau berdebat dengan gue, sama seperti halnya Jennara yang nggak pernah gue anggap, lo tahu kan,?” Biru tergugu. Selama ini dia menyangkal, selama ini dia masih berfikir jika Mario bukanlah seperti itu. Mario bisa berubah meskipun dia sudah berkali-kali disakiti dengan berbagai macam masalah.
“Gue bodoh banget jadi orang, dan pasti semua pada ngetawain gue,” Biru menunduk, Dipa masih berdiam diri membiarkan Biru melakukan apa yang ingin dia lakukan. Dia siap mendengarkan apa yang ingin diucapkan oleh Biru. Jarak mereka begitu dekat, hanya beberapa centi. Tangan Dipa masih setia memegang payung transparan itu, bahkan rintik hujan bisa terlihat jika mata melihat ke atas.
__ADS_1
Maaf banget ya, karena memang author 3 minggu ini keluar masuk rumah sakit, bukan nggak mau update. Selagi author keadaan baik, author akan update kok. Terima kasih yang masih menunggu...selamat membaca....