
Sebuah rumah yang entah layak atau tidak disebut rumah, saat memasuki rumah tersebut. Rasanya hati Biru tercabik-cabik, bagaimana tempat itu disebut rumah. Ini benar-benar tidak layak huni. Biru menahan batinnya yang bergejolak, sebuah papan triplek yang sudah koyak menjadi dinding rumah beralas tanah tersebut. Perabot rumah pun hampir tidak ada, hanya ada dipan reyot di sana.
“Masuk non,” ajak Ibu Syakila dengan ramah. Ibu tersenyum lalu mengangguk. Biru mempersilahkan Dipa dan salah satu pegawai minimarket tadi untuk meletakkan barang belanjaan si Ibu.
“Syakila…tante nggak bisa lama-lama, lain waktu tante main kesini boleh,” Biru sedikit menunduk agar menyamai tinggi badan Syakila, gadis kecil itu mengangguk senang.
“Bilang apa sama tante,?” tanya Ibunya sambil mengelus rambut anaknya.
“Terima kasih tante,” sahutnya dengan senyum mengembang.
“Sama-sama sayang, dimakan ya jajannya,” Biru mengelus rambut Syakila.
Dan Biru pun kembali ke mobilnya, dengan sigap Dipa membukakan pintu untuk Biru. Biru menempatkan tubuhnya dengan nyaman, dia menghembuskan nafas panjang. Pandangannya masih tertuju di sebuah jalan menuju rumah Syakila. Matanya memejam, ada banyak hal yang dia rasakan.
“Langsung pulang,?” tanya Dipa. Biru mengangguk, Dipa mengetahui dari kaca depan.
Terlepas dari prasangka awalnya terhadap Biru, Biru memang badung hanya saja sisi kemanusiaannya terlihat nyata hari ini. Mungkin saja masih banyak hal, hanya saja belum terlihat.
Biru terlihat memainkan ponselnya hingga tiba di rumah.
“Nona…,” kembali Dipa memanggil saat Biru hendak keluar dari mobilnya. Biru terdiam, pertanda dia mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh Dipa.
“Apa hari ini saya boleh keluar sebentar,?” tanya Dipa menunggu izin dari Biru.
“Hari ini gue mau tidur,” itulah jawaban Biru, itu artinya tidak ada lagi aktivitas yang akan dilakukan Biru di luar rumah, jadi dia bisa keluar.
“Terima kasih nona,” sahut Dipa sambil mengangguk. Sadar jika sudah tidak ada perbincangan lagi, Biru bergegas membuka pintu mobil dan berlalu. Dipa tersenyum lega.
Sudah beberapa hari, bahkan minggu dia tidak bertemu dengan seseorang. Rasanya ada yang mengganjal dan terasa tak enak hati, maka malam ini dia akan menemuinya.
Dipa segera bersiap dengan mandi dan berganti pakaian, tanpa makan malam terlebih dahulu dia bergegas mengeluarkan motornya dari garasi rumah Biru.
“Mau kemana,?” tanya Pak Budi.
“Eh Pak Budi…,” Dipa melihat ke arah Pak Budi, tangannya bersiap memakai helm.
“Duh dari penampilannya ini nih mau kencan,” sahutnya menebak. Dipa menanggapi dengan senyum tipis.
“Berangkat dulu ya pak,” pamit Dipa.
__ADS_1
“Yok…hati-hati di jalan,” sahutnya.
“Siap Pak Bud,” Dipa segera menggeber motornya dan keluar dari rumah Biru yang super megah itu.
Sementara di dalam kamar, Biru baru saja selesai mandi dan masih menyampirkan handuk di bahunya. Dia membuka pintu balkon dan menikmati angin malam. Nampak sedang memikirkan sesuatu, barangkali ada hal yang bisa dia lakukan untuk membantu Syakila dan Ibunya, dia benar-benar merasa terusik melihat pemandangan tadi.
***
Dipa baru tiba di sebuah tempat, tempat biasanya dia bertemu dengan seseorang yang bernama Ayu, sejak 2 tahun yang lalu dia sering berada di tempat ini untuk bertemu.
“Maaf kalau telat,” sahut Dipa sambil menarik sebuah kursi, tak lupa senyumnya mengembang.
“Aku juga baru datang kok,” sahut gadis bernawa ayu itu. Rambut panjangnya terkuncir dengan rapi. Usainya 2 tahun lebih tua dari Dipa.
“Kamu mau makan apa,?” tanya Ayu.
“Terserah kamu deh,” jawab Dipa seperti biasanya.
“Kebiasaan, sekali-kali mbokya punya keinginan pesan apa yang kamu pengenin,” gumam Ayu sambil membuka buku menu, senyumnya mengembang. Meskipun protes, tapi tetap saja dia memilihkan menu untuk Dipa.
“Aku lagi pengen nasi goring, mau,?” tawar Ayu. Dipa mengangguk.
“Siap,” Ayu mengacungkan jempolnya.
“Minumnya,?”
“Air putih saja,” pungkas Dipa, Ayu menulis di selembar kertas yang nantinya akan diambil oleh pelayan.
“Gimana kerjaan kamu? Kapan hari aku ketemu Uti, dan beliau cerita kalau kamu ada kerjaan sekarang, dan bahkan sampai nggak pulang ke rumah,”
“Oh iya…ya…namanya kerja, harus dinikmati,” jawab Dipa diplomatis. Dipa melihat sekeliling, suasana café ini masih sama, tenang dan menyenangkan. “Maaf kalau akhir-akhir agak sibuk,”
“Nggak apa-apa, aku ngerti kok, eh tapi kalau ada waktu luang, mainlah ke rumah, dicari sama Papa,” Ayu tersenyum sambil menatap Dipa. Dipa menatap Ayu.
Ada beban tersendiri saat Ayu mengatakan hal ini kepadanya, rasanya dia belum bisa untuk memenuhi permintaan Ayu yang satu ini. Meskipun dia sudah sangat kenal dengan keluarga Ayu, karena keluarga Ayu lah yang banyak membantu keluarganya.
“Yah…nanti,” jawab Dipa.
Ayu mengangguk, bukan jawaban itu yang dia ingin dengarkan sebenarnya.
__ADS_1
“Kalau sudah nyaman sama kerjaan yang sekarang, gimana nanti setelah ijazah kuliah keluar,?” Ayu penasaran.
“Ya…lihat saja nanti, kalau memang ada kerjaan yang lebih baik, lebih nyaman, lebih menjanjikan, nanti dipikir lagi,” begitulah Dipa, jawabannya selalu seperti itu.
“Ok..aku harap yang terbaik buat kamu,”
“Thanks Yu, kamu selalu ngertiin aku,” jawab Dipa.
“Iya lah,”
Pelayan pun datang menghampiri mereka dan membawa pesanan makanan untuk mereka. Dan seperti biasa, mereka akan menikmati makanan dan sesekali berbicara tentang hal yang ringan, ini yang mereka lakukan setiap kali bertemu.
“Nanti aku antar balik,” ujar Dipa, dia merasa bersalah karena akhir-akhir ini dia terlalu sibuk.
“Oh, nggak apa-apa,? Katanya kerjaan kamu harus 24 jam,?” Ayu melihat Dipa dan meletakkan tisu kotor yang baru dia gunakan untuk mengelap bibirnya.
“Nggak gitu juga konsepnya Yu, ini buktinya aku bisa keluar,”
“Oh iya ding, ok lah mau diantar sama kamu, sudah kangen boncengan sama kamu,” Ayu tersenyum senang.
Dipa mengangguk, sambil melanjutkan menyelesaikan makannya yang tinggal beberapa sendok lagi.
“Aku bayar dulu,” Ayu bergegas berdiri, Dipa dengan cepat memegang pergelangan tangan Ayu. Ayu menatap Dipa.
“Biar aku,” ujar Dipa.
“Nggak apa-apa, aku aja yang bayar,”
Dipa menghela nafas panjang, inilah yang nggak dia sukai dengan pertemuan ini. Selalu saja Ayu seperti ini, selalu berada di depan dan selalu mengeluarkan uang. Membuat Dipa serasa tidak mempunyai harga diri.
“Yuu…boleh nggak aku merasa sebagai cowok?” tanya Dipa yang membuat Ayu akhirnya harus nurut. “Selama ini selalu kamu kan yang di depan,?” Dipa menata Ayu serius. Tidak peduli seberapa kecil atau besarnya uang yang dikeluarkan, tapi Dipa benar-benar merasa kecil selama ini.
“Duduklah,” Dipa mengangguk, meminta Ayu kembali duduk, dan setelah ini dia akan membayar makanannya.
Mereka keluar dari tempat makan, Ayu masih saja terdiam. Memikirkan tentang hal tadi.
“Maaf ya jika selama ini aku menyinggung perasaan kamu, aku nggak peka.” Gumam Ayu sambil berjalan pelan, Dipa memasukkan kedua tangannya di saku jaketnya, menghembuskan nafas lalu tersenyum.
“Nggak apa-apa, yang penting sekarang kamu sudah ngerti, yok kita pulang nanti Mama dan Papa nyariin kamu,” ajak Dipa. Ayu mengangguk.
__ADS_1