
Mulai hari ini Dipa mendapatkan permintaan khusus dari Kawa untuk mengawal adiknya 24 jam, dia tidak mempermasalahkan jika gaji Dipa harus naik. Awalnya Dipa masih memikirkan apakah dia bisa atau tidak, karena dia memikirkan Uti dan juga adiknya di rumah. Namun mereka semua mendukung apa yang dilakukan Dipa,
akhirnya Dipa mau bekerja 24 jam. Itu artinya dia harus menginap di istana Biru.
Karena Kawa masih khawatir dengan Biru, dia yakin adiknya masih suka nakal, dan pengamanan harus ditingkatkan lagi.
Dipa mengemas barangnya dan bersiap berangkat pagi ke rumah Biru, karena mulai malam ini dia akan tidur di rumah tersebut. Pagi ini dia akan mengantar Biru ke kampus, dia benar-benar harus tahu jadwal keseharian Biru. Kawa sebagai abang Biru pun sangat perhatian pada adik perempuannya itu, dia benar-benar meminta agar Dipa menjaga adiknya itu.
Mario, iya itu pacar Biru. Kawa sangat merasa kurang nyaman jika Biru terlalu dekat dengan Mario, seolah Kawa sudah tahu sepak terjangnya. Bahkan Dipa pun agak kaget saat tahu Mario lah pacar Biru. Siapa yang tidak tahu Mario, anak seorang konglomerat kaya, tampan, tapi badboy itu. Herannya, kenapa Biru seolah bucin banget pada cowoknya itu.
“Di sana saja,” Biru menunjuk sebuah meja yang berada di pojok café, meskipun di pinggir pantai, tapi tidak terasa panas karena banyak sekali pohon kelapa yang menaunginya.
“Silahkan nona,” Dipa mempersilahkan, rasanya tidak sopan jika dia harus duduk semeja dengan sang majikan. Biru melihat Dipa, meskipun tatapan matanya tidak terlihat karena terhalang kacamata hitamnya, Dipa sadar jika Biru sedang mempertanyakan maksdunya. “Saya akan menunggu di sana,” Dipa menunjuk sebuah tempat yang agak jauh dari Biru.
“Lalu gue harus ngomong sama setan gitu,?” nada bicara Biru kesal, secara tidak langsung dia ingin Dipa menemaninya.
“Baik,” jawab Dipa. Biru membalik tubuhnya dan berjalan ke arah meja yang dimaksud sambil mengibaskan rambutnya dengan anggun, Dipa pun membuntuti. Meskipun masih tidak enak rasanya, tapi jika ini perintah, maka dia akan melakukannya.
Seorang pelayan memberikan menu pada meja mereka, Dipa menerimanya dan memberikan pada Biru, mempersilahkan pada gadis itu untuk memilihnya terlebih dahulu.
“Pilih yang terdebest di sini,” Biru tak perlu mencatat apa pesanannya, itulah yang dia minta.
“Baik,” ujar sang pelayan lantas pergi meninggalkan mereka.
“Kali ini gue mau diadili kenapa gue kabur nggak kuliah, please…biarin gue begini,” pintanya. Ini adalah salah satu pertanyaan yang ada di benak Dipa, hanya saja Dipa tidak akan menanyakannya, karena dia tahu Biru sedang tidak baik-baik saja.
“Dan lo pasti bertanya-tanya kenapa gue jadi begini?” Biru menyilangkan kedua tangannya, bersedekap.
“Tugas saya adalah menjaga nona,” jawab Dipa.
Biru tersenyum miring, “Jangan senang dulu, gue masih belum bisa nerima lo sebagai pengawal gue, gue benci lo,”
__ADS_1
Dipa tersenyum kecil, lesung pipinya terlihat dengan jelas. Biru yang sedang mengenakan kacamata mencuri pandang dengan bebas. Suasana café ini cukup ramai, memang enak banget suasanaya, tenang. Live music pun tersaji di sana.
“Selamat siang kakak-kakak, kami dari lovebeach café sedang ada event bagi pengunjung beberapa hari ini menuju ulang tahun café kami,” ujar seorang laki-laki dengan ramah menghampiri meja mereka. Biru melihat ke arah pegawai tersebut, di lehernya terkalung sebuah kamera.
“Iya, ada apa,?” tanya Biru masih dengan kacamatanya. Dipa menatap pegawai tersebut.
“Boleh mengambil foto kakak berdua? Akan dipajang di booth kami sebagai salah satu pelanggan di café kami,”
Biru terdiam sejenak, Dipa tidak berani mengambil keputusan.
“Ok, ambil saja,” ujar Biru yang ternyata mempersilahkan.
“Silahkan menghadap kamera ya kak,” pintanya. Dipa yang agak canggung pun hanya ikut saja, Biru yang berada di balik kacamata tetap memperlihatkan senyum menawannya.
“Terima kasih kak, semoga hari kakak menyenangkan, dan kalian adalah pasangan yang sangat serasi,” ucap pegawai tersebut.
Gleek…
Biru meneguk ludahnya, bagaimana bisa dia berkata seperti itu. Biru menepuk dahinya.
“Meskipun gue nggak suka dengan kalimat dia yang terakhir, tapi lo tetap di sini saja, meskipun lo nggak bakalan ngerti apa yang sedang gue alami, setidaknya ada yang mendengarkan suara gue,”
Dipa tidak jadi beranjak meninggalkan kursinya.
“Lo tahu siapa gue,?”
Dipa menggeleng, membuat Biru mengernyitkan dahinya dan agak mencondongkan tubuhnya ke depan.
“Serius.?” Tanyanya tidak percaya. Dipa kembali mengangguk. Biru tertawa kecil. “Sungguh lucu dan nggak bisa dipercaya, lo kerja sama gue tapi nggak tahu gue,” Biru menunjuk dirinya sendiri.
Tidak ada yang aneh bagi Dipa jika dia tidak tahu siapa Biru, tidak penting baginya. Asal dia bertanggung jawab, itulah intinya.
__ADS_1
“Sekali-kali lo butuh googling siapa gue,”
Dipa membiarkan sang nona berbicara apapun, setidaknya dia sudah tidak menangis lagi. Hatinya mungkin sudah agak lebih baik, tak masalah dia mendengar apapun.
“Karena sebagai pengawal gue, lo butuh tahu siapa gue, jadi lo akan tahu bagaimana antisipasi saat gue ada masalah ke depannya,” Biru menyendokkan sebuah kue coklat ke mulutnya.
“Siap nona,” jawab Dipa singkat.
“Btw, tempat ini asyik, perjalanannya juga sangat menyenangkan. Sering kesini,?”
“Nggak juga,” jawab Dipa.
“Oh, mungkin pas lo kencan sama cewek lo,” tebaknya. Dipa tersenyum tipis. Dia ke tempat ini saat dia suntuk, dia akan menghabiskan waktu di sini sendirian.
“Bisa lah kesini lagi, tapi kalau nggak lagi bete, suatu saat gue kesini sama cowok gue,” Biru menganggukkan kepalanya, Dipa hanya diam saja melihat Biru sudah lebih baik.
“Lo jangan bilang ke bunda kalau gue kabur hari ini, gue bener-bener nggak niat nakal kali ini, gue beneran pusing,”
Hampir 3 jam mereka berada di sana, tempat ini benar-benar membuat Biru merasa sangat nyaman.
Akhirnya mereka harus pulang juga ke rumah. Hati Biru sudah membaik.
Biru melepas kacamata hitamnya dan menyimpannya di dalam tasnya, dia sengaja mematikan ponselnya sejak berada di parkiran kampus tadi. Tidak peduli ada yang mencarinya.
“Lo dihubungin nyokap nggak,?” tanya Biru.
Dipa mengambil ponselnya dan mengeceknya, tidak ada pesan atau panggilan dari nyonya Ganis. Hanya ada pesan masuk dari Ayu yang menanyakan keberadaannya. Dipa menggeleng.
“Bagus, aman berarti.”
“Kita pulang.” Tanya Dipa sambil memasang sabuk pengaman.
__ADS_1
“Yap, pulang,” jawab Biru enteng. Meski dia tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Dipa, tapi hatinya memang terasa lega dengan menghabiskan waktu di café ini. Setidaknya hatinya sudah tidak sesesak yang dirasakan tadi.
Mobil melaju perlahan, kembali menyusuri jalan yang menyenangkan untuk dilihat, Biru kembali menikmatinya. Hingga mobil kembali menembus hiruk pikuk kota besar dengan segala kemacetannya.